
"Maksud lo apa ngebentak Anya kayak tadi ?". Ryan yang sedang duduk di kantin cukup terganggu dengan suara keras Devan.
Devan tahu berita itu dari teman sefakultas nya dan banyak orang yang memberi tahu jika Ryan sedang membentak seorang cewek, Devan heran karena Ryan tidak pernah seperti ini.
Saat tahu jika perempuan itu adalah Anya, Devan langsung mencari Ryan dan ia menemukan dia sedang di kantin bawah sendiri.
"Dia pantes dapetin itu !". Ryan tidak tahu jika yang ia bicarakan membuat Devan naik pitam.
"Maksud Lo ?". Tanyanya.
"Dia pantes karena dia gak pernah ngerasain gimana ada di posisi Irana saat itu. Orang tuanya yang acuh, gak ada yang merhatiin terus sekarang dia di keluarin dari kampus". Ucapnya santai.
"Lo juga mikir men, coba lo juga di posisi Anya ? Dia yang jadi korban dia yang di salahin. Gue aneh sama lo sampe sebegini nya belain dia ?".
"KARENA GUE SUKA SAMA DIA". Teriakan Ryan membuat semua orang yang sedang makan langsung menghentikan aktivitasnya.
Sekarang Devan yang kaget karena pengakuan Ryan. Apa dia bilang suka ? Sejak kapan dia menyukai Irana ? Apa karena ini dia sampai membela Irana ?.
"Sejak kapan lo.. ?".
"Sejak dulu dan lo gak akan tau itu ! Gimana gue yang selalu sakit kalo liat dia ngejar-ngejar lo, dia yang selalu ikut kemana pun lo pergi. Bahkan gue aja gak pernah tuh di tanggapin apalagi di anggap ada".
Ryan berdecih, jika mengingat tentang hal itu membuat dirinya seperti orang yang bodoh.
"Terus sekarang kenapa lo yang ngebela cewek kayak gitu ? Lo bilang dulu gak suka ?".
"Dia pacar gue !". Ucap Devan tegas.
Seluruh mahasiswa di kantin kaget dengan pengakuan Devan bahwa dia sedang berpacaran dengan Anya, banyak orang yang bahkan merekam kejadian tersebut.
Sekarang Ryan yang menatap Devan heran di lanjutkan dengan tawaan yang keras lalu mengangguk-angguk menandakan bahwa ia paham.
"Jadi dia pacar lo ? Pantes aja lo ngebela dia". Detik selanjutnya Ryan mencoba berfikir, "Jangan lakuin hal bodoh lagi sih, menurut gue ?". Ucapnya dengan menepuk bahu Devan.
__ADS_1
Lalu pergi meninggalkan kantin yang sudah sesak di kerumuni oleh orang yang kepo akan masalah orang lain.
Devan yang berdiri juga mencoba berfikir karena Ryan tidak pernah seperti ini kepada dirinya maupun orang lain. Apa ini karena rasa sakit hati dia kepada dirinya atas Irana ? Tapi kenapa perubahan dalam diri Ryan sangat drastis ?.
...***...
Sehabis pulang dari kantor polisi Anya meminta Ayahnya untuk memindahkan dirinya ke Bandung kota lahirnya. Entah sudah berapa kali dirinya memikirkan ini tapi ia sudah bersiap dengan apa yang akan terjadi dengan dirinya nanti.
"Memangnya kamu kenapa Nya pengen pindah ? Bukannya kamu betah sampe mamah ajak pulang aja gak mau ?".
Dirinya berfikir lagi, jika Anya pulang dirinya pun harus mencari lagi kampus dan mengikuti berbagai seleksi dan itu membuat dirinya cukup ribet.
"Anya pengen aja mah !". Ucapnya kekeh.
"Pengen aja gimana kamu ini, nanti di sana pengen pindah lagi ke sini. Terus nanti Devan gimana kalau kamu tinggalin dia ?".
Benar juga apa yang di sampaikan mamahnya, nanti saja ia akan janjian untuk bertemu dengan Devan dan membicarakan soal ini. Anya sebenarnya sedang di fase sangat mencintai Devan tapi ia juga tahu diri.
Biarkan dirinya saja yang mengalah, meskipun hubungan mereka baru seujung jagung Anya akan memutuskan Devan dengan cara yang baik-baik. Entah Devan akan menerima atau tidak itu urusan nanti.
Devan juga sama ia mengirim pesan kepada Anya karena dirinya yang sibuk seharian harus mengurus keanggotaan BEM. Anya hanya mengatakan tidak apa-apa untuk sesuatu yang sebenarnya dirinya pun merasa kesepian.
Ia melihat sekeliling bagaimana sepinya tempat sekarang, meskipun tidak terlalu sepi karena ada beberapa orang yang sedang bertemu melepas rindu sampai dengan yang butuh angin malas untuk sekedar duduk.
Sedari tadi tangannya gelisah, ia bingung harus memulai dari mana. Di lihat tangannya pun sudah mengeluarkan keringat padahal malam ini tidak terlalu panas malam terasa sejuk.
Larut dalam ketakutan Anya sampai menutup mata untuk mengurangi khawatir dalam dirinya sampai terasa ada seseorang yang menggenggam kedua lengannya.
Saat menoleh ternyata sudah ada Devan dengan tatapan yang sulit di artikan, "Maafin gue Nya ?".
Dirinya tertegun dengan ucapan Devan, Maaf ? Untuk apa ?.
"Maaf karena lo harus sendiri beresin masalah ini, gue tau lo itu rapuh, lo cengeng dan gue bisa liat itu di mata lo !". Ucapnya yang masih menggenggam tangan Anya.
__ADS_1
"Gak..".
Devan langsung mendekap Anya pada pelukannya, "Gue tau tentang Ryan yang ngebentak lo !".
Anya terkejut, tapi kemudian ia paham mungkin mahasiswa lain yang memberitahukan hal ini karena tadi banyak yang melihatnya.
Anya mencoba menepuk bahu Devan berbicara seolah semuanya baik-baik saja. Devan pasti merasa bersalah karena tidak ada di sisinya saat itu.
"Tadinya gue mau susul ke rumah cuman yang lain pada butuh gegara masalah keanggotaan. Dan gue di saat itu pun gak bisa mikir karena lo, gimana Lo sekarang ?".
Baru kali ini ia merasa di perhatikan oleh orang lain selain orang tuanya, Devan sangat paham mengenai isi hatinya. Tentang ia yang rapuh dan cengeng tapi dirinya merasa harus kuat dengan semua ini.
"Mereka melepaskan pelukannya, Devan memandang wajah cantik itu, "Gue tau lo butuh orang di saat seperti ini ?". Devan menepuk bahunya.
Membawa Anya untuk bersandar di pundaknya, "Jangan ngerasa sendiri ya Nya ? Gue bakal selalu ada di sisi lo apapun halanganya. Pegang janji gue Nya".
Detik itu juga Anya mengeluarkan air mata untuk pertama kalinya pada seorang cowok apalagi Devan sekarang adalah kekasihnya.
Anya yang selalu memendam semua masalah sendiri, yang selalu ngblank saat di tegur oleh orang, yang selalu keras kepala seakan luluh pada malam ini.
Ia tidak butuh orang yang selalu menghakimi hingga membuat mentalnya turun ia hanya ingin orang lain ada di sisinya. Ia tidak butuh di pahami, Anya hanya minta di temani.
Devan mencoba mengusap bahu Anya biar ia mengeluarkan semua tekanan dan rasa sakit dalam hatinya.
Setelah cukup reda Devan mengusap air mata yang membanjiri wajahnya, lucu sekali pacarnya ini. Sepertinya Anya selalu lucu saat keadaan tidak mendukung lihat sekarang maskara matanya luntur akibat tangisannya.
"Nya liat deh ?". Devan menyodorkan handphone pada Anya dan saat di lihat oleh Anya betapa terkejutnya ia karena maskara yang luntur sehingga ia seperti hantu sekarang.
"Sini biar di bantuin sama aku !". Devan menarik Anya hingga wajah mereka sangat dekat, Anya yang tersenyum melihat wajah Devan langsung di sadari oleh pemiliknya.
Tapi ia langsung tersadar tentang niat dirinya bertemu Devan, "Dev aku mau ngomong ?". Ucap Anya.
"Ngomong aja !". Ucapnya sambil membersihkan maskara yang luntur.
__ADS_1
"Aku mau minta putus ?".