
Hilmi sedang berkutat dengan file yang belum selesai. Padahal tadi malam ia sudah menyusun semua hal yang di butuhkan untuk presentasi tapi kenapa menjadi berantakan seperti ini.
Kevin hadir dari balik pintu dan melihat sahabatnya itu sedang berpacaran dengan berkas yang tak ada habisnya.
"Gak bosen apa lo ngerjain itu semua ?". Kevin selalu tak habis pikir dengan Hilmi yang selalu mati-matian bekerja.
"Ini emang pekerjaan gue". Tangkasnya.
Kevin duduk di depan meja Hilmi sambil melihat pada seluruh ruangan yang ia tempati. Matanya tepat berhenti pada bingkai photo yang tak berubah dari 2 tahun lalu.
"Ck, lo ini gimana mau move-on poto mantan istri lo juga masih di situ".
Tanpa menoleh Hilmi tahu kemana arah tujuan Kevin, "Kalo lo gak suka mending keluar aja".
Kevin terkekeh sendiri, "Lo mah baperan Mi".
"Nih". Kevin memberikan sebuah surat undangan pernikahan koleganya. Mereka mengundang Hilmi untuk datang.
"Lo aja deh yang datang gue males". Hilmi selalu malas datang ke tempat seperti itu karena menurutnya acara seperti itu hanya perihal memamerkan sesuatu agar terlihat paling menonjol.
Kevin yang mendengar itu juga kesal, "Gue mulu ah. Kan yang punya perusahaannya juga elo, Oh iya kata Pak Hariman juga harus pemimpinnya yang datang".
Di ambilnya surat undangan itu oleh lengan Hilmi, ia melihat isi dan tanggal surat. Mana sebentar lagi acaranya, Hilmi kemudian mengiyakan karena kasihan juga kalau Kevin melulu yang harus hadir.
"Nah gitu dong bro. Terus mau sama siapa datangnya ? Gak mungkinkan sama nyokap lo". Cibir Kevin.
__ADS_1
Ini yang membuat Hilmi semakin malas, ia harus membawa seseorang untuk temannya di acara nanti. Mana harus perempuan lagi.
"Siapa ?". Tanya Kevin sambil menaik-turunkan alisnya.
"Kepo lo, mending keluar sana. Gue pusing sama kerjaan".
"Ngusir lagi". Kevin berdiri dan melangkah menuju keluar takut kalau Hilmi malah ngamuk dan ia menjadi sasarannya.
"Jangan lupa harus cewek". Teriak Kevin.
GUE DENGER
Entah kenapa setelah pulang dari kantor Hilmi lebih memilih untuk mengecek toko. Seperti inilah jika dirinya memutuskan untuk membuka berbagai cabang untuk usahanya.
Hilmi masuk dan mendapati Rima yang sedang menyusun kue-kue di dalam open. "Gimana Rim hari ini ?".
Alhamdulillah apapun pekerjaan yang ia mulai selalu mendapat perhatian pelanggan. Makanya Hilmi tidak pernah merasa ragu untuk memulai sesuatu.
Hilmi jadi teringat sekarang bukankah ia memperkerjakan seorang perempuan di tokonya. Hilmi berjalan dan coba mencari matanya menangkap sosok tersebut tengah melayani pembeli. Raut dan rasa senang tercetak jelas dalam wajah Anya, bahkan dia sesekali dengan sopan berterimakasih karena telah datang ke toko miliknya.
Dari kejauhan Anya juga melihat bos-nya itu tengah menatap dirinya. Anya tersenyum dari sana dan entah kenapa getaran dalam hatinya muncul begitu saja.
Hilmi memegang dadanya untuk menetralkan getaran ini. Dan langsung pergi menuju kamarnya yang berada di belakang
Sangat melelahkan sekali hari ini, Hilmi merebahkan tubuhnya di kursi panjang yang berada di sana. Otaknya malah menarik kejadian di mana ia harus datang di pernikahan kliennya.
__ADS_1
Terdengar suara pintu di ketuk, "Permisi pak".
Karena yang mengetuk pintu adalah Anya, Hilmi lebih memilih untuk bangun dan menanyakan ada apa kenapa dia kesini.
"Maaf saya mengganggu, ini teh buat bapa. Soalnya saya liat bapa kayak cape". Ucap Anya sambil menyimpan tehnya di atas meja.
Sambil menggigit bibir bawah Anya izin pamit untuk melanjutkan pekerjaannya. "Tunggu Nya".
Langkahnya langsung terhenti, Anya menoleh. "Ada apa pa ?".
"Bisa bantu saya ?".
"Bantu apa ?".
"Jadi begini, ada kolega saya yang akan menikah dan saya tidak tahu kado apa yang harus di beli. Jadi saya minta kamu buat pilih kadonya".
Harus dirinya kah yang membantunya, mana mungkin Anya akan menolak jika Hilmi telah membantu dirinya saat Anya kesusahan.
"Kamu ganti baju dulu nanti saya tunggu di depan". Anya mengangguk dan keluar untuk berganti pakaian.
Sedangkan Hilmi berbicara dengan Rima dan memberitahu bahwa ia akan membawa Anya sebentar. Di depan ponselnya bergetar pertanda ada pesan masuk. Setelah di buka ternyata itu adalah pesan dari mamanya.
Hilmi mama kesepian gak ada temen kapan kamu pulang
Hilmi membalas pesan itu bahwa ia akan pulang sekitar tiga puluh menit lagi. Meskipun di rumah ada bi Uti yang mengurus keperluan rumah tetap saja mamanya ini selalu merasa kesepian. Hilmi paham sekarang betapa ingin mamanya ini mempunyai cucu.
__ADS_1
"Saya udah siap pa". Ucap Anya.
Hilmi yang membelakangi Anya langsung menoleh, tubuhnya langsung tak bergerak melihat cantiknya Anya sekarang. Setelah di poles sedikit oleh make-up Anya terlihat sangat polos dengan baju yang sesuai bahkan semua orang tahu bahwa itu baju sederhana tapi terlihat sangat pas jika di pakai oleh Anya.