
Pukul 5 pagi Anya sudah bangun, panggilan jiwanya menyuruh dia untuk memasak. Kakinya melangkah menuju dapur, tapi Anya bingung ia harus memasak apa ? Bahkan Anya tidak tahu tempat menyimpan bahan makanannya di mana.
"Gue masak apa ya". Dialognya.
Lengannya menarik gagang kulkas yang ternyata banyak sekali sayuran dan bahan mentah di sana. Anya mengambil beberapa bahan yang di butuhkan dan mulai memasak.
Setelah di ingat lagi bukankah dirinya tidak bisa memasak. Otaknya mulai berfikir jaman sekarang apapun sudah serba digital, mengapa ia tidak memanfaatkan itu.
Terlihat Anya sangat telaten mengikuti step by step orang yang berbicara dari balik layar. Terkadang ia menyatukan kulit dan isi telurnya pada wajan, kerutan di dahinya menandakan kalau Anya serius membuat makanan yang tulus atas kemauannya.
Hembusan nafas panjang akhirnya keluar, "Akhirnya jadi juga".
Berbagai menu sudah di tata rapih di atas meja, entah akan semengerikan apa rasanya tapi ia berharap setidaknya dapat di makan oleh Tante Riri dan Hilmi.
Riri menghampiri Anya yang kelihatannya tengah sibuk di ruang makan, "Wah, ini buatan kamu ?". Riri terkejut karena banyak sekali makanan.
Anya tersenyum kecil, Hilmi yang baru bangun dari lantai atas pun terheran melihat Anya dan mamanya yang seperti tengah membicarakan sesuatu.
Mata Hilmi tidak terlepas dari makanan yang sudah siap di atas meja, "Kamu yang buat ?".
"Iya". Angguk Anya.
"Calon istri idaman loh mi". Goda Riri pada anaknya itu.
Pipi Anya bersemu merah, di puji seperti itu memang menyenangkan tapi dirinya tidak ingin besar kepala. Anya menyiapkan ini hanya sebagai bentuk terimakasih pada keluarga Hilmi yang mau menampungnya.
"Cobain Tante, Hilmi". Titah Anya
Ketiganya duduk di bangku dan mulai mencicipi makanan buatan Anya.
Hilmi mulai mencoba dari kuah sayur yang sepertinya menggiurkan. Baru ia memasukkan makanannya ke dalam mulut wajah Hilmi langsung berubah. Hilmi memandang mamanya yang sepertinya paham apa di maksud.
"Lo udah coba ?". Tanya Hilmi.
"Udah, gimana enak ?". Tanyanya antusias.
__ADS_1
"Sini deh". Hilmi mengambil kuahnya lagi dan memasukkan sendok itu kedalam mulut Anya.
Hilmi tersenyum yang membuatnya pun menampilkan wajah yang sama. "Enak ?". Tanyanya.
"Maaf ya Tante, Hilmi. Jujur Anya gak bisa masak, Anya bikin ini cuman sebagai tanda terimakasih buat kalian mau nerima aku di sini".
Hilmi mulai pindah pada makanan selanjutnya tapi rasanya tetap sama, Asin. Sekarang ia tidak mengerti seberapa banyak garam yang Anya masukan dalam masakannya sampai-sampai rasa asinnya ini berubah menjadi pahit.
Riri terkekeh karena tingkah Anya yang menurutnya lucu, "Tante hargai buatan kamu kok, kamu gak perlu kayak gini. Malah dengan kamu di sini Tante jadi seneng soalnya ada temen".
"Kalo gak bisa masak mending diem". Sindirnya.
"Hus, kamu itu gak boleh gitu".
Ini memang salah Anya jadinya ia hanya membuang-buang makanan saja. Lagipula kenapa Hilmi sangat membenci dirinya padahal yang salah itu makanannya.
Hilmi berdiri dari kursi, "Habis ini kita ke toko". ucapnya lalu pergi meninggalkan meja makan.
"Maafin Hilmi ya, dia emang begitu selalu mengkritik orang di depannya". Riri paham sepertinya Anya tertekan akibat ucapan anaknya.
Riri membantu membersihkan piring yang berada di atas meja. Anya pamit ke kamar untuk bersih-bersih dan berangkat kerja. Tak butuh waktu lama mereka sekarang sudah berada di dalam mobil menuju toko roti.
"Lo mau jadi istri gue ?". Tanya Hilmi datar.
Anya sedikit terkejut tapi kemudian mencoba menetralkan mimik wajahnya, "Kenapa harus gue". Imbuhnya.
"Ya udah kalo gak mau". Sarkas Hilmi.
Hilmi ini sangat menyebalkan, dia sudah menerbangkan kemudian menghempaskan nya ke tanah. Ia kira pernikahan itu adalah mainan.
"Nanti malem gue mau ajak lo ke pernikahan klien, dan gue udah mutusin buat lo jadi pacar pura-pura".
Anya jadi paham sekarang kenapa kemarin Hilmi mengajaknya mencari gaun, "Emang kita udah jadi pacar pura-pura dari tadi".
Hilmi menoleh pada Anya, "Lo ngambek ?".
__ADS_1
"Kenapa harus ngambek, ini emang kemauannya kamu kan ?".
Hilmi mengangguk, "Terus dengan lo ngemajuin bibir kayak gitu apa ? Biar imut ?"
Tarikan di bibir Anya berubah menjadi senyuman, ketahuan deh kalau Anya sedang malas meladeni Hilmi yang membuatnya kesal sendiri.
Mobil mereka telah sampai di depan toko yang tengah ramai pengunjung, "Nanti gue jemput". Katanya.
"Iya". Anya turun dan langsung masuk ke dalam toko.
Satu tarikan bibir terangkat, ada rasa senang dalam hatinya saat menggoda Anya. Wanita itu begitu lucu kalau sedang merajuk sampai rasanya ia tidak ingin melepaskan.
Di dalam toko Anya langsung meraih sapu untuk bebersih, baru di tinggal semalam tapi keadaan dapur sudah seperti kapal pecah.
"Cie dari mana tucch". Senggol Dinda pada bahunya Anya.
"Darimana gue ?".
"Aduh Anya lo itu gak usah pura-pura bego, semalem lo gak tidur di sini kan ? Lo tidur dimana. Pake di anterin sama bos segala lagi".
"Tadi malem gue numpang di rumah Hilmi". Ucapnya polos.
Dinda langsung berteriak yang membuat semua orang yang berada di dapur memperhatikan mereka. "Berisik banget sih Din".
"Lo tidur di rumah pak Hilmi". Ucapnya sambil menekankan di setiap kata yang ia ucapkan, "Dan lo manggil dia tanpa embel-embel bos ?".
"Gue cuman beda dua tahun doang Din sama dia". Jelas Anya, ia baru tahu jika sikap Dinda ini sangat berisik.
"Lah apa kabar dengan gue yang beda setahun sama dia".
Anya terkekeh, "Lo terlalu banyak takut". Jelasnya.
Dahi Dinda bergelombang, "Dulu mba Rima juga pernah keceplosan ngomong pake nama doang dan langsung di tegur sama dia, sedangkan lo anak baru di sini udah nyuri start aja".
"Tau ah gue juga pusing". Anya pergi ke arah meja pembeli banyak hal di sana yang harus ia bersihkan.
__ADS_1