Maaf Atas Dustaku

Maaf Atas Dustaku
Bab 93 Kembali Menjadi Sasaran


__ADS_3

"Berarti Ansar dalam bahaya saat ini, bagaimana caranya aku bisa melindungi dia ya??" gumam Lia yang mulai gelisah.


"Kenapa kamu diam, Lia?? apakah kamu sedang memikirkan sesuatu??" tanya Anjar.


Lia belum bisa menceritakan kepada Anjar tentang tanda lahir yang dimiliki oleh Ansar, sebab di situ ada Badai yang Lia belum terlalu mengenalnya.


"Lia hanya bingung mas, terus apa kita harus pindah kontrakan??" tanya Lia.


"Apa mas bertemu dengan kak Sari??" tanya Lia lagi.


"Ketemu!!" sahut Anjar pelan.


Lia menangkap pandangan yang nggak enak di wajah Anjar, makanya Lia memilih diam.


"Dilihat dari wajah Anjar, pasti sudah terjadi sesuatu nih!!" pikir Lia.


Sebenarnya pun Anjar bertanya-tanya, apa benar mayat hidup itu mengejar Ansar?? Tapi untuk apa?? apa istimewanya putra nya yang buta itu.


Kita tinggalkan dahulu keluarga Anjar, kita mengikuti Surtinah yang masih memakai pakaian bang ojol itu berlari cepat menuju ke timur.


Sesampainya di sebuah rumah puncak bukit dia masuk kedalam rumah.


Nyai Sambang dan Ganda Suri yang tengah bersemedi terbangun karena karena menghirup udara yang tak sedap.


"Tina...bau apa badan kamu ini?? kok kamu bau t*ai ayam?? Jangan katakan kamu habis nyosor darahnya ayam di kandangnya orang!!" ucap Nyai Sambang.


"Mandikan dia Ganda...tak nyaman rasa hati dan indra penciumanku dekat dengan dia!!" kata Nyai Sambang.


Setelah bersih, mereka bertiga dudul bersila berhadapan.


"Bagaimana Tinah, berhasilkah kamu membunuh bayi yang langsung menjadi titisan Kyai Abdullah itu??" tanya Nyai Sambang.


Surtinah menggeleng kaku.


"Aduh...Ganda!!! bodohnya muridmu ini??? membunuh bayi yang buta aja dia ngga sanggup...bayi itu harus lebih dahulu kita singkirkan, karena dia adalah titisan langsung Kyai Abdullah dan akan mewarisi seluruh kesaktian Kyai tua itu."


"Karena jika tidak dibunuh sekarang, maka akan bertambah hebatlah bayi itu, sekarangpun yang telah menyelamatkannya pasti orang yang telah dia kasih mimpi sebelumnya." Kata Nyai Sambang gusar.


"Lalu apa yang harus kita lakukan guru??" tanya Ganda Suri.


"Kamu bertanya kepadaku?? terua aku bertanya pada siapa??" sentak Nyai Sambang.


"Tinah hanya bisa keluar saat sore menjelang maghrib, tak bisa keluar siang-siang." Kata Ganda Suri.


"Guru...mengapa bukan bocah yang bisu itu saja dulu yang kita habisi??" tanya Ganda Suri lagi.


"Kamu benar Ganda, setelah Pedro yang kuberi tugas tak berhasil membunuh bocah itu, sekarang giliran kamu yang melakukannya!!" kata Nyai Sambang.


"Kok saya guru??" elak Ganda suri.


"Kan ide ini kamu pencetusnya, jadi kamulah yang harus melaksanakannya!!" gerutu Nyai Sambang.


"Menyesal saya memberi ide ke guru, belakangannya juga harus saya yang melakukannya." Gerutu Ganda Suri.

__ADS_1


"Tinah...kita ubah rencana!! besok sore kamu temui bocah bisu yang bernama Vallen itu...habisi dia!!" ucap Ganda Suri diiringi anggukan kepala yang kaku dari Tinah.


***********


"Vallen, kamu nampak gelisah kenapa??" tanya Alfath yang melihat adik angkatnya itu gelisah sejak tadi.


Vallen hanya menggeleng lalu dia berdiri menuju kamarnya.


"Vallen itu kenapa bu?? ngga biasa-biasanya dia begitu??" tanya Alfath pada ibunya yang sedang menonton televisi.


"Bu?? ish...ibu diajak bicara malah diam aja!!" kata Alfath.


"Diam dulu Alfath...ibu lagi menonton berita nih!!" kata ibunya yang membuat Alfath mendekat karena penasaran, bersamaan juga dengan datangnya Sasha membawa teko teh dan cangkirnya.


"Telah terjadi pembunuhan yang diperkirakan berprofesi sebagai tukang ojek online...korban ditemukan dibuang didekat jurang dengan kondisi tubuh membiru hanya mengenakan pakaian dalam...sementara motor yang diduga milik korban ditemukan kira-kira dua kilo meter dari tempat korban dibunuh dalam keadaan ringsek...kini tim forensik dan petugas kepolisian masih menyelidiki sebab musabab kematian korban!!"


"Kok tempat lokasi motor ditemukan seperti jalan mau menuju ke kontrakan Anjar ya??" kata Sasha.


"Iya ya??" kata Alfath sambil memperhatikan dengan seksama.


Sementara Vallen duduk di tepi pembaringan. Dia membuka kotak beludru berisi kalung mustika pemberian keluarganya itu.


"Sepertinya sudah tiba saatnya aku memakai kalung warisan keluargaku turun temurun ini...tampaknya pembunuh keluargaku juga orang-orang yang mau mengincar nyawa tuan muda...untung tuan muda juga dititisi oleh Kyai sakti itu jadi saat aku tak bersamanya, tuan muda bisa melindungi dirinya sendiri!!"


"Aku harus memakai kalung ini, sekarang aku harus bisa melindungi diriku sendiri dari ancaman mahluk yang menjadi sesembahan Pedro mantan kakak iparku yang jahat itu!!"


"Sepertinya mahluk itu sudah sampai di sini dan mulai menyebar teror di sini dengan bantuan media lain...aku bukan hanya mempunyai kewajiban melindungi diriku sendiri, tapi juga melindungi keluarga baruku...dan juga tuan muda."


Setelah semalaman berkencan dengan James, pria bule yang membayar itu, dengan santai Sari melenggang pulang menuju kontrakan.


"Lumayan...kalau sekali kencan dapat sepuluh juta begini!!" gumam Sari senyum-senyum sendiri.


"Lho...rumah kok sepi ya?? biasanya jam segini Lia mengajak bayi buta itu jalan-jalan pagi.


Sari masuk kerumah kontrakannya, tampak rumah sangat berantakan dan bau seperti kotoran ayam.


"Apa-apaan ini?? mengapa rumah tampak berantakan sekali?? ah... yang benar saja, masa aku yang harus membersihkan semuanya???" gumam Sari kesal.


Apa semalaman mas Anjar, Ansar dan Lia tidak pulang kekotrakan ini ya??? lalu mereka menginap di mana??" gerutu Sari.


"Ah, tapi apa peduliku?? terserah mereka ada hubungan apa aku juga tak peduli!!" sahut Sari lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Sementara itu di tempat kediaman pemuda yang bernama Badai yang telah menolong Anjar dan Ansar semalam.


Lia sedang membuat sarapan untuk mereka bertiga juga membuat bubur bayi untuk Ansar.


"Terus ibunya Ansar ini kemana, bang??" tanya Badai sambil menyendokan nasi goreng kedalam mulutnya. Baru sekali ini dia sarapan pagi dengan nasi biasanya sarapannya hanya susu, atau jus dengan roti.


"Ehmmm...nasi gorengnya enak banget, Lia..." ucap Badai tulus.


"Kemarinkan abang sudah cerita padamu, gara-gara mengejar ibunya Ansar ke penginapan, abang dan Ansar juga jadi ikut dikejar mahluk aneh itu." kata Anjar.


"Sekarang mungkin keduanya masih di penginapan kali!!" ketus Anjar.

__ADS_1


"Tapi mendengar cerita abang, Lia jadi takut kak Sari diapa-apakan oleh mahluk itu kak!!" ucap Lia.


"Ngga ada untungnya mahluk itu mengganggu kakakmu Sari!!" ucap Anjar.


"Memang sebaiknya kalian jangan kembali ke kontrakan lagi, pasti mahluk itu akan datang lagi ke kontrakan kalian karena merasa belum mendapatkan buruannya."


Tak lama Anjar berangkat bekerja dan Lia sedang menyuapi Ansar.


"Lia, Ansar ini wajahnya menurun pada siapa sih?? apakah ibunya secantik ini??" tanya Badai penasaran.


"Ngga tau juga...perasaan ngga ada yang dituruni sama Ansar deh!!" kata Sari.


"Walaupun dia buta, tapi jika dewasa nanti dia pasti akan menjelma menjadi seorang pemuda yang sangat tampan." Kata Badai.


"Lia...kamu sudah punya pacarkah??" tanya Badai to the point.


"Memangnya kalau aku jawab belum, kamu mau jadi pacarku??" ketus Lia.


"Mau...aku mau...kulihat kamu bukan hanya cantik dan baik tapi juga lembut dan penyayang." Kata Badai.


Lia mencibir mendengar perkataan Badai walaupun hatinya senang juga pada pemuda ceplas ceplos itu.


***********


"Mommy sedang nonton apa sih kok sepertinya serius banget??" tanya Juan saat melihat Santi sedang fokus melihat berita pembunuhan di televisi.


"Juan, bukankah itu jalan menuju ke kontrakan abang sepupumu itu ??" tanya Santi.


Juan ikut memperhatikan.


"Iya ya mom...itukan lokasi dekat rumah kontrakan bang Anjar." Kata Juan.


"Terus mayat itu coba kamu perhatikan tanda di lehernya!!" kata mommy Santi.


Santi menzoom untuk melihat luka itu.


"Jenazah bukan hanya dibunuh tetapi ada sebagian darahnya dihisap coba lihat lingkaran hitam dipinggiran lehernya itu...seperti goresan memanjang." Kata Badai lagi.


Itu seperti goresan kuku ya mom!!" tekan Juan.


"Kamu benar Juan, dan pelakunya seperti bukan manusia." Kata mommy Santi.


"Apa yang dicari pembunuh itu ya??" tanya Juan.


Juan pun mulai menerka-nerka dan mengaitkan semua seperti yang sudah diceritakan Kei Lan semalam padanya!!


*


*


***Bersambung...


ikuti terus kisah selanjutnya dan jangan lupa dukungannya ya reader🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2