
"Perasaan mba Sari ini dari matanya melek pagi tadi bawaannya ngomel melulu, apa lidah mba Sari ngga keseleo??" tanya Lia agak kesal dengan omelan kakaknya itu.
"Diamlah kau Lia...jika tidak punya solusi dan saran untuk disampaikan, lebih baik kamu diam saja.
"Ya sudahlah, terserah kakak saja!!" kata Sari sambil mengangkat bahu kemudian berlalu kedapur untuk memasak makan malam untuk dirinya sendiri karena dia tahu kebiasaan mas Anjar jika sudah jam segini biasanya sudah makan di luar.
TOK...TOK...TOK
"Assalamualaikum!!"
Sari sudah cemberut menyambut suaminya pulang karena sudah hampir jam setengah sebelas malam.
"Sari, kalau ada orang memberi salam...jawab balik salamnya...toh menjawab Waalaikum Salam tidak akan membuatmu rugi??" kata Anjar sedikit kesal dengan kelakuan istri barunya.
"Dulu sewaktu bersama Tyas, secapek apapun...sengantuk apapun...dia akan tetap menyambut mas dengan suka cita!!' kata Anjar kembali membandingkan.
"Aahhh...sudah mas!!! aku tau pasti mas akan membandingkan kami berdua lagi!!" sambil menghentakan kakinya, Sari masuk kedalam kamar seraya membanting pintu kamar keras-keras.
Terpaksa Anjar mengurus dirinya sendiri lagi malam ini.
Sementara Lia yang mengintip dari kamarnya hanya bisa mengelus dada.
"Sepertinya aku ikut dengan mereka adalah sebuah keputusan yang salah, tau gini caranya mending aku di kos-kosan yang lama aja, tentram hidupku ngga harus mendengarkan pertengkaran setiap hari!!" gumam Lia.
Anjar membersihkan diri di kamar mandi dan berniat istirahat. Badannya sungguh terasa lelah hari ini. Tetapi saat dia ingin masuk ke kamar, pintu kamar terkunci dari dalam.
Bukan main kesalnya Anjar tapi tetap berusaha dia tahan lalu beralih keruang tengah membaringkan dirinya di atas karpet untuk tidur.
**************
Angin sore semilir tetapi menyucuk dan terasa sangat dingin.
Dua orang laki-laki tampan duduk terpekur di depan sebuah makam yang bertuliskan PUTRI MAHARANI.
Dia adalah Alfath dan Leonel yang datang berziarah kemakam Rani.
"Ran, ini aku Leon!! maaf aku baru bisa datang, aku minta maaf karena saat itu telah memaksakan kehendakku untuk menikahimu seandainya aku tidak memaksamu mungkin kamu tidak akan stres lalu memilih jalan untuk membunuh dirimu sendiri seperti ini.
Sosok Rani yang berdiri tak jauh dari merekapun menangis sedih.
"Akulah yang salah, Leon...aku terlambat menyadari bahwa yang kucintai sesungguhnya adalah kamu Leon dan bukan Alfath."
"Tetapi apalah daya, kini semua sudah terlambat...aku hanya bisa mendoakan kamu akan mendapatkan pengganti yang lebih baik dariku lagi!!"
"Aku juga minta maaf Rani, seandainya aku lebih peka dengan perasaan kalian berdua...kamu dan Leon sama-sama sahabatku mulai kita kecil, aku tak punya sahabat baik lagi selain kalian berdua." Lirih Alfath di antara suara desauan angin yang berhembus cukup kencang."
"Terimakasih sahabatku, tunanganku, kekasihku...kini tiba waktunya aku harus pergi...urusanku di dunia ini sudah selesai...jaga diri kalian baik-baik...selamat tinggal."
Seberkas cahaya putih membentang di hadapan Rani sesosok gadis kecil berdiri melambaikan tangan pada Rani.
"Putriku!!" senyum Rani terkembang dan menyambut uluran tangan gadis cilik itu lalu mereka berdua melangkah menuju kearah cahaya yang berkilauan itu dan akhirnya hilang.
"Dia telah pergi!!" bisik Alfath.
__ADS_1
Tadi dia sempat merasakan kehadiran Rani di dekatnya. Kemudian hilang kembali.
"Selamat jalan Rani...semoga di kehidupan berikutnya kita bisa menjadi sahabat sejati lagi!!" bisik Leon sambil mengusap batu nisan PUTRI MAHARANI.
Kedua sahabat itu bangkit berdiri dan berjalan perlahan meninggalkan makam Rani.
"Hari ini juga aku akan berangkat, fath!!" kata Leonel.
"Aku masih ada pekerjaan yang harus segera kuselesaikan." Kata Leonel lagi padahal dia sengaja menghindari untuk tidak terlalu lama di kota ini, hatinya terluka...mengingat semua kenangan manisnya di kota ini.
Akhirnya mereka berpisah dan saling berjanji untu tidak saling melupakan satu dengan yang lain walaupun tanpa Rani lagi bersama mereka.
******************
"Afifah....sayang...kok menangis terus kenapa nak??" Tyas bingung juga gugup. Afifah putrinya belum genap satu bulan. Bayi mungil itu terus menangis seperti ketakutan.
"Aduh, aku harus bagaimana ya?? mba Sasha dan mas Alfath pergi ke rumah orang tua mas Alfath, bude sama pakde sedang ada acara keluarga ke kota sebelah, ayah belum pulang juga, gimana ini?? tau gini aku ikut aja sama mba Sasha tadi!!". Gumam Tyas mulai resah dan bingung.
Perasaannya semakin malam semakin ngga enak, seperti ada sesuatu yang mengintai mereka berdua dari luar tapi entah apa.
Tyas sambil menggendong Afifah mengecek semua pintu dan jendela. Dia mengunci semuanya karena dia tau ayahnya membawa kunci cadangan.
Pak Ridwan memang menempelkan semua kertas berupa ayat kursi di setiap pintu dan jendela. Tujuannya agar mahluk-mahluk yang suka mengganggu bayi tidak akan mengganggu penghuni di rumah itu.
"Ya Allah...hatiku semakin tidak enak, mana ayah ku telepon ngga diangkat lagi!!" desis Tyas semakin kicep.
Dia masuk ke dalam kamarnya yang kebetulan dipasangi kelambu untuk menghindari nyamuk. (Tau kelambu kan?? yang bentuknya seperti jala kalau orang kampung sering sekali memakai kelambu agar tidak diganggu nyamuk).
Di dalam kelambu Tyas lengkap semuanya. Ada Yasin, karena bayinya belum genap berumur sebulan maka pak Ridwan juga menyelipkan duri bulu landak dan jariangau yang konon katanya bisa mengusir mahluk yang suka mengganggu bayi dan ibu hamil juga entong nasi yang terbuat dari kayu.
Dan beberapa hari ini tersiar kabar bahwa di kampung sebelah ada dua bayi yang masih merah meninggal dunia dengan tidak wajar.
Padahal tadi karena khawatir, Sasha dan Alfath mengajak Tyas dan bayinya untuk ikut kerumah orang tua Alfath tetapi karena tidak enak, Tyas akhirnya memilih untuk tinggal di rumah.
Tyas membawa Afifah masuk kedalam kelambu dengan perasaan campur aduk.
TOK...TOK...TOK
Tyas hampir keluar dari dalam kamar, tapi dia ingat lagi bahwa ayahnya membawa kunci cadangan.
Hanya suara ketukan tak ada ucapan salam apapun.
"Siapa itu ya??" gumam Tyas.
TIBA-TIBA....
DUK...DUK...DUK
Suara gedokan keras di jendela membuat Tyas semakin ketakutan. Dia memeluk Afifah erat.
Jantungnya berdetak sepuluh kali lebih cepat dari biasanya. Bulir-bulir keringat dingin membanjiri keningnya.
"Ya Allah, tolong selamatkan hamba dan anak hamba ya Allah!!" lirihnya hingga tak terasa butiran air mata di pipinya.
__ADS_1
"Tyas...Tyas...buka jendelanya...aku mau masuk!!!"
Suara perempuan yang agak serak begitu menakutkan mengetuk jendela kamarnya.
HENING LAGI...
"Syukurlah..,suara itu sudah tidak ada lagi!!" Tyas bernapas lega.
Tyas berbalik dan...
Sebuah benda melayang tepat di luar kelambu di belakang Tyas terbang sambil sesekali menjulurkan sesuatu.
"Astagfirullahaladzim!!"
Bukan main terkejut dan takutnya Tyas pada mahluk yang ada di depannya itu.
Sebuah kepala disertai usus dan organ tubuh yang terburai dengan rambut panjang acak-acakan dan mata merah menyala menatap Tyas dan Afifah yang berada di dalam kelambu dengan tatapan lapar.
Tyas ingin berteriak tetapi tak ada teriakan yang keluar dari mulutnya. Lidahnya terasa kelu untuk hanya sekedar berteriak. Tubuhnya semakin menggigil ketakutan. Dipeluknya Afifah dengan erat. Bayi mungil itupun seolah tau bahwa ibunya sedang ketakutan saat ini sehingga diapun diam dan tertidur dalam dekapan Tyas....
Sebelumnya di tempat yang berbeda....
Juan gelisah di atas tempat tidurnya. Miring ke kanan, miring ke kiri tapi tak jua dia mampu terpejam.
"Kenapa mataku seolah enggan untuk dipejamkan?? ada apa ya??" bisik Juan pada dirinya sendiri.
"Mengapa bayangan mba Tyas selalu menari di pelupuk mataku??"
"Kok perasaanku tiba-tiba ngga enak, ya?? sepertinya mereka ada dalam bahaya.
Dengan cepat Juan meraih ponsel untuk menelpon.
"Sudah jam 12 tengah malam...apa pantas aku menelpon jam segini ya?? ah, sudahlah aku lewat aja di depan rumahnya supaya perasaanku lebih baikan!!" gumam Juan.
Diambilnya kunci motor. Saat melewati ruang tamu, sepi...tante Santi mommynya pasti sudah tidur kslau jam segini.
Dengan tanpa suara dia keluar rumah dan menggeret motornya keluar dari halaman agar tidak bersuara.
Sampai ke tempat yang agak jauh, baru di starternya moge miliknya itu dengan kecepatan penuh membelah jalanan yang telah sepi.
"Lho itu siapa di pinggir jalan sedang mengutak atik motornya, sepertinya motornya mogok!!" gumam Juan.
"Selamat malam...motornya mogok??" sapa Juan berhenti di samping pengendara motor yang sedang memperbaiki motornya itu.
Dia menoleh pada Juan dan Juan pun agak terkejut...
*
*
****Bersambung....
Siapa orang itu?? dan bagaimana keadaan Tyas selanjutnya??
__ADS_1
Lanjut next episode reader🙏🙏