Maaf Atas Dustaku

Maaf Atas Dustaku
Bab 34 Memaafkan


__ADS_3

Alfath mengambil salad buah dan rupanya keinginan dia sama seperti keinginan Sasha.


Mengambil piring yang sama membuat keduanya saling bertatapan.


DEG....


"Kamu???"


Sasha langsung melepas piring di tangannya dan segera hendak berbalik pergi.


Orang yang ada di depannya saat ini membuatnya amat ketakutan.


Sasha hendak berbalik saat satu tangan menariknya dan membawanya kesamping gedung yang agak sepi.


"Lepaskan tangan saya pak, bapak menyakiti tangan dan perut saya!!" kata Sasha meringis saat dia merasakan perutnya menjadi kram kembali.


Alfath melepaskan pegangannya lalu tangannya membelai perut Sasha.


"Halo...baby...ini ayah...kamu di dalam sana jangan nakal-nakal ya nak, kasihan bunda kamu!!"


DEG...


Spontan Sasha tersentak mendengar perkataan Alfath.


"Apakah dia tau bahwa aku sedang mengandung anaknya??" pikir Sasha.


Dan itu semakin membuatnya ketakutan setengah mati.


"Tidak...ini anakku dengan almarhum suamiku...enak saja kamu menyebut bahwa ini anakmu!!" kata Sasha kesal tapi juga takut.


"Bohong...kamu berbohong Sasha...yang kamu kandung itu anakku dan bukan anak Yusuf suamimu."


"Terus sebenarnya kamu mau apa bapak Alfath yang terhormat??" teriak Sasha sambil menangis dan membuat perutnya yang tadi mulai membaik jadi sakit kembali.


Dengan cepat Alfath memeluk dan memberikan ketenangan pada wanita itu. Membiarkan dia menangis menumpahkan kebencian, kekesalan dan kemarahannya di dada Alfath.


"Aku membencimu, sangat membencimu!!" kata Sasha sambil terisak di dalam pelukan Alfath.


berikan aku kesempatan untuk dekat dengan anakku!!" ucap Alfath.


"Kamu selalu bilang ini anakmu, ini bukan anakmu...ini anakku dan mas Yusuf!!" kata Sasha masih dalam penolakannya.


Lalu terlihat dia meringis saat dia selalu membuat pergerakan yang menguras emosi.


Kembali Alfath mengelus dan membelai perut itu untuk mengurangi rasa sakitnya.


Mujarab memang, sentuhan sang ayah kandung membuat bayi itu semakin nyaman dan akhirnya rasa sakit itu hilang.


"Bagaimana?? rasa sakitnya sudah hilang kan??" tanya Alfath dan tanpa sadar Sasha menangguk.


"Sha...tolong, kamu berdosa jika ingin memisahkan ayah dan anaknya, aku minta maaf mungkin pernah memperlakukanmu dengan kasar saat itu tetapi itu semua kulakukan karena kekesalanku pada sikap masa bodo kamu padaku."


"Aku cinta sama kamu, aku sayang sama kamu walaupun aku tau aku juga salah telah mencintai istri orang, tapi jika kamu mau menyalahkan, salahkan perasaanku yang begitu bodoh karena telah jatuh cinta padamu!!"


"Ya sudah kita masuk ya...tolong jangan menghindar lagi dariku, Sasha...biarkan aku selalu berada di dekat anakku...aku tak mau memaksamu untuk menikah denganku jika kamu belum merasa siap." jawab Alfath.


Mereka masuk bersamaan diiringi pandangan aneh dari orang tua Sasha.


"Kenalkan bu, ini mantan bosnya Sasha!!" kata Sasha memperkenalkan Alfath pada orang tuanya.


Lama bu Ratna memandang wajah Alfath sambil berusaha untuk berpikir.


"Kok wajahnya mirip Ali anaknya jeng Lili yang sudah meninggal itu, ya??" kata Ibu Ratna.


"Hanya mirip bu tapi mereka berbeda!!" kata Sasha lagi. Lalu melangkah ke dalam gedung kembali dengan cueknya meninggalkan Alfath.


"Kamu mau makan apa, aku ambilkan ya!!" kata Alfath yang sudah berada di samping Sasha.


"Aku mau makan rendang daging itu!!" tunjuk Sasha.


"Iya, mas juga mau makan rendang itu, mas ambilkan sebentar ya??" kata Alfath yang sudah merubah panggilannya membuat Sasha jadi terpana mendengarnya.


"Mas???" kata Sasha bingung.

__ADS_1


"Iya, mas...adek kan jauh di bawah mas usianya...lagian jika kita menikah nanti adek harus terbiasa dengan panggilan ini!!" kata Alfath sambil tersenyum pada Sasha yang masih bengong.


Alfath membawa Sasha makan di pojok.


"Pelan-pelan makannya, kalau habis nanti mas ambilkan lagi!!" katanya tersenyum senang melihat Sasha makan dengan lahap.


"Mas mau ambil salad buah dulu ya, kamu tunggu sebentar!!" kata Alfath lalu bersiap berdiri.


"Mas!!" kata Sasha lirih.


NYESS...


Alfath terhenti saat Sasha menyebut kata mas di bibir mungilnya.


Ada rasa bahagia yang tak terhingga mendengar panggilan Sasha itu untuknya.


"Kenapa?? adek mau salad buah juga?? nanti mas ambil sekalian, ya??" kata Alfath dan Sasha hanya mengangguk saja.


Alfath masih sibuk mengambilkan salad untuk Sasha dan untuk dia saat ada keributan kecil di meja Sasha.


"Bagus ya...baru 4 bulan ditinggal suami mati sudah pengen nikah lagi!! Kak Yusuf pasti kecewa melihat perempuan yang dicintainya ternyata begini kelakuannya!!" perempuan itu tidak sendiri...dia datang dengan seorang temannya mengeroyok Sasha.


"Kamu siapa??" tanya Sasha yang memang tak mengenal wanita itu.


"Dulu aku adalah pacar kak Yusuf dan calon istrinya, lalu tiba-tiba kamu datang mengacaukannya!!" katanya sinis.


"Pacar??? calon istri?? kenapa mas Yusuf tak pernah mengatakan itu??" kata Sasha.


"Ya, iyalah dia tak mengatakan... kamukan cewek lemah yang saat itu sedang labil gegara pacarmu selingkuh lalu meninggal kecelakaan dengan selingkuhannya...Yusuf harus menjaga perasaanmu dan Ali mengamanatkan Yusuf untuk menjagamu dan akhirnya mengabaikanku...kamu memang sialan Sasha....!!" teriak wanita itu dengan marah lalu mengambil sisa kuah soto yang ada di meja lalu mengguyurkan ke kepala Sasha.


"Kurang ajar..." kata Tyas melihat kakak sepupunya diperlakukan seperti itu...tapi tidak mungkin dia turun dari pelaminan untuk menghajar si pengacau itu.


"Mas saakkiitt..." kata Sasha pada Alfath yang baru datang dengan dua cup salad buah di tangannya.


"Kurang ajar...siapa kalian telah berani kurang ajar pada calon istriku???" lalu...


PLUK...PLUK....


Dua cup salad buah itu mampir cantik di wajah kedua wanita yang menyerang Sasha.


"Bawa dua wanita gila ini pak..." teriak Alfath pada sekuriti.


"Perut Sasha sakit mas!!" rintih Sasha lemas sementara rambut dan baju atasnya penuh dengan air kuah soto."


"Bang*sat....awas kalian berdua ya...kita ketemu nanti di pengadilan!!" teriak Alfath dengan marah.


Ibu Ratna dan pak Tio serta ayah Yusuf almarhum yang mendengar keributan di dalam gedung segera lari masuk ke dalam untuk melihat apa yang terjadi.


Mereka berselisihan dengan dua orang wanita pecundang yang menyiram kepala Sasha dengan kuah soto tadi.


"Sari...Lia...!!" desis pak Wiryo pelan.


Sasha sudah menangis dalam pelukan Alfath yang berusaha membersihkan kepala dan baju Sasha dari sisa-sisa makanan.


"Sasha....!!" teriak bu Ratna.


Pak Tio menatap Alfath dengan tajam.


"Kamu siapa?? kamu ada hubungan apa dengan Sasha??" tanyanya.


"Saya bosnya dulu pak, dan saya juga sebentar lagi akan melamar Sasha karena..."


"Mas...."


Sasha menekan pinggang Alfath dengan jempolnya untuk memberi isyarat untuk tidak mengatakan apapun pada ayahnya.


"Karena apa??" ulang pak Tio pada Alfath.


"Karena saya mencintainya dan bersedia menjadi ayah pengganti untuk bayi yang ada di dalam kandungannya!!" kata Alfath cepat.


"Ayo sayang kita keruang ganti dulu...masa istri mas bau soto?? tinggal mas kasih kecap sama jeruk aja dong??" candanya sambil menggendong tubuh Sasha.


"Kenapa sih mas Anjar kok nahan Tyas?? kalau ngga ditahan sudah Tyas hajar dua perempuan tadi!!" geram Tyas pada suaminya.

__ADS_1


"Bukan gitu yank...mas yakin pasti pak Alfath tidak akan tinggal diam melihat Sasha diperlakukan seperti tadi!!" jawab Anjar.


Bu Ratna masuk kedalam ruang ganti bertepatan saat Alfath sedang jongkok di depan perut Sasha dan mengelus-elusnya seperti tadi untuk meredakan rasa sakitnya.


Ada beberapa patah kata yang sempat terdengar dan tertangkap oleh telinga bu Ratna yang membuatnya membisu.


"Sayangnya ayah...sudah ngga sakit lagi kan?? sudah ngga apa-apa kok mereka sudah pergi, ayah akan menjaga dedek dan bunda mulai sekarang!!" kata Alfath mengelus dan tersenyum lembut pada perut Sasha.


"Mengapa mereka kok tampak sudah akrab?? apa mereka sebelumnya memang mempunyai hubungan??" feelingnya sebagai seorang ibu mulai menerka-nerka.


"Pak Alfath...Sasha...sebenarnya kalian berdua ada hubungan apa?? jangan kamu bilang Sasha bahwa janin yang kamu kandung itu sebenarnya anak pak Alfath dan bukan anak dari Yusuf suamimu?" kata ibu Ratna memandang tajam pada keduanya.


Sasha langsung menunduk takut dan Alfathpun berdiri mematung dan jadi serba salah.


"Bu, apa yangi ibu katakan itu benar, janin di perut Sasha itu memang anak saya, karena malam itu saya telah memper*kosa Sasha bu...maafkan saya."


PLAK...PLAK


Pipi Alfath ditampar kiri kanan oleh ibu Ratna yang jadi emosi mendengar penuturan Alfath.


Bibir bawah Alfath berdarah sangking kerasnya tamparan ibu Ratna di pipinya.


"Bu, cukup...Sasha ngga ingin ada keributan lagi!! kata Sasha menahan ibunya.


"Kamu harus mempertanggung jawabkan perbuatan kamu Alfath...nikahi Sasha segera agar anak yang ada di dalam kandungannya itu statusnya menjadi jelas!!" sentak ibu Ratna sambil meninggalkan mereka.


"Mas??" kata Sasha.


"Mas akan menelpon orang tua masdi Aussie untuk datang dan melamarmu, dek!!" kata Alfath memeluk Sasha.


********


Pak Wiryo menemui Sari dan Lia di kantor polisi setelah tadi mereka melakukan penyerangan pada Sasha.


"Apa-apaan kamu Sari??? kamu juga Lia, sudah tau mbakyu kamu otaknya kurang setetes diikuti juga!!" geram pak Wiryo.


"Pakde??" teriak keduanya.


Sari dan Lia masih keluarga jauh dengan pak Wiryo. Mereka berdua memilih menjadi TKW ke Arab setelah lulus SMP.


Sari memang mencintai sepupu jauhnya itu walaupun Yusuf cuma adem-adem aja menanggapinya.


Setelah kepulangannya ke tanah air dia mendengar bahwa Yusuf telah meninggal dunia, dia menjadi murka pada Sasha yang dianggapnya telah menjadi penyebab kematian Yusuf.


"Apa yang telah kamu lakukan Sari, Lia...kematian Yusuf bukan salah Sasha, semua itu takdir yang kuasa." Kata pak Wiryo.


"Sekarang kalian berdua malah berakhir di kantor polisi seperti ini!!" kata pak Wiryo lagi.


Tak lama Adit sepupu Yusuf juga menyusul ke kantor polisi.


"Hadeuh...kalian lagi...kalian lagi bikin ulah?? sekarang apa lagi yang mereka lakukan pak de??" tanya Adit.


"Mereka menyiram kepala Sasha di acara pernikahan Tyas dengan kuah soto!!!" kata pak Wiryo dan membuat Adit menepuk jidatnya.


Adit memang menjadi seorang pengacara sekarang.


Setelah diurus oleh Adit akhirnya kedua sepupunya itu bebas dengan syarat. Untung Alfath mau menarik kembali tuntutannya setelah berulang kali dibujuk oleh Sasha.


"Lain kali aku ngga mau menolong kalian lagi!!" kata Adit dengan kesal.


"Lia, mbak masih dendam dengan perempuan yang bernama Sasha itu...jika dengan jalan kasar kita tidak bisa menyingkirkannya, maka kita akan melakukannya dengan cara halus!!" kata Sari sambil menyeringai jahat.


"Apalagi yang akan mbak lakukan sih??" kata Lia sang adik.


Sari hanya bermain dengan seringaian di mulutnya.


*


*


***Bersambung...


Apa sebenarnya rencana Sari untuk mencelakakan Shasa??

__ADS_1


Dukung terus dan ikuti cerita selanjutnya ya reader tercinta๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ™๐Ÿ™


__ADS_2