Mahasiswa Baru

Mahasiswa Baru
31 MABA


__ADS_3

Ryan menghempaskan tubuhnya ke dalam kasur. Ia seperti bebas saat Irana jauh darinya bagaimana tidak, Irana selalu mengekor kemanapun dirinya pergi mulai dari berangkat kampus sampai dengan ia selesai organisasi.


Bukan risih yang dirinya rasakan tapi lebih tepatnya ia sedikit susah untuk memiliki waktu sendiri. Ia mencoba memejamkan mata untuk melepas penat yang di rasakan selama sehari penuh.


Tapi otaknya selalu menarik pada kejadian di mana Devan membentak. Ia tahu Devan bukan lah seseorang yang mudah meledakkan amarah, apa sebaiknya Ryan meminta maaf ?.


"Kenapa sih otak gue pusing mulu gara-gara hal beginian doang !".


Mereka telah menjalin persahabatan cukup lama jika dulu waktu SMA keduanya saling menutupi kesalahan. Dulu Ryan yang lupa membawa tugas selalu di pinjamkan buku oleh Devan begitu pula sebaliknya.


Tangannya meraba sesuatu di atas nakas di bawanya handphone dan ia melihat baru jam 9 malam sekarang.


Di ketuknya handphone itu sambil ia berfikir. Kenapa tidak ? Ryan langsung memakai jaket kulitnya dan mencari kunci motor, berjalan kebawah sambil izin kepada bundanya untuk pergi ke rumah sahabatnya itu.


Karena jalanan cukup senggang malam ini membuat Ryan bisa ngebut sesuka hatinya. Melihat jalanan yang tenang membuat ia menjadi merindukan masa nakalnya waktu sekolah dulu.


Dulu Ryan merasa semua hal hanya untuk bermain tanpa memikirkan masa depan. Haha hihi dengan teman dan pulang dalam keadaan larut malam. Sekarang ia sudah cukup menggunakan masa mudanya dengan hal yang membagongkan seperti itu.


Butuh waktu 20 menit untuk sampai di rumah Devan. Di ruangan tv ada Tante Femi yang sedang menikmati kopi, "Malam tante !".


"Eh ada Ryan, lama kamu gak ke sini ? Gimana kabarnya ?".


"Baik tante. Ryan ada perlu sama Devan tan ? Devan ada ?".


"Ada. Keatas aja !".


Ia pergi menaiki anak tangga karena kamar Devan ada di atas. Rumah ini memang seperti rumah sendiri baginya, bagaimana dulu ia selalu menginap dan bermain di sini sampai tidak ingat waktu.


Di kamar Devan sedang melepaskan rindu pada kekasihnya yang jauh tapi kegiatannya terhenti karena ada seseorang yang membuka pintu kamarnya.


"Ngapain Lo kesini ?". Tanyanya datar.


Ryan melempar jaketnya ke atas kasur, "Emang kenapa ? Gak boleh ? Gue kangen aja sama kamar lo ?".


"Basi".


Tak sengaja ia melihat Anya yang sedang memandang dirinya dari balik laptop. Ada rasa tak enak karena permasalahan kemarin yang di rasa belum ia bereskan.


"Eh lo Nya ! Maafin gue ya gegara masalah waktu itu. Kalo lo tau sikap asli gue ya begini !".


Laptop yang di gunakan untuk berbicara dengan Anya telah di kesampingkan oleh Devan, "Apaan sih lo Dev ? Gue mau minta maaf juga".

__ADS_1


Di baliknya lagi laptop yang di pegang Devan, "Lo tuh mau laptop gue rusak, awas tar skripsi gue ke delete gara-gara tangan usil Lo itu !".


Di sana Anya tengah terkekeh dengan kelakuan dua lelaki itu. Seperti anak kecil menurutnya, "Lo mau maafin gue kan Nya ?". Tanyanya serius.


"Seharusnya gue paham juga akan posisi Lo saat itu tapi gue malah egois kayak gini, kalo lo gak mau maafin gue gapapa kok Nya ! Besok lagi juga bisa".


Di jitak kepala sahabatnya itu membuat Ryan mengadu kesakitan, "Lo emang gak pernah serius kalo minta maaf sama orang !".


Lagi lagi Anya terkekeh melihat keduanya bertengkar, "Gue maafin kok Yan, gue juga udah lupa sama masalahnya. Terus kapan lo mau main ke sini sama Bubu ?".


"Bubu ?". Beo Ryan pada Anya.


Ia tidak mengerti. Siapa bubu itu ? Saat menoleh ke belakang Devan tengah menutup kepalanya menggunakan selimut.


"Bubu siapa ?".


"Oh iya lupa maksud gue Devan ?".


Ingin rasanya Ryan tertawa keras sekarang juga. Orang yang tadi di sebut malah berteriak untuk dirinya berhenti menertawakan.


"Aku tutup dulu ya Dev ?".


Di lihatnya Ryan seperti orang yang akan muntah karena melihat percakapan mereka tapi malah di beri tatapan tajam oleh Devan.


"Mau makan dulu soalnya aku lupa".


"Ya udah jangan telat makan ya Bu ?".


Di sebrang sana Anya mengangguk lalu melakukan hal-hal yang membuat Ryan terpingkal, Devan dan Anya memang seperti anak SMP yang sedang dalam tahap alay alias seperti pertama kali berpacaran.


Di tutupnya laptop yang di gunakan Devan untuk melakukan hubungan jarak jauh, "Bu, bu, Bu Mariah kali ah !".


"Apaan sih lo kayak gak pernah pacaran aja". Ucapnya sambil menoyor kening Ryan.


"Dev ps ?".


Ucapan Ryan membuat dirinya diam seketika tapi yang membuat keduanya terpaku adalah Ryan juga ikut terdiam.


Sebenarnya Ryan juga takut kalau Devan sedang tidak ingin bermain, di lihatnya lelaki itu berjalan mendekati dirinya.


Hingga jarak mereka sudah dekat Devan menatap tajam ke arah Ryan. Tatapan keduanya sangat dalam sampai-sampai suara AC di ruangan pun terdengar.

__ADS_1


"GAS !".


"GAS !".


Ucap keduanya berbarengan. Ryan berjalan ke arah TV untuk menyalakan remote ps sedangkan Devan ke dapur untuk membawa minuman dan makanan. Jika begini pasti mereka akan begadang apalagi besok ada kelas pagi tapi Ryan dan Devan tidak peduli.


...***...


Cacing dalam perut Irana sudah meronta minta si empunya agar cepat mengisi makanan. Malam ini sudah pukul 10 dan entah kenapa ia sangat malas hanya untuk berdiri saja padahal jarak rumahnya dengan minimarket sangat dekat.


Di simpannya handphone yang sedang ia pegang untuk mengscrol media sosial. Biasa, Irana adalah orang yang terlampau kepo dengan permasalahan dunia maya.


Kakinya melangkah berat untuk keluar pintu kamar di bawanya jaket dan uang untuk dirinya membeli makanan. Jalanan malam ini cukup sepi dan hanya ada beberapa motor dan mobil yang melintas.


Setelah jalan sekitar 10 meter barulah ia masuk dan melihat berbagai cemilan untuk mengganjal perutnya, karena kalau malam-malam seperti ini Irana sangat malas makan besar apalagi masak karena bagi dirinya itu sangat merepotkan.


"Gue beli apa ya ?". Dialognya.


Di ambilnya beberapa makanan dan minuman lalu ia membawanya ke depan kasir untuk membayar. Merasa semua sudah selesai ia memasukkan sebagian kembalinya ke dalam dompet sampai tidak memperhatikan jalan.


"Aduh !".


Dirinya jatuh akibat bahunya yang di senggol oleh seseorang. Ia merasa bahwa sekarang bokongnya sangat sakit akibat berbenturan dengan lantai.


"Lo tuh bisa.. "!.


Ucapan Irana tercekat karena seseorang yang ada di hadapannya sekarang.


"Maaf, biar saya bantu".


Orang itu memegang lengan Irana untuk membantunya berdiri, orang yang di bantunya malah kaget dengan semua ini. Bagaimana dia ?.


"Masih sakit ?" Tanyanya.


Irana menggeleng lemah sambil terus memperhatikan orang di depannya.


"Ya udah saya pulang dulu".


Irana mengangguk dan masih melihat orang itu sampai habis di telan pintu. Otaknya terus berputar, rasanya ia sedang bermimpi sekarang.


"Karen, dia masih hidup ?".

__ADS_1


__ADS_2