
"Tante...mana adek Fifah??" suara cempreng Alma mengagetkan lamunannya.
"Wih...Alma pagi-pagi sudah cantik mau pergi kemana??" tanya Tyas.
"Mau main cama adek Fifah dan adek Fathil!!" jawabnya singkat.
"Ya sudah...kita ke rumah tante Tyas aja ya, main di dalam rumah aja dulu!!" ajak Tyas.
Setelah mendengar cerita Sasha semalam, Tyas juga khawatir kalau Chintia akan mencari Alma dan bu Titin kemari, maka dari itu dia sengaja mengajak Alma hanya bermain di dalam rumah saja.
*************
Alfath tengah sibuk berkutat dengan berkas-berkasnya saat ponselnya berdering.
Alfath melirik sesaat.
"Chintia calling!!" desisnya.
Ingin rasanya dia tidak mengangkat telepon dari wanita ular itu tetapi nanti Chintia malah curiga padanya bahwa dia ada sangkut paut dengan hilangnya Alma dan bu Titin.
π±"Assalamualaikum..ada apa Chintia??"
π±"Mas...Alma dan bu Titin hilang??"
Bukannya menjawab salam, Chintia sudah berteriak di seberang sana.
π±"Bagaimana bisa hilang, kamu tinggalkan kemana memangnya anak itu??"
π±"Aku tidak kemana-mana selain pergi bertemu denganmu!!"
π±"Kamu tidak usah bohong Chintia, kita bertemu cuma sebentar, kau ingat?? pokoknya jika Alma tidak kamu ketemui jangan harap kamu bisa menemuiku lagi...ibu macam apa kamu ini, ataukah sebenarnya kamu bukan ibu kandungnya??"
π±"Apa sih mas, aku lho ibunya...kupikir Alma ada padamu!!"
π±"Gila kamu ya??? rumah kalian aja aku tidak tau bagaimana Alma bisa ada padaku??"
Ttiiiiitttt...
π±"Halo...halo....
"Ihhh...mas Alfath ini main putuskan sambungan telepon aja!!" Chintia berteriak kesal.
"Aduuhhhh....aku harus bisa menghindari wanita ular itu sejauh mungkin!!"
Alfath duduk bersandar di kursinya, dia bisa menarik napas sedikit lega.
Beberapa hari ini Sasha tidak terlalu berinteraksi dengannya, kesannya sedikit menghindar.
Tak ada lagi menelpon di saat jam makan siang sekedar mengingatkannya untuk makan siang, tak ada lagi sambutanya di depan pintu saat pulang kerja.
Dia tetap baik dan sayang pada Alma sama seperti sayangnya pada Fathir dan Afifah, tapi kepada Alfath dia terkesan cuek.
Sementara itu....
Yusva memasuki lingkungan pekuburan yang sunyi. Dia langsung menuju kearah jalan setapak sekitar 300 meter dari pekuburan itu.
Rumah dari batu bata itu masih berdiri kokoh di sana. Dulu pamannya itu tinggal di sana bersama Yusuf, setelah Yusuf menikah dengan Sasha, mereka bertiga tinggal di sana, setelah Yusuf meninggal dan Sasha menikah lagi, pak Wiryo tinggal lagi sendirian di sana.
Pernah Sasha mencoba mengajak mantan mertuanya itu untuk tinggal di rumahnya tetapi sang mertua menolak dengan halus alasannya tidak ada yang akan membersihkan makam!!" begitu katanya.
Dari jauh Yusva sudah melihat pamannya sedang membersihkan makam dan ditemani beberapa penampakan yang hanya bisa dilihat oleh Yusva.
Tapi nampaknya pamannya pun acuh tak acuh pada semua itu.
__ADS_1
"Paman??? Assalamualaikum!!"
Teriakan Yusva mengagetkan orang tua itu.
"Yusva???" dia balas berteriak dan menyongaong Yusva serta memeluknya.
"Paman apa kabar??" tanya Yusva.
Setelah berbasa basi pak Wiryo mengajak Yusva masuk kerumahnya.
"Kamu tempati saja kamar Yusuf dahulu, Yusva." Kata pak Wiryo.
"Paman sudah mengetahui keadaannya kak Sari??" tanya Yusva.
"Belum, memang ada apa dengan Sari?? paman sebenarnya kecewa sama dia, suami orang dia ambil, kasihannya istri mana lagi hamil direbut sama Sari...memang ada kabar apa??" tanya pak Wiryo.
Yusva lalu menceritakan kejadian saat dia bertemu dengan Lia tadi.
"Masya Allah anak itu...kenapa lagi dia??" kata pak Wiryo mengelus dada.
"Sebaiknya besok kita menjenguknya paman!!" kata Yusva.
***************
"Tinah...bangun Tinah...."
Nyai Ganda Suri berusaha membangunkan muridnya itu.
"Kurang ajar...aku akan menuntut balas pada kalian semua yang telah mencelakai muridku.
"Ridwan, Tio...rasa sakit hatiku dulu pada kalian berdua belum juga kalian bayar, sekarang putra tuan Lee yang memiliki ilmu yang sama juga mencabut kesaktian muridku dan terakhir pemuda semalam itu."
Nyai Ganda Suri mencoba mengingat kejadian itu.
"Siapa pemuda itu?? Desis Nyai Ganda, banyak sekali musuh di sini nampaknya!!" Nyai Ganda meremas tangannya.
Nyai Ganda Suri tidak langsung menguburkan Surtinah, dia menempatkan muridnya itu dalam sebuah peti mati.
"Aku akan mencoba ilmu yang baru selesai kupelajari, bagaimana membangkitkan sesuatu yang telah mati."
"Kamu tenang aja Tinah, kupastikan mereka semua akan mendapat ganjarannya melalui tanganmu sendiri."
*************
Yusva terbangun ditengah malam, seperti biasa dia melaksanakan sholat tahajud lalu dia berdzikir.
Entah mengapa dia merasakan malam itu begitu sunyi, bahkan hembusan anginpun tidak terdengar.
Dia bangkit berdiri menatap keluar jendela masih dalam keadaan berdzikir dia menatap malam yang pekat.
Tiba-tiba di kejauhan dia melihat cahaya merah berkilauan terbang melintas di atasnya dan menghilang di kejauhan.
"Cahaya merah apa itu??" desis Yusva.
"Apa itu pertanda ada sesuatu yang akan terjadi di daerah ini??" bisiknya lagi pada dirinya sendiri.
"Kejahatan memang tidak akan pernah ada habisnya, satu ditumpas maka akan muncul lagi yang lain!!" desisnya.
"Sebaiknya besok sepulang dari rumah kak Sari, aku harus menemui mas Alfath dan om Tio, karena hanya mereka yang aku tau pada saat kejadian malam itu."
Sementara itu....
"Ayah belum tidur?? kok sepertinya ayah sangat gelisah??" tanya Tyas.
__ADS_1
"Entahlah Tyas, perasaan ayah ngga enak aja!!" kata pak Ridwan.
"Afifah sudah tidur??" tanyanya.
"Sudah yah, karena seharian tadi bermain dengan Fathir dan Alma!!" kata Tyas.
"Terus itu mbakyu kamu bagaimana mendengar Alfath punya anak lagi dari wanita lain??" tanya pak Ridwan.
"Ya mau gimana lagi, yah...semua itu terjadi jauh sebelum Alfath menikah dengan mba Sasha, lagian ibu kandungnya Alma itu sudah meninggal yah...dan bocah itu hidup serba kekurangan bersama tante dan bibinya."
"Alfath...Alfath...begitulah anak jika tidak ditanamkan ilmu agama sejak dini, apalagi dia merasa orang tuanya kaya, dia merasa bisa melakukan apa saja dengan uang termasuk menyentuh minuman haram yang membuat terperosok dalam jeratan setan."
"Semoga mbakyu kamu itu bisa berpikir lebih bijaksana, tidak mengedepankan egonya sendiri." kata pak Ridwan.
TOK...TOK...TOK
"Siapa itu sudah jam 9 malam gini datang bertamu, Tyas??" tanya pak
Ridwan.
"Tyas intip dulu ya, yah!!" lalu Tyas beranjak menuju ruang tamu.
"Intip saja dulu jangan langsung kamu buka!!" kata ayahnya.
Tyas mengintip dari balik korden melihat kearah luar.
"Tidak ada siapapun di luar sana...hening sekali!!" gumam Tyas.
"Bukan hanya aku yang mendengar bunyi ketukan di pintu itu tetapi ayah juga dan ketukannya cukup nyaring, hanya kok tidak ada siapapun di luar sana, ya??" kata Tyas.
"Siapa Tyas??" tanya pak Ridwan.
"Ngga ada siapapun yah...orang iseng kali??" jawab Tyas.
"Ya sudahlah...orang iseng kali atau hantu iseng barangkali!!" kekeh pak Ridwan menggoda putrinya.
***********
Nyatanya ketukan pintu malam itu tidak hanya terjadi di rumah Tyas, tetapi juga di rumah Sasha, Juan dan pak Wiryo.
Lain halnya dengan yang lainnya...Juan membuka pintu dan langsung mencari sumber ketukan itu ditemani Kei Lan.
"Menurutmu siapa yang mengetuk pintu itu Kei??" tanya Juan sambil memeriksa sekeliling rumah dan halaman rumahnya yang lumayan luas.
"Kalau manusia, siapa?? mengapa cepat sekali dia menghilang??" kata Kei Lan.
"Tetapi kalau hantu siapa juga?? karena aku tak merasakan ada mahluk tak kasat mata di sekitar sini??" jawab Kei Lan.
"Ngga mungkinkan kelelawar menabrak pintu??" desis Juan.
"Hanya aku merasa ada yang aneh malam ini!! coba kamu dengar dan perhatikan!!" kata Kei Lan.
"Aku tak mendengar bunyi binatang malam tak merasakan angin berhembus, malam terasa sedemikian mencekam!!" kata Juan.
"Ayo kita masuk saja koh....aku ngeri juga lama-lama di luar gini!!" kata Kei Lan.
"Hantu kok takut sama hantu sih Kei??" kata Juan sambil tertawa.
*
*
***Bersambung...
__ADS_1
Kira-kira siapa yang mengetuk pintu rumah mereka??
Jawabannya ada di next episode ya readerππ tak lupa author ingatkan selalu 6dukungannya!!ππ