
Anya menarik nafas panjang sebelum memulai sesuatu yang membuat hidupnya akan berubah. Mereka sudah berada di depan rumah sakit untuk memberi undangan pernikahan mereka pada Devan.
Tadinya ia ingin mencari alibi supaya bukan Anya yang memberikan tapi apalah daya Hilmi menjemput dirinya di rumah dan mengajaknya.
Anya hanya bisa pasrah dengan semua ini, apapun yang akan terjadi ia berdoa semoga semuanya berjalan lancar.
"Ayo sayang". Hilmi menggenggam lengan Anya dan menuntunnya masuk.
Di lantai bawah mata keduanya mengelilingi setiap penjuru rumah sakit, siapa tahu Devan sedang ada di sini.
Tiba-tiba ia melihat sosok yang Anya rasa tidak asing, "Irana". Panggil Anya
Merasa di panggil Irana menoleh dan terkejut melihat Anya, Irana tahu dari Ryan jika Anya menghilang sudah sejak lama tapi kenapa dia ada di rumah sakit.
"Anya". Panggilnya, "Apa kabar". Tanyanya canggung.
"Baik, kebetulan ketemu kamu ke sini. Gue mau ngasih ini". Anya menyodorkan undangan itu dan di terima oleh Irana.
Irana melihat undangan itu dan paham apa yang di maksud Anya. Ternyata Anya akan menikah dengan lelaki yang Irana lihat cukup tampan dan kaya raya.
"Bukannya lo lagi.."
Ucapnya terpotong, "Gue ketemu orang baik yang mau nerima gue sama anak gue".
Irana mengangguk, "Mau ketemu Devan ?". Sepertinya Irana tahu tujuan Anya datang kesini untuk bertemu dengan Devan dan memberitahu pernikahan mereka.
Irana cukup salut dengan hadirnya kembali Anya. Bukan tentang masa lalu yang terjadi di antara Devan tapi kekuatan bisa bertahan saat dirinya tengah mengandung anak orang lain. Apalagi sekarang dia akan menikah, anggap saja itu adalah pertolongan Tuhan pada Anya.
__ADS_1
"Saya harap kamu sebagai teman Anya bisa datang ke pernikahan kita" Hilmi tulus mengucapkan itu dengan senyuman manisnya.
"Ah, saya usahakan datang kok".
"Devan di ruangan mana". Tanyanya.
"Masih di tempat yang sama kok". Kata Irana.
Hilmi yang mendengar itu bingung, bukannya ia baru pertama kali kesini. Hilmi menoleh pada Anya berarti ada orang lain yang pernah bersamanya sebelum bertemu dengan Hilmi.
"Oh iya, makasih" Irana mengangguk, Anya memegang lengan Hilmi dan melangkah menuju lantai atas.
Pertanyaan baru bagi dirinya, Anya memang belum menceritakan kisah Farrel pada Hilmi. Menurutnya itu juga bukanlah sesuatu yang penting, nanti saja lah ia berbicara dengan Hilmi saat keadaan sedang kondusif.
Keduanya berpapasan saat Anya akan membuka pintu, Devan yang melihat mereka pun tidak terlihat terkejut. Dia hanya menaikkan satu alisnya sebagai sebuah pertanyaan.
"Gue di undang ? Kalo masalah perusahaan kenapa gak langsung ke papa aja". Sarkasnya
Terlihat jika Devan tidak suka dengan kehadiran Anya dan Hilmi, menurut Devan sudah tidak seharusnya mereka saling bertegur sapa apalagi saling mengenal. Bukankah mereka sudah bahagia dengan pilihan hidupnya masing-masing ?.
"Saya memang berniat mengundang kamu, terlepas dari hubungan bisnis itu gak ada hubungannya".
"Terus kalian berharap gue datang ?". Tanya Devan.
Dahi Anya mengerut, kenapa Devan sangat memperlihatkan rasa tidak sukanya pada mereka berdua. Ia hanya berbaik hati bukan seharusnya dia yang memiliki malu atas sikapnya.
"Saya harap begitu".
__ADS_1
"Buat ?". Devan melihat surat itu dengan wajah tidak bersahabat, "Lo mau nikahin dia meskipun anak yang di kandung itu anak gue ?".
Devan paham lalu mengangguk, "Kalo gue sih gak mau"
Plak
Anya menampar pipi Devan dengan keras, Hilmi yang melihat itu langsung menariknya menjauh.
"Asal lo tau lo gak berhak mendapat kebahagiaan atas apa yang udah lo lakuin. Satu lagi, sebenarnya gue juga gak berharap lo datang. Gue ngundang lo karena sikap dewasa Hilmi yang dia punya bukan kayak lo. Prik banget sih jadi orang".
Puncak kemarahan Anya sudah keluar, selama bertahun-tahun ia menahan ini semua dengan pertimbangan yang membuat kepalanya ingin pecah. Anya tidak ingin orang seperti Devan semakin besar kepala karena di biarkan.
"Ayo kita pulang". Anya menarik lengan Hilmi menuju lantai bawah meninggalkan Devan yang sedang memegang pipinya karena tamparan Anya.
Sampai di mobil Anya menarik nafas berkali-kali lalu membuangnya. Hilmi yang baru masuk pun berniat menyalakan mobilnya.
"Kamu gak marah ?". Tanya Anya melihat Hilmi, pasalnya Hilmi tidak suka pada sikapnya yang emosional.
"Suka kok".
"Maksudnya ?".
"Sengaja aku nemuin dia biar kamu bisa keluarin semua unek-unek. Gak semua permasalahan harus di pendem sendiri Nya, sekarang gimana ? Mendingan ?".
Benar juga, sekarang dirinya seperti merasa lega karena sebelumnya seperti ada sesuatu yang mengganjal. Sengaja Hilmi ikut mengantar mereka bertemu, agar dirinya bisa menahan emosi Anya yang akan meledak. Dirinya paham pasti akan ada perseteruan antara Anya dan mantannya.
...***...
__ADS_1
Alhamdulillah karya pertama aku sudah sampai di episode ini. Dukungan, komen dan like kalian sangat membantu supaya aku semangat dalam menulis