
Semua barang telah mereka persiapkan dengan matang. Mulai dari urusan perusahaan yang akan di tangani oleh asistennya untuk sementara. Lalu keperluan apa saja yang akan mereka butuhkan saat di sana.
"Mas, udah semua"
Anya berbicara ini karena dia tidak membantu Hilmi sama sekali dalam pengemasan. Pinggangnya terasa masih sakit, dan Hilmi pun tidak masalah dengan itu ia bisa mengerjakan seorang diri.
"Udah, kamu yakin gak akan ada yang lupa atau apa lagi ?"
Anya kembali melihat barang yang berada di koper sebelum di tutup, "Kayaknya udah deh".
"Ya udah aku pindahin dulu ke mobil, kamu mau ganti baju atau enggak".
"Mau" Jawab Anya
Selesai ganti baju dan di rasa sudah waktunya berangkat. Anya dan Hilmi langsung menghampiri Riri dan Arin yang membantunya mengemas barang tadi. Mendengar anaknya akan pindah ke luar kota sebentar Arin bergegas pergi ke rumah Hilmi. Dirinya pun tidak keberatan harus tinggal dengan Riri besannya.
"Hati-hati ya nak, kalau ada apa-apa telpon mama". Arin tak kuat melihat kepergian anaknya. Tetesan air mata menjadi saksi betapa ia begitu menyayangi Anya.
"Iya mama, jangan nangis gitu ah. Kan Anya cuma numpang lahir di sana". Kekehnya
Menanggapi itu Arin hanya tersenyum walaupun dalam hati ia tidak tega melihat Anya akan jauh lagi dari dirinya.
"Hilmi kamu harus jagain anak mama sama cucu mama lho". Tegas Riri.
"Pasti ma, Hilmi bakal jagain Anya sampai titik darah penghabisan".
"Apaan sih ah lebay". Tepuk Anya pada bahu Hilmi.
Perjalanan menuju kota tujuan memakan waktu sampai delapan jam. Sampai itu juga di dalam mobil Anya hanya bisa mengeluh karena pinggangnya yang tak kunjung mereda. Sudah berbaring, duduk bahkan di ganjal bantal pun tetap sakit. Hilmi yang khawatir akan keadaannya memilih untuk berhenti dan memijit area yang menurutnya sakit baru setelah itu mereka melanjutkan perjalanan lagi.
Baru pukul sebelas malam mereka baru sampai. Hilmi yang tak tega melihat Anya tengah tertidur pulas memilih untuk menggendongnya menuju kamar.
"Kamu, kita udah sampai ?". Matanya mengerjap beberapa kali menandakan kalau Anya terbangun karena gendongan suaminya.
"Udah udah biar aku gendong kamu aja, kamu kayak capek banget".
Dengan begini saja perasaan dirinya mudah berubah. Melihat pahatan tuhan yang sangat sempurna di depan matanya membuat Anya tersenyum tipis. Kemudian ia mengalungkannya kedua tangannya di leher Hilmi.
"Kamu pasti lebih capek". Jawab Anya
"Enggak"
"Bohong, tuh liat mata kamu udah merah gitu gegara nyetir".
"Lebih capek kita ngelakuin hal yang seharusnya kita lakuin". Ucapnya serius sambil memandang ke depan.
Anya yang mendengar itu menampakkan perubahan wajah yang jelas. Hilmi yang menyadari itu di buat bingung oleh tingkahnya.
"Hey, kenapa". Tegur Hilmi
__ADS_1
"Maafin aku ya, gegara aku hamil begini kamu gak ngelakuin hal yang seharusnya di lakuin suami-istri".
Setelah sampai di dalam kamar Hilmi merebahkan Anya di kasur. Kakinya ia angkat untuk menahan agar tidak ambruk dan lengannya di gunakan untuk mengusap pipi Anya dengan lembut.
Cup
"Gak boleh ngomong kayak gitu"
"Tapi aku ngerasa bersalah sama kamu". Ucap Anya sambil bibirnya bergetar dan mengeluarkan cairan bening.
Hilmi yang melihat Anya menangis pun di buat kaget. Pasti ucapannya tadi sangat menyinggung hati Anya. "Terus mau kamu gimana ? Kita lakuin sekarang ?".
"Emang bisa". Tanyanya polos
Hilmi yang melihat raut polos istrinya langsung tertawa. Jujur dirinya hanyalah manusia biasa yang hanya bisa menahan nafsu. Sejak malam pertama mereka pun Hilmi sudah sangat ingin melakukannya tapi melihat kondisi Anya dan ia langsung mencari tahu di internet mengenai hal ini.
Di sana tertera bisa saja melakukan tapi itu dapat menggangu keselamatan bayi jadinya Hilmi lebih memilih untuk menahannya saja toh saat anak itu lahir ia bisa melakukannya.
"Kita lakuin kalau dia udah lahir ya". Jawab Hilmi lalu mencium kening Anya, "Sekarang kamu tidur, udah malem".
Anya memajukan bibirnya, jawaban Hilmi yang di berikan sangat kurang jelas. Kakinya ia turunkan ke bawah yang di butuhkan Anya saat ini adalah istirahat makanya Hilmi menyuruh istrinya itu untuk segera tidur.
...***...
"Tante, bang Hilmi mana ?" Tanya Clara ia baru pulang dari rumah papanya dan berniat datang ke sini tapi melihat kamar Hilmi kosong membuat Clara bingung.
"Luar kota ?". Tanyanya kaget, kenapa Hilmi tidak memberitahu dirinya
"Luar kotanya di mana Tante ?".
"Tante juga gak tahu".
"Masa Tante gak tahu pastinya bang Hilmi izin dulu ke Tante" Nada bicara Clara naik satu oktaf, kesal karena Hilmi meninggalkan dirinya begitu saja. Padahal waktunya di Indonesia hanya satu bulan lagi.
"Harusnya kamu tuh sadar Clara, Hilmi sudah punya istri dan akan melahirkan anaknya. Kamu kan sudah dewasa masa enggak ngerti hal seperti ini". Sindir Riri, sudahlah dia sudah cukup bersabar menghadapi anak ini.
"Itu juga bukan anaknya bang Hilmi kan, dasarnya aja Hilmi kena pelet masa pengen sama cewek yang hamil anak orang".
"Kamu tuh emang gak bisa ngejaga omongan ya". Arin yang mendengar ucapan Clara dari dapur keluar dan mendekat ke arah Riri yang tengah mematung menahan amarah.
"Mending kamu pulang ke rumah yang seharusnya deh, ini bukan tempat kamu jadi jangan pernah lagi ke sini". Lengannya mempersilahkan Clara untuk segera keluar tanpa hormat.
Clara yang mendengar itu hanya mendelik lalu melangkah dan keluar menuju pintu depan. Dasar orang-orang sirik memang begini. Clara baru tahu jika sikap Tante Riri semunafik ini.
Sedangkan di sana waktu baru menunjukkan pukul tujuh pagi. Anya mengerjapkan matanya akibat sinar matahari yang masuk melalui jendela ruangan. Otaknya langsung berpusat pada Hilmi, saat menoleh ke samping untunglah suaminya itu ada di sampingnya.
Baru kakinya akan melangkah menuju kamar mandi perutnya tiba-tiba merasakan sakit yang amat sangat.
"Mas, mas". Anya menepuk-nepuk lengan Hilmi berharap suaminya itu bangun.
__ADS_1
"Sakit banget, mas, mas Hilmi". Panggil Anya.
Hilmi yang mendengar rintihan sakit dari Anya langsung terbangun. "Kenapa sayang". Tanyanya panik.
"Sakit banget mas".
Hilmi yang mendengar itu panik bukan main, Sepertinya Anya akan melahirkan. "Kita ke rumah sakit ya". Hilmi langsung menggendong Anya dan membawanya ke dalam mobil.
Di dalam mobil Anya pun tak henti-hentinya merintih kesakitan karena perutnya seperti akan mengeluarkan sesuatu yang amat besar. "Kamu tarik nafas terus buang".
Keringat terus bercucuran di dahi Anya, mendengar itu Anya mencoba menuruti perintah suaminya dengan sekuat tenaga. Sampai di rumah sakit pun Anya menahan rasa sakit itu dengan membungkam mulutnya rapat.
Suster yang membantu persalinan mereka pun bergerak dengan cepat. "Bapak suaminya ?". Tanya suster tersebut.
Hilmi mengangguk, "Bapak boleh melihat dan membantu persalinan, jangan lupa di pakai perlengkapannya".
Hilmi bergegas memakai baju untuk operasi, di sana ia melihat Anya yang tengah terbaring dengan air mata yang mengalir. Hilmi mencoba mendekat dan menggenggam lengan Anya.
"Aku yakin kamu pasti bisa".
Persalinan di mulai dengan pembukaan pertama, sangat tidak tega melihat Anya seperti ini. Ternyata seperti ini lah keadaan orang saat melahirkan, Hilmi jadi tahu itu. Betapa berkorbannya seorang ibu yang berusaha untuk melahirkan anak.
Suara tangisan bayi membuat Hilmi mengembuskan nafasnya panjang. "Makasih sayang, kamu hebat". Ciuman di kening Anya adalah pertanda kalau bayi yang mereka nanti selama ini telah lahir ke dunia.
Nafas terakhir telah Anya keluarkan dengan sekuat tenaga dan itu menjadi saksi tentang perjuangan dirinya untuk mencapai titik ini. Sangat lega mendengar tangisan anaknya yang baru lahir.
Anak ?
Anya masih tidak percaya itu, sekarang ia telah resmi menjadi seorang ibu. Rasa bahagia membuncah di dalam jiwanya. Betapa kuatnya ia mempertahankan bayi yang selama ini sempat ia benci. Untuk itu Anya menutup matanya dengan rapat.
"Ini bayinya pa sudah di bersihkan sesuai prosedur yang seharusnya". Hilmi mengambil alih bayi tersebut dan tersenyum lebar.
"Liat sayang, mirip banget sama kamu". Hilmi menoel-noel pipi bayi berjenis kelamin perempuan itu. Anya pun yang melihat itu bahagia sekaligus terharu. Semoga Hilmi bisa menyayangi anak ini sebagimana anaknya.
Bayi itu terus menggapai lengannya ke udara, "Kira-kira mau di kasih nama siapa ?". Tanya Anya.
"Zara Mahira Saufa". Jawab Hilmi.
Anya menaikkan satu alisnya, "Kamu udah siapin namanya".
"Udah dong".
Lengkap sudah kebahagiaan Anya sekarang. Memiliki seseorang yang membuat dirinya nyaman dan selalu di lindungi adalah impiannya sejak dulu. Bahkan sekarang Anya sudah menerima semua masa lalu yang telah membuat dirinya menjadi pribadi yang lebih kuat.
Apalagi dengan kehadiran sosok Zara dalam hidupnya membuat Anya memiliki harapan dalam hidup.
Hilmi, Devan, Farel. Merupakan bagaian dari perjalanan hidupnya tapi tetap saja pria yang akan sangat ia jaga dan cintai adalah sosok Hilmi yang menjadi akhir dari perjalanan cintanya. Bagi Devan dan Farrel Anya menganggap mereka sebagai bagian dari orang yang tuhan hadirkan untuk belajar arti ikhlas untuk sesuatu yang bukan miliknya.
END
__ADS_1