
Kalau adek mau makan, makanlah ibu tadi membawa makanan di dalam rantangan itu!!" tunjuknya.
"Terus ibu sama ayah Sasha ngga kesini nanti mas??" tanya Sasha.
"Ngga usah dek, kasihan ayah sama ibu juga lelah nanti mereka juga sakit, kan malah lebih repot!!" jawabnya sambil tersenyum memandang wajah istrinya.
"Ayo makan, mas memang ngga bisa nyuapin kamu tapi mas akan tungguin kamu sampai selesai makan, kalau ngga mas ngga mau tidur dan ngga mau minum obat biar ngga usah sembuh!!"
"Issshhh mas ini ngancam melulu, lho...!!" jawab Sasha dengan cemberut.
"Jangan cemberut gitu, jelek jadinya...!!" kata Yusuf tertawa melihat wajah istrinya yang ditekuk.
"Biarin...emang Sasha jelek!!" kata istrinya semakin cemberut.
"Yang bilang adek jelek, siapa??" kata Yusuf.
"Itu mas barusan bilang adek jelek!!" kata Sasha.
"Kan mas bilang, jelek kalau ngga mau makan dan ngga mau nurut sama mas...dosa lho, kalau istri itu ngga nurut omongan suaminya!!" kekeh Yusuf.
"Sini dekat sama mas..." katanya melambai pada Sasha.
"Dek, bagi mas Yusuf...kamu itu cinta pertama, wanita pertama, istri pertama pokoknya semua serba pertama yang ada di dalam hati mas Yusuf."
"Mas selalu berdoa, semoga adek adalah jodoh mas Yusuf yang terakhir dari hidup sampai mati dan jika Allah berkenan sampai di kehidupan nanti kita akan bersama lagi."
"Kamu itu bidadari surganya mas Yusuf!!" katanya meraih kepala Sasha menjatuhkan di atas dadanya yang kini bermunculan tulang kerangka dibalik kulitnya. Sakit selama 8 hari benar-benar menguras habis energi dari seorang Yusuf Darmawan.
Sasha menangis terisak. Dia ingat mala petaka yang beberapa jam lalu baru menimpanya dari bos nya sendiri.
Dia merasa tak pantas dikatakan bidadari surga oleh suaminya...badannya telah kotor, dia bahkan merasa jijik menyentuh tubuhnya sendiri.
"Kok malah nangis...orang disuruh makan juga kok malah menangis terharu!!" ucap Yusuf mengacak rambut istrinya.
Akhirnya Sasha terpaksa makan dibawah tatapan mata suaminya.
*********
"Aahhh bodoh...bodoh..." Alfath menjambaki rambutnya sendiri di kamar apartemennya.
"Aku telah menodai wanita baik-baik seperti Sasha!!"
"Sebenarnya apa salah dia hingga aku melampiaskan semua hasratku pada Sasha!!"
"Sebenarnya kesalahannya hanyalah karena selama dia bekerja di sini, dia tidak pernah mau menatapku, dia tidak pernah mengagumiku seperti perempuan-perempuan lain di luar sana."
"Tak ada yang pernah bisa menolak pesonaku, tetapi dia?? dari awal bertemu sikapnya biasa-biasa saja?? ditambah lagi dengan Rani yang berselingkuh di belakangku?? pantas aku selalu merasa berat jika dia dan keluarga mulai membahas masalah pernikahan, karena kupikir dia bukan wanita yang tepat untukku dan itu sudah terbukti, kan??"
Alfath kembali menatap layar ponselnya berharap Sasha membalas pesannya, entah itu berupa cacian atau makian sekalipun akan dia terima asal Sasha membalas semua pesannya.
Sudah hampir setahun ini pikiran Alfath selalu tercurah pada akuntan cantiknya itu.
Dia tau dia salah mencintai wanita yang telah menjadi istri orang, tetapi apakah perasaannya juga salah?? dia juga sebenarnya tidak menginginkan mencintai seorang perempuan apalagi wanita itu telah bersuami, tetapi semakin dia tentang, perasaannya pada Sasha semakin menggila...ditambah akuntannya itu cueknya ngga ketulungan tetapi saat dia menelpon atau menerima telepon dari suaminya, dia tersenyum bahagia, setiap pagi dia melihat Sasha membawa bekal untuk makan siang buatan suaminya...Alfath cemburu...cemburu pada sesuatu yang tidak sepantasnya dia cemburui, toh Sasha dan Yusuf adalah suami istri!!!
Dia berendam dalam bathup memejamkan matanya membayangkan indahnya surga dunia yang baru dia lakukan tadi dengan Sasha.
__ADS_1
"Itu baru pinggang kebawah yang polos apalagi jika seluruh tubuh wanita mungil itu bugil?? aku tak akan pernah melepaskan dia lagi...persetan jika aku harus baku bunuh sekalipun dengan suaminya!!" Alfath menggeram sambil mengencangkan pegangannya kiri kanan pada pinggiran bathup.
Bayangan wajah Sasha menangis dan meronta, bayangan wajah Sasha yang tersentak kaku saat senjata pusakanya melesak masuk menembus jauh kedalam pertahanan wanita itu.
AAARRGGGHHH...
Alfath mengerang panjang membayangkan pergulatan panas mereka tadi walaupun Sasha hanya memilih diam seperti manekin hidup dan hanya dia saja yang memegang kendali permainan.
Dddrrrttt...ddrrrttt
"Sasha..." spontan perkataan itu keluar dari mulutnya.
Diraihnya ponsel yang dia letakan di atas kepalanya.
Dia mendengus kesal saat tau yang menelpon dia adalah Rani.
π±"Mau apalagi kamu menelponku Rani?? sudah kubilang hubungan kita sudah berakhir tak ada lagi pertunangan apalagi pernikahan!!"
π±"Alfath, aku tau aku salah telah menduakanmu selama ini...aku khilaf, aku tersiksa apalagi kamu memutuskanku dengan cara seperti ini!!"
π±"Aku menelponmu bukan untuk mengajakmu kembali aku hanya ingin mengucapkan selamat tinggal padamu, Alfath...maaf atas dustaku selama ini kepadamu!!"
Tiiiiiiittttt
π±"Rann...Rani....apa yang akan kamu lakukan?? Rani??"
Dengan cepat Alfath menyelesaikan ritual mandinya. Disambarnya handuk dan ponsel lalu berlari kekamar untuk memaksi baju setelah itu dia menyambar kunci mobil dan melarikannya keapartemen Rani yang letaknya sekitar 7 menit dari apartemennya.
Dalam hati Alfath berkebat kebit tak karuan, dia tau selama ini Rani sangat manja tapi tidak menutup kemungkinan dia juga gadis yang nekad.
Alfath berlari ke meja resepsionis untuk menanyakan apakah Rani ada keluar dari kamarnya dan ternyata tidak ada. Katanya sejak kemarin tidak ada yang melihatnya keluar dari apartemennya.
TOK...TOK..TOK
"Rani...Ran...Alfath mengetuk pintu dengan keras. Tak ada tanda-tanda pintu akan dibuka. Sampai akhirnya petugas apartemen mengambil key card duplikat untuk membuka dari luar.
Setelah pintu terbuka mereka kaget melihat ruang tamu yang berantakan dengan pecahan barang pecah belah.
Alfath tak mempedulikan dia langsung masuk kedalam kamar yang gelap itu diikuti oleh dua orang satpam apartemen.
"Masya Allah....!!" teriak salah satu dari mereka saat lampu dinyalakan melihat lantai penuh dengan genangan darah.
Tampak Rani sudah tergeletak di lantai dengan urat nadi di tangannya yang nyaris putus dan darah tak hentinya mengalir dari luka iris itu.
Satpam yang satunya segera memanggil ambulance untuk segera membawa Rani kerumah sakit terdekat sementara Alfath masih terduduk lemas tak percaya dengan apa yang baru saja dia lihat.
********
Satu persatu pelayat meninggalkan pemakaman itu. Hanya tampak keluarga Alfath Alfredo dan keluarga Mutia Maharani. Mereka berdua memang anak tunggal. Alfath memang bukan anak tunggal tetapi kakaknya juga telah meninggal setahun yang lalu.
Awalnya keluarga Tanumiharja menyalahkan semua dan menimpakan kesalahan pada Alfath yang telah lalai menjaga putri mereka sampai Alfath menunjukan bukti perselingkuhan Rani dengan Leonel mantan kekasihnya dan membuat orang tua Maharani tak bisa berkata apapun lagi.
Dan yang paling mengerikan adalah Rani telah mengandung anak Leonel pada saat bunuh diri. Usia janin di perutnya sudah menginjak 2 bulan.
"Kamu yakin yang di dalam perut Rani itu bukan benihmu, Alfath??" tanya Alfredo ayahnya.
__ADS_1
"Demi Allah, pah...Alfath tak pernah melakukan hal lebih pada Rani selain memeluk dan menciumnya itupun hanya sebatas ciuman di pipi atau di dahi karena Alfath amat menjaga kesucian dan kehormatan Rani...tapi Alfath tak menduga Rani malah menyerahkan dirinya pada laki-laki lain!!" ujar Alfath mengeraskan rahangnya.
Keluarga Tanumiharja juga tak bisa mengatakan apapun, mendengar kematian putri mereka saja sudah membuat mereka syok berat ditambah lagi hasil otopsi yang menjelaskan bahwa Rani meninggal dunia dalam keadaan hamil dua bulan.
Polisi masih mencari pria yang bernama Leonel yang mendadak menghilang saat kasus bunuh diri Mutia Maharani Tanumiharja menguak dan menjadi trending topik di koran dan televisi.
Sementara di pihak keluarga Sasha pun tengah berduka. Dua hari setelah dinyatakan sembuh dan dalam masa pemulihan, tepatnya di hari kesepuluh Yusuf mengalami sesak napas yang hebat.
Sasha yang di hari senin itu sudah memutuskan untuk mengundurkan diri dari perusahaan, jadi belum bisa meneruskan niatnya untuk pergi keperusahaan.
******
Ddrrttttt....Ddrrrtttt
Sasha pulang kerumah mertuanya subuh tadi untuk mandi dan mengambil baju ganti.
Baru saja dia menjejakan kaki di ruang tamu, ponselnya berdering. Rupanya ponsel miliknya sudah berdering puluhan kali mulai sepuluh menit yang lalu tapi karena dia sedang berada di jalan dia tak mendengar sama sekali dering ponselnya itu.
π±"Assalamualaikum...balik kerumah sakit nak, suamimu keadaannya kritis!!"
Terdengar suara panik ayah mertuanya dari rumah sakit sana menyuruhnya untuk datang kembali.
π±"Aa..apa yah?? mas Yusuf kritis?? baik Yah...Shasa akan balik lagi kerumah sakit sekarang!!"
Dengan segera Sasha balik badan dan melajukan motor kembali ke rumah sakit.
Sampai di ruang rawat inap tempat Yusuf di rawat semua sudah berkumpul. Hanya Sasha yang datang terlambat.
"Bagaimana keadaan mas Yusuf, yah?" tanya Sasha dengan panik.
Tim dokter dan perawat sedang melakukan RJP di dalam nak, karena suamimu tadi keadaannya sangat kritis dan jantungnya sempat terhenti." Kata pak Wiryo sementara ibu Ratna memeluk Sasha untuk memberikannya semangat. (RJP adalah resusitasi jantung paru atau juga dikenal dengan istilah CPR pertolongan pertama yang dilakukan saat pasien mengalami henti jantung).
"Tadi waktu Sasha mau balik kerumah, keadaan mas Yusuf masih baik-baik aja yah!!" sahut Sasha sambil terisak.
Perawat dan tim dokter keluar dari ruangan yang langsung dikerubuti oleh keluarga Sasha.
"Maaf bu, pak...nyawa bapak Yusuf Darmawan tidak bisa tertolong lagi, sekali lagi maaf!!" kata salah seorang dokter bicara.
BRUKKK
Sasha jatuh pingsan mendengar penjelasan dokter tadi.
"Tidak mungkin dokter...tidak mungkin!!" kata pak Wiryo terduduk lemas.
Ayah Sasha cepat memegang bahu sahabatnya itu agar tidak jatuh sementara Sasha dibaringkan dulu di atas bed.
********
Seluruh keluarga besar Sasha sudah berkumpul untuk menyolatkan jenazah Yusuf sementara Sasha dengan tabah selalu berada di samping suaminya hingga jenazah di masukan kedalam peti dan di berangkatkan dengan ambulance ke tempat pemakaman umum.
Sasha dengan setia mendampingi almarhum suaminya hingga di masukan ke liang lahat. Tak ada lagi tangisnya karena air matanya yang telah kering.
*
*
__ADS_1
****Bersambung.....
Jangan lupa mampir, baca, like, komen, vote, favorite dan rate nya ya readerππππ