Mahasiswa Baru

Mahasiswa Baru
83 MABA


__ADS_3

Ryan terkejut mendengar pintu ruangannya yang di buka dengan keras. Saat melihat ternyata pelakunya adalah Devan.


"Buka pintu itu salam bukan uring-uringan" Sarannya.


Devan duduk di depan meja Ryan dan menghempaskan kartu undangan yang di berikan Anya. Ryan yang bingung langsung meraih surat itu dan membacanya.


"Hahahaha". Ryan tertawa dengan keras, entah apa yang dia tertawakan tapi itu membuat rasa kesal Devan semakin menjadi.


"Lo nyesel dia nikah sama orang lain ?"


Dahi Devan bergelombang, Ryan kira dirinya menyesal karena telah meninggalkan Anya. Dirinya seperti itu karena tingkah Anya yang seperti merasa sudah berada di atas dirinya. Mungkin dia bertingkah karena sudah memiliki tameng pikirnya.


"Lagian juga kenapa dulu lo ninggalin dia"


"Dengan lo ngomong gitu kesannya gue brengsek banget Yan di mata lo".


Sepertinya Ryan bercanda kelewat batas, sudah jelas saat ini Devan sedang marah dirinya malah menggapainya dengan candaan.


"Sorry Dev, terus kenapa lo marah ? jadinya pikiran gue pergi kesana deh". Jawab Ryan


"Lo aja yang gak tau seberapa ulernya dia".


"Maksud lo ?".

__ADS_1


"Gue akuin dia baik dan polos. Saking polosnya berubah jadi cewek yang pura-pura bego. Masalah itu memang salah dan gue akuin tapi orang lain gak tau tentang sikap dia yang gue gak suka".


"Lo gak suka belum tentu orang lain juga, terus lo mau datang ke nikahan dia ?"


Devan mengedikan bahu, entahlah ada sedikit rasa penasaran dalam dirinya kenapa Anya bisa bertemu dengan seorang Hilmi pemegang saham terbesar dari perusahaan ayahnya.


Secara logika ia juga tidak mengerti kenapa Hilmi mau menerima Anya dengan kondisi hamil yang bukan anaknya. Adakah maksud lain di antara mereka yang terjadi.


Sepertinya dirinya harus datang supaya bisa menjadi pertanyaan yang sejak tadi bersarang di otaknya. Devan menoleh pada Ryan, "Gue sama lo ke sananya"


"Lah kok gue, emang gue jeruk suka jeruk. Cari cewek sana entar Irana ngambek sama gue lagi"


Ryan ini selalu melantur jika berbicara dan itu membuat Devan jengah dengan sikapnya tapi mau bagaimana lagi mereka telah lama bersahabat dan Devan harus menerima kekurangan Ryan.


...***...


"Gimana enak gak ?".


Anya menganguk bersemangat sambil memakan strawberry yang di belikan Hilmi. Tepatnya sih dirinya yang meminta Hilmi untuk dibelikan, pasalnya entah kenapa panggilan ruhnya menyuruh dirinya untuk makan buah asam manis itu.


"Di abisin ya".


"Pasti dong sayang".

__ADS_1


"Aku boleh minta gak ?".


Anya langsung menjatuhkan kotak strawberry itu dan membuat Hilmi yang melihatnya langsung tertawa.


"Menurut kamu mantan kamu bakal datang gak ?". Tanya Hilmi serius.


Anya hanya mengedikan bahu, dia sungguh tidak perduli dengan datang atau tidaknya Devan di acara pernikahannya. Toh bukankah lebih baik orang itu tidak datang.


"Kenapa sih kamu pengen banget dia datang".


"Bukan begitu sayang, aku ngerasa ada sesuatu yang gak beres sama dia. Pandangan aku bicara kalo dia itu mau ngelakuin sesuatu".


"Ck, kamu itu gak boleh berprasangka negatif. Gak baik loh sayang". Hilmi membuang nafas pelan, "Astagfirullah". Ucapnya.


"Kamu gak balik lagi ke kantor ?".


"Di kantor sepi gak ada kamu sih" Gombalnya


Anya menyenggol bahu Hilmi, "Apaan sih ah, gombal".


"Siapa yang gombal. Emang bener, buktinya aku betah di sini soalnya ada kamu".


Hilmi ini selalu saja membuat hidungnya terbang.

__ADS_1


__ADS_2