
Di hari Minggu pagi Karen sudah ada di rumah Devan, ia berniat meminta antar Devan ke rumah sakit untuk cake-up kesehatannya.
Femi dan Karen tengah duduk di ruang tamu, mereka selalu akrab jika di satukan seperti ini. Apalagi Femi telah menganggap Karen sebagai anaknya.
Saat turun ke bawah Devan sangat malas telah menemukan Karen sedang berdua dengan Bundanya. Untung ini hari terakhir Karen cake-up jadi tidak alasan bagi dia untuk menemaninya lagi.
"Udah siap Dev ?". Tanya Karen sambil berdiri.
"Gue makan dulu".
Femi yang melihat itu langsung membawa Karen duduk kembali, "Biarin Devan makan dulu ya, dia belum makan soalnya".
"Aku boleh nemenin Devan makan gak Tante ?".
Femi mengangguk, kemudian Karen menyusul Devan di ruang makan. Di sana terlihat jika Devan sedang makan dengan tenang.
"Aku boleh temenin kamu makan gak ?". Ucapnya sambil duduk.
"Boleh gak boleh juga kan lo udah duduk".
Karen tidak merasa terganggu dengan ucapan Devan, ia malah memperhatikan bagaimana Devan makan. Dalam hatinya ia bertekad untuk mengembalikan Devan agar menyukainya lagi.
"Ada saos di bibir kamu aku lap ya ?".
Devan memegang tangan Karen lalu mengambil alih tissue, "Ga usah gue juga bisa".
"Ayo Kar gue anter". Devan berdiri dan pergi menuju motornya di depan, tak lupa ia mengirim pesan kepada Anya agar ia tidak salah paham lagi.
Anya :
Nya aku nganter Karen buat cake-up, lagian ini kali terakhir. Aku cuman bertanggungjawab sampe sini aja.
Anya yang tengah bersiap, mendengar ada notifikasi yang masuk. Saat di buka ternyata itu notif dari Devan yang memberi tahu jika ia akan mengantar Karen untuk terakhir kalinya.
^^^Bubu :^^^
^^^Iya sayang^^^
Biarlah seperti ini Anya sedang malas mempermasalahkan hal yang menggangu pikiran apalagi sekarang dirinya pun sedang membutuhkan orang lain tapi Anya akan berusaha sendiri untuk tidak bergantung pada orang si sekitarnya.
Devan yang mendapat balasan seperti itu langsung tersenyum bahagia. Pasalnya Anya mau memaafkan kesalahan dan menerima dirinya kembali.
Ia tidak tahu saja jika Karen masih duduk termangu karena sikap Devan yang sangat dingin padanya. Ini semua karena cewek seperti Anya yang menggangu hubungan orang lain.
__ADS_1
Karen berdiri dan menyusul Devan ke depan yang sudah berdiri di atas motornya.
"Ayo Dev".
Mereka pergi bersama ke arah rumah sakit. Saat ini jalan sedang macet parah, klakson di mana-mana berbunyi menandakan kalau pengemudi sudah tidak tahan menunggu.
"Panas banget gila". Ucap Karen sambil mengelap dahi yang peluh dengan air.
Devan hanya diam tanpa membalas, jujur tubuhnya pun sudah sangat banjir keringat tapi bagaimana lagi sebagai warga negara yang baik harus bersabar demi keselamatan.
Setelah 1 jam mereka terjebak macet akhirnya telah sampai di parkiran rumah sakit. Seharusnya jarak antara rumahnya mungkin hanya 15 menit tapi ini serasa pergi ke antartika.
"Temenin Dev".
"Lo harus mandiri Kar, masa mau di temenin Mulu".
Karen memajukan bibirnya, "Gue butuh Lo".
Sudah jika begini Devan hanya pasrah dan ikut melihat Karen di periksa, sangat malas sebenarnya. Lagi lagi mau bagaimana lagi, lagipula ia sudah bertekad ini terakhir kalinya.
"Makasih". Ucapnya sambil memegang lengan Devan tapi si empunya langsung melepaskan dengan lembut.
"Keadaan kamu semakin membaik sekarang dan sekarang gak usah perlu check-up lagi ya, cuma perlu beli obat ini jika sakitnya kambuh lagi".
Karen mengangguk mengerti, keduanya berucap terimakasih lalu berdiri untuk pergi membeli obat yang di butuhkan.
"Nya, ngapain di sini".
Anya yang melihat Devan langsung gelagapan. Tuhan kenapa ia harus bertemu dalam keadaan seperti ini.
"Enggak kok, cuman ada keperluan". Sambil tersenyum Anya melirik seseorang di samping Devan.
Devan melihat gelagat aneh dari Anya pasalnya ia seperti menyembunyikan sesuatu darinya.
"Keperluan apa ?".
"Hmm, ada hal yang harus aku tanyain".
"Tanyain apa ?". Jelasnya.
"Berkas kampus iya berkas kampus ada hal yang harus aku tanyain, duluan ya".
Anya berlalu masuk ke dalam ruangan di mana Karen di periksa. Sedangkan Karen sedari tadi memandang tajam ke arah Anya.
__ADS_1
Jantungnya seperti akan copot, kenapa coba Devan bertanya seperti wartawan. Anya kan jadi tidak bisa bergerak karena tatapan mereka.
"Anya, ngapain kamu di situ". Ia tersadar kemudian mendekati dokter Siska.
"Kamu udah siap buat terapi hari ini ?". Tanyanya.
Anya mengangguk, otaknya sekarang tengah memikirkan hal barusan. Sebegitu perdulinya Devan sampai mengantar Karen di periksa. Kalau boleh bilang Anya pun sama ingin di perlakukan seperti itu.
"Terapi kali ini cukup sakit loh Nya, tapi dokter yakin kamu bisa".
Anya hanya tersenyum sebagai tanggapan, tuhan jika ini akhir dari hidupnya Anya sangat ikhlas menjalaninya. Karena ia hidup untuk Allah dan pasti kembali kepada Allah.
Bisa di bilang dokter Siska ini adalah orang yang membantunya dalam menjalani terapi dan pengobatan yang ia lakukan selama Anya di Jakarta dulu.
Devan hanya diam di depan ruang tunggu sambil menunggu Karen yang sedang mengambil obat.
Pikirannya terus berputar di mana dirinya tadi bertemu dengan Anya. Apa yang dia lakukan di sini ? Kenapa pula Anya tidak memberitahu dirinya tentang ini ?.
Rasa penasaran itu semakin menjadi membuat Devan bertekad untuk menyusul Anya ke sana. Persetan dengan Karen yang penting ia sudah mengantarnya check-up dan lagi pula Karen bisa pulang menggunakan taksi.
Sengaja Devan diam di lorong ujung supaya bisa melihat Anya keluar ruangan. Setelah 2 jam ia menunggu Devan bisa melihat jika Anya sudah keluar ruangan dan terlihat sangat pucat dari biasanya.
Setelah Anya berlalu Devan masuk ke dalam ruangan tadi.
"Kamu yang tadi nemenin Karen kan ?".
Devan mengangguk, "Maaf dok saya mau tanya".
"Tanya apa ?".
"Perempuan yang tadi ke sini Anya kan ?".
Dokter tersebut berpikir sebentar kemudian mengangguk.
"Kalau boleh tau, dia habis ngapain ya dok ?".
"Maaf saya gak bisa bilang ini karena ini etika dokter dalam menjaga data pasien".
Devan memutar otak untuk dokter ini bisa memberi tahu dirinya, "Gini dok, saya orang terdekatnya tapi dia gak pernah terbuka dengan apa yang dia alami jadi saya datang ke sini untuk menyakinkan".
Dokter itu melihat wajah Devan dengan seksama lalu mengangguk.
"Anya itu mengidap kanker otak stadium 2 yang membuat dia harus menjalani terapi". Tuturnya.
__ADS_1
Seketika dunia Devan merasa hancur. Mengidap penyakit adalah trauma bagi Devan tapi kenapa ini juga harus menimpa Anya. Apakah tuhan tidak bisa sekali saja melihat hidupnya tenang.
"Makasih dok". Ucapnya lemah kemudian Devan berdiri dan meninggalkan ruangan