Mahasiswa Baru

Mahasiswa Baru
56 MABA


__ADS_3

"Gimana hasilnya ?".


Normal


Normal


Ucap Devan dan Farrel berbarengan, keadaan semakin tidak menentu. Anya memandang arah keduanya, lalu menganggukkan kepala.


"Betul normal, jadi kamu bisa mulai kemoterapi lagi mulai besok, jangan lupa di bawa obat sama kertas kemarin terus tanda tangan di bawah nama". Devan menyodorkan kertas yang telah di tanda tangani oleh Devan.


"Ini buat apa ?". Tanya Farrel.


"Kalau ada apa-apa saya yang bertanggung jawab atas pengobatan jalan Anya". Farrel menaikan satu alisnya kemudian memberikannya lagi pada Anya.


"Boleh pinjem pulpen ?". Tanya Anya.


Keduanya saling meminjamkan Anya pulpen, baik Devan maupun Farrel sepertinya mereka sudah mengerti keadaan apa yang mereka rasakan saat ini.


Devan mengembalikan pulpen yang ia pinjamkan pada tempatnya. Kenapa ia berbuat ceroboh seperti ini, sangat memalukan tapi Devan mencoba untuk tetap stay cool.


"Udah". Jelas Anya


"Udah selesai apa masih ada yang lain ?". Tanya Farrel.


Devan kembali mengecek semua syarat yang di perlukan atas pergantian pertanggungjawaban. Di rasa tidak ada lagi Devan membereskan kembali kertas yang berserakan di mejanya.


"Semuanya udah beres".


"Makasih Dev, gue pulang dulu". Ucapnya Anya sambil berdiri.


Devan mengangguk, setelah Anya dan pacarnya sudah keluar baru Devan bisa bernafas lega.


Apakah selamanya mereka akan seperti ini ? Seperti ini yang di maksud Devan adalah ketidaknyamanan di antara mereka. Mungkin ini terdengar lucu, tapi kenapa seolah ketiganya merasakan hal yang sama yaitu. Canggung.


Devan mengusap wajah gusar, andai saja ia tidak mengantar Anya pulang kemarin mungkin keadaannya tidak akan seperti ini. Ah harusnya Devan ikhlas akan hal itu, yang perlu di garis bawahi adalah permintaan tante Arin mengenai penyakit Anya.


Ia menghela nafas pelan. Mungkin ini jalan Tuhan agar menebus rasa bersalahnya pada Anya. Tapi kenapa harus begini ? Devan tidak suka berada dalam situasi terjebak. Menurutnya itu membuat dirinya tertekan.


Tok Tok


Di balik pintu Ryan muncul dan berjalan ke arah kursi yang tadi di duduki oleh Anya. "Muka lo kusut bener ?". Cibirnya.


"Anya tadi nyariin lo ?".


"Hmm".

__ADS_1


"Hmm? Maksud Lo ?".


"Iya tadi dia kesini". Jelas Devan sambil membuka botol minum, entah kenapa tenggorokannya terasa sangat kering.


"Kenapa dia nyariin lo ?".


Ryan memang belum tahu mengenai kejadian di antara Devan dan Anya. Mungkin dengan Devan bercerita kepada Ryan, dia bisa memberikan solusi atas permasalahannya.


"Gue tau kalau dia itu masih butuh pengobatan karena belum sembuh. Terus mamanya kemarin minta gue buat jadi pendamping atas pengobatan dia". Jelas Devan.


Ryan mendengarkan dengan seksama, "Sampe selesai ?". Tanyanya


"Bisa di bilang begitu".


Ryan paham ini memang akan berat untuk Devan di tambah sekarang Anya sudah mempunyai pacar dan selalu mengantarnya. Bukankah itu akan menghambat interaksi di antara keduanya.


Menjadi profesional dalam bekerja memang mudah tapi berhadapan langsung dengan seseorang yang pernah ada dalam hidup apalagi pasien sendiri itu memang sulit. Bahkan mereka harus berinteraksi seolah tidak mengenal.


Tring


Suara ponsel Devan berbunyi, lengannya menggapai ponsel tersebut dan melihat ada seseorang yang mengirim pesan.


Di sana tertera nama Anya, kening Devan bergelombang ada apa Anya mengirimkan pesan pada dirinya.


"Anya". Dalihnya.


^^^Anya : ^^^


^^^Bisa ketemu sebentar gak, sekalian makan siang kalo lo belom^^^


Bukankah barusan mereka baru bertemu kenapa Anya mengajak dirinya bertemu lagi. Devan seharusnya sadar jika Anya sudah mempunyai pacar seharusnya ia lebih bisa memahami keadaan mereka.


Setelah memutuskan Devan memberitahu jika ia tidak bisa menemui Anya.


Alis Ryan mengangkat pertanda Ryan ingin tahu, tapi Devan hanya menyimpan kembali ponselnya pada saku.


"Anya ngajak gue ketemu".


"Emangnya ada apa".


Devan mengedikan bahu, ponsel itu kembali berdering dengan nama yang sama. Devan hanya melihat logo ponsel yang terus bergetar tanpa ia angkat.


Ryan yang melihat itu merasa aneh, "Kenapa ga di angkat ?".


"Gue sih yang salah, harusnya gue gak kenal lagi sama dia".

__ADS_1


"Dengan lo bicara kayak gitu, lo tuh kayak ganggu hubungan mereka tau".


Alis Devan terangkat satu, "Maksud lo".


"Coba deh lo bersikap biasa aja, seolah semuanya itu emang udah berlalu. Dengan lo begini Anya tuh mikir kalo lo masih cinta sama dia. Itupun kalo lo udah gak cinta".


Ucapan Ryan benar-benar menampar dirinya, dengan mereka sering ketemu untuk berobat saja membuat dirinya kewalahan apalagi bersikap seolah tidak mencintai. Akankah dirinya bisa ?.


"Lo tuh kebanyakan mikir, mending sekarang lo temuin dia. Lo omongin deh apa yang ada di hati lo semuanya dari pada kayak gini basi tau gak Dev". Semoga dengan Ryan berbicara seperti ini bisa menyadarkan Devan.


Benar juga, ia kembali mengirim pesan dan menyetujui pertemuan ini. "Gue pergi".


Ryan mengangkat jempol satu untuk sahabatnya yang tengah di rundung dilema. Devan berjalan dengan terburu-buru, di pertengahan jalan ia melihat dokter Renata yang tengah menatap ke arah dirinya sambil tersenyum.


Kenapa harus ketemu sekarang. Batinnya.


Baru Renata akan menyapa Devan tapi Devan hanya tersenyum singkat dan melengos. Matanya terus menatap ke mana kaki Devan melangkah.


Tidak biasanya Devan seperti orang yang khawatir seperti itu. Otaknya menuntun Renata untuk mengikuti ke mana Devan pergi, tidak ada kerjaan memang tapi mau bagaimana lagi ia sangat penasaran.


"Sorry lama". Ucapnya sambil duduk.


Setelah menyadari Devan baru datang Anya mengangguk, "Gapapa".


"Ada apa ?". Devan langsung to the poin menanyakan tentang pertemuannya.


Pandangan Anya begitu kosong, ia terus memilin bajunya. Seperti ada rasa takut yang benar-benar menyiksanya.


Sebelum berbicara Anya membasahi bibirnya yang kering, "Gue bisa sembuh gak Dev ?".


"Kenapa tiba-tiba lo nanya kayak begini ?". Kenapa Anya tapi menanyakan masalah ini saat dia berada di rumah sakit. Kenapa harus disini, bukannya ini hanya menambah pekerjaan bagi dirinya karena harus bolak-balik.


"Gue tau umur gue gak panjang lagi". Tatapan matanya tiba-tiba sayu, seolah Anya memang sudah putus asa dengan hidup yang sedang ia jalani.


"Dokter bukan tuhan".


Anya menoleh, air matanya mengalir begitu saja melalui pipinya. Banyak hal yang belum Anya gapai, bahkan untuk membahagiakan orang tuanya saja ia belum bisa.


Anya berdiri dan pindah tempat duduk di samping Devan, kemudian ia memeluk Devan dengan kencang.


Devan yang mendapat perlakuan secara tiba-tiba kaget, sebenarnya apa yang terjadi dengan Anya. Kenapa anak ini menyinggung soal kematian yang bahkan itu hanya tuhan yang tahu.


"Gue mau nanya Dev, tapi lo harus jawab jujur". Isakkan tangisannya seolah membuat Devan terhipnotis, ia mengusap bahu Anya agar perempuan ini bisa lebih tenang.


"Apa lo masih cinta sama gue ?".

__ADS_1


__ADS_2