Maaf Atas Dustaku

Maaf Atas Dustaku
Bab 39 Kepergian Tyas


__ADS_3

"Yusva....kamu punya kemampuan...tapi mengapa kamu tidak bisa menyelamatkan orang tua kita??" teriak Yusuf dalam tangisannya.


"Itu karena bunda tidak pernah mempercayai Yusva bang...selain itu Yusva juga melihat bahwa itulah garis hidup mereka!!" kata Yusva dengan suara bergetar.


********


Suwiryo memeluk anak dan keponakannya.


Tanah kuburan masih basah dan harum taburan bunga begitu menyengat.


"Paman, mengapa ayah, bunda dan ibu di masukan kedalam tanah??" tanya Yusva sementara Yusuf yang sudah sedikit mengerti hanya diam membisu.


Belum sempat ayah Yusuf menjawab, mereka dihampiri oleh sepasang suami istri dan dua orang putri mereka yang kurang lebih seumur dengan Yusva dan Yusuf.


"Paman Hamas!!" kata Suwiryo lalu menyambut tangan Kyai Hamas dan menyalaminya dengan takzim begitu pula dengan Yusuf dan Yusva.


"Anak-anak pintar...!!" kata Kyai pada dua anak itu.


"Wiryo...ada yang ingin paman sampaikan padamu!!" kata Kyai Hamas pada Wiryo.


"Kita bicara di rumah saja paman, biar anak-anak istirahat dulu!!" kata Suwiryo terlihat tegar padahal dia sangat terpukul kehilangan istri dan sahabatnya yaitu orang tua Yusva.


Mereka berjalan beriringan keluar dari pemakaman. Kyai Hamas dan istrinya menaiki mobil mereka, sementara Suwiryo dan Yusuf serta Yusva pulang kerumah naik motor.


Sepanjang perjalanan mereka bertiga hanya diam membisu. Yusva yang duduk di tengah memeluk pinggang Suwiryo dengan erat begitu pula Yusuf yang duduk di belakang.


Silakan duduk dulu paman, bibi!!" kata Suwiryo.


Setelah duduk tenang barulah Kyai Hamas memulai pembicaraannya.


"Wiryo, seperti yang kamu tau Yusva sekarang yatim piatu begitu pula dengan Yusuf punya ayah tapi tak punya ibu."


"Jika kamu mengijinkan, bolehkah kami mengadopsi Yusuf dan Yusva?? kami tau kedua anak ini memiliki kelebihan yang tak dimiliki oleh anak lain kami tak mau ada pihak lain yang menyalahgunakan kelebihan mereka.."Kata Kyai Hamas.


"Kamu pasti akan sangat sibuk selain bekerja juga merawat kedua anak ini, apalagi jika kamu sudah pergi tugas keluar daerah maka kedua anak ini dengan siapa??" Kyai Hamas menjelaskan panjang lebar dan Suwiryo tampak diam dan berpikir.


Sebenarnya dia tidak rela membiarkan Yusuf dan Yusva jauh darinya, tetapi apa yang dikatakan pamannya tadi semua benar, jika dia dinas keluar kota, Yusuf dan Yusva tinggal dengan siapa??


"Kamu boleh membawa mereka lagi di saat mereka bisa cukup menjaga diri." Akhir penjelasan Kyai Hamas.


"Yusva...Yusuf...apakah kalian mau untuk sementara ini tinggal di pondok pesantren milik kakek Kyai??" tanya Suwiryo.


Yusva dan Yusuf saling berpandangan akhirnya mereka berdua mengangguk pasrah.


Maka sejak saat itulah Yusuf dan Yusva diasuh oleh Kyai Hamas, digembleng ilmu bela diri kemampuan unik keduanya juga yang paling penting ilmu agama mereka.


Jika Yusuf setelah lulus sekolah menengah pertama kembali pulang keayahnya, sementara Yusva yang merasa sudah tidak punya siapa pun lagi memilih untuk tetap tinggal di pondok pesantren itu.


Setelah empat tahun dia menempuh pendidikan di Kairo Mesir, akhirnya Yusva kembali ke tanah air. Pada saat pernikahan Yusuf abang sepupunya itu dengan Sasha, dia sempat pulang dan datang diacara Yusuf dan Sasha. Lalu dia kembali lagi ke Kairo serta menyelesaikan skripsinya dan datang terlambat pada saat abang sepupunya itu meninggal.


***Flashback off***


"Assalamualaikum!!"


"Waalaikum Salam!!"


"Siapa itu yah??" tanya bu Ratna sambil menata makan malam si meja.


"Bude...." huhuhu....


Tampak Tyas menangis sesunggukan.


"Oalah...ada apa Yas!!" bu Ratna tampak panik melihat keponakannya itu menangis keras.

__ADS_1


Sejak kecil Tyas memang jarang menangis mungkin karena dia merasa sudah tak lagi mempunyai seorang ibu jika sampai dia menangis berarti ada hal yang benar-benar menyakiti hatinya.


"Ada apa, apa yang membuatmu menangis, Tyas??" kata pak Tio pakdenya.


"Mas Anjar bude...tadi dia bilang menalak Tyas hanya gara-gara Tyas menanyakan padanya, siapa wanita yang ada di dalam mobilnya semalam!!"


"Katanya Tyas lancang sekali untuk mencari tau apa kegiatan suami."


"Tyas sudah tidak sanggup lagi bude, Tyas merasa selama ini mas Anjar telah membohongi Tyas." ucapnya.


"Ya sudah...Tyas di sini aja dulu, nanti kamu pulang diapa-apakan lagi sama suami kamu.


"Tyas mending dipukul bude Tyas masih bisa melawan, tetapi jika hati Tyas yang tersakiti, Tyas tak akan tinggal diam!!" sahut Tyas.


"Andainya aja mba Sasha masih ada ya, bude!!" kata Tyas dengan wajah murung.


Bu Ratna termenung sesaat. Dia ingin memberi tau tentang Sasha kepada Tyas tapi nanti Tyas keceplosan pada suaminya, tapi tidak diberi tau ya kasihan juga!!


Akhirnya bu Ratna memilih untuk menyimpannya dulu.


Sementara di tempat kediaman Tyas dan Anjar.


"Dek...dek..."


Seperti biasa Anjar pulang sudah malam. Selain banyak pekerjaan, dia makan dulu keluar dengan Sari sehingga dia lupa bahwa sudah terucap kata talak tadi siang untuk istrinya yang tengah mengandung anaknya itu.


"Kemana sih Tyas...diakan libur hari ini?" lalu dia masuk kedalam rumah yang nampak sepi.


Dia melirik ke meja makan. Tak ada apapun yang terhidang di sana seperti biasanya jika dia pulang bekerja.


"Apa dia sedang ke mini market depan ya?? sebaiknya aku mandi saja dulu capek banget hari ini!!" gumam Anjar.


Terkadang jika dia tidak bersama dengan Sari, pikiran warasnya yang sangat mencintai istrinya itu muncul tetapi jika dia sedang bersama Sari seperti tadi siang, otak, mata dan hatinya seolah tertutup oleh pesona Sari.


Keesokan harinya Anjar bangun kesiangan. Biasanya istrinya selalu membangunkannya saat sholat subuh.


"Yas...Tyas...!!" teriak Anjar kalang kabut karena belum menyiapkan diri.


Setelah selesai mandi dan berpakaian, dia keluar kamar bermaksud untuk minum kopi yang biasanya selalu disuguhkan Tyas untuknya setiap pagi.


Mau dia di rumah ataupun saat Tyas mendapat dinas pagi, sarapan dan kopi selalu ada sebelum dia pergi bekerja, tapi sekarang??


Tiba-tiba dia ingat ucapannya kemarin siang pada sang istri yang memergokinya sedang bermesraan dengan Sari di dalam mobil.


"Talak??" itulah yang dia ucapkan di luar kesadarannya.


"Ya Allah...!!" seketika Anjar menjadi panik mengingat ucapannya itu.


Jangan-jangan Tyas pergi karena kata talak yang sudah diucapkannya itu?? Anjar semakin panik dan bingung.


"Oo tidak...aku tidak ingin bercerai dengan Tyas...aku mencintai istri dan bayiku!!" ucap Anjar.


Dengan cepat dia meraih ponsel dan menelpon bu Ratna buleknya Tyas.


"Aduuhh...nomor telepon Tyas ngga aktif, nomor telepon bude Ratna juga ngga aktif...gimana ini??" Anjar semakin panik. Akhirnya hari ini dia memutuskan ijin tidak masuk bekerja.


Bu Ratna sedang menyiram tanaman saat Anjar datang dalam keadaan kacau.


"Assalamualaikum!!"


Bu Ratna menghentikan kegiatannya untuk melihat siapa yang datang.


"Waalaikum Salam!!"

__ADS_1


"Eh Anjar...tumben kemari pagi-pagi??" tanya bu Ratna.


"Bude, Tyasnya adakah?? mau Anjar jemput pulang!!" kata Anjar.


"Lho...bukannya tadi pagi Tyas bilang mau pulang??" balik bertanya bu Ratna.


"Ngga ada bu!!" kata Anjar mulai panik.


"Sebetulnya ada masalah apa Anjar?? mestinya kamu sebagai seorang suami, semarah apapun tak pantas mengeluarkan kata talak dari mulutmu apalagi di sini terbukti kamu yang salah?? sudah salah ditegur malah marah!!" kata bu Ratna yang memang sudah mendengar masalah mereka dari mulut Tyas semalam.


"Ini cuma salah paham, bude...!!" kata Anjar.


"Sudahlah bude ngga mau ikut campur urusan rumah tangga kalian tapi yang jelas tadi pagi Tyas sudah pulang." Kata bu Ratna.


Tyas memang sudah pulang tetapi dia langsung kerumah sakit untuk mengajukan cutinya.


Semalam setelah berhasil memaksa budenya akhirnya Tyas tau di mana keberadaan Tyas.


***Flashback on***


Tyas keluar kamar Sasha hendak mengambil air dingin di kulkas secara tak sengaja dia mendengar percakapan budenya dengan orang yang selama ini dia rindukan.


"Bude...itu mba Sasha kan??" kata Tyas langsung masuk ke kamar budenya.


Bu Ratna yang tidak bisa berdalih lagi segera memberikan ponselnya pada Tyas agar mereka berdua bicara.


Entah apa yang mereka bicarakan tapi paginya yang bu Ratna tau katanya Tyas mau pulang.


Dia tidak tau sebenarnya rencana Tyas sehabis memberikan surat permohonan cuti, dia mau menyusul Sasha.


***Flashback off***


Secepat yang dia bisa Anjar balik menuju rumah, tapi rumah masih tampak lengang sama seperti tadi pagi saat dia tinggalkan.


Sedang pusing memikirkan di mana keberadaan Tyas mendadak ponselnya berbunyi.


Dddrrrttt....dddrrrttt


Dengan malas Anjar menggeser layar itu.


📱"Ada apa nelpon pagi-pagi, Sari??"


📱"Kok gitu sih mas?? emang salah ya jika Sari menyapa yayangnya Sari??"


📱"Ada apa Sar, mas sedang sibuk ini!!"


📱"Iya...iya ..ngga usah narah juga kali sama Sari!! Sari cuma mau bilang I love you mas Anjar!! Muach....


📱"Muach, balasan Anjar tanpa semangat sambil mengakhiri panggilannya.


Senyuman licik dari seberang sana menghiasi bibir Sari.


"Mas Anjar dan Tyas sebenarnya tidak salah apapun padaku, tetapi mereka adalah orang terdekat Sasha...selama Sasha belum ditemukan, merekalah yang jadi mainanku, Ratna, Tio, dan Ridwan tak terkecuali tak akan luput dari pembalasanku."


"Sampai kamu rasakan sakitnya orang yang kita sayangi direbut oleh orang lain!!" Sari terus tersenyum sambil memainkan jimat yang ada di lehernya.


*


*


***Bersambung....


Bagaimanakah cinta jika sudah terselubungi olh ilmu pelet dan pengasihan??

__ADS_1


Jangan lupa untuk selalu dukungan ya reader


__ADS_2