
"Jika seperti itu, pengendara motor dan putranya bang Anjar dalam bahaya!!" seru Juan yang kemudian meningkatkan kecepatan laju motor nya untuk mengejar motor di depan nya.
"Mati aku!!!" seru Kei Lan terkejut melihat tangan Anjar menjulur panjang hendak menangkap pengendara di depannya.
"Bukannya kamu memang sudah mati, Kei??" seru Juan disela laju motornya.
"Ngga lucu ah, koh...walaupun aku sudah mati tapi aku masih sangat menggemaskan kali!!" ucap Kei Lan.
"Koh Juan harus menyelamatkan orang itu, Kei..." dengan cepat Juan melajukan motornya dan menabrak Anjar yang tubuhnya kini telah dirasuki sosok iblis Surtinah.
BRAK....
Tubuh Anjar terhempas keras menabrak pembatas jalan.
Badai berhenti begitu pula Juan dan Kei.
"Abang....." teriak Juan dan Badai bersamaan.
"Maafkan Juan bang Anjar..." Juan bersimpuh di samping Anjar yang bersimbah darah.
"Kamu nggak salah Juan...hanya dengan cara ini abang bisa terbebas dari pengaruh iblis itu!!" suara Anjar terbata-bata bercampur lelehan darah dari bibirnya.
"Juan...abang tau kalau kamu laki-laki yang baik...tolong jaga Tyas dan Afifah untuk abang ya...karena semasa hidup abang tak bisa menjaga mereka dengan baik!!
UHUK...UHUK...
Kembali darah kental keluar dari batuk Anjar pertanda luka dalam di dadanya akibat benturan dengan pembatas jalan tadi sangat keras menyebabkan sebagian tulang dadanya remuk.
"Dan kamu Badai...abang minta tolong jagakan Ansar dan Lia...mereka berdua hanya korban dari abang dan Sari!!" Anjar memegang tangan Badai dan Juan.
"Titip salam buat Tyas ya Juan...katakan padanya, maaf atas dustaku selama ini!!" suara Anjar mulai melemah...pandangan matanya mulai meredup dan menutup seiring dengan dua kalimat syahadat yang bantu dibacakan oleh Juan dan Badai.
Seiring dengan itu terlepaslah sudah nyawa Anjar dari tubuh kasarnya dan itupun mampu dilihat Juan dan Badai yang memang sama-sama mampu melihat mahluk tak kasat mata.
"Pergilah dengan damai bang...kami akan berusaha menjalankan amanat yang abang berikan." Kata Badai sambil mendekap Ansar dengan erat.
**************
KROMPYANG....
Gelas yang dipegang oleh Tyas terlepas begitu saja dari tangannya.
"Mas Anjar!!" desis Tyas.
"Kenapa tiba-tiba aku ingat sama mas Anjar ya??" gumam Tyas.
Sedari sore tadi Afifah rewel terus. Tak biasa-biasanya putrinya itu bersikap demikian!!
"Apakah sudah terjadi sesuatu dengan mas Anjar?? tetapi apa peduliku?" gumamnya.
__ADS_1
Dan Lia pun merasakan hal yang sama. Berkali-kali tangannya teriris pisau sampai telapak tangan dan jari-jari tangannya terasa pedih.
"Ada apa ini?? sejak tadi mas Anjar juga Badai kutelepon nggak ada yang mengangkat sama sekali...membuat perasaanku semakin tidak enak." Kata Lia.
Ddrrtttt...ddrrtttt
Ponsel Tyas berdering.
Tercinta calling....
π±"Assalamualaikum!!"
Suara Juan dari seberang sana tampak sangat serius.
π±"Waalaikum Salam....ya ada apa, Juan??"
π±"Bang Anjar, beb..."
π±"Ada apa dengan mas Anjar, Juan??"
π±"Bang Anjar sudah meninggal dunia, maghrib tadi!!"
Tyas tersentak kaget tak bisa berkata apapun lagi.
π±"Mas Anjar meninggal?? kok bisa??? apakah dia kecelakaan??"
π±"Iya beb...ini aku lagi berusaha menghubungi om dan tante orang tua bang Anjar di Batam."
π±"Baiklah aku akan kesana membawa Afifah...aku minta tolong ayah mengantarkan kami berdua."
π±"Ya sudah beb...kututup dulu ya!! Assalamualaikum..
π±"Waalaikum Salam....!!"
Tyas juga menutup teleponnya sambil termenung.
"Sebenarnya aku masih enggan untuk menemui mas Anjar...tapi aku juga kasihan mendengar cerita Juan tadi tentang mas Anjar!!" desia Tyas.
Badai pun segera pula menghubungi Lia di tempat kerjanya.
π±"Assalamualaikum...."
π±"Waalaikum Salam!! ada apa Badai??"
π±"Bang Anjar meninggal, Lia...sebentar aku akan menjemputmu...kamu nggak usah banyak tanya dulu ya!!"
Saat sambungan ponsel terputus, Lia terduduk lemas bersimbah air mata.
"Kok bisa?? aku sayang banget sama mas Anjar...walaupun mas Anjar hanya seorang kakak ipar tetapi kebaikannya melebihi kebaikan kakak kandungku sendiri!!"
__ADS_1
"Mas Anjar selalu menghargai apapun yang aku kerjakan...sebenarnya mas Anjar adalah suami yang baik...seandainya kak Sari dulu tak mengguna-gunainya, tak mungkin mas Anjar akan tergoda oleh kak Sari dan jika tidak tergoda pada kak Sari, tentu mas Anjar tidak akan meninggal seperti ini!!" tangis Lia tanpa suara.
Tak menunggu lama, Badai pun datang menjemput Lia di restoran tempat Lia bekerja.
Setelah pamit pada pemilik restoran, Lia dan Badai melaju menuju rumah kediaman Juan bersamaan dengan tibanya kedua orang tua Anjar yang baru tiba dari Batam dan kedatangan Tyas beserta Afifah dan ayahnya.
"Ini nih adiknya wanita pelakor itu...seandainya anakku satu-satunya tidak menikahi kakakmu wanita pelakor itu, tentu hingga kini dia masih hidup dan masih menjalani hidup berumah tangga dengan Tyas dan putri mereka...mana kakakmu?? biar kugilas dia sekalian dengan pisau dapur ini...biar nggak bisa kegatelan sama suami orang lagi!!" teriak ibu Anjar bersimbah air mata.
Badai memeluk Lia melindunginya dari amukan ibu Anjar, begitupun yang lain berusaha melerai mereka.
"Mbak...mbak...sudah...jenazah harus segera dimandikan dan dikafankan, bila perlu malam ini juga kita kebumikan!!" kata Santi kepada kakak perempuannya itu.
Bukan main terpukulnya ibu Anjar kehilangan anak semata wayangnya itu. Dia terus menangisi kematian putranya yang tiba-tiba.
"Melihat kondisi seperti ini, sebaiknya jangan dimakamkan malam ini dek, besok aja!! apalagi cuaca berubah mendung di luar sana!!" kata kakak iparnya, ayahnya Anjar.
"Badai...aku tidak tau apa-apa!!" isak Lia dalam pelukan Badai.
"Aku sendiri sudah berusaha mengingatkan kakakku itu tapi apa dayaku??" isaknya.
"Sssttt...sudahlah...jangan menangis, sekarang Ansar akan menjadi tanggung jawab kita sepenuhnya!!" Badai membelai rambut Lia menenangkan wanita itu.
"Kita???" tanya Lia.
"Iya...kita!! kamu dan aku!! kita akan mengasuh Ansar bersama, biarlah Ansar menganggap kita adalah ayah dan ibunya menggantikan posisi bang Anjar dan kakakmu ibunya Ansar yang entah kini di mana dan tak pernah mau juga menerima kehadiran Ansar." Desisnya.
Lia menatap manik mata hazel milik Badai. Baru Lia sadari bahwa pemilik tanda bulan sabit dalam lingkaran itu semua cacat tapi mempunyai manik mata yang sama, sama-sama memiliki wajah rupawan walaupun mereka cacat.
"Kita akan membicarakan lagi tentang hubungan kita nanti, menunggu kedua orang tuaku pulang dari Bandung sekalian!!" bisik Badai menenangkan hati wanita pujaannya itu.
Tyas duduk terpaku di samping jenazah Anjar mantan suaminya.
Darah segar masih mengalir dari mulut Anjar membuat Tyas merasa sedih dan terpukul.
"Mas...aku telah memaafkanmu...pergilah semua dusta yang kamu berikan semasa hidupmu padaku sudah aku maafkan...aku tau ini semua sepenuhnya bukan kesalahanmu, mungkin jodoh kita hanya cukup sampai di situ sehingga Allah memisahkan kita dengan jalan yang tidak pernah kita duga-duga."
Tyas mengambil tisu mengelap darah yang selalu merembes dari mulut Anjar.
Dan seiring dengan perkataan Tyas, darah segar itu sedikit demi sedikit berkurang dan akhirnya berhenti merembes.
Tyas mengambil buku Yasin dan membacakannya untuk mantan suaminya itu.
"Selamat jalan mas Anjar...pergilah dengan tenang!!" ucap Tyas dalam hati diiringi oleh doa-doanya.
*
*
***Bersambung...
__ADS_1
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?? jangan lupa ikuti terus lanjutan kisah mereka di next episodeππ