
Saat masuk kelas Anya melihat Naya yang sedang tertawa dengan seseorang, ketika dirinya menghampiri orang di hadapan Naya memberi senyuman pada dirinya.
"Nya lo dari mana sih gue nyariin ?".
"Dari luar tadi ada perlu". Alibi Anya
"Oh iya, kenalin Nya ini Serin temen sekelas kita". Anya hanya tersenyum tipis sambil memasukkan almamater Devan ke dalam tas.
"Lo yang lagi deket ya sama kak Devan ?". Ucap Serin, Naya yang tidak tahu apa-apa merasa bingung.
"Gak".
"Itu kan almamaternya kak Devan ?". Sambil menutup tas Anya menghela nafas orang ini terlalu ingin tahu.
"Nya lo lagi deket sama kak Devan ? Bener Nya ?". Naya mengguncang-guncang tangan dirinya membuat Anya merasa kesal tapi ia harus menahan diri terkadang Anya selalu membuat orang lain tidak ingin mendekati dirinya karena jiwa emosional yang tidak terkontrol.
"Gak Naya itu tadi gue pinjem sebentar doang buat foto".
"Kak Devan minjemin lo jas itu biasanya Kak Devan gak mau barang dia di pakai orang lain terus di bawa pulang lagi."
Anya mendekatkan wajahnya pada Siren membuat dia memundurkan wajahnya "Gue cuma mau di cuci, dan lo ga perlu tahu". Siren meremas tangannya ia tidak boleh terpancing emosi.
Dosen sudah datang semua kembali pada tempat duduknya masing-masing, Siren tahu sifat Anya yang mudah terpancing emosi jadi dirinya tidak perlu menggunakan cara yang ribet cukup dengan ucapan yang membuat mental Anya jatuh.
...***...
Devan adalah tipe orang yang menurut dirinya harus di lakukan maka akan ia lakukan seperti sekarang tugas yang di berikan oleh dosen semakin menumpuk, jika orang lain mengerjakan mendekati waktu didline justru dirinya mengerjakan yang paling sulit dahulu.
Ryan sedang menulis kegiatan untuk kegiatan yang akan di lakukan selama kemping nanti ia akan diskusikan lagi dengan yang lain "Dev menurut lo kalo malem enaknya ngapain ?".
"Ngapain apa maksud lo ?". Devan tetap mengerjakan tugasnya pertanyaan Ryan tidak masuk akal memangnya malam-malam ngapain.
"Pikiran lo itu, maksud gue pas kegiatan kemping? ".
__ADS_1
"Terserah lo, yang penting bermanfaat ?".
Ryan menumpukkan tangan di dagunya "Yang bermanfaat, apa coba ? Gue bingung!".
"Hei !". Irana datang sambil membawa dua buah botol minuman dan menyimpan di meja Devan dan Ryan, Ryan yang melihat raut wajah Devan tau kalau ia sedikit terganggu dengan kehadiran Irana.
"Kalian udah beli perlengkapan belum buat kegiatan lusa, Kalo belom gue ikut ya bareng, gimana ?. "
Ryan melirik Devan "Boleh gue juga mau beli". Irana tersenyum lalu beralih pandangan pada Devan, "Dev gimana ?".
"Kalian aja gue ada urusan !". Devan berbicara tanpa menoleh sedikit pun.
"Emangnya lo ada acara apa kalau boleh tau ?". Irana ingin sekali marah karena biasanya jika ada keperluan apa pun mereka bertiga selalu pergi bersama.
Devan berfikir jika dirinya di suruh papah Irana akan bertanya pada mamah mengenai dirinya "Anya minta bantuan ke gue tentang perlengkapan yang perlu di bawa". Sepertinya ia hanya asal bicara tapi kenapa orang itu yang harus ia sebut.
Hati Irana sedikit sakit, sepertinya Devan semakin dekat dengan mahasiswa baru itu tapi ia tidak boleh menampakkan wajah tidak suka di depan Devan "Anya ? Minta bantuan ?".
Devan menyimpan pulpen yang sedang ia pakai, "Gak ada hubungannya sama karen". Ucap Devan sambil pergi meninggalkan mereka berdua.
"Gue tau Ran lo suka kan sama Devan ?". Tanya Ryan sambil melanjutkan tulisannya.
"Kenapa lo baru nyadar sekarang, bukannya udah lama lo deket sama Devan, kalo sekarang sih gue rasa lo udah telat karena sekeras apa pun lo berusaha lo akan kalah dengan masa lalunya". Irana menoleh pada Ryan cairan bening itu sudah menumpuk di pelupuk matanya.
Irana pergi meninggalkan Ryan, sebenarnya ia tahu Devan menyukai Irana karena sifatnya, perlakuan, sikap, lembutnya Irana sama persis dengan Karen.
Yang sekarang menjadi kekhawatiran dirinya apa Devan mendekati Anya karena wajahnya yang mirip dengan Karen ? Apa mereka berdua akan menjadi korban atas masa lalunya Devan ? Sudahlah Ryan pusing jika memikirkan itu, mending ia melanjutkan tugasnya.
Anya dan Naya baru sampai di kost-an mereka masuk dan minum apa yang di suguhkan oleh Anya "Ini kost-an lo Nya ? Enak juga ya, jadi pengen ngekost gue ?".
Anya tertawa renyah "Ngapain lo ngekost, lo kan enak rumahnya deket dari kampus ?". Ucap Anya sambil membawa beberapa camilan.
"Lo bener lagi deket sama kak Devan Nya ?". Naya langsung memusatkan badannya ke arah Anya.
__ADS_1
"Enggak".
"Dari tadi jawaban lo gak lagi gak lagi".
"Sempet lah bicara sedikit, emangnya kenapa ?".
"Gue cuman takut lo jadi pelarian atas kematian mantannya, lo jangan sampai jatuh cinta ya Nya". Ucap Naya dramatis.
"Emang kenapa ?".
"Ya secara gue juga naksir gitu". Mereka berdua tertawa Naya memang orang yang bisa menghidupkan suasana Anya cukup beruntung bisa bertemu Naya.
Naya bercerita dan bermain hingga malam lupa kalau dirinya belum mengabari orang tua dan pacarnya tapi untuk saat ini ia biarkan saja ia hanya sedang ingin menikmati kebahagiaannya.
Di sela-sela tertawa mereka, handphone Naya berbunyi memang suara telponnya tidak di loud-speeker tapi Anya bisa mendengar di sebrang sana bahwa seseorang sedang memarahi Naya.
Naya bergegas dan segera berpamitan pulang pada Anya, Anya berniat mengantar Naya pulang tapi Naya bilang tidak usah dan Anya hanya mengangguk setelah beberapa menit Anya seperti mendengar keributan di depan kost-an nya.
Saat dirinya melihat ke luar ia terkejut melihat Naya bersama seorang cowok sedang di pukuli dan Naya yang sepertinya sudah tak berdaya, bergegas ia menghampiri keduanya, Anya menarik Naya dari cowok di hadapannya.
"Nay kenapa lo begini ?". Naya hanya menangis melihat Anya, sekarang ia yang merasa kesal di zaman sekarang ternyata toxic realosinsip semakin menjadi terlebih temannya sendiri yang mengalaminya.
Anya menghadap pada cowok di hadapannya "Cara lo nunjukin sayang lo begini ?".
"Siapa lo ? Apa karena lo Naya pulang terlambat ke rumah ? Lo tau orang tuanya nyariin ?". Anya tidak bodoh, apa orang ini tidak pernah bermain dan hanya diam di rumah saja.
"Lo mikir dong sebagai cowok kalo ibu lo yang di giniin apa lo akan nerima ? Sekarang gue nanya ke lo Nay, apa orang tua lo tau dia pacar lo ?". Naya mengangguk sambil menangis.
"Terus apa orang tua lo tau sikap pacar lo begini ?". Naya menggeleng lemah membuat Rifan semakin naik pitam, dia mendorong Anya hingga tersungkur jatuh lalu masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan Naya dalam keadaan lemah.
"Gue anterin lo pulang Nay !". Anya memberikan helm kepada Naya dan mereka pergi meninggalkan kost-an menggunakan motor dirinya.
Setelah sampai Naya mengucapkan terima kasih dan di balas anggukan oleh Anya "Lo mending istirahat, kalo masalah ini bisa ngaruh ke hidup atau mental lo mending lo pergi ke psikolog aja, gue pulang dulu." Naya mengangguk kemudian Anya menghidupkan motornya dan kembali pulang.
__ADS_1