Maaf Atas Dustaku

Maaf Atas Dustaku
Bab 62 Dendam


__ADS_3

"Sialan...kemana perginya kau Ratih?? jangan harap kamu bisa hilang begitu saja dari penglihatanku!!"


"Aku telah menghambat perjalanan suamimu agar tidak bisa cepat sampai tujuan kemudian balik kembali!!" kata Surtinah tertawa mengekeh membuat Ratih harus berusaha menahan perasaan dan menekan rasa takutnya.


"Ya Allah...lindungilah hamba dan bayi yang ada di dalam kandungan hamba ini!!" Ratih berusaha menahan rasa sakit di perutnya dan menahan air mata ketakutannya.


Sosok menakutkan itu terus mengelilingi seluruh penjuru rumah berusaha mencari di mana keberadaan Ratih.


"Keluarlah Ratih?? jangan kamu sembunyi....tidak akan sakit lama kok, aku hanya akan menancapkan kuku jariku yang runcing ini keperutmu, setelah darah mu dan bayimu kuhisap habis, aku akan melepaskanmu juga tubuh kasarmu...enak kan?? kamu tak perlu merasa kesakitan lagi??" hihihihi....


"Aku membencimu Ratih, karena kamu maka mas Ridwan tega menolak menikah denganku, kamu juga manusia tega, Ratih...aku mencintai Ridwan melebihi cintamu padanya, tapi dia malah memilihmu...jangan salahkan aku jika aku pergi setahun ini untuk menuntut ilmu keabadian, kecantikan...dengan meminum darah bayi dan wanita hamil!!"


"Setelah kamu mati, maka aku yang akan menggantikan posisimu menjadi pendamping dari mas Ridwan!! agar niatku cepat terlaksana, maka kumohon, pergilah kamu keakherat terlebih dahulu Ratih, bawalah bayimu bersama kematianmu!!"


Surtinah tetap saja mengoceh sambil berkeliling mencari Ratih, tetapi anehnya, dia sama sekali tidak melihat bahwa dia sejak tadi sudah berpuluh kali melewati Ratih yang sembunyi di belakang korden.


Tiba...tiba


TIT...TIT...TIT


"Sial...cepat sekali laki-laki itu pulangnya, padahal aku sudah berusaha untuk menghalangi jalannya dengan membuat banyak rintangan yang harus dia hadapi agar dia tidak cepat kembali ke rumah ini!!" desis Surtinah dengan geram lalu dengan melewati pintu dapur, dia keluar lewat belakang dan menghilang di kegelapan.


"Dek...dek Ratih??" panggil suaminya yang datang bersama mbak Siti si bidan puskesmas yang tadi dijemputnya.


"Lho, kok pintu depan dan belakang terbuka, mas??" tanya mbak Siti yang mulai mencium aroma yang tidak enak dari dalam rumah itu.


"Aroma apa ini mas Ridwan?? mengapa baunya seperti bau amis tetapi bercampur dengan bau bunga melati gini?? terus kemana Ratih?? jangan-jangan sudah terjadi sesuatu dengannya saat mas Ridwan menjemput saya tadi??" kata mbak Siti.


Lalu dengan cepat bidan bayi yang mempunyai banyak pengalaman itu turun dari motor dan segera masuk ke dalam lalu menyalakan lampu ruang tamu.


Alangkah kagetnya, Ridwan dan mbak Siti melihat rumah yang sudah terhambur berserakan, tiba-tiba...


"Mas....mbak Siti tolong aku??" sebuah suara yang sangat lemah terdengar dari samping dinding tepatnya di dalam korden tebal yang tergulung itu.


Mata Ridwan dan mbak Siti terbelalak melihat ada genangan darah yang mengalir di lantai di sela-sela korden.


Dengan cepat Ridwan menyibak korden itu dan alangkah terkejutnya dia melihat istrinya telah duduk di atas genangan darah bercampur air ketuban milik Ratih yang telah pecah.


Rupanya saat kejadian tadi, Ratih sudah berusaha menahan rasa sakit di perutnya sekian lama demi menyelamatkan dirinya dan bayinya supaya posisi mereka bersembunyi tidak di ketahui oleh Surtinah.


Cepat bentang apa saja di lantai, mas...lalu alaskan dengan kain, kita tidak sempat lagi membawa Ratih masuk ke dalam kamar.


Dengan cepat Ridwan melaksanakan perintah dari mbak Siti.


Setelah itu keduanya memapah Ratih dan membaringkannya.


Untuk keamanan, Ridwan dengan cepat menutup dan mengunci pintu dapur dan pintu depan, karena jam juga baru menunjukan pukul 2 dini hari.


Dengan sigap juga mbak Siti segera membantu persalinan Ratih.

__ADS_1


Orang tua Ridwan telah dihubungi karena Ratna dan Ratih sudah tidak mempunyai ayah dan ibu lagi, termasuk Tio dan Ratna kakak Ratih.


"Mas Ridwan, kemana darah yang menggenang di dekat korden itu tadi??" tanya mbak Siti kaget saat dia menoleh, lantai yang digenangi oleh darah sudah bersih seperti sedia kala.


"Astagfirullah..." desis Ridwan.


"Masya Allah, lìhat...!!" tunjuk mbak Siti kearah langit-langit rumah.


"Itu apa mas Ridwan??" kata mbak Siti tampak gemetar menyaksikan mahluk kepala dengan seluruh isi perutnya yang terburai keluar nempel di langit-langit rumah.


"Mahluk itu yang menghisap habis darah di lantai dan dia juga yang membuat Ratih kesulitan untuk melahirkan!!" kata Ridwan geram.


"Tetap bantu Ratih mbak, sementara menunggu yang lainnya datang...saya akan coba menghadapi mahluk itu sendiri dulu!!" kata Ridwan.


"Hihihi...mas Ridwan?? apakah mas mengenalku??" kepala itu tertawa.


"Saya tidak perlu mengenal mahluk sesat dari neraka sepertimu...tak ada untungnya juga mengenal kepala buruk rupa sepertimu!!" kata Ridwan dengan geram.


GGRRRRRHHHH...


Mahluk itu menggeram marah mendengar perkataan Ridwan.


Tanpa banyak kata lagi mahluk itu menyerang Ridwan.


WUSSZZZZ....


Mahluk itu meraung kesakitan karena mata dan sebagian organnya terkena lemparan bubuk itu.


Belum sempat dia mengatur posisinya, Ridwan melemparkan lagi tujuh batang tusuk sate ketujuh titik pada mahluk itu yang membuatnya meraung dan mengamuk dahsyat.


Saat dia akan mengadakan perlawanan, rombongan Tio dan Ratna juga orang tua mereka datang.


Karena tak mau mengambil resiko, mahluk itu terbang kearah matahari terbit dengan tujuh buah lidi menancap di tubuhnya.


OEK...OEK...OEK


"Alhamdulillah!!" kata mereka.


Bayi Ridwan dan Ratih berhasil lahir dengan selamat, tetapi Ratih tidak...dia menghembuskan napas terakhirnya satu jam setelah bayi mungil mereka yang kelak diberi nama Sulistyaningsih lahir.


Besar kemungkinan Ratih telah kehabisan darah pada saat itu.


****Flashback off****


Ridwan tampak menggeram marah mengenang kejadian itu.


"Apakah saat itu dia tidak bisa membunuh Ratih dan Tyas lalu sekarang dia kembali untuk membunuh Tyas dan bayinya atau bisa jadi dia juga ingin membuat perhitungan denganku dan juga ingin membunuhku??" gumam pak Ridwan.


"Aku harus hati-hati menjaga Tyas dan Afifah, apalagi sekarang Tyas sudah tak mempunyai suami yang bisa melindunginya!!" desis Ridwan lagi.

__ADS_1


"Kenapa ayah malah melamun??" tanya Tyas pada pak Ridwan.


"Tidak apa-apa nak!!" sekarang kamu tidurlah lagi, ayah akan berjaga sebentar!!" kata pak Ridwan.


Pak Ridwan sengaja tak mau mengatakan tentang mahluk itu pada Tyas agar putrinya itu tidak kepikiran dan tidak merasa ketakutan.


Sementara jauh di suatu tempat...


"Astaga Tinah...siapa lagi orang yang membuat kamu seperti ini??" tanya seorang wanita setengah baya yang wajahnya masih sangat terlihat cantik.


"Orang yang sama seperti 23 tahun yang lalu!!" jawab kepala tanpa tubuh itu.


"Kenapa kamu masih juga berurusan dengan mereka??" tanya wanita yang dikenal bernama nyi Ganda Suri.


Wanita yang sebenarnya berusia hampir 70 tahun itu tampak seperti wanita berumur 40 tahunan.


Nyi Ganda Suri adalah guru dari Surtinah. Siapa menyangka dua wanita yang tampak sangat ayu dan rupawan itu adalah dua monster pengisap darah.


Mereka sering berpindah-pindah tempat untuk mengelabui mereka yang akan melacak keberadaan keduanya.


Nyi Ganda Suri mencabuti lidi tusuk sate di sekujur organ dalam milik Surtinah muridnya.


"Kamu masih mencintainya??" tanya nyi Ganda Suri pada Surtinah.


"Entahlah nyi...puluhan tahun telah berlalu, bayi yang dilahirkan Ratih 23 tahun lalu itu kini telah mempunyai seorang puteri pula."


"Mas Ridwan sudah bahagia walaupun dia tak pernah menikah lagi dengan wanita manapun pertanda dia sangat memcintai wanita sialan itu, sementara aku??" ucap Surtinah.


"Dia sama sekali tak pernah mencintaiku, Nyi!!! Seru Surtinah penuh dendam.


"Sudahlah sebaiknya kamu beristirahat saja dulu, luka diorgan dalammu sangat parah!!" kata nyi Ganda Suri pada Surtinah.


Lalu keduanya masuk kedalam rumah mereka yang letaknya memang di pinggir hutan pinus.


Sementara sambil duduk pak Ridwan masih berpikir serius.


"Wanita iblis itu sudah kembali semenjak kejadian dua puluh tahunan itu berlalu."


"Tyas dan bayinya dalam bahaya, aku harus menceritakan hal ini kepada Tio takut juga berpengaruh pada Sasha dan bayinya!!" kata pak Ridwan menggumam.


*


*


****Bersambung....


Happy reading...semoga suka dengan ceritaku ya...


Lanjut ke next episode, ya reader🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2