
JEDAR....
Hancur luluh sudah perasaan Sari. Dia sering bertengkar dengan Anjar...tetapi dia tidak menginginkan Anjar tiada.
Sambungan ponsel terputus.
"Pasti itu hanya orang iseng aja yang bicara dusta!!" monolog Sari pada dirinya sendiri.
"Tapi jika yang dikatakan orang itu benar, aku harus bagaimana??" gumam Sari lagi.
"Ah bodo amat lah sebaiknya aku tidur dulu nanti malam aku harus bekerja lagi." Kata Sari.
Hari hampir maghrib saat Sari terbangun mendengar suara gemericik air di kamar mandi.
"Siapa sih mandi lalu menghidupkan keran air lupa dimatikan??" gumam Sari kesal.
"Mengganggu orang tidur aja!!" sungutnya lalu beranjak ke kamar mandi dan hendak mematikan kran air.
"Hah??? kering??? Tidak ada kran air yang menyala??" gumam Sari bingung.
"Aku nggak mungkin salah dengar deh!!" bisik Sari pelan.
Saat Sari akan berbalik, alangkah kagetnya dia saat melihat Anjar duduk di kursi makan membelakangi dia.
"Mas Anjar?? kapan datang?? kok Sari ngga tau mas Anjar pulang??" tanya Sari.
SEPI....
"Mas...kok diam aja sih??" tanya Sari lagi sedikit lebih keras.
TETAP SEPI....
"Mas..." teriak Sari lantang sambil mengguncang bahu Anjar.
Sosok yang menyerupai Anjar itu menoleh pada Sari.
ARRGGGHHH...
Sari berteriak kencang karena kaget bercampur takut.
Wajah yang dilihat Sari lebam-lebam membiru, dadanya remuk memperlihatkan remukan tulang dadanya, dari mulut dan matanya terus menerus mengucurkan darah segar.
"Sari...ikut mas Anjar yuk!!" kekehnya membuat Sari merosot lemas tergeletak pingsan di lantai. Dan sosok itu tiba-tiba menghilang.
Sementara di rumah duka tempat para sahabat dan keluarga berkumpul.
Hari ini Anjar akan dimakamkan. Sedari tadi ibu Anjar terus menangis dan arwah Anjar juga ikut menangis melihat ibunya terus menangis.
"Jangan ditangisi terus bu, nanti perjalanannya tersendat-sendat!!" kata ayah Anjar mencoba menghibur istrinya.
__ADS_1
Prosesi pemakaman berlangsung cepat. Yusva dan pak Ridwan membaca sesuatu dan merapal doa mengelilingi pemakaman Anjar agar makamnya tak dibongkar oleh tangan-tangan tak bertanggung jawab.
Apa yang ditakutkan mereka beralasan. Tak lama sehabis pemakaman, dan setelah orang-orang pada pulang, tiga aosok tubuh melayang cepat menuju area makam.
Mereka adalah Nyai Sambang, Ganda Suri dan tak ketinggalan Surtinah.
Mereka berniat untuk mengambil jenazah anjar.
Ketiganya berusaha mendekat, tetapi setiap kali mendekat, ada sesuatu kekuatan besar yang menolak mereka.
"Sialan...kita tidak bisa melangkah maju lagi.
"Kekuatan apa ini??" tanya Nyai Sambang saat mencoba melangkah maju malah jatuh terjengkang kebelakang.
"Hei para nenek tua berkedok gadis...apa yang kalian lakukan maghrib-maghrib begini di pemakaman seperti ini?? nggak takut kesambet kalian bertiga??? tapi nggak mungkin kesambetlah wong wajah kalian lebih seram dari pada iblis??" ujar suara itu yang membuat ketiganya kaget sekaligus geram.
"Keluar kamu mahluk tak berwujud?? jika kamu berani tampakan wujudmu dihadapan kami biar kami bertiga melibas habis mahluk sepertimu!!"
"Mau melibas habis aku?? besar sekali bualanmu nenek Sambang?? melihatku saja kalian tidak mampu, apalagi mau melibas aku?? lucu sekali dongenganmu, nenek Sambang??" ejek suara itu semakin menjadi-jadi.
"Nenek Sambang...nenek Sambang...sejak kapan aku menikah dengan kakekmu??" jawab Nyai Sambang bertambah gondok.
"Daripada kamu kupanggil dengan sebutan datuk Sambang, nenek Ganda dan mbah Tinah??" Hayo...
"Bang*sat....suara siapa sih itu??" kata Nyai Sambang bertambah murka.
"Hahaha....marah ya...jangan suka marah-marah para nenek nanti cepat tua kalau tua nanti kalian cepat mati, tapi kira-kira kalau mati, jadi apa ya orang seperti kalian ini?? apakah akan jadi mahluk seperti nenek Tinah itu??" kata suara tak berwujud itu.
Kita tinggalkan dahulu Nyai Sambang, Ganda Suri dan Surtinah yang sedang gondok karena dikerjai habis-habisan oleh suara tanpa wujud...
ADUHH...
Sari bangun dari tidurnya perlahan, kepalanya terasa pusing dan di sekitarnya gelap gulita karena saat dia pingsan tadi dia lupa menyalakan lampu.
"Aku ada di mana ya??" oh iya aku ingat tadi aku pingsan di lantai ruang makan!!" desis Sari.
"Gelap sekali sih?? aku mau menyalakan lampunya dahulu!!" kata Sari lalu bangun dengan langkah terhuyung-huyung mencari saklar lampu.
Sari duduk di kursi makan merenungi pertemuannya dengan Anjar tadi!!
"Apa tadi yang kulihat itu hantu ya?? tapi wujudnya kok seperti mas Anjar sih?? apa benar mas Anjar sudah meninggal ya??? aku harus menghubungi Lia lagi...aku harus mencari jawaban yang pasti!!" gumam Sari.
Sementara Lia dan Ansar yang kini tinggal bersama Badai di rumahnya...
"Sebaiknya kamu berhenti bekerja saja, Lia...!!" kata Badai sambil duduk memangku Ansar dan menghirup teh hangat dan cemilan yang dibuat Lia untuk Badai.
"Jika aku berhenti bekerja, terus aku dan Ansar akan makan apa dan tinggal di mana??" tanya Lia.
Matanya masih sembab karena terlalu banyak menangisi kepergian Anjar.
__ADS_1
"Bang Anjar telah menitipkanmu dan Ansar padaku, Lia!!" kata Badai.
"Sepulangnya kedua orang tuaku dari Bandung, aku akan melamarnu dam menikahimu supaya kamu tidak merasa sungkan lagi padaku, atau kah kamu sudah memiliki pacar, Lia??" tanya Badai.
"Aku tidak punya pacar...hanya bang Anjar yang mau melihat dan menganggapku seorang wanita karena mereka beranggapan aku ini jelek dan bodoh!!" lirih Lia.
"Syukurlah jika kamu belum memiliki pacar, mereka saja yang bodoh yang mengatakan kamu adalah wanita bodoh dan jelek!!" sahut Badai.
"Ansar membutuhkan orang tua sambung untuk mengasuhnya, dan itu sudah menjadi kewajiban kita!!" ucap Badai.
Lia menundukan wajahnya memandang Ansar sesaat lalu menatap Badai kembali mencari kesungguhan di mata pria tampan itu.
"Oh iya...aku hampir lupa bilang padamu kalau kakakmu tadi siang menelponmu!!" kata Badai yang baru ingat akan telepon dari Sari tadi siang.
"Oh iya?? apa lagi yang ingin dia katakan?? dia telah menyelingkuhi mas Anjar, dia telah membuangku dan Ansar...apalagi yang dia inginkan??" tanya Lia kesal.
"Ya mungkin dia merindukanmu?? makanya dia ingin bicara denganmu!!" kata Badai.
"Aku tau persis kak Sari itu orangnya gimana...mana mungkin dia merindukan aku dan anaknya." Kata Lia.
Tak lama kemudian...
DDRRTTTT...DDDRRTTTT
"Itu pasti telepon dari kakakmu, kata Badai.
Dengan malas Lia menggeser lingkaran hijau di ponselnya.
📱"Halo...bukan main ya kamu Lia...ngelayap kemana kamu membawa Ansar?? kamu tinggal dengan seorang laki-laki ya...mana mas Anjar aku ingin bicara...jangan kamu katakan juga jika mas Anjar sudah meninggal!!"
📱"Sejak kapan kak Sari peduli padaku dan Ansar?? walaupun aku membawa Ansar menyeberangi lautan pun kak Sari mana mau peduli??"
Suara Lia tersendat-sendat karena menahan kekesalan dan kemarahan pada kakaknya itu.
📱"Sudah ah...banyak bacot kamu...mana mas Anjar aku ingin bicara??"
📱"Kan kak Sari sudah bilang tadi bahwa mas Anjar sudah meninggal?? apalagi?? mestinya kak Sari senang mas Anjar meninggal karena suatu prestasi yang luar biasa buat kak Sari telah berhasil memisahkan mas Anjar dan Tyas kini kak Sari pula yang meninggalkan mas Anjar dengan perselingkuhan kak Sari!!"
📱"Sudahlah kak tak usah lagi bertanya tentang kami, karena aku sudah lelah dengan kak Sari...Assalamualaikum!!"
TIIIIITTTTT
Lia memutuskan sambungan teleponnya. Perasaan marah yang dia pendam selama ini pada sang kakak akhirnya dia keluarkan semua...dia memang sangat lelah selama ini menghadapi kelakuan Sari.
*
*
****Bersambung....
__ADS_1
Akhirnya Lia mempunyai keberanian untuk meluapkan kemarahannya selama ini pada Sari...
Bagaimanakah kisah selanjutnya???