Maaf Atas Dustaku

Maaf Atas Dustaku
Bab 31 Hamil


__ADS_3

Seluruh keluarga besar Sasha sudah berkumpul untuk menyolatkan jenazah Yusuf sementara Sasha dengan tabah selalu berada di samping suaminya hingga jenazah di masukan kedalam peti dan di berangkatkan dengan ambulance ke tempat pemakaman umum.


Sasha dengan setia mendampingi almarhum suaminya hingga di masukan ke liang lahat. Tak ada lagi tangisnya karena air matanya yang telah kering.


Perlahan tapi pasti tubuh itu tertimbun tanah.


"Sekarang dia sudah tidak merasakan kesakitan lagi!!" kata ibu Ratna di telinga Shasa.


Sasha hanya bungkam. Dia seperti mengalami mimpi buruk..


********


Alfath masuk ke kantor dengan lesu. Biasanya dia selalu diekori oleh Rani yang selalu berceloteh seperti burung beo mengomentari penampilannya, tetapi sekarang?


Sudah dua hari Rani tak lagi bersamanya.


Dia melirik kemeja Sasha. Wanita itu belum datang...tumben??


"Pak Alfath kok sudah masuk?" kata ibu Cindy.


"Ngga apa-apa...bosan saya di apartemen!!" ucap Alfath.


Dia masuk keruangannya dan menemukan sepucuk surat.


Dengan malas dia membuka dan membacanya.


Mata Alfath membelalak saat melihat surat pengunduran diri Sasha...apa-apaan wanita itu??


Alfath keluar lagi menemui ibu Cindy.


"Cindy...siapa yang membawa surat pengunduran diri Sasha ini??" tanyanya gusar.


"Anjar, pak...dia yang membawa tadi kemari."


"Memang bapak ngga tau??" tanya Cindy pelan.


"Tau apa??" sentak Alfath gusar.


"Suami Sasha hari sabtu kemarin meninggal dunia, pak!!" kata Cindy pelan takut Alfath bereaksi lagi.


Alfath terhenyak lemas.


"Mengapa semua seperti sudah diatur begini?? sekarang dia juga sudah kehilangan Sasha.


"Panggilkan Anjar kemari menghadap saya!!" lalu dia berbalik dan masuk keruangannya.


"Kamu sekarang kemana Sha?? kenapa kamu mengundurkan diri??" lirih Alfath di kursinya.


TOK...TOK...TOK


"Masuk...!!"


Lalu Anjar masuk dengan agak takut melihat wajah Alfath yang nampak kacau.


"Duduk!!"


Anjar duduk tepat di depan Alfath.


"Sekarang katakan pada saya mengapa Sasha mengundurkan diri?? sementara tugas-tugasnya belum selesai di perusahaan ini??" tanya Alfath datar.


Anjar menceritakan persis seperti apa yang dikatakan Cindy tadi.


"Sekarang apakah Sasha tinggal di rumahnya sendiri atau mertuanya??" tanya Alfath.


"Kemarin Sasha dibawa keluarganya untuk sementara keluar kota karena jika terus menerus berada di sini dikhawatirkan jiwanya akan terus terguncang." Jelas Anjar.


Alfath semakin bertambah lemas dia sangat mengkhawatirkan wanita itu terlebih atas apa yang telah dia perbuat padanya.


"Ya sudah, kamu keluarlah!!" kata Alfath pada Anjar.


"Sekarang dia benar-benar telah pergi..." Alfath menoleh ke samping tempat dia dan Sasha melakukan penyatuan raga.


"Aku berharap dengan kejadian malam itu kamu akan hamil anakku sehingga kamu pasti akan datang kembali mencariku untuk meminta pertanggung jawabanku dan tentu saja aku dengan senang hati akan menikahimu karena aku mencintaimu!!" lirih Alfath.


********


"Sarkam...aku agak serem kalau malam melewati kamar apartemen ibu Rani itu!!" kata Bahar.


Keduanya adalah sekuriti apartemen yang bertugas untuk berkeliling mengecek keadaan apartemen malam ini.


"Sama, Bahar...semenjak ibu Rani meninggal tempat itu menjadi sangat seram!!" kata Sarkam agak takut-takut.

__ADS_1


Ssttttt....


"Coba kamu dengar!!" kata Sarkam pada Bahar.


"Sarkam...apa yang tinggal di apartemen ini ada yang mempunyai bayi???" tanya Bahar pada Sarkam.


"Rasanya ngga ada...karena yang tinggal di apartemen ini rata-rata single semua tak ada yang punya anak apalagi anak bayi!!" kata Sarkam.


"Bahar...coba kamu dengarkan baik-baik!!" kata Sarkam pada temannya itu.


"Iya...suara tangisan bayi itu berasal dari...kamar apartemennya ibu Rani!!" bisik Sarkam gemetar.


"Persetan dengan keliling apartemen...aku mau kembali ke pos aja..." kata Sarkam lalu ngacir meninggalkan Bahar yang mau tidak mau juga lari mengikuti temannya itu.


"Aduuhhh...Santo dan Aco kok enak-enakan tidur sih??" tanya Bahar geram pada kedua temannya itu.


"Iya...kita mati-matian ronda keliling sampai ke basement, eh...mereka berdua malah molor di sini!!" Sarkam pun ikut kesal.


"Haannntuuu!!" teriak Aco dan Santo bersamaan saat mereka bangun.


"Hantu apaan sih??" kata Sarkam juga jadi ilfil.


"Makanya kalian berdua itu jangan kebanyakan tidur...teman lagi meronda kok kalian malah tidur." Kata Sarkam.


"Tidur?? siapa yang tidur?? kami berdua bukan tidur tapi pingsan!!" kata Aco.


"Kok bisa?? pingsan kok kayak tidur begitu?? kalian berdua ileran lagi!!" kata Sarkam masih kesal pada dua temannya itu.


"Jadi gini...." Aco lalu memulai kisah mereka sepeninggal Sarkam dan Bahar tadi...


***


***Flashback on***


"Co...ini hari apa??" kata Santo pada Aco.


"Hari minggu malam senin!!" kata Aco.


"Kenapa memang??" tanya Aco pada Santo.


"Enak ya jadi orang gedean, Co...hari minggu gini pergi liburan barang keluarga!! kita mah jangan kata liburan, hari minggu gini aja kita masuk kerja!!" kata Santo.


"Sudah di jalani aja dengan ikhlas!! " sahut Aco.


"Santo...kamu liat ngga ibu-ibu di pojok parkiran itu?? tampaknya dia sedang menunggu seseorang?? mungkin suaminya, mana bawa bayi lagi malam-malam begini!!" kata Aco iba.


"Kita hampiri aja yuk...kita suruh istirahat di pos aja supaya ngga kedinginan." kata Santo lagi.


"Kayaknya aku kenal deh ibu yang menggendong bayi itu tapi di mana pernah ketemu ya??" kata Aco sambil tak lepas tatapnnya memandang wanita itu.


Belum sempat mereka berdua menghampiri, wanita berbaju putih dan bayinya itu entah kapan datangnya tau-tau sudah ada di depan pos mereka.


Dia berdiri membelakangi Aco dan Santo.


"Maaf bu, ibu kalau mau nunggu suaminya di pos aja kasihan bayinya kedinginan!!" kata Aco.


HENING...


Lalu terdengar wanita itu berkata, " saya tidak menunggu suami saya...saya sedang menunggu selingkuhan saya!!" jawabnya lirih.


Aco dan Santo saling pandang tak mengerti pada ucapan wanita yang berdiri membelakangi mereka itu.


"Maksudnya gimana ya bu??" tanya Aco bertanya lagi.


"Pak...ini bukan anak dari calon suami saya...ini adalah anak dari selingkuhan saya. Lalu dia membalikan badannya dan membuat kedua sekuriti itu langsung menggigil ketakutan tetapi tidak bisa bergerak.


Hi..hi..hi..hi


Tawanya terdengar lirih dan menyayat hati.


Melihat siapa wanita yang berdiri di depan mereka dan melihat wajah dan pakaiannya penuh dengan darah, Santo yang memang dasarnya penakut langsung terkulai lemas dan pingsan.


"I...ibu...Ra..ni....


BRUAKKK...


Tak lama Aco juga pingsan ketakutan.


***Flasback off***


Aco dan Santo mengakhiri cerita mereka.

__ADS_1


"Tadi kami pun mendengar suara tangisan bayi...tapi tidak tau datangnya dari mana!!" kata Sarkam.


"Kasihan ya mba Rani...mungkin ada sesuatu yang ingin di sampaikannya sebelum dia meninggal tapi tidak kesampaian jadi penasaran deh...apalagi dia matinya bunuh diri!!" kata Bahar.


"Aduhhh aku ngga mau ditinggal sendirian lagi di pos, kalau kalian berkeliling...aku ikut!!" kata Santos.


"Aku juga ngga mau ditinggal sendirian di sini!!" kata Aco.


******


Dua bulan kemudian....


Huek...huek....


"Aduh...perutku rasanya mual banget!! bawaannya pengen muntah terus!!" Sasha keluar dari kamar mandi.


"Gimana aku mau ke toko kalau begini caranya??" kata Sasha terus memijit keningnya untuk mengurangi pusing di kepalanya.


Semenjak suaminya Yusuf Darmawan meninggal dua bulan lalu, Sasha memilih berhenti bekerja dari perusahaan Alfath.


Selain dia trauma dengan lelaki itu, dia juga memang ingin meneruskan usaha almarhum suaminya. Pihak keluargapun terus memberikan dukungan moril padanya.


"Sha...kamu sakit??" kata ibu Ratna melihat putrinya muntah terus sejak tadi.


"Ngga tau bu, rasanya perut Sasha ngga enak banget!!" kata Sasha.


"Kapan kamu terakhir datang bulan??" tanya ibunya lagi.


Sasha mencoba mengingat-ingat dan tiba-tiba wajahnya memucat.


Dia baru selesai datang bulan saat dia dipaksa oleh Alfath untuk melayani laki-laki bejat itu di ruangan kantornya.


Tiba-tiba pandangan Sasha berkunang-kunang dan...


BRUKKK...


Untung ibu Ratna dengan sigap menangkap tubuh putrinya sebelum tubuh mungil itu terbanting kelantai.


"Yas...Tyas...tolongin bude!!" teriak ibu dari kamar.


Tyas memang lagi magang di rumah sakit di kota ini...sehingga dia memutuskan untuk tinggal lagi di rumahnya.


Bergegas Tyas berlari menuju kamar.


"Mba Sasha kenapa bude??" tanya Tyas.


"Mbakyu kamu pingsan tadi!!" sahut bu Ratna.


Sementara di apartenen Alfath...


Huek...huek...


"Aduh....masuk angin parah nih kayaknya aku kok sejak tadi bawaannya muntah melulu!!" kata Alfath.


Tubuhnya sudah terasa lemas tak bertenaga.


Dengan susah payah dia menelpon dokter keluarganya untuk datang memeriksanya.


Tak lama menunggu, dokter Rudi tiba di apartemen Alfath.


Dokter muda yang usianya sebaya dengan Alfath adalah anak dari dokter Rusel. Ayahnya dulu adalah dokter keluarga Alfredo ayah Alfath. Setelah pensiun, putranya yang juga sahabat Alfath menggantikan ayahnya menjadi dokter keluarga Alfath.


"Apa keluhanmu, bro??" kata dokter Rudi pada sahabatnya itu.


"Aku muntah terus dari tadi, bro...sepertinya aku masuk angin!!" kata Alfath.


"Kamu sering begadang dan telat makan ya...!!" kata dokter Rudi pada sahabatnya itu.


"Kamu istirahat aja hari ini...ini kuberikan vitamin dan obat mual ya...kamu ini seperti orang lagi ngidam aja!!" kata dokter Rudi sambil tertawa.


"Ngidam?? apa itu ngidam??" tanya Alfath bingung.


"Kalau kamu sudah punya pasangan dan pasanganmu itu lagi hamil kemungkinan kamu terkena sindrom kehamilan simpatik!!" jelas dokter Rudi.


"Hamil??? aku tak pernah berhubungan dengan wanita manapun termasuk dengan Rani kecuali....


*


*


****Bersambung....

__ADS_1


Kecuali apa hayo??? apakah Alfath mulai menyadari bahwa Sasha tengah mengandung??


Mohon dukungannya selalu ya reader🙏🙏


__ADS_2