
Tadi Devan izin pada pendamping koas nya untuk pulang terlebih dahulu. Sungguh ia tidak habis pikir dengan Karen yang memilih untuk bunuh diri di atas jembatan jalan raya di tengah kota.
Ryan tak sengaja melihat Karen di sana saat menuju rumah Irana. Di sana Karen menangis seperti orang tidak waras, banyak orang yang melihatnya bukan untuk membantu Karen tapi hanya untuk menonton jadi Ryan memilih untuk menyusul Devan.
Di sini sekarang antara Karen yang mencari sensasi atau memang menakuti orang lain tapi ini justru tidak membuat rasa kasihan Devan muncul.
"Sampai kapan lo mau di situ Kar ?". Tanya Ryan yang berteriak.
Devan dan Ryan berdiri agak jauh dari Karen karena dia bilang jangan mendekat atau Karen akan loncat.
"Bodo, gue gak kuat hidup begini. Dev, lo jangan begini terus dong gue gak bisa di acuhin sama lo". Ucapnya sambil menangis.
Devan hanya terdiam sambil memandang pada arah di mana Karen sudah di ujung pembatas. Jika begini sudah jelas Karen memang gila, mana ada seseorang yang akan bunuh diri karena di acuhkan mantannya.
"Gue itu hidup cuman buat lo Dev, tapi kenapa Lo malah begini setelah gue berusaha buat bangkit dan ngejalanin hidup layaknya orang sehat". Karen terkekeh jelas, "Pasti gegara cewek sialan itu kan ?".
Lengan Devan mengepal, pertanyaan Karen membuat Devan kesal karena membawa nama Anya dalam masalah ini.
Karen membalikkan badannya ke arah Devan, "Apa kurangnya gue Dev ? Dulu gue selalu mendapat perhatian penuh atas lo, terus sekarang apa yang berubah dari gue. Bahkan gue dan Anya gak beda jauh tuh, sama-sama penyakitan".
Ryan terkejut dengan pernyataan Karen, ia melihat ke arah Devan yang memang sedang menahan amarah.
"Justru lo tanya ke gue Kar apa gue masih cinta sama lo apa enggak ? Dan jawaban gue adalah enggak. Semuanya udah berjalan mundur. Gak semua hal akan ada di samping lo terus maka dari itu lo harus siap kehilangan segalanya".
"Dan sekarang lo mau bunuh diri ? Gue gak perduli. Gue gak akan nahan lo. Asal lo tau kelakuan lo itu kayak bocah tau Kar".
Setelah mengucapkan kalimat tersebut Devan lebih memilih untuk pulang. Terserahlah sekarang ia sudah sangat capek meladeni Karen.
"Dev". Teriak Karen.
"Mending lo pulang deh Kar, di liatin orang kayak gini apa lo gak malu ?".
"Gak". Sarkasnya.
"Ya udah gue juga mau pulang bareng sama si Devan".
__ADS_1
"RYAN".
"Bodo ah gue ngantuk ntar malem bagian jaga".
Ryan juga sama lebih memilih untuk pulang dari pada meladeni Karen. Sekarang hanya Karen yang berdiri di atas jembatan sebagai pusat perhatian.
Tubuhnya terdorong untuk melihat kebawah, jantungnya terasa akan copot melihat ini. Apa dirinya siap untuk bunuh diri ?.
Ia jadi ingat dosa, ia juga belum bertaubat. Karen mundur secara perlahan, karena ia hanya memiliki satu nyawa maka Karen memilih untuk pergi.
Di lihatnya mobil Ryan yang baru di nyalakan buru-buru ia menyusul untuk ikut bersama mereka.
"Yan gue ikut". Karen mengetuk-ngetuk kaca mobil.
"Dev gimana ?". Tanya Ryan.
"Jalan aja". Ryan mengangguk dan menjalankan mobil tanpa menghiraukan teriakkan Karen.
...***...
Sudah dari tadi Devan pulang dan Ryan memilih untuk berbalik menuju rumah Irana setelah mengantar dirinya.
Tubuhnya sedang ia rebahkan di atas kasur mencoba melupakan kejadian yang membuat kepalanya merasa sakit. Tapi wajah Anya tengah tersenyum tiba-tiba melintas di dalam pikirannya.
Devan jadi rindu pada mantan kekasihnya itu. Bagaimana keadaan wanita itu sekarang ? Apakah Anya sudah sehat dan segera menemui dirinya atau dia memang tidak akan kembali.
Entah bagaimana lagi takdir akan mempermainkan kisah percintaan dirinya tapi Devan selalu meminta pada tuhan agar mempertemukan dirinya lagi dengan Anya walaupun itu untuk terakhir kalinya.
Devan bangkit dari kasur dan melangkah menuju kaca di samping kamarnya. Ia menghela nafas sebentar, rasanya Devan ingin menghilang saja dari masalah ini.
Ia sudah muak dengan apapun yang menyangkut hidupnya itupun Devan bertahan karena mimpi yang sudah ia inginkan dari kecil dan pastinya karena orang tuanya jugalah yang selalu mensupport apapun hal yang ia inginkan.
Menjadi dokter tinggal beberapa tahap lagi dan mungkin hanya beberapa bulan lagi. Rasanya semakin berat saja dan tidak menambah gairah untuk Devan melalui proses ini.
Tok Tok
__ADS_1
Devan menoleh di sana ada Femi di balik pintu sambil tersenyum, "Anak bunda lagi apa ?".
Femi berjalan dan duduk di ujung kasur, "Sini Dev". Titahnya sambil menepuk tempat di samping Femi.
Devan mengangguk kemudian duduk di sampingnya. Femi tahu Devan sedang mengalami masa sulit, sebenarnya ia tahu sejak melihat perilaku Devan selama beberapa bulan terakhir yang terlihat berbeda tapi Femi memilih untuk diam dahulu.
"Semangat ya Dev, sebentar lagi kamu bakal meraih gelar dokter dan dapet surat izin. Bukannya ini mimpi kamu dari kecil ?".
Devan hanya mengangguk lemah, Fani yang melihatnya terkekeh pelan. "Kamu kenapa sayang, pasti kalau lagi begini lagi ada masalah".
Devan menggeleng, "Enggak kok Bun, Devan cuman lagi jenuh aja".
"Kalo ada masalah, di pendem lagi itu gak baik lho".
"Bunda pernah jenuh sama keadaan ?".
Femi mencoba berfikir kemudian mengangguk, "Pernah kok sering malah".
Sepertinya banyak hal yang Devan pikirkan dan Femi bisa melihat itu. Tidak apa-apa ia malah senang melihat Devan yang bisa mengendalikan masalah dengan pikiran terbuka.
Dulu Devan yang hanya bermain dan belajar sekarang ia sedang memikirkan hal yang banyak orang lain pikiran adalah hal yang wajar dan lumrah. Femi ingin mendidik anaknya menjadi orang yang lebih bijaksana tanpa melibatkan hal apapun dengan uang.
"Kalau kamu lagi ngalamin itu, coba pikirin lagi deh apa yang buat kamu jadi gak semangat dan bikin down. Cari tau dulu penyebabnya baru cari jalan keluar untuk enggak berada ditempat yang sama".
Devan terdiam mendengar nasihat bundanya. Semua perlu waktu dan Femi tahu itu, ia memilih untuk keluar dari kamar anaknya biarkan Devan menemukan titik terang dalam keadaan yang sedang ia rasakan.
Devan tahu semua itu karena Anya yang memang sudah jauh dari dirinya, lalu bagaimana Devan mencari jalan keluar Karena sebenarnya Devan lah yang menjadi penyebab dari permasalahan ini.
Tiba-tiba ponsel di atas nakas berdering dan mendorong Devan untuk mengangkatnya.
"Halo".
Hening
"Halo". Ucap Devan lagi.
__ADS_1
Tetapi masih hening, satu menit berlalu tetapi tetap tidak ada suara. Ia memilih untuk mengakhiri telpon tapi tiba-tiba ada suara seseorang yang memanggil dirinya. Dan Devan sangat familiar dengan suara itu.