Mahasiswa Baru

Mahasiswa Baru
59 MABA


__ADS_3

Sejak tadi Anya hanya terdiam merenungi hal yang barusan ia dan Devan lakukan. Mereka bercanda terlalu jauh, dan itu sangat tidak lucu. Bagaimana tidak keduanya melakukan hal yang seharusnya Anya dan Devan hindari.


Ya tuhan bagaimana ini.


Anya menjambak rambut menggunakan kedua lengannya. Kehormatan dirinya sebagai perempuan sudah hancur, kenapa ia begitu menikmati sentuhan dan sensasi yang Devan berikan padanya.


Badannya begitu lemas, sekarang Anya hanya bisa pasrah dengan keadaan. Di lihatnya jam menunjukkan pukul 6 sore tapi mamanya belum pulang juga.


Lebih baik ia bangkit dan membersihkan diri, baru saja melangkah bagian selangkangannya sangat sakit saat di gerakkan. Pakaian yang ia gunakan tadi pun sudah berserakan tak beraturan.


"Bego banget sih gue". Anya melempar barang apapun untuk melampiaskan rasa kesalnya.


Tapi percuma.


Semua tidak akan kembali. Ia merasa gagal menjadi seorang anak sekaligus menjadi seorang pacar. Anya sudah mengkhianati Farrel dengan kelakuan dirinya yang seperti ini.


...***...


"Nya kamu kenapa sih, akhir-akhir ini diem mulu gak kaya biasanya". Bagaimana Farrel tidak bingung dan khawatir. Sudah satu minggu ia melihat Anya selalu terdiam seperti tidak ada semangat.


Satu ulasan senyum terbit di bibir Anya, "Gak papa kok sayang, cuman gak enak badan aja". Jelasnya.


Lengan Farrel bergerak menuju dahi Anya dan mengecek keadaan, "Tapi enggak panas, atau kamu sakit lagi ? Terus kenapa kalau aku ajakin kamu berobat selalu gak mau".


Alasan apa yang harus dirinya berikan pada Farrel.

__ADS_1


Mereka saat ini sedang berada di cafe tempat yang selalu mereka kunjungi. Farrel menaruh sedikit rasa curiga, karena tidak biasanya Anya bertingkah seolah-olah menutupi sesuatu.


Anya mencoba menetralkan mimik wajah dan tubuhnya agar Farrel yakin dengan dirinya. Sedari tadi Anya tidak berselera melihat makanan dan minuman yang bahkan dirinya selalu memesan jika berkunjung kesini.


"Sayang". Panggil Farrel.


Anya menoleh, "Aku udah bicara sama mama tentang pernikahan kita".


Tubuh Anya mendadak beku. Ia menggigit bibir bawah untuk menahan ini semua. Pasti Farrel tidak akan menerima dirinya yang sudah tidak perawan.


Pernyataan itu lagi-lagi menusuk ke dalam hatinya.


Kata tidak perawan sudah ia sangkal beberapa kali. Tapi kenyataannya memang begitu, malah Anya selalu ingin menangis dan meraung pada nasib. Mencoba menyalahkan hal ini yang jelas-jelas salah dirinya sendiri.


"Makan Nya, aku suapi ya".


Tidak mungkin ia berlagak seperti akan muntah di hadapan Farrel, "Aku ke toilet dulu bentar".


Anya langsung pergi meninggalkan Farrel yang termatung di tempatnya. Sungguh, Anya tidak bisa menahan ini semua, sampai di toilet Anya memuntahkan semua yang mengganjal perutnya.


Huh huh


Tidak ada yang keluar, Anya bingung kenapa tubuhnya beraksi seperti ini.


"Ini mba kalau butuh". Anya menoleh di sana ada seorang ibu paruh baya yang memberinya minyak hangat.

__ADS_1


Anya mengambilnya dan tersenyum, ia mengoles pada perut dan dahinya yang terasa sedikit pusing. "Makasih bu". Ucap Anya sambil di kembalikan pada ibu di sampingnya.


"Ibu hamil memang perlu ini kemana-mana".


Deg


Ibu hamil.


Seketika raut wajah Anya berubah menjadi sendu. Oh tuhan apa dirinya hamil ? Tapi bukankah ini baru seminggu akibat hubungannya dengan Devan ?.


Masalah baru untuk Anya. Sorot mata cermin besar di hadapannya seolah berbisik kalau ia terlalu ceroboh sebagai orang perempuan.


Tuhan bagaimana jika sudah begini. Apakah ia harus meminta pertanggungjawaban pada Devan. Sejak Devan melakukan hal tersebut pada Anya seolah cowok itu menghilang dari peradaban bumi.


Devan tidak pernah menghubungi Anya dan sebaliknya Anya tidak pernah menjalani perobatan lagi di rumah sakit. Lalu bagaimana dengan Farrel ?.


Lelaki itu terlalu baik untuk ia khianati. Entah karma apa yang menanti dirinya di masa depan yang pasti ia menjadi sangat jijik pada dirinya sendiri.


"Kok lama banget Nya ?".


Anya kembali menemui Devan setelah ia mengambil keputusan di toilet tadi. Anya sudah dewasa seharusnya ia bisa mengambil keputusan yang bijak untuk kehidupan di masa depannya nanti.


"Pulang dulu ya Rel".


Farrel hanya mengangguk mendengar permintaan Anya. Ia berdiri dan berjalan ke arah kasir untuk membayar makanan.

__ADS_1


Anya yang melihat sosok Devan sedang menggandeng perempuan pun terheran dari arah cafe. Ia tidak salah lihat, itu benar Devan dan siapa perempuan itu ?.


Anya tidak pernah melihat Devan dekat dengan seorang perempuan selain dirinya. Yang lebih membuat Anya sakit hati lagi adalah Devan seperti tidak ada rasa bersalah setelah mengambil apa yang Anya punya.


__ADS_2