
"Lalu istri saya sendiri bagaimana keadaannya dokter??" tanya Anjar lagi.
"Sampai kini istri bapak belum juga sadarkan diri!!" Lia dan Anjar saling berpandangan.
"Bayi pak Anjar kita mau masukan kedalam inkubator dulu ya pak !!" kata seorang perawat mengambil alih bayi tersebut dari tangan sang dokter dan membawanya masuk kembali.
"Yang sabar ya mas...!!" Lia menepuk bahu kakak iparnya itu.
"Kenapa semua harus jadi begini??" inikah karma yang kamu katakan itu Tyas??" Anjar memijit pelipisnya sendiri.
"Istri pak Anjar sudah sadar!!" kata salah seorang perawat memberi tau Anjar dan Lia.
Mereka bergantian masuk kedalam ruangan.
Anjar masuk terlebih dahulu melihat keadaan istrinya.
Tampak Sari menatap lurus kearah langit-langit ruangan. Kedatangan Anjar yang duduk dekat di sampingnya, sama sekali tak berpengaruh padanya.
"Sar...Sari...ini mas Anjar, Sari!!" Anjar menepuk pelan pipi istrinya itu.
"Anak aku mana??" tanya Sari tiba-tiba.
"Anakku kemanaaaa!!" tiba-tiba Sari berteriak histeris.
"Kamu siaappaaa!!" teriaknya lagi menatap nyalang pada Anjar.
"Aku Anjar suami kamu, Sari!!" kata Anjar berusaha menenangkan Sari yang tiba-tiba histeris.
"Dokter...suster...ada apa dengan istri saya??" teriak Anjar.
Dokter jaga dan beberapa orang suster masuk keruangan.
"Maaf pak...bisakah bapak keluar dulu sebentar, biar istri bapak kami tangani??" kata seorang suster.
"Ada apa dengan istri saya dokter...mengapa sikapnya jadi aneh begini??" tanya Anjar panik.
"Mas...ada apa mas Anjar?? kenapa para suster dan dokter berlarian kedalam??" tanya Lia juga ikutan panik melihat Anjar yang panik.
"Entahlah Lia...mas juga ngga tau, tiba-tiba saja setelah melamun sehabis sadar tadi lalu menanyakan anaknya tiba-tiba dia berteriak-teriak seperti orang kesurupan." Kata Anjar.
Masih terdengar teriakan-teriakan Sari di dalam lalu hening, mungkin dokter telah memberikan Sari suntikan penenang.
Kemudian setelah tenang dokter tadi keluar dan segera disambut oleh Anjar dan juga Lia.
"Bagaimana dokter?? apakah istri saya baik-baik saja?" tanya Anjar cemas.
"Istri pak Anjar itu terkena Baby blues syndrome atau gangguan suasana hati atau psikologis...semoga gangguan ini tidak berlangsung lama...untuk sementara bayinya jangan dulu diberikan pada ibunya untuk disusui ditakutkan dia akan mencelakai anaknya sendiri karena gangguan emosinya tadi."
"Jadi jika istri saya belum sembuh terpaksa anak saya akan saya bawa pulang duluan dokter!!" kata Anjar dan dokter itu akhirnya menyetujuinya.
__ADS_1
*************
"Mas aku di sini!!" Shinta melambaikan tangannya pada Alfath yang masuk kedalam .kafe sambil tengah mencari-cari sesuatu.
Alfath mendatangi Shinta.
"Mana Alma?? saya ingin bertemu dengannya!!" kata Alfath to the point.
"Alma tadi lagi tidur mas jadi ngga bisa kuajak, kasihan dia terganggu tidurnya!!" kata Shinta.
"Terus untuk apa jika saya datang hanya berduaan saja denganmu?? saya tidak mau menimbulkan fitnah karena berduaan dengan wanita yang bukan muhrimnya."
"Kok bicara gitu sih mas, akukan sebentar lagi juga akan menjadi istri mu dan kita akan menikah!!" kata Shinta membuat Alfath melengos jengah.
"Saya mau bertemu Alma, antar saya kepadanya biar saya mengajak dia berjalan-jalan." Kata Alfath.
"Tapi tidak bisa sekarang, sekarang ini aku ingin berduaan dengan mas Alfath dulu!!" rengek Shinta.
"Ingat Shinta, saya mau menemuimu karena ada Alma di antara kita tidak lebih!!" kata Alfath mulai kesal.
"Oke...oke...besok akan aku pertemukan kalian!!" kata Shinta akhirnya mengalah.
"Sudahlah Shinta sebaiknya saya pulang saja dulu, kasihan istri dan anak saya menunggu di rumah!!" kata Alfath.
"Titip ini berikan untuk Alma ya!!" Alfath membelikan Alma banyak makanan.
"Lagi pula sekarang saya belum gajian!!" dusta Alfath pada Shinta.
Akhirnya mereka berpisah karena Shinta tak mau diantar dengan mobil oleh Alfath.
Shinta seperti tidak ingin Alfath mengetahui tempat tinggalnya makanya dia tidak mau diantar pulang oleh Alfath.
Tetapi Alfath tidak kekurangan akal. Entah mengapa dari awal dia mencurigai ada sesuatu dengan sosok Shinta ini.
Dugaan Alfath benar. Setelah melihat dan merasa mobil Alfath menjauh dan menghilang, wanita itu menyimpang jalan menuju kesebuah perkampungan kumuh.
Alfath mengikutinya dengan berjalan kaki. Dia melihat Shinta berhenti di sebuah rumah kayu yang atapnya dan dindingnya mulai lapuk.
Sesosok tubuh balita dengan pakaian sedikit lusuh keluar menyambutnya!!
"Mamah..." teriaknya riang menyambut kedatangan Shinta.
"Jangan panggil tante dengan sebutan mamah, Alma...tante bukan mamah kamu...mamah kamu sudah mati terkubur di dalam tanah sana saat melahirkanmu!!" sentak Shinta palsu.
Alma menangis sesunggukan apalagi saat Shinta melemparkan kresek cemilan yang lumayan berat ke tubuh anak kecil itu sehingga membuatnya jatuh terduduk di tanah.
"Chintia...apa-apaan kamu???" teriak wanita setengah tua dari dalam rumah sambil mendatangi Alma yang jatuh duduk di tanah sambil memeluk kresek cemilan pemberian Alfath.
"Papah....!!" balita itu menangis memanggil papahnya.
__ADS_1
Hati Alfath mencelos melihat penderitaan balita itu.
"Chintia?? bukan Shinta?? apa benar Shinta sudah tiada?? " batin Alfath.
"Jangan begitu Chintia, bagaimanapun Alma itu adalah keponakan kamu...kamu dan Shinta bersaudarakan??" kata wanita tua itu.
"Biar saja bi...aku kesal banget sama ayah bocah ini...masa ketemuan hanya memberi sekresek cemilan?? dan tidak meninggalkan uang sama sekali." Geramnya.
"Sudah ah bi, Chintia mau jalan dulu dengan Alex!!" lalu tanpa menoleh lagi Chintia meninggalkan dua orang itu menuju sebuah mobil yang menjemputnya.
Alma masih menangis saat sebuah tangan kokoh meraih dan menggendongnya membuat wanita tua yang dipanggil bibi oleh Chintia itu kaget dan mengangkat wajahnya.
"Papah!!" kata Alma berhenti menangis.
Entah mengapa sejak pertemuan pertamanya dengan Alfath seolah ada ikatan batin antara mereka berdua.
"Papah??" desis ibubTitin nama orang yang dipanggil bibi oleh Chintia.
"Anak ini siapa??" tanya wanita tua itu pada Alfath yang seolah melihat ada kemiripan antara Alfath dan Alma.
"Ooo iya...silakan masuk dulu, sampai lupa mempersilakan masuk!!" kata ibu Titin.
Sambil menggendong Alma, Alfath masuk mengikuti langkah ibu Titin.
Hati Alfath meringis melihat putri kecilnya tinggal di rumah yang berlantai tanah itu.
Hanya ada bangku kayu di dalam rumah itu, sementara ibu Titin membuatkan teh hangat untuk Alfath, Alfath dan Alma bermain bersama.
"Papah...Alma itut papah ya!!" ucap bocah lucu itu pelan seolah takut Alfath marah padanya seperti Chintia yang sering membentaknya.
Ibu Titin membawa secangkir teh keluar.
"Bu?? benarkah Shinta sudah meninggal dunia??" tanya Alfath.
"Benar nak, Shinta meninggal saat melahirkan Alma dan dirawat oleh Chintia saudara kembarnya, jika Chintia bekerja maka ibulah yang merawat Alma." Jelas bu Titin.
"Shinta meninggal tanpa kami tau siapa ayah dari anak yang dia kandung selama ini!! dan baru beberapa bulan ini Chintia memberi kabar sudah mendapatkan keterangan tentang keberadaan ayah Alma." Kata bu Titin.
"Kalau saya boleh tau, ibu ini siapanya Shinta dan Chintia?" tanya Alfath lagi.
*
*
***Bersambung...
Bisakah Sasha menerima Alma juga sebagai anaknya dan menyayangi Alma seperti dia menyayangi Fathir putranya??
Jangan lupa dukungan like, komen, vote, favorit dan rate nya ya reader!!🙏🙏
__ADS_1