Mahasiswa Baru

Mahasiswa Baru
38 MABA


__ADS_3

Besoknya sepulang dari kampus ketiganya sudah siap untuk membeli keperluan selama mereka berada di sana. Persetan dengan kampus malah Afra sangat bersemangat untuk bisa pergi ke sana.


Mereka sudah memasuki mall, berjalan sambil melirik pada seluruh penjuru barang apa saja yang akan mereka beli pertama.


"Nya mending kita beli baju dulu ?".


Anya mengangguk setuju, ketiganya berhambur pada toko yang memang sedang mengadakan diskon. Biasa, harga mahasiswa harus standar.


"Nya lo mending pake baju ini ?". Ucap Fani sambil menunjukan kaos oblong.


"Gila lo, sekali aja gue pake bikini !".


"Dia gak tau Nya kalo Jakarta lagi trend yang begini sekarang".


"Sorry ya, Lo gak bisa ngebegoin gue".


Setelah selesai mereka menuju tempat berikutnya, sengaja Anya berpisah dari mereka karena ia ingin membeli sesuatu untuk Devan.


Ia menyusuri rak dengan berbagai aksesori couple yang mungkin Devan akan suka. Tapi Anya tidak tahu bagaimana selera Devan pada barang seperti ini.


Matanya menemukan dua kalung lucu bergambar bulan sabit yang jika di satukan akan menemukan pemiliknya.


"Semoga Bubu suka". Batinnya.


Mereka janjian untuk bertemu lagi di tempat makan lantai atas. Anya yang melihat mereka langsung melambaikan tangannya.


"Abis dari mana Nya ?". Tanya Afra.


Anya hanya tersenyum kikuk, "Lo ini ya kayak gak pernah pacaran aja, ya Anya abis cari kado lah".


Afra ber-oh ria, matanya menangkap sosok yang di kenalnya sedang berjalan dengan seorang perempuan.


"Bukannya itu si Rey ?".


Femi dan Anya pun ikut menoleh kemana arah pandang Afra. Benar saja, di sana Reyhan sedang menggandeng seorang perempuan sambil berjalan ke arah mereka.


"Lo itu buaya juga ya Rey ?".


Reyhan yang baru datang mengangkat satu alisnya, lalu pandangannya jatuh pada Anya yang sedang menunduk.


"Mending gue buaya dari pada dia so setia". Ucap Reyhan menggunakan dagunya.


Keduanya menoleh pada Anya, "Maksud lo apa Rey ?". Ucap Femi.


Anya yang baru sadar bahwa pertanyaan itu di tunjukkan kepadanya langsung menoleh.


"Ck udahlah gue males berdebat sama orang kayak lo pada, yu sayang ". Ucapnya sambil melangkah pergi.


Cewek yang di panggil sayang itu langsung mengangguk manja, Afra hanya bisa menatap jijik pasalnya cewek modelan seperti itu yang selalu mengganggu hubungan orang dan ia pun sudah menjadi korbannya.


"Si Rey udah stress, gak punya selera lagi dia masa pacaran sama modelan molen kayak gitu".


Fani terkekeh mengiyakan, berbeda dengan Anya yang dari tadi sedang berfikir. Mungkin Reyhan bertingkah seperti ini gegara sikapnya yang terlalu jahat.


"Udah Nya, Rey emang gitu kok, Lo baru tau aja sikap aslinya". Tegas Fani.


"Emang semua orang gitu ya ?".


"Gitu gimana ?".


"Selalu nunjukin topengnya dulu baru nunjukin sikap aslinya".

__ADS_1


Keduanya menoleh, tidak biasanya Anya seperti ini. Lagipula sudah berapa kali Anya di tipu oleh orang-orang yang sebelumnya ia anggap baik malah menusuknya dari belakang.


"Tenang Nya, Lo udah tau gue kok gue emang gini orangnya". Ucap Afra menenangkan.


"Gila".


"Lo tuh suka mancing gue tau gak Fan ?".


Ketiganya terkekeh lagi dengan lelucon yang sangat garing menurutnya. Bahkan Anya yang tadinya murung mulai tertawa kembali.


...***...


Tak terasa hari sudah berlalu dan sekarang di rumah Anya mereka telah bersiap untuk berangkat. Arin sudah mengizinkan Afra dan Fani untuk ikut katanya mereka ingin tahu Jakarta.


"Barangnya udah di masukin semua Nya ?".


Sambil menghitung kembali Anya mengangkat jempolnya. Untuk perjalanan kalo ini yang membawa mobil adalah mang Udin supir rumahnya. Papahnya tidak ikut. karena sedang sibuk urusan kantor.


Baru saja mobil tak lama melaju, keduanya sudah beradu mulut yang entah memperebutkan apa.


"Pelit Lo mah ah Ra ?".


"Gue gak bisa tidur kalo gak pake headset Fan, makannya Lo tuh kalo bawa apa jangan lupa kayak nenek-nenek panti jompo?".


"Lah namanya juga lupa kan gak ada obatnya?".


"Kalian ini kenapa berantem ?". Tanya Anya.


"Tuh si Fani Nya mau pinjem headset gue, kan gue gak bisa tidur kalo gak pake ini".


"Gue lupa bawa Nya". Ucapnya sambil memelas.


"Ya udah pake nih yang gue !". Sambil memberikan handset miliknya.


Anya mengangguk, "Makasih ya ? Baik deh Lo gak kayak orang di samping gue". Ucapnya sambil mendelik ke arah Afra.


"Makasih ? Inget minjemin Fan bukan ngasih". Jelasnya.


"Iya ih lo ini berisik banget".


Melihat pertengkaran mereka Anya hanya menggelengkan kepala, beberapa menit kemudian suasana sunyi kembali ternyata keduanya sudah terlelap tidur.


Anya pun memilih untuk ikut bersama mereka ke alam mimpi. Semoga dengan ia tidur bisa cepat sampai dan bertemu dengan Devan.


Sejak insiden kemarin Devan dan Karen menjadi dekat kembali. Bahkan Devan menemani Karen sampai ia tertidur, menjemputnya ke kampus, menemaninya makan siang dan sampai sekarang mereka barengan mengerjakan tugas.


"Dev aku gak ngerti yang ini maksudnya apa sih ?".


Devan melihat tugas yang tidak di mengerti oleh Karen kemudian mengajarkannya. Sebenarnya ini hanya alibi Karen untuk bisa menatap wajah Devan lebih dalam karena ia sudah paham dengan apa yang dosen jelaskan.


Karen mengangguk pertanda paham, "Aku nanti bareng lagi ya pulangnya sama kamu ?".


Devan mengangguk, "Jangan lupa di minum Kar obatnya".


Ahh, ia rela minum obat selama hidupnya pun asalkan Devan selalu perhatian seperti ini, "Nih, di bawa kok".


Ucapnya sambil menunjukan obat, "Pinter".


"Kemarin aja ngamuk kayak orang kesetanan sekarang lengket banget". Ucap Ryan yang baru saja masuk ruangan bersama Irana.


Irana yang bingung kenapa Devan bisa dekat lagi dengan wanita ini hanya mendelik.

__ADS_1


"Iya dong, eh Nya nanti pulang kampus bioskop yu ?".


"Emang lo mau Dev ?". Tanya Ryan memastikan.


Devan menoleh pada Karen, "Mau yah sekali aja".


Kemudian di balas anggukan oleh keduanya, "Jadinya couple date deh, gue sama Devan lo sama Irana". Ucap Karen senang.


"Lo belom sadar juga ya Kar, Devan itu udah punya pacar".


Karen mengedikan bahu tidak perduli, "Gapapa jauh dia gak bakal tau ?".


"Maksud lo, lo nyuruh Devan buat selingkuh ?".


Ryan yang merasa perdebatan ini akan semakin panjang langsung membawa Irana pada tempat duduknya.


Mereka telah sampai di villa yang Arin boking untuk beberapa hari ke depan, Anya yang sadar kalau sudah sampai langsung mengerjapkan matanya.


"Afra Anya Fani bangun sayang udah sampai". Ucap Arin sambil membuka bagasi mobil.


"Udah sampe mah ?".


"Udah, kamu sekarang bawa koper ke dalem ya ?".


Anya mengangguk, di susul oleh Afra dan Fani yang baru bangun.


"Mang Udin Anya pinjem mobil ya mau di pake sebentar ?".


"Iya neng, ini kunci mobilnya".


"Fan Ra gue ke luar dulu ya sebentar kok, Lo di sini aja sama mama ?".


Keduanya menganguk sambil membawa koper masing-masing ke dalam villa.


Anya langsung membawa mobil berwarna merah tersebut keluar dari villa menuju kampusnya dahulu. Sekarang masih jam kelas jadi pastinya mereka belum pulang.


kebetulan jarak dari villa yang ia tinggali dekat dengan kampusnya tidak butuh waktu lama untuk Anya bisa sampai di sana.


Lebih baik ia memakirkan mobil di depan kampus karena ia merasa bukan lagi bagian dari mahasiswa Airlangga. Di bawanya kotak yang ia beli sewaktu di Bandung kemarin.


Di parkiran ia menjelajahi motor Devan yang sedang terparkir, bibirnya tertarik tak kala motor itu ada di bagian depan.


Anya memilih untuk berdiri dan menunggu sampai Devan keluar, sudah setengah jam Anya menunggu tetapi belum ada tanda-tanda Devan.


"Mungkin dia lagi ikut organisasi". Dialognya.


Tapi matanya langsung berbinar saat melihat Devan yang sedang keluar bersama Ryan dan Irana di belakang. Anya langsung keluar dan menghampiri mereka dengan membawa kotak itu di tangannya.


"Dev". Dalam jarak yang dekat Anya memanggil.


Ryan dan Irana pun kaget dengan kehadiran Anya secara tiba-tiba apalagi ia masih di kampus.


"Anya kamu ke sini, kenapa gak bilang ?".Ucap Devan kaget.


Tapi senyuman Anya luntur takala ada seseorang yang menggenggam lengan Devan kuat, "Maaf yah aku lama ?". Ucapnya manja.


Hatinya seperti di remas kuat, apalagi bibirnya sudah sangat kaku untuk berbicara. Ia hanya bisa terdiam dalam keadaan seperti ini.


Devan yang menyadari itu langsung melepaskan genggaman Karen dan menggenggam lengan Anya.


Seketika ia merasa dunianya runtuh dan wanita itu kenapa ia bisa sangat mirip dengan dirinya. Paper bag yang ia pegang pun sudah jatuh di atas tanah, ia tak percaya Devan akan mengkhianati dirinya seperti ini.

__ADS_1


Di lepaskan nya genggaman Devan pada tangannya lalu ia melangkah mundur secara perlahan.


__ADS_2