
Sasha tersenyum memandang lekat wajah suaminya yang bijaksana itu. Tak salah dulu almarhum Ali mempercayakan Yusuf untuk menjadi pendampingnya. Karena selain baik, suaminya juga penyayang dan penyabar serta hormat pada ayah dan juga kedua mertuanya.
"Jangan ngeliati mas sampai segitunya...nanti kalau mas meninggal nanti kamu kepikiran dan menangisi mas terus lagi!!" guraunya.
********
"Ayo Sha masuk....kamu sudah di tunggu untuk interview...semoga sukses ya!!" kata mas Anjar.
Yusuf juga sudah memberi semangat tadi pagi pada istrinya, dia tak bisa mengantar karena ada mata kuliah pagi.
"Aduh, tenang....ambil napas...buang napas!! Bismillah..."
Sasha masuk dengan di antar Anjar pacarnya Tyas.
Setelah berkas Sasha dilihat dan selesai di interview, Sasha langsung diserahkan beberapa berkas untuk dia kerjakan.
Dengan percaya diri Sasha mengerjakannya dengan cepat.
"Anda hebat nona...sebenarnya yang akan kami terima di sini khususnya wanita yang masih single tetapi saya lihat dari CV anda ternyata anda sudah berkeluarga ya...berapa lama sudah anda menikah??" tanyanya.
"Baru enam bulan lalu bu!!" sahut Sasha.
"Oke, baiklah...kapan anda bisa mulai bekerja??" tanya wanita yang menginterview Sasha itu.
"Besok pagi bu, hari ini saya harus menpersiapkan diri dulu!!"
Sasha berdiri dan berjabat tangan dengan ibu Cindy seperti yang Sasha lihat dari tag di dadanya.
"Gimana Sha?? diterima??" tanya Anjar.
"Alhamdulillah mas Anjar..." kata Sasha dengan wajah berbinar-binar.
"Terima kasih atas infonya ya mas, Sasha akan bekerja dengan baik agar tidak mempermalukan mas Anjar!!" kata Sasha.
"Cindy...apa pelamar yang akan mengisi lowongan untuk akuntansi itu sudah ada??" tanya seorang lelaki muncul dari ruang kerjanya.
"Sudah pak Alfath, besok dia sudah bisa mulai bekerja!!" kata Cindy.
"Oohh ya sudah, sekalian kemarikan yang hari ini akan saya tanda tangani." Lalu lelaki berwajah dingin itu masuk kembali ke ruangannya.
Sasha dengan riang melajukan sepeda motornya. Tak lupa dia singgah ke pasar, dia ingin memasak enak untuk merayakan keberhasilannya.
"Sha...banyak amat belanjaanmu, memang mau hajatan??" tanya bapak mertuanya di depan halaman.
"Iya yah, mulai besok Sasha sudah mulai bekerja!!" kata Sasha.
"Syukurlah...!!" kata pak Wiryo.
"Mas Yusuf sudah pulang, yah??" tanya Sasha...
"Belum, paling sebentar lagi." Kata pak Wiryo.
"Ya sudah Sasha mau masak dulu ya, yah!!" kata Sasha.
********
"Wah si aden yang waktu itu ya!!" kata Mang Engkus sambil tersenyum pada Alfath.
"Bungkus atau makan di sini mas??" tanya Mang Engkus.
"Makan di sini aja mang!!" kata Alfath
"Kok sendirian den, pacarnya waktu itu ngga ikut den??" tanya mang Engkus sambil menyiapkan pesanannya.
"Sesekali jalan sendiri mang, bosan diikuti terus seperti orang penting saja dikawal terus!!" kata Alfath.
Tumben sepi mang??" tanyanya.
"Iya den, non Sasha yang suka beli tempo hari itu sudah ngga tinggal di sini lagi, semenjak menikah dia ikut suami dan mertuanya.
"Sudah menikah??" tanya Alfath.
"Iya, sewaktu dia beli di sini itu beberapa hari kemudian dia menikah." Kata mang Engkus.
__ADS_1
Oooo...
Hanya kalimat itu saja yang keluar dari mulut Alfath.
"Mang Engkus...bungkus dua ya!!"
"Eh mas Yusuf...baru pulang kuliah...ngga sama mba Sasha??" tanya mang Enkus.
"Istri saya kuliah sore sekarang mang...karena mulai besok dia sudah bekerja.
"Ini pesanannya mas..." mang Engkus menyerahkan dua bungkus siomay.
Setelah mengucapkan terima kasih Yusuf pun berlalu.
"Mas Yusuf itu tadi suaminya mba Sasha yang tempo hari itu...hidup memang sudah ada yang ngatur, neng Sasha pacarannya dengan den Ali tapi nikahnya dengan mas Yusuf."
Alfath mulai tertarik dengan cerita mang Engkus mengenai wanita yang dia maki-maki tempo hari itu.
"Kok bisa begitu mang??" tanya Alfath.
"Karena den Ali itu meninggal kecelakaan...dan wajah den Ali itu sangat mirip dengan aden!!" kata mang Engkus.
"Saya??" kata Alfath.
Pantas...cewek rese itu, mang Engkus dan laku-laki bernama Yusuf tadi juga terkejut melihatku!!" gumam Alfath.
******
"Sayang, bekalmu sudah mas siapkan...dimakan nanti ya!!" kata Yusuf memasukan makanan dan botol air minum untuk Sasha.
"Iya mas...mas Yusuf bareng Sasha kah berangkatnya??" tanya Sasha.
"Iya mas akan antar kamu sampai depan pagar..."
Lalu mereka naik motor menuju keperusahaan tempat Sasha akan bekerja hari ini.
"Selamat pagi bu Cindy!!" sapa Sasha ramah.
"Selamat pagi...."
Suara bariton menyapa karyawan di depan pintu yang diikuti munculnya sesosok tubuh tinggi dan di sampingnya berdiri juga sosok perempuan cantik dan anggun.
Selamat pagi pak Alfath...bu Rani jawab mereka kompak.
Alfath melihat sesosok tubuh mungil yang mengenakan hijab berdiri di antara yang lain.
Ditajamkannya mata untuk melihat sosok wanita itu.
"Ooo jadi dia karyawan baru yang dibilang ikut interview kemarin!!" batin Alfath.
"Aku hampir tidak mengenalinya karena sekarang dia sudah berhijab...dia tampil memang sangat dewasa berbeda dengan tempo hari yang wajahnya polos-polos aja seperti murid SMA." Alfath membatin lagi.
Dia melirik ke jari tangan mungil itu. Cincin bulat melingkar di jari manis tangan kanannya.
Berbeda dengan Sasha. Dia nampak gelisah kalau bisa dikatakan takut. Dia takut dicaci maki lagi oleh orang yang wajahnya mirip dengan Ali Wardhana itu.
Dia takut karena dia pernah membasahi kaki celana orang itu.
Sasha berdiri setenang mungkin agar rasa takutnya bisa dia atasi.
"Kamu karyawan yang kemarin baru diinterview itu??" tanya Alfath mencairkan suasana.
"Iya pak!!" kata Sasha sambil membungkukan sedikit tubuhnya.
Dia sama sekali tak berani melihat wajah Alfath. Selain takut dimarahi lagi seperti tempo hari, dia juga takut karena wajah Alfath mirip sekali dengan Ali.
Alfath sepertinya menyadari jika karyawan barunya itu tidak nyaman jika dia ada di situ berlama-lama lalu melangkah masuk keruangannya diikuti oleh sekertaris cantiknya.
Sasha lega paling tidak itu mulut racun tidak mengeluarkan bisanya.
Sepanjang siang Sasha dengan tekun berkutat dengan pekerjaan di depan komputernya. Hingga tepat jam dua belas siang ponselnya berbunyi.
Ddrrtttt...ddrrtttt
__ADS_1
MAS KU CALLING
📱"Assalamualaikum sayang!!"
📱"Waalaikum Salam mas!!"
📱"Jangan lupa dimakan bekalnya ya...ini mas juga lagi makan.
📱"Jangan khawatir mas ini juga sudah mau makan!!"
📱"Ya sudah...makanlah dulu, ya...Assalamualaikum sayang!!
📱"Waalaikum sayang!!"
Senyum Sasha mengembang saat mendengar suara lembut suaminya yang menyejukan hati.
"Sasha...kamu ngga istirahat makan??" tanya bu Cindy melewati mejanya.
"Saya bawa bekal bu!!" ucap Sasha sopan.
"Oh iya sudah saya makan dulu ya!!" pamit bu Cindy berlalu.
"Beib...kita makan siang keluar yuk!!" ajak Rani pada Alfath.
"Ayo lah...!!" kata Alfath.
Lalu Rani dan Alfath pun keluar dari ruangannya.
Alfath melirik sekilas pada Sasha yang sedang makan bekalnya sambil sesekali senyum-senyum membalas pesan di ponselnya.
"Kamu tidak istirahat keluar makan siang?" tanya Alfath mengalihkan netra Sasha dari ponselnya.
"Oh, pak Alfath...bu Rani...tidak pak...suami saya sudah membawakan saya bekal tadi pagi, mubadzir jika tidak dimakan!!" kata Sasha.
Alfath sesaat mematung di depan meja Sasha mendengar itu. Sebegitu sayangnya sampai sang suami menyiapkan bekal makan siang untuk istrinya.
Lalu mereka berdua melangkah keluar meninggalkan Sasha.
Di mejanya Alfath termenung sambil mengaduk minumannya.
Sejak taman kanak-kanak dia dan Althar kakaknya selalu diurus oleh baby sitter dan bibi untuk keperluan mereka.
Mama sibuk mengurusi perusahaan yang ada di dalam negeri dan papa sibuk mengurusi perusahasan yang ada di Aussie.
Seminggu sekalipun belum tentu dia dan Althar bertemu dengan kedua orang tua mereka.
Jadi tidak bisa di salahkan jika Alfath tumbuh sebagai lelaki yang bertemperamen keras.
Setelah tamat SMA dia melanjutkan studinya ke Aussie dan bertemu dengan Rani di sana.
"Beib...kok makanannya cuma diaduk-aduk saja??" ngga enak ya??' kata Rani menatap Alfath lalu piring di depannya.
"Ah, ngga...makanannya enak kok!! Ayo cepat kita makan agar cepat kembali ke kantor...aku ngga enak mentang-mentang yang punya perusahaan tapi mau semau-maunya aja!!" kata Alfath yang memang selalu disiplin.
Saat dia kembali dia melihat gadis itu sedang melaksanakan ibadah sholat Dhuhur di belakang mejanya yang memang ada sedikit ruang!!
Lagi-lagi Alfath termangu. Sepanjang Rani bersamanya, tak pernah sekalipun dia melihat Rani sholat.
( Hayo jangan mulai membanding-bandingkan Sasha denga Rani deh, Fath...secara dari didikan saja mereka beda😊😊).
Alfath dan Rani melewati wanita mungil yang sedang sholat itu dan masuk kembali ke ruangannya.
"Alhamdulillah...."
Sang suami selalu mengajarkan, "bagaimanapun keadaannya kita sebagai manusia itu mesti bersyukur!!" itulah kalimat yang sering diajarkan oleh Yusuf pada istrinya itu.
*
*
****Bersambung....
Hai reader....jangan bosan untuk mengikuti terus kisah mereka ya...dan jangan lupa dukungannya!!
__ADS_1