
"Kamu benar Juan, dan pelakunya seperti bukan manusia." Kata mommy Santi.
"Apa yang dicari pembunuh itu ya??" tanya Juan.
Juan pun mulai menerka-nerka dan mengaitkan semua seperti yang sudah diceritakan Kei Lan semalam padanya!!
Semalam Kei Lan memang bercerita padanya, teror ini berawal dari cinta kemudian menjadi dendam yang berkepanjangan.
Jauh dibelahan bumi yang lain ada seorang bocah yang terlahir dengan tanda bulat sabit dalam lingkaran. Dia dicari oleh musuh-musuhnya karena diyakini darah bocah itu jika digabungkan dengan dua orang lainnya yang bertanda lahir serupa kemudian darah mereka diminum maka akan menjadi kekuatan yang tak tertandingi.
Tetapi jika mereka bersatu, maka mereka juga yang mampu menghancurkan sang angkara murka itu.
"Baru ada dua orang yang Kei tau memiliki tanda lahir itu koh...Vallen dan seorang bayi tapi belum diketahui siapa dia tapi dia langsung mendapatkan tanda itu dari Kyai Abdullah karena dia adalah titisan langsung sang Kyai yang paling dicari oleh penyembah iblis itu karena dianggap sangat berbahaya dan dianggap mampu menghancurkan kekuatan mereka."
"Dan yang satu ini benar-benar tak terlacak keberadaannya dan juga tidak diketahui siapa dia sebenarnya." Kata Kei Lan pada Juan.
"Om Tio dan om Ridwan dalam bahaya...mereka orang yang menjadi sasaran pembunuh itu berikutnya!!" kata Juan pada Kei Lan.
"Kenapa koh Juan bisa berpikir demikian??" tanya Kei Lan.
"Kyai Abdullah adalah guru mereka berdua, keduanya diturunkan sebuah ilmu pencabut raga, ilmu yang mampu mencabut habis ilmu musuh-musuhnya, setelah Kyai Abdullah meninggal dia menitis lagi ke tubuh orang lain."
"Kita harus memperingatkan om Tio dan om Ridwan, Kei...apalagi malam ini adalah malam bulan purnama!!" kata Juan.
Sementara di tempat kediaman pak Wiryo, Yusva dan pak Wiryo sudah bersiap menuju tempat kediaman Tio dan Ridwan.
Sementara karena ada keperluan dadakan, ibu Alfath diantar oleh Vallen pulang ke rumah.
Alfath dan ayah Alfredo pergi keluar kota siang tadi mungkin besok siang baru kembali.
"Aduh aku khawatir dengan keselamatan ibu mertuaku!!" kata Sasha.
"Nggak usah khawatir, ada Vallen kok!!" kata Tyas yang juga tau bahwa Vallen mempunyai kemampuan khusus.
************
"Vallen...kamu kenal sama pengendara motor yang sejak tadi ada di belakang mobil ini??" tanya ibu Alfath sambil melihat kearah spion yang ada di atas.
Vallen ikut melihat ke kaca spion. Seketika wajahnya berubah. Dia memberi isyarat melalui jarinya agar mobil dilajukan lebih cepat.
Dengan panik ibu Alfath menambah keceparan agar mereka bisa menuju ke jalan raya yang lebih ramai.
Tetapi yang membuat mereka berdua kemudian menjadi kaget dan bertambah panik adalah pengendara motor tersebut tiba-tiba melesat membumbung tinggi keatas mengejar mobil ibunya Alfath tersebut.
"Ya Allah...apa yang terjadi??" teriak ibu Alfath.
Ketegangan semakin menjadi-jadi saat helm yang dipakai oleh pengendara misterius itu terbang mengenai mobil yang sedang dikendarai oleh ibu Alfath dan Vallen.
Belum hilang rasa terkejut mereka karena melihat pengendara motor tersebut ternyata seorang wanita berwajah cantik tetapi sangat pucat dan sorot matanya tajam dan dingin.
Tiba-tiba kedua tangan wanita misterius itu terulur memanjang berusaha menjangkau mobil yang melaju di depannya.
Keringat dingin keduanya terus mengalir. Rasa panik dan takut bercampur menjadi satu.
"Vallen...apa yang harus ibu lakukan??" teriak ibu Alfath masih berusaha melaju untuk menghindari tangan aneh yang terus mengikuti laju mobil mereka.
GREB...GREB...
ARRGGHH...
Teriakan kaget dari ibu Alfath menambah kengerian.
Badan mobil berguncang hebat saat kedua sisinya dicengkeram erat oleh kedua tangan itu.
Vallen memberi isyarat pada ibunya untuk segera melompat dari mobil sebelum badan mobil itu remuk oleh cengkeram tangan itu.
"Ti...ti...tidak bisa Vallen...ibu takut sekali!!" teriak ibu Alfath.
Vallen memberikan isyarat agar ibunya jangan khawatir...percaya padanya, bahwa dia akan selalu melindungi ibunya sampai kapan pun.
Vallen memegangi lengan ibunya berusaha memberikan keyakinan dan kekuatan pada wanita yang sangat dia cintai itu.
Akhirnya ibu Alfath mengangguk. Dengan memberanikan diri dia membuka seat belt dan membuka perlahan pintu mobil.
Vallen yang sudah berpindah ke sampingnya terus menggenggam tangan wanita itu.
1...2...3 lompat....
Mereka berdua melompat bersama seiring denga remuknya mobil itu.
Mobil dan kedua tangan panjang yang meremasnya terus masuk kedalam jurang di sisi jalan.
Vallen dan ibu Alfath terus berlari menjauhi jalan raya. Mereka sengaja tidak melewati jalan raya, mereka mengambil jalan di sisi sebelah kanan yang penuh pepohonan.
Ibu nggak sanggup lagi berlari, Vallen!!" kata ibu Alfath.
Mereka berhenti dan bersembunyi di balik sebatang pohon besar dan rimbun. Orang dari jalan raya tak bisa melihat mereka tetapi mereka berdua bisa melihat orang yang melintasi jalan raya.
__ADS_1
Vallen memegang tangan ibunya dan sebelah tangan yang lain memberi isyarat agar menahan napas.
Tak lama secara tak terduga dari sisi jurang seberang jalan muncul satu tubuh melayang keatas dan memperhatikan ke sekitar jalan dengan sorot matanya yang dingin dan mengandung maut.
Dia terbang melayang mondar mandir di dekat jalan yang di bawahnya terdapat pepohonan rimbun tempat Vallen dan ibunya bersembunyi.
Sosok itu terus terbang berputar sambil mengenduskan penciumannya.
Itulah tadi sebabnya Vallen meminta ibunya untuk menahan napas.
Setelah sekian lama mengendus, sosok itu terbang menuju ke timur.
Ibu Alfath hampir pingsan karena menahan napas dan ketakutan.
"Terus bagaimana kita keluar dari sini Vallen?? kita berada di jalan tol yang jarang dilewati angkutan umum!!" kata ibu Alfath.
"Sedangkan ponsel dan dompet ibu ikut masuk kedalam jurang bersama mobil yang rinsek tadi!!" kata Ibunya lagi pada Vallen.
Vallen memberi isyarat agar ibunya bersabar menunggu dan memastikan mahluk pembunuh itu benat-benar telah pergi.
***********
"Ayah, mengapa perasaan Sasha nggak enak sejak tadi?? Sasha kepikiran ibu dan Vallen terus?? sudah jam segini mereka belum balik kemari padahal perginya sudah dari beberapa jam yang lalu sementara keadaan sedang rawan begini!!" kata Sasha pada ayah dan semuanya.
Sebenarnya bukan hanya Sasha yang cemas tapi semua orang yang berkumpul di situ.
"Ponsel ibu pun Sasha telepon sejak tadi selalu di luar jangkauan mana mas Alfath dan ayah sedang di luar kota lagi!!" kata Sasha semakin cemas.
Yusva yang sejak tadi diam tiba-tiba memejamkan matanya.
Mulutnya tampak berkomat kamit seperti merapal sesuatu.
Selanjutnya....
"Saya harus pergi menjemput ibu mas Alfath dan Vallen, mereka ada di sisi jalan di seberang jalan tol...mereka tak bisa keluar karena menurut Vallen, mahluk itu masih mengawasi daerah sekitar mereka dari kejauhan." Kata Yusva.
"Bagaimana kamu akan menjemputnya jika mereka sedang diawasi pastinya jika kamu menjemput mereka dengan kendaraan pasti akan mengundang mahluk itu untuk datang kembali!!" kata Ridwan.
"Om tenang saja...saya tidak menjemput mereka dengan kendaraan kok!!" kata Yusva sambil tersenyum.
Masih ingat di episode Yusva menyelamatkan Sasha dari dalam mobilnya yang meledak karena masuk ke jurang?? Yusva menggunakan teleportasi untuk berpindah tempat dengan cepat.
Itulah kelebihan murid Kyai Hamas tersebut. Dan dengan kemampuan yang dia miliki dia mampu berada di manapun yang dia inginkan dengan cepat.
Yusva berdiri dan memejamkan matanya berkonsentrasi ke satu titik di mana Vallen memberitahukan keberadaannya dan ibunya melalui telepati tadi.
Sekejap kemudian Yusva sudah berdiri di samping ibunya Alfath membuat wanita paruh baya itu hampir berteriak ketakutan.
"Ssttt bu...ini Yusva, jangan berteriak agar tidak mengundang mahluk itu untuk datang kemari!!" bisik Alfath cepat.
"Ibu, Vallen, cepat pegang tangan saya, konsentrasilah pada satu titik yaitu kembali ke rumah mbak Sasha, lakukan cepat karena wanita iblis itu sebentar lagi menyadari keberadaan kita di sini!!" kata Yusva.
Dengan cepat mereka memejamkan mata berkonsentrasi menuju rumah.
Sedetik kemudian Yusva telah membawa mereka berpindah tempat dengan cepat bertepatan dengan munculnya mayat hidup Surtinah tepat di tempat ketiganya tadi menghilang.
Mahluk itu menggeram marah dan mengamuk memuntahkan kobaran api dari mulutnya membakar sekitar tempat itu.
"Alhamdulillah..." ucap mereka semua melihat Vallen dan ibunya bersama Yusva bisa kembali dengan selamat.
Sementara itu...
"Dasar Surtinah bodoh....!!" umpat Nyai Sambang marah.
"Mengapa si Surti ini dari hidup sampai mati bahkan sampai hidup lagi tetap saja bodoh??" sentaknya.
"Gagal lagi gagal lagi dia menjalankan tugas dari kita!!" kata Nyai Sambang lagi dengan geram.
"Panggil pulang si bodoh itu, dia tidak akan pernah selamat jika berani menyerang rumah kediaman kedua murid Abdullah itu, karena di sana banyak berkumpul orang-orang hebat!!" perintahnya pada Ganda Suri.
"Surtinah kembalilah kerumah, sekarang!!" perintah Ganda Suri pada muridnya.
Seperti angin berhembus secepat itu pula tubuh Surtinah menghilang kembali ke tempat asalnya.
"Kita salah menduganya, rupanya yang menjadi sasaran mahluk zombie itu adalah salah satu di antara kita yang posisinya sendiri!!" kata Tio pada yang lainnya.
"Tapi syukurlah ibu dan Vallen selamat!!" kata Sasha dan yang lainnya.
************
"Ini apa ya yang berwarna biru di dekat punggungku ini?? kok aku baru liat ya?? atau memang selama ini aku tak pernah memperhatikan bahwa aku mempunyai tanda lahir di punggungku seperti ini??" gumam Badai.
Tanda berwarna hitam kebiruan itu membentuk sesuatu tetapi tak tau itu apa.
"Lia..." Badai memanggil Lia yang sedang sibuk mencuci piring.
AAHHHH...
__ADS_1
Lia berteriak melihat Badai bertelanjang dada mendekatinya.
"Apaan sih?? lebai banget...aku hanya mau tanya sama kamu tanda kebiruan di punggungku ini...kok malah teriak!!" gerutu Badai.
"Habis kamu tiba-tiba nongol begitu aku kan kaget!!" bantah Lia.
"Mana coba sini aku lihat!!" kata Lia yang sebenarnya juga berdebar melihat roti sobek milik Badai.
Badai memperlihatkan tanda di punggungnya pada Lia.
"Tanda ini??? persis seperti yang dimiliki oleh Ansar!!" batin Lia.
"Apa itu Lia??" tanya Badai pada Lia.
"Seperti bulan sabit tapi ada dalam lingkaran!!" kata Lia sambil memperhatikan tanda itu dengan seksama.
"Apakah kamu memang tidak tau ada tanda seperti ini di tubuhmu?" tanya Lia lagi.
"Entahlah karena aku tidak pernah memperhatikan bagian belakang punggungku!!" sahut Badai.
"Badai...maukah kamu merahasiakan dulu tanda lahir di tubuh kamu ini?? tutupilah dan jangan beri tahukan atau perlihatkan kepada siapapun!!" kata Lia.
"Karena tanda yang kamu miliki sama persis seperti tanda lahir yang dimiliki oleh Ansar." Kata Lia setengah berbisik.
"Untuk saat ini aku belum tau apa makna tanda bulan sabit dalam lingkaran itu, tapi aku yakin ada sesuatu yang istimewa di balik tanda itu!!" bisik Lia seperti tidak ingin didengar oleh siapapun.
"Apakah bang Anjar tau tentang tanda lahir putranya itu??" tanya Badai pelan.
"Tidak ada seorang pun yang tau, kecuali aku dan kamu apalagi ibunya!!" jawab Lia.
"Coba sekarang kamu ingat apakah ada sesuatu yang istimewa bagimu sejak kamu kecil??" tanya Lia.
"Sebenarnya sejak aku kecil aku sudah dinyatakan tuli permanen oleh dokter gegara sewaktu kecil telingaku kemasukan air yang menyebabkan pecahnya gendang telingaku."
"Tetapi seiring bertambahnya usiaku, pendengaranku lebih tajam melebihi pendengaran manusia normal biasa!!" kata Badai.
"Lalu semenjak kecil aku selalu dikelilingi oleh bahaya, tetapi aku selalu bisa menghadapinya!!" Kata Badai lagi.
"Itu sebabnya saat Ansar dalam bahaya kamulah yang tergerak untuk menolongnya kan?? karena sesama pemilik tanda itu saling terkait dan terhubung satu dengan yang lain!!" terang Lia.
"Oleh sebab itu rahasiakan tentang tanda dan ke istimewaan kalian ini kepada siapa pun!!" tambah Lia.
Lalu Lia kembali melanjutkan pekerjaannya mencuci piring dan membersihkan rumah sebelum dia berangkat kerja.
"Badai...bisakah aku minta tolong kamu bersama Ansar sebentar sebelum mas Anjar pulang bekerja??" tanya Lia.
"Baiklah...biar Ansar bersamaku dulu, lagi pula Ansar bayi yang manis dan tidak rewel!!" kata Badai.
****************
Seperti biasa sore itu Anjar pulang bekerja mengendarai motornya dengan bergegas karena tadi Lia menelpon bahwa Ansar di rumah bersama Badai.
"Kok tumben masih sore gini jalanan sepi ya??? biasanya jam segini ramai orang pulang dari kantor!!" gumam Anjar.
"Tapi iya juga sih kawasan perumahan tempat tinggal Badai termasuk kawasan perumahan elite yang dihuni orang-orang gedongan jadi tidak seramai perumahan kampung biasa!!" gumam Anjar lagi.
Di pos sekuriti saat Anjar mau masuk seorang sekuriti menghentikannya.
"Maaf mas...bisa turun sebentarkah ada tamu yang mencari di dalam pos!!" katanya.
"Siapa mas?? saya juga baru beberapa hari tinggal di sini masa sudah ada yang mencari saya??" tanya Anjar.
"Katanya saudara jauh mas, mas yang tinggal di blok G 12 itu kan?" tanya sekuriti itu lagi.
Akhirnya Anjar turun juga tanpa dia memperhatikan keanehan pada sekuriti yang menghentikan motornya.
"Siapa yang mencari saya mas??" tanya Anjar penasaran.
"Itu orangnya!!" kata sekuriti itu menunjuk seseorang yang duduk di dalam pos.
"Maaf anda mencari saya???" tanya Anjar.
Orang yang duduk itu mengangkat wajahnya. Tampaklah satu sosok yang selama beberapa hari ini menjadi momok yang menakutkan baginya dan Ansar.
Anjar ingin berbalik melarikan diri tetapi satu tangan kekar menahannya dari belakang.
Anjar spontan berbalik dan melihat sekuriti tadi menyeringai memandangnya. Tampak matanya yang menyorot merah menyala tetapi tatapan itu begitu kosong seperti seseorang yang tengah dihipnotis.
*
*
****Bersambung....
Apakah yang akan terjadi dengan Anjar selanjutnya??
Jawabannya ada di episode selanjutnya ya reader...ikuti terus dan jangan lupa dukungannya!!🙏🙏
__ADS_1