
"Tyas hanya ngga nyangka bahwa pernikahan Tyas akan jadi seperti ini...ternyata mas Anjar lebih sayang pada wanita yang baru masuk dalam kehidupannya ketimbang aku yang sudah bertahun-tahun bersamanya dan telah mengandung anaknya!!" jawab Tyas dengan wajah murung.
"Ya sudah...ngga usah dipikirkan, nanti kamu sakit!!" ucap Sasha pada Tyas. Lalu keduanya masuk kedalam karena cuaca sudah teramat dingin.
Seminggu kemudian....
Tyas setengah menyeret langkahnya karena kondisi perutnya juga mulai membesar bergegas keluar bermaksud mencari pertolongan pada nyai Hamas karena sejak memasuki azan subuh tadi perut Sasha sakit.
Tadi Tyas dan Sasha memang tidak ikut sholat berjamaah seperti biasa karena Sasha mengalami kram di perutnya.
Bahkan untuk bangun saja dari pembaringan Sasha tidak mampu.
"Ibu...ayah...mas Yusuf...mas Alfath....hiks...hiks..."
Sasha terus menyebut nama orang yang dia cintai sambil meneteskan air mata menahan rasa sakit di perutnya.
"Sepertinya mba ini akan melahirkan!!" ujar Tyas walaupun dia seorang perawat dan bukan seorang bidan, tapi dulu dia juga mempelajari hal tersebut sewaktu masih duduk di bangku kuliah.
Makanya setelah selesai sholat subuh dia bergegas keluar dan mencari pertolongan.
Beruntung di pertengahan jalan dia berjumpa denga Yusva dan seorang santri lainnya yang sedang berjalan kembali kepondok pesantren.
Melihat Tyas sedikit tergesa-gesa Yusvapun menghampiri.
"Yas...mau kemana kok tergesa-gesa, mana Sasha?? kalian berdua tidak sholat di mesjid??" tanya Yusva.
"Aku mau menemui nyai mau minta tolong, mba Sasha sakit perut sepertinya mba Sasha akan melahirkan!!" ucap Tyas cepat.
"Kamu aja balik kekamar, saya yang akan menemui nyai...jangan lama-lama dia ditinggal sendirian!!" ucap Yusva lalu bergegas menuju tempat kediaman Kyai Hamas.
Di kamar Sasha meringkuk menahan sakit di perutnya. Tak ada yang bisa dia lakukan selain menikmati rasa sakitnya sendirian.
Tak lama Yusva datang bersama nyai Hamas. Mereka langsung mengecek keadaan Sasha.
"Kita bawa saja kerumah sakit terdekat dari sini nyai..." usul Yusva.
"Kamu siapkanlah kendaraan dulu biar nyai membantu Tyas membawa apa saja yang akan diperlukan Sasha nanti." Kata nyai Hamas pada Yusva.
"Sabar ya nak, kita akan kerumah sakit!!" kata nyai Hamas memberi semangat.
Sementara di tempat kediaman Alfath.
"Aduh...perutku mules banget ya?? sakitnya kadang hilang kadang muncul...mana tiba-tiba perasaanku ngga enak lagi, aku kepikiran terus sama Sasha dan bayiku!!" ucap Alfath sambil meringis menahan sakit yang seperti ombak bergulung di sekitar perutnya.
Tak lama kemudian....
Ddrrtttt...ddrrttt
📱"Assalamualaikum, ya bu ada apa??"
📱" Waalaikum Salam...nak Alfath, tadi Tyas telfon kalau Sasha sekarang sudah di rumah sakit xxxx sepertinya dia mau melahirkan."
__ADS_1
📱"Share lock aja lokasinya bu, nanti Alfath pagi ini juga segera kesana!!"
Lalu telepon terputus. Alfath segera memberitahukan Cindy kalau dia tidak masuk kerja karena ada urusan dengan orang tuanya.
"Aduhhh...pantas sejak semalam perutku mules banget, ternyata Sasha mau melahirkan!! sabar ya sayang, mas akan datang untuk mendampingimu dan anak kita, kamu yang kuat ya!!"
Alfath terlihat sangat khawatir baru didera rasa sakit yang kadang hilang kadang muncul membuatnya sangat tersiksa.
Dia menelpon kedua orang tuanya agar ikut serta menjenguk Sasha.
"Kenapa telpon dulu, Alfath?? kalau begini caranya ibu dan ayah kan jadi gelagapan, belum lagi menyiapkan pakaian Valen.
Ibu dan ayah Alfath memang tinggal di rumah besar mereka di indonesia yang dijaga oleh beberapa maid dan tukang kebun serta dua orang satpam.
Melihat kehebohan istrinya, Alfredo hanya geleng kepala.
"Bu, sebenarnya yang bikin lama itu ya ibu sendiri, Valen dan ayah sudah siap tinggal nunggu ibu aja, cepetan ngga pake lama...ayah mau cepat melihat cucu ayah!!" Alfredo mengajak Valen makan terlebih dahulu.
Valen tampak menggerakan jari-jari tangannya memberi isyarat.
"Biar kita sarapan duluan, Valen...ibumu nanti menyusul." Sedikit banyak Alfredo telah mempelajari dari istrinya bagaimana berkomunikasi dengan Valen yang hanya bisa menggunakan bahasa isyarat saja.
Sementara Alfath mengecek keadaan dengan menanyakan kepada satpam yang menjaga rumah mereka.
"Pak, ada sesuatu yang mencurigakan beberapa hari ini??" tanya Alfath.
Satpam yang sudah agak berumur itu tampak berpikir sebentar.
"Kalo saya sih ngga ada den Alfath, tapi sepertinya Tarno pernah bercerita sekitar dua hari lalu bahwa ada dua orang yang bolak balik di depan gerbang dan saat ditanya kata mereka sedang mencari alamat seseorang lalu pamit pergi.
"Siap den...akan saya laksanakan!!" ucap satpam tua itu.
"Yas...sakit sekali!!" rintih Sasha.
"Sabar mba...bude sama pakde ngga lama akan datang kok begitu pula dengan calon mertua dan calon suamimu!!" kata Tyas.
Tyas dan nyai Hamas sedang menunggu Sasha yang sebentar lagi akan melahirkan.
Tak lama...
"Sayangnya mas..." Alfath lari masuk kedalam ruangan itu untuk menemui Sasha dikuti ayah, ibu dan Valen.
Digenggamnya tangan wanita yang sudah hampir tiga bulan menghilang dari kehidupannya itu dengan erat.
"Yang sabar dan kuat ya...demi anak kita!!" bisik Alfath.
Sasha sudah tak sanggup lagi untuk bicara hanya menganggukan kepala saja.
Sementara ayah dan ibu Sasha sedang bicara pada nyai Hamas.
"Nyai...saya mengucapkan banyak terima kasih kepada nyai sekeluarga sudah mau membiarkan putri saya, ketambahan lagi ponakan saya untuk tinggal di pondok...maaf jika mereka berdua merepotkan.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, bu Ratna...saya senang sekali mereka berdua menemani saya sebab kedua putri saya masih menempuh pendidikan di Kairo jadi ada Sasha dan Tyas saya tidak merasa kesepian lagi!!" ucap nyai Hamas.
"Bu jika boleh tau lelaki yang menemani Sasha itu siapa??" tanya nyai Hamas kemudian.
"Calon suaminya, bu...mereka akan menikah setelah Sasha melahirkan!!" terang ibunya Sasha.
"Bu Sasha...sekarang akan pindahkan keruang bersalin ya!! sudah waktunya ini sudah genap pembukaan sepuluh." Kata bidan yang memeriksa Sasha.
Valen tampak menggerak-gerakan jarinya dan isyarat itu terlihat oleh Yusva yang semenjak tadi juga sudah melihat sesuatu yang tidak beres oleh karena itu Yusva memanggil Valen sebelum Sasha menuju ruang bersalin.
"Hei adik kecil, kemari!!' kata Yusva melambaikan tangan pada Valen.
Setelah Valen datang mendekat, Yusva membisikan sesuatu pada Valen yang rupanya tertangkap mata oleh Alfath yang langsung mendekati mereka.
Valen mendekati brankar Sasha yang akan segera didorong menuju ruang bersalin.
Tangan Sasha digenggam oleh Valen lalu bocah lucu itu mengelus perut Sasha beberapa kali.
"Ada apa mas??" tanya Alfath pada Yusva.
"Mas Alfath sebelumnya saya minta maaf, tadi saya dan Valen melihat sesuatu yang menggantung di bawah kolong tempat tidur Sasha makanya Sasha tak hentinya pendarahan terus, makanya saya minta Valen untuk mengusap perut Sasha supaya persalinannya lancar tidak ada gangguan apapun!!" kata Yusva menjelaskan.
Alfath mulai cemas mendengarnya.
"Apa yang menggantung itu, mas??" tanyanya terlihat khawatir.
Yusva memandang berkeliling sebelum menjawabnya.
"Kepala milik wanita yang duduk di ujung kursi dekat pilar itu!!" bisik Yusva pada Alfath.
"Kurang ajar...!!" geram Alfath hendak berdiri menghampiri perempuan misterius yang memakai kerudung hitam itu tapi tangannya keburu ditahan oleh Yusva.
"Jangan membuat keributan dan kepanikan di sini, mas!! tenang saja, saya akan membantu dengan doa-doa agar persalinannya lancar!!" kata Yusva.
"Maklum aja mas, ini hanya puskesmas 24 jam dan bukan rumah sakit besar yang letaknya juga di daerah pinggiran begini sudah tentu masih banyaklah hal-hal mistis begitu!!" tutur Yusva.
"Terus sampai kapan saya dan Sasha akan hidup terpisah gini, mas??" tanya Alfath sedih.
"Sehabis ini kalian pulanglah saya akan memberikan penangkal tolak bala untuk Sasha, Tyas dan bayi mereka dan sebisa mungkin jika kalian sudah menikah tinggalah di rumah orang tua Sasha agar dia tidak ditinggal berdua saja dengan bayinya saat mas Alfath pergi bekerja!!" nasihat Yusva pada Alfath.
"Hei...perempuan itu sudah tak ada lagi di tempatnya." Kata Yusva lalu menarik tangan Alfath untuk mengelilingi puskesmas sampai kebelakang jendela luar kamar bersalin.
Di dalam sana Sasha tengah berjuang antara hidup dan mati mempertaruhkan nyawanya, karena dia merasakan kesakitan yang luar biasa sementara bayinya belum mau keluar juga.
"Mau apa kamu berdiri di dekat jendela??" bentak Yusva pada sosok berpakaian hitam itu.
Alfath bingung karena tak melihat sama sekali siapa yang dibentak oleh Yusva.
*
*
__ADS_1
****Bersambung....
Siapakah yang sedang dibentak oleh Yusva tersebut?? dan siapa wanita berbaju dan berkerudung hitam yang menutupi seluruh wajahnya deng kerudung yang diapakai??