
"Aku menikmati detik-detik kematianmu, Alex!! seperti kamu dulu menikmati keadaanku yang tengah sekarat." Ujar Alvian menyunggingkan seringai mautnya.
Alex yang sudah terluka tampak semakin ketakutan saat Alvian semakin mendekat bak malaikat maut siap menjemput nyawanya!!
AARRGGHHH...
Alvian menginjak dada Alex membuat lelaki itu berteriak kesakitan.
Alfath yang melihatnya agak ngeri. Dia tak menyangka bahwa abangnya yang selama ini tampak lemah lembut ternyata berseberangan dengan sisi dirinya.
"Tapi...walaupun aku tidak membunuhmu, malaikat maut juga pasti akan menjemputmu!!" kekejamanmu dari kelompokmu yang membunuh banyak orang tak berdosa, sudah waktunya harus dihentikan."
"Aku sudah tau kelemahan ilmu iblis kalian, jangan harap kamu bisa kembali hidup!!" ejek Alvian.
Benar saja, seberapapun Alex berusaha untuk menyembuhkan luka akibat peluru yang ditembakan oleh Alvian di tubuhnya, tapi dia tetap tak bisa.
Perlahan teriakan Alex semakin melemah. Darah yang mengucur dari luka tembak di dada Alex berwarna hitam bukan merah seperti layaknya warna darah.
Diiringi dengan jeritan dahsyat akhirnya nyawa Alex terlepas dari tubuhnya.
Pedro yang sedang bertarung dengan Juan dan Vallen melihat kematian adiknya jadi berteriak histeris.
Dia berusaha meninggalkan arena pertarungannya dengan Juan dan Vallen untuk membantu adiknya tetapi mereka berdua sama sekali tak memberikan kesempatan Pedro untuk mendekati Alex membuat lelaki itu menyerang membabi buta dan menjadi kalap mata.
Hingga satu tendangan keras dari Juan ditambah dengan pukulan tenaga dalam tingkat tinggi yang dilancarkan oleh Vallen menghantam telak dadanya.
Darah hitam yang sama seperti darah Alex menyembur keluar dari mulutnya.
Tubuh Pedro terpental jauh menghantam pohon di belakangnya hingga membuat pohon itu tumbang.
Belum sempat Pedro bangkit berdiri tiba-tiba...
DOR...DOR...DOR
Tiga buah peluru menghantam telak dadanya dan satu peluru menembus jantungnya.
Hal yang sama terjadi pada Alex terjadi juga pada Pedro.
Peluru Alvian menembus tubuhnya tanpa dia bisa menyembuhkan dirinya lagi.
Orang berjubah yang tersisa berusaha kabur tetapi tembakan Alvian menembus batok kepala mereka dengan cepat.
"Lihatlah Malidan??" kekeh Kyai Abdullah...
__ADS_1
"Pengikutmu satu persatu mati di tangan mereka, dan tampaknya pemuda yang memegang pistol itu mengetahui kelemahan manusia iblis seperti kalian sehingga tak ada seorangpun dari pengikutmu yang bisa membangkitkan dirinya sendiri dari kematian.
Malidan tampak murka, pimpinan berjubah hitam yang sudah berusia lebih dari satu abad itu menggempur Kyai Abdullah dan Badai dengan serangan iblisnya.
Satu serangan Malidan bersarang tepat di dada Badai membuat suami Lia itu bergulingan di tanah.
Vallen memburunya begitu pula dengan Juan dan lainnya.
Vallen dan Badai tampak saling menempelkan tanda lahir mereka masing-masing.
Tiba-tiba dari tubuh mereka mengeluarkan cahaya putih keperakan dan secara tak terduga di tangan mereka kini tergenggam senjata berbentuk sabit.
"Lihatlah Malidan...!!" seru Kyai Abdullah.
Badai dan Vallen telah menyatukan kekuatan mereka, senjata sakti yang mampu memusnahkanmu dan kelompokmu dan selama berabad-abad ini hilang, rupanya tersembunyi di dalam tubuh mereka.
Karena itulah kamu dan kelompok meneror dan menghabisi orang-orang yang kalian anggap memiliki tanda lahir bulan sabit dalam lingkaran itu karena kalian tau jika kedua tanda itu di satukan, akan muncul sepasang senjata mustika yang bisa memusnahkanmu selamanya.
"Tetapi ternyata Allah masih melindungi Badai dan Vallen hingga mereka berdua bisa selamat dari kejaran kalian."
"Kini kamu bersiaplah menghadapi mereka Malidan, sudah waktunya kamu kembali kealammu di sini bukan lagi duniamu!!" kata Kyai Abdullah.
"Keparat kau Abdullah??" teriak Malidan lalu dia berteriak keras. Suara raungannya seperti auman singa menggelegar membelah sore yang hampir menjelang senja itu.
"Malam ini adalah malam bulan purnama, dan jangan sampai cahaya bulan sempat menyentuh tubuhnya jika tidak kita tak mungkin punya kesempatan lagi untuk membunuh dan memusnahkan mahluk ini.
Maka mereka semua yang ada di situ ikut membantu menyerang Malidan.
Malidan hanya tertawa mengekeh. Mahluk keabadian itu benar-benar mempunyai kesaktian yang luar biasa.
Juan, Kei, Alfath dan Alvian yang tak memiliki kesaktian setinggi Vallen, Badai dan Kyai Abdullah sudah mulai babak belur.
"Mundurlah kalian bertiga, jika tidak maka nyawa kalian bertiga akan melayang sia-sia...bantu kami dengan doa dan dzikir supaya kami bisa memusnahkan mahluk ini dan menghentikan seluruh kejahatannya selama ini untuk seterusnya.
Juan, Alfath dan Alvian melompat mundur.
"Gawat...hari sudah menjelang sore, sebentar lagi maghrib dan malam akan tiba jika pak Kyai tidak segera mengalahkan Malidan, maka dia akan menyerap kekuatan malam dan kekuatan bulan purnama, untuk menambah kekuatannya jika itu terjadi maka kekuatan mereka bertiga tak akan ada artinya lagi." Kata Juan.
Tiba-tiba Kei Lan terbang menghampiri Malidan dari belakang dan segera memeluknya.
'Pak Kyai, cepat tebas leher Malidan dengan sepasang sabit sakti itu!!" Kei Lan berteriak.
"Tiiddaakkk...jangan Kei...kamu bisa ikut musnah untuk selamanya!!" teriak Juan begitu khawatir.
__ADS_1
"Tidak mengapa koh...mudahan Kei bisa reinkarnasi lagi di masa yang akan datang dan kita bisa bertemu kembali." Kata Kei Lan.
Kei Lan tau hanya dengan jalan mengorbankan dirinya maka iblis Malidan akan bisa dimusnahkan, dan itu hanya bisa dilakukan oleh hantu seperti dirinya walaupun taruhannya, dengan musnahnya Malidan maka diapun akan musnah selamanya.
Kyai Abdullah tidak menyia-nyiakan pengorbanan Kei Lan, dengan cepat Kyai sakti yang menitis kedalam tubuh Ansar itu memberi kode pada Badai dan Vallen untuk menebas kepala dan tubuh Malidan secara bersamaan.
Cengkeraman Kei Lan pada tangan dan leher Malidan semakin erat.
Bersamaan dengan itu...
CRASSSHH...
Leher Malidan terpenggal diikuti putusnya tangan Kei Lan yang ikut memiting leher itu.
CRASSHHH...
Bagian pinggang Malidan pun terputus bahkan sabit sakti itu ikut melukai perut Kei Lan.
"Tiiidaakkk Keeeiiiii....!!" teriak Juan histeris melihat tubuh sahabatnya perlahan mulai menghilang bersama kobaran api yang membakar tubuh Malidan dan Kei Lan.
Juan hampir menubruk tubuh Kei Lan jika tidak ditahan oleh Alfath dan Alvian.
*****************
"Alvian minta maaf pada ayah dan ibu jika selama bertahun-tahun ini menghilang tanpa kabar!!" kata Alvian memeluk ayah dan ibunya.
"Tapi selama ini Alvian selalu ada di dekat kalian tanpa kalian sadari!!" kata Alvian.
"Maksudmu apa Alvian??" kata ayah Alfredo.
"Alvian selalu menyamar menjadi tukang ojek, tukang siomay bahkan menjadi tukang kebun di sini??" kata Alvian tersenyum.
"Apaa??? si Ahmad??" kata Alfath.
Alvian hanya mengangguk sambil tertawa.
Akhirnya Alfath bersama Sasha dan Fathir serta Alma tinggal di rumah besar karena ibu dan ayah mereka beserta Vallen harus kembali ke Australia.
Alvian meneruskan pekerjaannya sebagai polisi dan intel. Sementara Badai dan Lia dikarunia lagi seorang putri sebagai teman Ansar.
Juan menyelesaikan sekolahnya, karena keinginannya maka Juan menikahi Tyas sambil kuliah dan bekerja.
Cinta Juan ke Tyas dan Afifah dibuktikannya dengan ketulusan menikahi janda dari Anjar tersebut.
__ADS_1
****TAMAT****