
Lalu setelah sampai di jalan raya melajukan motornya dengan kencang agar bisa segera sampai di rumah.
Jauh di belakangnya ramai sesama mahluk astral itu tertawa melihat om cong terjungkal dari atas motor lalu jatuh menggelinding ke comberan.
"Makanya jangan suka asal nebeng aja...bayar dong?? numpang terus!! kata tante Key.
"Sialan tuh bocah...baru juga ditebengin, belum kalau mau diutangin !!" kata om cong.
"Hadeuh...kebiasaan waktu jadi manusia tukang ngutang ya gini, sudah jadi hantu pikirannya tetap mau ngutang terus!!" ujar tante key.
"Huft....selamet...untung itu bungkusan lontong ngga ikut sampai ke rumah, bisa pingsan mommy aku melihatnya!!" gumam Juan sambil menghela napas dan terus melajukan motornya.
***************
"Tyas, ngga mau lagi ditinggal sendirian kayak tadi yah...Tyas takut banget apalagi hanya berdua aja dengan Afifah!!" kata Tyas masih bergidik ingat kejadian tadi.
"Lha kamu juga kenapa ngga mau ikut sama mbakyu kamu, tadi pagi ayahkan sudah berpesan, jika tidak ada siapa pun di rumah, kamu ikut saja sama mba Sashamu dan suaminya." Kata pak Ridwan.
"Sumpah yah, Tyas pikir tadi Afifah sama Tyas bakalan mati, lidahnya yang menjulur sekeras besi mencoba menusuk kelambu yang Tyas pakai tetapi tidak tembus dan matanya merah menyala menatap kearah Tyas dan Afifah." ucap Tyas dengan raut wajah yang masih pucat dan nampak trauma.
"Akhirnya dia datang setelah sekian tahun menghilang!!" batin pak Ridwan.
"Dia datang dengan membawa dendam yang membara di hatinya." Kembali pak Ridwan berbisik.
****Flashback on****
"Tinah, aku sudah bilang bahwa aku tidak bisa menikah denganmu karena aku sudah mempunyai kekasih dan aku sangat mencintai Ratih kekasihku!!" kata Ridwan saat Surtinah mencegatnya sepulang bekerja dekat pematang sawah.
"Lalu apa arti perhatianmu selama ini kepadaku, mas Ridwan??" tanya Surtinah sambil menangis.
"Perhatian apa, Tinah?? perasaan perhatianku kepadamu wajar-wajar aja, kita kan bertetangga...sudah sewajarnya lah akupun baik padamu??" kata Ridwan bingung.
"Lagian kamu dan Ratihkan berteman baik, kamu tega menikam sahabatmu sendiri dari belakang??" tanya Ridwan lagi.
"Jika mas Ridwan mau, aku rela menjalani hubungan kita dengan diam-diam tanpa setau Ratih!!" kata Surtinah.
"Gila kamu, Tinah...aku bukan tipe lelaki seperti itu?? lagian Tio sahabatku sudah menikahi kakaknya Ratih!!" ucap Ridwan kesal dengan perkataan Surtinah.
"Aku ngga mau tau, mas...jika kamu tidak mau menikahi aku dan masih tetap nekat memilih Ratih maka mas dan Ratih sendiri yang akan menanggung akibatnya!!" ancam Surtinah.
"Kamu ngancam, Nah?? gila kamu, nah??" sentak Ridwan.
"Aku memang sudah gila, mas Ridwan...aku sudah tergila-gila padamu sejak pertama Ratih mengenalkan kita waktu itu." Kata Surtinah tanpa malu.
"Ahhh...terserah kamu lah, Nah!! yang jelas aku akan memilih gadis baik-baik untuk menjadi istriku, bukan gadis mata keranjang sepertimu yang matanya suka jelalatan kemana-mana jika liat cowok yang gantemg dan tajir!!" ucap Ridawan lalu meinggalkan Surtinah sendiri.
"Awas kamu Ridwan, akan kubuat pernikahannu dan Ratih tidak akan pernah tenang, aku akan selalu mengganggu kehidupan rumah tangga kalian!!" seringai jahat tersungging dari bibir Surtinah.
__ADS_1
Menjelang hari pernikahan Ratih dan Ridwan, tiba-tiba dia minggat dari rumah dan menghilang entah kemana, seluruh penduduk waktu itu ikut mencari Tinah, tetapi Tinah tidak berhasil ditemukan.
Tak terasa setahun berlalu...
Ratih yang tengah hamil besar malam itu sedang sendiri di rumah.
Rumah pasangan Ridwan dan Ratih memang agak berjauhan dengan pasangan Tio dan Ratna.
Waktu itu Tio dan Ratna sudah pindah sendiri ke rumah mereka di perumahan kampung biasa tetapi sudah rumah sendiri sedangkan Ridwan dan Ratih masih tinggal di komplek perumahan yang memang di sediakan oleh kantor.
Mereka sebenarnya membangun rumah berdekatan, tetapi karena rumah Ridwan dan Ratih belum kelar pembangunannya maka mereka memilih tinggal di perumahan komplek kantor dulu untuk sementara waktu.
Saat itu hari sudah menjelang maghrib saat Ratih baru pulang dari tempat Ratna kakaknya sekalian melihat keadaan pembangunan rumah mereka.
Ratna sudah menasehati adiknya agar menunggu Ridwan pulang kantor terlebih dahulu baru pulang bersama karena tidak baik bagi ibu hamil jalan sendiri pada saat maghrib begini.
Kebetulan Tio juga belum pulang sehingga tidak bisa mengantarkan Ratih.
Ratna yang pada waktu itu sudah melahirkan terlebih dahulu juga tidak bisa mengantarkan Ratih pulang karena Sasha juga masih belum genap berumur satu bulan saat itu.
"Mengapa tidak menunggu suami kamu jemput, thoh dek?? bahaya lho ibu hamil keluar rumah sudah maghrib begini??" kata Ratna memperingati Ratih adiknya.
"Ratih harus pulang mba, sebab Surtinah sudah menunggu di depan rumah, kasian kalau dia menunggu terlalu lama!!" kata Ratih.
"Surtinah siapa, Tih??" tanya Ratna.
"Oohh, temanmu yang sifatnya rada aneh itukah? jujur sebenarnya mbak ngga suka kamu berteman terlalu dekat dengan si Surtinah itu, entah mengapa mbak melihat dia itu baiknya ngga tulus padamu!!" kata Ratna lagi.
"Ya elah mbak...suudzon aja sama orang lain!!" Ratih tertawa.
"Ya sudah mbak, Ratih tinggal pulang dulu ya!! Assalamualaikum!!" pamit Ratih.
"Waalaikum Salam...hati-hati di jalan bawa motornya, itu buntalan yang mbak kasih jangan sesekali kamu lepaskan dari tanganmu ya!!" pesan Ratna lagi pada Ratih.
"Baik mbak, ini Ratih pakai sebagai gelang di tangan Ratih!!" katanya sambil menunjukan gelang hitam di tangannya.
Dengan perasaan was-was Ratna membiarkan adiknya pulang sendir🤡😎i, karena ada kabar merebak di kampung sebelah ada beberapa kejadian menggegerkan.
Beberapa bayi yang baru lahir meninggal dunia dengan tubuh kisut karena darahnya habis tersedot oleh sesuatu, itulah yang membuat Ratna takut melepaskan adiknya pulang sendiri kerumah saat maghrib begini.
"Nekat banget sih Ratih ini pulang hanya demi bertemu dengan temannya yang bernama Surtinah itu??" kesal Ratna tapi tidak bisa berbuat apa-apa.
"Hai Tinah...." sapa Ratih pada sahabatnya yang sudah duduk di kursi teras rumahnya.
"Hai Ratih...apa kabar??" tambah cantik aja sekarang??" mata Tinah tak lepas memandang ke arah perut Ratih dan sesekali menelan salivanya seperti menahan sesuatu.
Sayangnya Ratih sama sekali tidak menyadari hal tersebut.
__ADS_1
"Ayo masuk!!!" kata Ratih sambil menggandeng tangan Surtinah.
Tetapi mendadak saja Surtinah merasakan tangannya seperti memegang barang api begitu tangannya bersentuhan dengan tangan Ratih yang memakai gelang pemberian Ratna kakaknya.
"Auwhh..." desis Surtinah menahan sakit.
"Surtinah, kamu kenapa?? kamu seperti kesakitan??" tanya Ratih pada temannya itu.
"Ngga...perutku agak kram rasanya...coba kamu lepaskan dulu tanganmu!!" kata Surtinah.
"Maaf...!!" kata Ratih.
Lalu mereka berdua masuk kedalam.
"Kamu duduk sebentar ya Tin, aku mau sholat maghrib sebentar!! kamu ngga sholat??" tanya Ratih pada temannya itu.
"Aku lagi datang bulan!!" alasan Surtinah.
"Kamu kalau mau makan atau minum buat aja sendiri dulu, ya!! anggaplah rumah sendiri!!" kata Ratih.
"Baiklah!!" kata Surtinah sambil tersenyum tetapi secara samar senyumnya itu seperti mengandung sesuatu yang menakutkan.
Dia terus memandangi Ratih dan perutnya sambil sesekali menelan salivanya yang sepertinya hampir menetes.
Dia sengaja duduk kembali di teras karena dia tidak tahan mendengar ayat yang dilantunkan oleh Ratih.
Setelah selesai sholat, Ratih keluar dan tak lupa memakai kembali gelang yang ada di tangannya.
"Lho, kok duduk di luar?? ayo masuk??" kata Ratih.
Mereka duduk di ruang tamu sambil ngobrol ngalor ngidul.
Surtinah membawa bermacam-macam makanan yang ditaruh di wadah oleh Ratih.
"Bagaimana kabarmu selama ini?? kamu lho ngga datang di resepsi pernikahanku!!" kata Ratih.
"Aku dapat panggilan kerja, jadi mau ngga mau harus berangkat, maaf ya...tapi kan sekarang aku sudah ada untukmu!!" kata Surtinah sambil tersenyum penuh kepalsuan.
*
*
***Bersambung...
Kemanakah sebenarnya Surtinah pergi selama setahun itu??
Lanjut next episode ya reader dan jangan lupa dukungannya🙏🙏
__ADS_1