Mahasiswa Baru

Mahasiswa Baru
60 MABA


__ADS_3

Sudah satu bulan Anya mual-mual dan tidak ingin makan apapun dan selama itu juga Anya hanya memakan buah-buahan dan banyak meminum jamu.


Tidak ada yang tahu mengenai ini, bahkan mamanya dan Farrel pun belum merasakan keanehan dalam dirinya.


Saat ini Anya sedang berdiri di hadapan cermin besar, ia belum memastikan dirinya benar hamil atau tidak. Benar, Anya belum memeriksanya. Ia takut, takut kalau Anya benar-benar hamil.


Walaupun memang semua tandanya menyatakan kalau Anya adalah orang yang sedang mengalami hamil muda.


Tespek yang tadi ia beli masih terpegang di genggamannya. Ia mencoba menguatkan tekad untuk melakukan ini. Memompa semangat agar ia mampu melewati ini semua.


"Gue harus bisa". Monolognya.


Anya pergi ke kamar mandi sambil mencoba menggunakan alat yang ia beli tadi. Setelah di rasa selesai, Anya menaruh alat tersebut di atas nakas.


Tangannya bergerak cemas melihat perubahan pada alat tersebut. Ia hanya berharap apa yang di alami dirinya selama ini hanya penyakit yang semakin parah.


Matanya menatap was-was seolah dunianya akan berakhir.


Garis itu


Menjadi dua


Seketika badannya benar-benar lemas, tubuh Anya tumbang ke bawah. Seketika ia meluapkan semua apa yang di rasakan selama ini. Menahan rasa mual dan sakit pinggang yang sangat menyiksanya. Lebih parah lagi, Anya seperti tidak menerima takdir tuhan yang di limpahkan kepadanya.


Pikiran untuk menggugurkan kandungannya muncul begitu saja. Seketika Anya memukul-mukul perut berharap semua akan berakhir. Anya mati begitu pula dengan anak di dalam kandungannya.

__ADS_1


Tapi otak waras nya masih berfungsi, Anya mengambil ponsel di atas kasur dan menelpon Devan dengan cepat.


Air mata sudah tidak mampu Anya bendung, bagaimana juga Devan lah ayah dari anaknya ini.


"Angkat Dev".


Sudah ketiga kalinya Anya menelpon Devan tapi tidak ada balasan maupun sahutan dari sana. Ia tahu ponsel Devan aktif, mungkinkah Devan sengaja tidak mengangkat telponnya ?


Sudah muak dengan semuanya Anya cepat-cepat berganti pakaian dan bergegas pergi ke rumah sakit untuk menemui Devan.


Karena tahu jika keadaan jalan akan macet jadi Anya lebih memilih untuk menggunakan gojek. Ternyata sama saja baik menggunakan mobil maupun motor, macetnya Jakarta tidak bisa di toleransi.


Peluh keringat sudah bercucuran dari dahi perempuan itu yang sejak tadi mencoba sabar dan bersahabat dengan keadaan.


"Bang bisa cepetan dikit gak, soalnya saya buru-buru".


******* keluar begitu saja dari bibirnya, mau bagaimana lagi.


"Nih bang ongkosnya, makasih".


Anya langsung berlari meninggalkan Abang ojol, lagipula jarak dari sini dengan rumah sakit tidak terlalu jauh jadi Anya bisa berlari. Ia berharap waktu makan siangnya belum habis jadi ia tidak harus menunggu Devan bertugas.


Nafasnya tersengal-sengal, wajah Anya pun sekarang sudah sangat berantakan. Tidak ingin menunggu lama Anya langsung masuk ke dalam dan mencari ruangan Devan.


Tok tok

__ADS_1


masuk


Mendengar itu Anya langsung masuk, ia melihat Devan yang sepertinya kaget dengan kehadiran dirinya.


"Kemana aja Nya ?".


Pandangan Anya hanya lurus menatap wajah Devan, tersirat rasa marah dalam kilatan matanya.


Devan berdiri dan memegang bahu Anya mencoba untuk menuntun agar ia duduk di hadapannya. Anya yang di tuntun pun menurut saja oleh perlakuan Devan.


"Coba jelasin ada apa ?". Titahnya.


Sepertinya Devan tidak menyadari apa yang telah dia lakukan padanya. Seperti sekarang bahkan ia hanya mengkhawatirkan Anya hanya karena ia tidak datang untuk berobat.


"Aku hamil". Ucap Anya datar.


Devan yang mendengar itu hanya terdiam, seperti orang yang belum yang lemot untuk mencerna perkataan orang lain.


"Aku hamil karena kejadian di antara kita". Anya langsung membuang wajahnya ke sembarang arah. Ia malu sekaligus takut, takut kalau Devan tidak ingin bertanggungjawab.


Baru setelah pernyataan Anya yang kedua Devan langsung mengerti. Dan tidak ada respon dari orang di hadapannya.


"Kalo tau gini gue nyesel sih waktu itu, kenapa gue ngelakuinnya".


Air mata itu keluar lagi dari pelupuk matanya. Benar kata orang, penyesalan hanya akan berada di akhir dan Anya bisa merasakan ini. Betapa ia tersiksanya dengan kenyataan di mana ia harus hamil di keadaannya yang masih muda.

__ADS_1


Target nikah dan mempunyai anak hanya omong kosong belaka. Ia seperti ini juga memang karena di antara keduanya yang di balut ***** waktu itu.


"Kenapa lo gak coba buat gugurin aja ?". Tanyanya santai.


__ADS_2