
"Hilmi gimana ma ?".
Nafasnya begitu terengah saat mamanya mengirimkan pesan bahwa Hilmi telah sadar. Saat itu Anya segera mengucapkan hamdalah dan buru-buru datang ke sini.
"Ada di dalam lagi di periksa sama dokter". Kata Arin.
Hati Anya berharap cemas kalau Hilmi kenapa-napa. Semoga dia selalu berada di lindungan Allah. Dokter yang memeriksa Hilmi keluar dan dirinya minta izin untuk masuk.
Kakinya melangkah mendekati Hilmi yang tengah berbaring dengan mata yang menatap langit-langit kamar rumah sakit. Ada rasa hampa dalam dirinya mengingat dia tidak sadarkan diri selama beberapa hari.
"Sayang". Panggilannya.
Hilmi menoleh lalu menampakkan senyum yang membuat Anya ingin menangis di pelukannya.
"Jangan nangis bidadari nya Hilmi, maaf ya aku terlalu lama tidur". Ucap Hilmi sambil mengusap surai Anya.
"Gapapa kok, yang penting kamu udah bangun sekarang. Jangan begini lagi ya, aku takut". Kata Anya.
"Iya sayang".
"Kamu pasti laper, makan ya".
Hilmi mengangguk kemudian Anya menyuapi Hilmi dengan makanan yang di berikan dari rumah sakit. Hambar memang, bahkan Hilmi terlihat tidak suka. Semuanya memang harus di paksakan jika ia ingin cepat sehat.
__ADS_1
"Mama mana ?".
"Mama Riri lagi jalan ke sini, kalau mama lagi pulang dulu soalnya dia mau ganti baju".
Hilmi hanya mengangguk matanya menatap lekat ke arah Anya yang tengah fokus menyuapi dirinya, "Makin cantik". Katanya.
Alis Anya naik satu, "Emang cantik".
"Subhanallah Pede nya istriku".
Anya terkekeh, "Kamu udah makan ?".
Anya menganguk, "Boleh izin pulang ke rumah gak".
"Kok pulang sih, kamu kan masih sakit. Ntar kalo udah di bolehin sama dokter baru". Titah Anya.
Anya lagi lagi terkekeh oleh gombalan suaminya yang menurut dirinya sangat garing, "Kan aku ke sini tiap hari sayang".
"Kamu yang gantiin baju aku ?". Tanya Hilmi polos.
Anya menganguk lagi, detik kemudian mata Hilmi seperti membola, "Gak adil". Ucapnya
"Maksudnya ?". Tanya Anya bingung.
__ADS_1
"Harusnya itu buat malam pertama kita. Kok udah ngambil start duluan".
Sekarang mata nya yang membola, pikirannya bahkan tidak sampai ke sana tapi Hilmi membuat Anya seperti kepiting rebus sekarang. Ah bahkan ia malu untuk melihat mata Hilmi.
"Gak lucu".
Hilmi tersenyum melihat Anya seperti ini adalah hiburan baginya. Tidak apa-apa sesekali ia menggoda istrinya yang sedang malu.
"Pengan punya anak berapa ?". Tanya Hilmi
Anya memukul bahu Hilmi membuat si empunya kesakitan. "Aku aja masih hamil tau".
"Jadinya kode". Ucapnya sambil menaik-turunkan alisnya.
Riri masuk dengan tergesa-gesa melihat wajah khawatirnya langsung berubah menjadi rasa syukur melihat putranya telah sadar. Anya memberikan ruang untuk Riri melihat Hilmi. Untunglah dengan hadirnya mama di sini membuat rasa malunya tidak terlalu dalam.
Hilmi ini memang keterlaluan, selalu saja menggoda Anya yang selalu polos dalam menjawab. Bukannya Anya masih anak kecil ia sudah dewasa dan tidak seharusnya di bicarakan saat dia baru sadar dari tidurnya yang panjang.
"Syukurlah kamu udah bangun, semuanya khawatir sama kamu apalagi Anya yang selalu ngejaga kamu takut-takut kamu bangun gak ada orang". Jelas Riri.
"Istri Hilmi emang the best ma, nanti juga Hilmi mau minta pulang sama dokter".
"Kamu kan masih sakit Hilmi". Cegah Riri
__ADS_1
"Ma, kasian Anya bahkan sampai sekarang kita belum bulan madu". Jelas Hilmi.
Semenjak Hilmi sadar tingkat ******** nya seperti sudah berkurang. Jika begini Anya lah yang menahan malu atas perkataanya.