
Alfath terlihat membuka tas ranselnya dan memperlihatkan isinya.
"Nih...ngga usah iri sama Tyas, ini satu ransel penuh berisi cemilanmu aja!! sini Fathir biar mas gendong lagi, tuh kamu ngemil sepuasmu!!" kata Alfath mengambil alih Fathir dari tangan Sasha.
Wajah Sasha berubah ceria. Sementara ibu mereka yang duduk di bangku depan hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Besan, terima kasih ya atas tumpangannya...kami titip jaga calon menantu kami ya!!" kata ibu Alfath setibanya mereka di depan pagar rumah kediaman Sasha.
Valen turun sebentar menghampiri Fathir lalu tangan mungilnya terlihat mengusap seluruh badan Fathir, tubuh Sasha dan perut Tyas juga tak luput dari usapan telapak tangan mungilnya.
"Sayang, berat rasanya mau meninggalkanmu dan anak kita tapi apa daya, kita belum menikah, kamu jaga diri dan jaga Fathir ya...jika terjadi sesuatu cepat hubungi mas Alfath!!" katanya pada Sasha.
Akhirnya Alfath, Valen dan kedua orang tuanya pulang kerumah besar.
"Kalian dari mana saja??" Ridwan ayah Tyas menyambut mereka di dekat halaman.
Tio menceritakan garis besar yang telah mereka alami kepada Ridwan. Dia menatap Sasha dan bsyinya lalu beralih pada Tyas putrinya yang terlihat murung.
"Kok murung?? ngga senang liat ayah?? itu ayah bawakan oleh-oleh dari luar kota untukmu dan mbakyu kamu!!" kata pak Ridwan.
Malam itu Tyas tidur di rumah budenya.
"Mba Sasha, menurut mba aku harus gimana ya??" tanya Tyas sedih.
"Kamu jujurlah pada hatimu, kamu masih cintakah pada suamimu itu?? karena seberapa banyakpun nasehat yang orang lain berikan, semuanya berpulang lagi pada dirimu sendiri yang menjalankamnya."
Tyas terdiam. Jujur dalam hatinya dia masih mencintai Anjar. Begitu berat perjuangan cinta mereka dulu. Pertentangan orang tua keduanya, apalagi saat itu Tyas masih duduk di bangku kelas 11 sekolah menengah atas.
Ayahnya Ridwan pernah tidak setuju putrinya itu berhubungan dengan Anjar karena Anjar itu punya sifat playboy dan pak Ridwan tak mau hati putrinya akan terluka.
Tetapi berkat kegigihan cinta dan perjuangan keduanya akhirnya pak Ridwan merestui hubungan Anjar dan Tyas walaupun terpaksa.
Mengingat hal itu, Tyas memilih tutup mulut dan menyembunyikan permasalahan rumah tangganya dulu.
"Sebenarnya aku pribadi sedih melihat adikku seperti ini, Tyas...atau begini saja, cuti kamu kan besok sudah habis, lusa harus bekerja kembali, coba kamu pulang dan mulai memperbaiki hubungan kalian berdua, ada ikatan di antara kalian berdua yaitu anak yang ada dalam kandunganmu itu!!" tutur Sasha dengan lembut.
"Baiklah mba, besok aku akan coba pulang ke rumah mungkin mas Anjar bisa merubah sifatnya dan tidak lagi berhubungan dengan selingkuhannya." Kata Tyas.
Sebenarnya Sasha ingin menceritakan apa yang dia lihat di perjalanan tadi tapi dia takut salah mata bahwa dia melihat Anjar bergoncengan mesra dengan seorang wanita.
"Semoga apa yang tadi kulihat bukanlah si Anjar dan pacarnya, ya??" membatin Sasha.
__ADS_1
"Sudahlah sebaiknya kita tidur, aku lelah banget, Yas!!" kata Sasha merebahkan diri di samping Fathir bayinya lalu menyusul juga Tyas ikut berbaring mengapit Fathir ditengah.
************
Tyas sengaja pulang kerumah sekitat pukul 8 karena dia tau pukul segitu Anjar sudah berangkat kerja.
Saat pergi dia memang tidak menggunakan motor maticnya, jadi pulang kemari dia menggunakan ojek online.
Tyas mengeluarkan kunci cadangan dari dalam tasnya dan membuka pintu perlahan.
Karena dia menganggap Anjar sudah berangkat ke kantor, dia santai saja masuk ke dalam rumah tapi niatnya untuk masuk kedalam kamarnya jadi terhenti saat mendengar suara-suara aneh dan deritan ranjang king size di kamarnya disertai dengan bunyi lenguhan yang membuat Tyas serasa ingin muntah.
Dia sudah menabahkan hatinya untuk melihat apa yang terjadi tak mungkinlah lintah kawin ataupun anjing kawin di dalam kamarnya sehingga menimbulkan suara-suara seperti itu.
Dia ambil ponselnya dan siap merekam apapun yang terjadi ini akan dia jadikan sebagai bukti sepahit dan sesakit apapun yang bakal dia lihat nanti dia harus siap.
Dibukanya sedikit pintu kamar yang tak terkunci dengan tangan gemetar dan keringat dingin yang mengucur deras dari keningnya.
Pemandangan di dalam sungguh membuat hatinya bagai tersayat sembilu....bagai mana tidak, dia melihat dua insan berlainan jenis di atas ranjang yang biasa dia dan Anjar pakai saling bertempur dengan dahsyatnya.
Diarahkannya ponsel itu untuk merekam aksi bejat suaminya dan wanita selingkuhannya itu.
Setelah mendapatkan gambar dan merekam video asusila mereka berdua, Tyas menyimpannya lalu dia berjalan kearah dapur dan mengambil minuman dingin untuk menetralkan suasana hatinya sekaligus untuk merayakan kehancuran hati, hidup, dan biduk rumah tangganya.
"Mengapa air mata terasa asin, ya...??? karena air mata itu melambangkan kepedihan, kehancuran, keputus asaan, dan pengkhianatan...mengapa air mata tidak terasa manis aja ya??? jadi tidak usah membuang duit untuk membeli gula lagi!!" Tyas tertawa di dalam tangisannya.
KRIEEETTTT....
Pintu kamar terbuka dan keluarlah Anjar dengan hanya memakai boxernya bermaksud untuk mengambil air putih dingin.
Seperti melihat setan berkepala sepuluh, Anjar berdiri di depan pintu kamar dengan wajah pias dan pucat pasi.
Tyas menoleh kepada Anjar berkata seolah tidak terjadi apapun dan tidak melihat apapun.
"Selamat pagi mas Anjar??? tumben belum berangkat ke kantor?? masih belum selesaikah gulatnya?? kenapa ngga di selesaikan aja dulu??? di mana-mana kalau sesuatu telah tuntas itu puas rasanya!!" kata Tyas dengan santainya.
Dia membuat wajahnya sesantai mungkin walaupun di dalam hatinya seperti seribu belati menghunjam bersamaan ke dadanya.
"Dek??? kapan kamu datang??" tanya Anjar dengan suara yang tercekat.
"Yah....sekitar setengah jam yang lalu lah, aku ngga mau ganggu mas Anjar main kuda-kudaan di dalam jadi aku memilih duduk di sini!!" senyuman Tyas tak pernah lepas dari bibirnya semakin membuat Anjar mengerucut dalam tegangnya.
__ADS_1
"Mas??? kok lama banget sih ambil minumnya?? katanya tadi mau lanjut lagi, ayo!!" suara dari dalam memanggil nama Anjar dengan mesranya.
Anjar tak mampu untuk menjawab. Tyas tiba-tiba berdiri dan melangkah kehadapan Anjar.
"Mas dipanggil sama pacarmu kok diam aja sih?? sana...aku sekalian mau mengambil gambar dan video kalian lagi...aku mau lihat gaya yang bagaimana lagi mau kalian berdua peragakan...ayo lah mas!!" rengek Tyas manja seperti biasanya membuat hati Anjar terasa sakit.
Tyas menarik tangan suaminya dan mendorongnya ke dalam kamar. Bukan main terkejutnya Sari melihat ada istri Anjar di dalam kamar ikut bersama Anjar.
Mereka berdua sama-sama terdiam tak tau mau apa lagi.
"Ahhh...lambat mas, aku mau beli camilan dulu kewarung depan, kalian foreplay aja dulu..." kata Tyas dengan ekspresi cemberutnya lalu meninggalkan kamar dan menutupnya. Padahal sejak tadi hatinya bergemuruh mengalahkan deburan ombak yang menghantam batu karang di pantai.
"Dek...tunggu!!" Anjar mengejar Tyas setelah terlebih dahulu mengenakan celananya.
Tetapi Tyas sudah pergi dengan motornya entah kemana.
Anjar masuk lagi kedalam rumah dan membentak Sari.
"Apalagi yang kamu tunggu?? cepatlah pergi!!! ini semua terjadi gegara kamu yang selalu datang menggodaku!!" bentak Anjar.
Dengan wajah cemberut seperti tak mempunyai dosa apapun, Sari memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai dan mengenakannya dengan santai.
Sementara Anjar setelah memakai kaos oblong dan memakai jaket serta helm dia segera melarikan moge nya mengejar Tyas istrinya.
Tyas tidak pulang ke rumah, dia duduk di taman yang tak jauh dari rumahnya karena dia tau pasti Anjar akan datang menyusul kerumah budenya.
Dia melamun memikirkan niatnya semalam untuk rujuk kembali dengan suaminya, pertama mengingat bayi yang ada di dalam kandungannya, kedua dia ingat apa yang dikatakan oleh budenya bahwa Anjar mencarinya seperti orang gila, tetapi ternyata semua itu adalah HARMOKO (hari-hari omong kosong).
"Anjar tak pernah benar-benar merasa kehilangannya, mungkin air mata yang dia tumpahkan di depan budenya waktu itu hanya untuk menutupi kegembiraannya karena Tyas telah pergi dari hidupnya.
Karena kesal akhirnya Tyas membuka cincin pernikahannya. Diambilnya sebongkah batu yang lumayan besar kemudian dia pukulkan cincin yang terbuat dari emas putih itu sampai gepeng.
"Cincin itu tidak salah, mengapa jadi sasaran kemarahan?? mestinya pemilik cincin itulah yang harus bertanggung jawab, bukan cincin yang hanya sebuah benda mati itu yang harus menanggung semua kekesalan pemiliknya." Tyas mengangkat wajahnya yang sudah bersimbah dengan air mata mencari sumber asal suara yang telah berani mengoreksi dirinya ditengah kekalutannya seperti sekarang ini.
Tak jauh dari tempatnya duduk, berdirilah seorang pemuda berpakaian seragam putih abu-abu berwajah oriental bertubuh tinggi dan berambut ikal.
*
*
****Bersambung.....
__ADS_1
Jangan ketinggalan episodenya ya Reader tercinta, ikutilah terus dan jangan lupa dukungannya.😊😊