Maaf Atas Dustaku

Maaf Atas Dustaku
Bab 109 Pertarungan dua golongan


__ADS_3

"Aku seperti kenal dengan bocah bermata zamrud itu tapi aku lupa di mana, seandainya aku bisa membuka maskernya pasti aku bisa mengenali dirinya!!" gumam Pedro.


Begitu terbebas dari hipnotis Pedro, Kei Lan langsung melayang menjauhi Pedro kembali kedalam mobil untuk melindungi Alfath.


Akhirnya dua mata itu saling beradu pandang beradu kekuatan. Mencoba mengukur kekuatan masing- masing.


Vallen menatap tajam Pedro. Masih jelas dalam ingatannya saat leher kakak perempuan dan ayahnya yang nyaris putus terkena sabetan belati milik Pedro tanpa belas kasihan walaupun kakaknya memohon minta dikasihani.


Dendam membara bergejolak di dada Vallen. Matanya berkaca-jaca mengingat kematian seluruh anggota keluarganya di tangan laki-laki penganut ilmu hitam itu.


Juan yang merasakan getaran tubuh Vallen saat melihat Pedro tau bagaimana perasaan bocah kecil itu saat ini.


"Kau...!!"tunjuk Pedro pada Vallen.


"Aku seperti mengenalmu, tatapan tajammu seperti mengingatkanku pada seseorang!!" kata Pedro.


Vallen langsung meloncat dari motor Juan. Dia segera melepaskan masker yang dia kenakan dan berdiri memandang menantang pada Pedro, membuat Pedro nampak terkejut.


"Kau...bukankah kau Vallentino?? kau adiknya Violetta??" kata Pedro tercekat.


Tampak Vallen menggerakan kesepuluh jari tangannya.


"Kau mengancamku bocah?? Jangankan hanya kamu seluruh keluargamu saja habis kubantai, apalagi hanya kamu??" kata Pedro dengan penuh percaya diri.


Bukan main marahnya Vallen mendengar ucapan Pedro.


Dengan cepat Juan berusaha menenangkan Vallen agar jangan terpancing ucapan Pedro yang memang sengaja memancing kemarahan Vallen.


"Pedro...aku tak akan membiarkan kamu terus menerus menghirup udara kebebasanmu di atas kematian keluargaku!!" gumam Vallen.


Tangan kiri Vallen menggenggam erat liontin kalung bulan sabit dalam lingkaran yang ada di lehernya.


Seolah paham kalung itu bercahaya mengeluarkan pendaran cahaya kuning keperakan merasuk masuk kedalam tubuh Vallen seolah memberikan kekuatan pada bocah malang itu.


Pedro nampak terkesiap tetapi di lain kejap dia pun sudah merapal suatu mantra yang mampu membelah dirinya menjadi banyak.


Vallen pun sudah bersiap dengan pukulan di tangan kanan dan kirinya.


Juan tak hentinya berdzikir memohon pada Yang Kuasa untuk menunjukan mana di antara banyak bayangan itu sosok Pedro yang asli.


Vallen pun tampak memfokuskan seluruh panca indranya untuk mengetahui.


Sosok-sosok itu menyerang Vallen dengan serangan-serangan yang memang sangat mematikan tetapi walaupun Vallen masih bocah tetapi dia bukan bocah sembarangan, selain dia keturunan dari keluarga cenayang, tanda bulan sabit dalam lingkaran itu menandakan bahwa dia adalah bocah pilihan untuk menumpas angkara murka!!


Kita tinggalkan dahulu pertarungan sengit mereka, kita menengok dua pemilik tanda lahir yang sama seperti Vallen.

__ADS_1


Ansar sebagai titisan langsung Kyai Abdullah tidak seperti biasanya siang itu begitu cerewet, Lia yang kini sebagai ibu sambungnya kewalahan berusaha untuk menenangkannya. Hingga dalam paniknya dia menelpon suaminya untuk pulang.


πŸ“±"Assalamualaikum!!"


πŸ“±"Waalaiku Salam, ada apa dek??"


πŸ“±"Ansar, mas...sejak tadi cerewet terus sudah berbagai cara kuupayakan agar dia diam tapi sia-sia saja.


πŸ“±"Baiklah mas akan pulang secepatnya...Assalamualaikum...


πŸ“±"Waalaikum Salam!!"


Badai segera melaju dengan kecepatan penuh pulang kerumah karena sesungguhnya naluri Badai juga mengatakan ada sesuatu yang sedang menimpa para pemilik tanda bulan sabit dalam lingkaran.


"Apakah Ansar juga tengah merasakan hal yang sama makanya dia rewel sejak tadi??" pikir Badai semakin kencang melajukan motornya.


Benar saja, Ansar tengah menangis keras di teras tengah digendong oleh Lia.


Badai dengan cepat menurunkan standar dan segera berlari mendekati putranya itu.


"Sini biar ayah saja yang menggendong Ansar!!" kata Badai meraih Ansar dari gendongan Lia.


Seketika Ansar diam saat dia dan Badai sudah saling berpelukan.


Badai dan Ansar perpelukan erat sambil memejamkan mata, dan....


"Ansar....mas Badai??" teriak Lia panik karena suami dan putranya tiba-tiba lenyap dari pandangan matanya.


"Kemana mereka??" teriak Lia lagi.


BLUSHHH...


Tubuh Ansar yang digendong oleh Badai muncul tepat di depan Vallen, Pedro dan Juan yang sedang bertempur sementara Kei masih berusaha untuk melindungi Alfath yang mobilnya tengah terkepung oleh kaki tangan Pedro termasuk juga Rudi.


"Ow...ow...ow..." Pedro berseru senang.


"Akhirnya ketiga unsur muncul dihadapanku dengan sendirinya tanpa aku harus bersusah payah mencari dan mengumpulkan kalian bertiga!!" seru Pedro.


Badai menurunkan Ansar ke tanah. Dan ajaib tubuh Ansar mengeluarkan sesercah kabut tipis berwarna keperakan, dan...


Sesosok tubuh yang awalnya seperti kabut tak nyata perlahan terlihat jelas menggambarkan sesosok lelaki tua mengenakan sorban dan pakaian serba putih.


"Akhirnya kamu keluar juga dari wadak bocah itu orang tua??" kata Pedro terkekeh jahat.


"Cukup Pedro, cukup sampai di sini kamu dan kelompok ilmu sesatmu mengobrak abrik dunia dengan ambisi jahatmu untuk menjadikan pimpinan kalian sebagai raja kegelapan."

__ADS_1


"Hanya satu yang patut kita kita sembah yaitu Allah pencipta semesta alam dan seluruh isinya, bukan rajamu yang terbuat dari api itu??" kata Kyai Abdullah penuh wibawa.


"Bedebah kamu pak.tua...rupanya selama ini kamu bersembunyi di tubuh bocah buta ini dan kamu membangun kekuatanmu bersama orang cacat lainnnya, ha...ha...ha!!" tawa mengejek Pedro menggema.


"Sudah puas tertawanya??" tanya Kyai Abdullah.


"Juan, kamu bantu hantu kecil sahabatmu itu dan lindungi laki-laki itu, biar saya dan Badai serta Vallen yang akan memusnahkan pengikut iblis ini sekaligus memancing junjungannya untuk keluar dari tempat dia bertahta." kata KyaiAbdullah.


"Baik pak Kyai!!" kata Juan lalu melesatkan tubuhnya membantu Kei-kei.


Bag...bug...bag...bug


Kaki tangan Juan beraksi dengan cepat membabat musuh-musuhnya.


Sebagian yang tidak memiliki ilmu tinggi mengalami muntah darah ada yang hidup tapi sekarat dan ada juga yang langsung dibawa oleh Malaikat maut.


"Keparat..." teriak orang yang sejak tadi memakai masker dan ternyata dia adalah Alex kekasih Chintia saudara kembar Shinta.


"Keluar kamu Alfath, hadapi aku...akulah yang telah membunuh kakakmu itu!!" kekek Alex.


Mendengar itu Alfath dengan amarah yang membara keluar dari mobil tanpa mempedulikan lagi keselamatannya.


"Apa salah kakakku pada kelompok kalian??" tanya Alfath geram.


"Alfath apakah kamu selama ini tak tau apa pekerjaan kakakmu??" tanya Alex.


"Kakakku seorang pengusaha muda yang jujur dan sukses, aku sangat mengaguminya tetapi kalian ternyata telah membunuhnya!!" teriak Alfath.


Pengusaha jujur dan sukses?? anda salah besar!!" kata Alex.


"Kakakmu itu seorang mata-mata yang diterjunkan oleh kepolisian untuk memata-matai kelompok kami!!" seru Alex geram.


Sementara itu...


"Fathir kenapa menangis terus, mbak??" tanya Tyas sambil menggendong Afifah yang hari ini akan berulang tahun yang pertama.


Sasha menoleh pada Tyas dan Afifah sambil terus membujuk Fathir.


"Wah cantiknya Putri Mutiara Afifah!! lihat Fathir...Afifah cantik banget!!" kata Sasha menyebutkan nama lengkap Afifah.


*


*


***Bersambung...

__ADS_1


Bagaimana kelanjutan pertarungan mereka??


Ikuti kisah mereka di next episode, readerπŸ™πŸ™


__ADS_2