
"Ibu namanya siapa??" pancing suster itu.
"Bercanda suster ini, masa nama sendiri kok ngga ingat, nama saya Sari...lengkapnya Sari Inayah!!" jawabnya.
"Berarti ibu Sari sudah sembuh sekarang!!" kata suster itu.
"Lagi pula yang bilang saya sakit siapa suster??" teriak Sari lantang dan mulai berkata pedas.
Suster hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Bukannya mengucap syukur sudah sembuh, malah berteriak lantam pada orang lain.
"Saya mau pulang suster, saya ini ngga gila...kenapa digabung sama para orang gila?? teleponkan suami atau adik saya....suruh mereka menjemput saya di sini!!" teriak Sari mulai tak sabaran.
"Iya bu Sari...sabar ya, nanti saya teleponkan...sekarang kita masuk dulu dan diperiksa oleh dokter dahulu!!" ucap suster itu.
"Ayo cepat Lia...pihak rumah sakit jiwa sudah menelpon suruh menjemput kakakmu, dia sudah sembuh dan sekarang sedang mengoceh memarahi suster dan dolter di sana.
"Iya mas, Ansar tinggal Lia pakaikan sepatu!!" teriak Lia dari ruang tengah.
Mereka memesan taxi online karena tidak bisa menggunakan sepeda motor.
Sesampainya di sana bukannya peluk kangen bertemu anak, suami dan adiknya, malah disambut tatapan mata tajam dati Sari memandang keduanya.
"Bukan main kalian berdua ini, kemana-mana berdua saja mengalahi pasangan suami istri...kalian tidak ada main di belakangku selama aku sakitkan??" teriak Sari dengan lantangnya tanpa mempertimbangkan perasaan suami dan adiknya otu.
"Astagfirullahalazim...!!" Anjar, Lia, suster dan dokter yang bertugas di situ sangat kaget mendengar teriakan Sari yang sangat menyakitkan hati.
""Kamu tadi pagi sarapan apa sih?? sarapan sampahkah?? kenapa pikiran dan hatimu kotor amat, penuh denga kecurigaan pada orang lain!!" kata Anjar agak kesal pada istrinya itu.
"Sudah mas jangan dilayani...maklumi aja, kak Sari kan baru sembuh sakit!!" ujar Lia.
Walaupun sebenarnya hatinya juga sakit dan amat tersinggung dengan ucapan kakaknya itu, tapi berusaha dia tahan agar kakaknya tidak tertekan lagi!!
"Sebaiknya kita pulang saja, apa kamu tidak ingin menggendong putramu dulu?? Tanya Anjar pada Sari.
"Nanti sajalah...aku masih malas pagi-pagi gini berurusan dengan tangisan bayi!!" ucapnya.
"Terima kasih dokter...suster dan mohon maaf jika selama dirawat di sini ada kelakuan dan perkataan istri saya yang menyinggung, mohon di maafkan!!" ucap Anjar pada suster dan dokter di sana.
"Tidak apa-apa pak Anjar...kami memakluminya kok!!" sahut mereka semua.
Sari melangkah dengan anggun dan angkuhnya diikuti oleh Anjar dan di belakang sekali Lia yang sibuk menggendong Ansar yang berkali-kali terbangun mendengar kegaduhan yang ditimbulkan oleh ibu kandungnya sendiri.
Untung Ansar tidak rewel dan bisa seger tidur kembali.
Tetapi memang bayi itu jarang menangis kecuali dia haus atau popoknya basah, itulah yang membuat Lia sangat menyayangi keponakannya itu, dan satu hal lagi yang tak diketahui oleh orang lain selain Lia.
Dari awal kelahiran Ansar Lia melihat sesuatu di belakang pinggang Ansar.
Awalnya Lia pikir itu kotoran yang menempel pada pinggang Ansar tetapi berkali-kali di lap dan dibersihkannya dengan baby oil tanda kebiruan itu tak mau hilang.
__ADS_1
Semakin hari warna kebiruan itu menghilang dan tepat di usia Ansar yang kedua bulan, tanda itu sudah membentuk sempurna seperti tato dan muncul dari dalam daging Ansar.
****Flashback on****
"Kasian...sini mandi sama tante ya sayang!!" kata Lia saat sepulang Ansar dari rumah sakit dan Sari tak bisa ikut pulang bersama mereka.
"Ansar...kotoran kering apa yang menempel di pinggang belakangmu ini?? seperti daki??" gumam Lia.
Lia pikir setelah di mandikan, kotoran itu akan hilang ternyata Lia salah...warna biru kehitaman seperti daki lengket itu tak mau hilang.
Tak putus asa Lia dengan telaten membersihkannya dengan baby oil...tetapi hasilnya juga tetap sama.
Dari hari ke hari tanda itu semakin terang dan mulai membentuk sesuatu.
Lia ingin bercerita kepada Anjar, tetapi seperti ada sesuatu yang menahan mulutnya untuk tidak bicara pada siapapun walaupun itu kepada ayahnya sendiri.
Karena hanya Lia yang selalu mengurus dan memandikan Ansar, bayi itu seolah merasakan ada ikatan batin yang kuat dengan Lia yang menyebabkannya menangis jika ditinggal oleh Lia walaupun sebentar saja.
Tepat dua bulan usia Ansar, tanda biru kehitaman seperti tompel itu mulai menghilang dan membentuk seperti simbol yang awalnya Lia tak mengerti itu apa karena masih terlalu kecil.
Karena penasaran Lia memperhatikan baik-baik tanda lahir itu.
"Apa ini?? seperti bulan sabit tapi kok ada lingkarannya??" gumam Lia.
Dan yang aneh adalah bola mata Ansar. Semakin besar warna yang dulu saat kelahirannya tampak keruh, sedikit demi sedikit mulai menjernih dan membentuk satu bola mata dengan warna seperti jamrud.
"Ansar ganteng...walaupun kamu terlahir buta...tapi wajahmu tampan sekali nak!! dan kamu memiliki warna bola mata yang sangat indah seperti jamrud...!!" Lia menciumi keponakannya walaupun dengan berlinang air mata.
****Flashback off****
"Ansar memiliki tanda lahir yang tak biasa, pasti ada suatu makna dari tanda lahir di pinggang Ansar ini!!" gumam Lia.
"Lia...taruh dulu anak itu keatas boks nya, kamu siapkan dulu makan untuk kakakmu ini!!" teriak Sari dari kamar saat melihat Lia sibuk membuatkan susu formula untuk Ansar.
"Biar mas saja yang membuatkan makanan buat kakakmu, kamu urusi Ansar saja...dari pada nanti Ansar menangis keras jika kamu tinggalkan dan membuat kakak kamu stres lagi dengan tangisan anaknya sendiri!!" kata Anjar.
"Baik mas!!" kata Lia lalu meneruskan mengurus Ansar.
Tak lama kemudian...
"Kok mas Anjar yang membuatkan makanan untukku sih?? Lia nya mana??" teriak Sari.
"Sudah biarkan saja, Lia lagi sibuk mengurus Ansar anakmu itu, mestinya kamu yang harus mengurusnya bukan lagi Lia!!" kata Anjar menaruh mangkok mie rebus di atas meja.
"Nanti sajalah...aku masih ingin tenang dulu menikmati masa kesembuhanku tanpa direpotkan oleh berisik tangisan dan kerewelan anak itu!!" kata Sari lalu mulai menyantap makan siangnya.
"Sari...sebenarnya ada yang ingin mas sampaikan kepadamu!!" kata Anjar dengan hati-hati.
Dia ingin mengatakan pada Sari bahwa Ansar terlahir dalam keadaan tuna netra.
"Apa mas??" tanya Sari sambil mengunyah makanan dslam mulutnya.
__ADS_1
"Kamu masih makan, nanti sajalah...kamu selesaikan dulu makanmu itu!!" kata Anjar.
"Sekarang saja mas, setelah selesai makan aku mau tidur, aku ngga mau mendengar curhatanmu lagi!!" jawab Sari.
"Sari, Ansar putramu itu saat lahir sudah cacat..." Anjar berhenti dulu memperhatikan ekspresi Sari. Tapi wanita itu masih tenang saja seolah tanpa beban mendengar perkataan Anjar tentang putra mereka.
"Dia buta sejak lahir!!" kata Anjar akhirnya.
"Jadi beban saja!!" akhirnya kata itu yang terlontar dari mulutnya.
"Sariii..." sentak Anjar kesal mendengar perkataannya itu.
"Lho...letak ucapanku salahnya di mana mas?? dia pasti akan jadi beban orang di sekitarnya nanti!!" sentak Sari tak mau kalah.
"Apa benar itu anak kita mas?? apa tidak tertukar dengan bayi orang lain saat aku melahirkan dulu, bisa aja kan??" tanya Sari.
"Masya Allah Sari...kok kamu bicaranya malah melantur kemana-mana sih?? ngga mungkin tertukarlah, karena pada saat itu hanya kamu yang melahirkan, operasi caesar pula!!" jawab Anjar.
"Pokoknya aku ngga mau tau mas, aku masih beranggapan itu bukan anakku, karena anakku tak mungkin terlahir buta tak berguna seperti itu dan wajahnya juga ngga ada miripnya dengan kita, juga warna bola matanya...itulah yang membuat aku yakin bahwa Ansar itu bukan anakku!!" kukuh Sari pada pendiriannya.
"Ansar itu keluar dari rahimmu, aku sendiri yang mengazani dia, jika bukan anakmu maka anak siapa lagi?? masa anak jin??" sentak Anjar sangking kesalnya pada kelakuan Sari yang semakin menjadi-jadi pasca kesembuhannya.
Sari hanya mengangkat bahunya seolah tak peduli.
Dari balik pintu kamar, Lia yang menggendong Ansar hanya bisa menangis memeluk bayi malang itu.
"Sabar ya leh...walaupun ibumu menolak kehadiranmu, tapi tante tetap menyayangimu...jika ibumu menolak kamu panggil ibu, anggaplah dan panggillah tante dengan sebutan ibu." Seperti mengerti perasaan dan ucapan Lia, Ansar mengangkat tangan mungilnya dan mengusap-usap pipi Lia.
*****************
Surtinah tampak berbaring tak bergerak di pembaringan yang bertabur bunga aneka warna itu.
Sosoknya tampak seperti putri tidur yang sangat cantik.
"Sampai kapan Surtinah akan tidur seperti orang mati begitu guru??" tanya Ganda Suri.
"Surtinah memang sudah mati, Ganda...tapi setiap malam bulan purnama dia akan bangkit mencari korban dan meneror semua musuh-musuhnya."
"Kamu tak usah repot-repot mencarikan makanan untuknya, karena dia sendiri yang akan mencari makan dan memuaskan nafsu makannya sendiri, dan kita akan melihat betapa takut dan khawatirnya mereka yang dulu menolak dan mencampakannya, orang-orang yang sudah mencabut ilmunya dan membuat dia seperti hidup tetapi dalam kematian."
"Sabarlah Tinah, purnama tinggal beberapa hari lagi, kamu bangkitlah...teror semua orang tanpa terkecuali buat hidup manusia-manusia bodoh di luar sana dalam ketakutan dan kecemasan." Seringai jahat dari Nyai Sambang dan Ganda Suri menghiasi wajah cantik berhati iblis mereka!!
*
*
***Bersambung...
Teror akan dimulai...mampukah mereka bertahan dari teror yang akan diciptakan oleh Surtinah??
Ikuti kisah mereka di next episode ya reader🙏🙏
__ADS_1