
Keduanya saling terdiam dan belum ada yang buka suara, Anya hanya menunduk menunggu penjelasan dari Devan.
"Nya".
Devan memegang dagu Anya untuk bisa melihat wajahnya.
"Kenapa ?".
"Emang kenapa ?". Tanya Anya bingung.
"Kamu sehat kan Nya ? Pucat banget".
Anya menyingkirkan lengan Devan lalu mengangguk.
"Maafin soal Karen Nya, dia gak salah aku yang salah".
Kenapa kamu yang salah ?". Sudutnya.
Ia mencoba memegang lengan Anya agar lebih percaya, "Dia sakit gara-gara aku dan aku coba bertanggung jawab atas itu. Sekali lagi maafin".
Andai Devan tahu dirinya pun sedang sakit, Jika Devan tahu, apa dia akan berlaku sama seperti dia terhadap Karen. Jujur Anya sangat membutuhkan Devan, tapi kenapa malah cewek lain yang Devan perhatikan.
Pertanyaan itu hanya tercekat di dalam hatinya, "Sampai kapan kamu mau bertanggung jawab sama dia ?".
Devan terdiam
Anya tersenyum miris ia sudah tahu apa yang sedang depan rasakan, yang lebih parah lagi dia hanya diam tanpa menjawab.
"Lanjutin dulu Dev soal masalah kamu, kalau udah selesai kamu boleh ke sini lagi".
"Maksudnya kamu ngusir aku Nya ?".
"Mencoba bersikap dewasa tentang masalah kayak gini emang perlu kesabaran yang lebih Dev, dan aku lagi mencoba itu". Jelasnya.
Devan tersenyum kecut, "Dengan mencoba ngehindar dari masalah malah ngebuat lo makin lemah Nya".
Apa dia bilang ? lemah ? Dasar cowok gak tahu diri dia sudah menyakiti tapi malah menambahi dengan perkataan yang membuat Anya down.
Devan menoleh, "Keluarin aja yang ngebuat lo ngerasa sakit, jangan di pendem. Karena itu gak akan nyelesain masalah".
Oke jika Devan ingin tahu apa yang sedang dirinya rasakan maka Anya akan mengeluarkanya.
"Lo tau Dev apa yang lagi gue rasakan ?".
__ADS_1
Devan memusatkan seluruh tubuhnya pada Anya.
"Gue gak terima orang lain lebih di perhatiin dari pada gue, terlebih dia mantan kamu kan Dev ?".
"Kalo gini lo yang egois Nya ?".
"Kenapa ?".
"Karena lo selalu mentingin diri sendiri dari pada orang lain, gimana kalo itu nyokap gue yang emang butuh gue?".
"Itu beda cerita". Sarkas Anya.
Devan menaikkan satu alisnya, "Sama Nya, lo akan ngerasa perhatian gue akan terbagi cuma karena lo selalu ingin perhatian penuh atas dasar cinta".
"Cinta itu saling berbagi bukan tentang saling memenuhi". Lanjutnya.
Sudahlah sekarang Anya seperti sedang di tampar oleh kenyataan. Tapi apakah dirinya salah meminta hal seperti ini di saat keadaan tubuhnya sedang tidak mendukung.
Keduanya saling bergeming, Anya berdiri dari duduknya lalu menoleh pada Devan.
"Kita akhiri hubungan ini ya Dev ?".
Kalimat itu seolah keluar saja dari bibirnya, Anya memejamkan matanya entah apa yang akan Devan sekarang lakukan yang ia tahu pasti Devan akan marah.
"Jangan begitu Dev ?".
"Terus".
Afra dan Fani tak sengaja mendengar pertengkaran di antara Anya dan pacarnya. Keduanya saling berpandangan, mereka juga tidak bisa melerai karena itu memang urusan Anya.
"Lo tau kan penyakit yang di derita dia emang berat, dan apa yang kamu bilang Dev mungkin Karen lebih butuh Lo dari pada gue".
"Jangan bohong Nya, Lo masih cinta kan sama gue gitupun sebaliknya. Kasih gue waktu buat lo balik percaya sama gue Nya".
Devan berdiri, "Gue pulang dulu, jaga kesehatan". Ucapnya sambil melangkah pergi.
"Bodoh bodoh, kenapa gue bilang kayak gitu".
Anya menjambak keras rambutnya, demi tuhan ia masih sangat mencintai Devan bahkan sampai kapan pun Devan tetap menjadi salah satu orang yang ia sayangi.
Memang benar dirinya egois, kenapa dirinya terlahir menjadi orang yang egois ? Anya pun tidak tahu. Ia hanya tahu menjadi orang yang selalu mendapat perhatian penuh atas orang di sekelilingnya.
"Nya". Ternyata itu Fani dan Afra yang sedang memandang dirinya penuh kasihan, "Keluarin aja semua kekesalan lo Nya, itu bukan hal yang buruk kok".
__ADS_1
Air matanya kembali keluar setelah Afra berbicara seperti itu.
Fani mengangguk, "It's normal. Hal yang negatif itu belum tentu buruk dan belum tentu hal positif itu baik".
Anya menumpahkan semua air matanya di hadapan mereka, ah sekarang mereka menjadi melihat bagaimana titik terendah dalam hidupnya hanya gara-gara cinta.
...***...
Irana dan Ryan sedang makan siang bersama di rumah Ryan. Siang ini Irana sedang baik karena mengantarkan lauk pauk untuk makanan mereka.
"Menurut lo Devan bakal milih Karen apa Anya ?". Tanya Irana di sela-sela makannya.
Ryan hanya mengedikan bahu.
"Menurut gue sih dia bakal pilih Karen secara Karen masa lalunya".
Terlihat Ryan sedang berfikir, "Semua bisa berubah Ran".
"Berubah ? Siapa ?".
"Lo tau orang itu gampang banget berubahnya apalagi masalah hati. Setau gue Devan orangnya gak kayak gitu tapi setelah gue liat dia lagi kayaknya dia emang sayang sama si Anya".
"Terus Karen !".
"Masalah Karen gue juga gak tau tempat dia dalam hidup Devan sekarang. Tapi yang pasti udah pindah posisi menurut gue".
Irana tersenyum senang, "Miris banget hidupnya si Karen. Dia hidup lagi buat Devan tapi Devan hidup buat orang lain".
"Doain aja sih semoga mereka akur". Jawabnya.
"Tapi lo tau kan gimana sikap si Karen ?".
Ryan mengangguk, "Itu yang gue takutin, kayaknya bakal ada kejadian besar kalo bener-bener si Devan jauhin Karen".
Irana mengiyakan petisi Ryan karena Karen adalah tipe orang yang nekat persis seperti dirinya.
"Tapi Yan, si Devan masih cinta gak sih sama Karen menurut lo ?".
"Menurut gue ada, sedikit mungkin secara dulu Devan sayang banget sama dia. Meskipun kata gue tadi waktu udah ngerubah semuanya. Coba aja dia gak pindah rumah sakit atau di nyatain meninggal gak bakal kayak gini kejadiannya". Jelasnya.
Semua yang Ryan jawab Irana memang setuju, semenjak Karen dan Anya saling merebutkan Irana sudah melepaskan Devan dengan ikhlas.
Entahlah hatinya sekarang sudah ingin mencoba mencintai Ryan, Ryan saja bisa mencintai dirinya dengan sebegitu tulus masa Irana tidak bisa.
__ADS_1