
"Sayang ada Farrel di bawah, samperin sana".
Untung saja Arin masuk ke kamar dirinya dalam keadaan sudah di bersihkan.
"Iya ma, bentar lagi Anya ke bawah". Anya menyunggingkan senyum manisnya. Semoga ia tidak memperlihatkan kecurigaan dalam dirinya.
"Cepet loh kasian Farrel".
"Iya mama".
"Ya udah mama ke bawah lagi ya".
Setelah Arin pergi, ia langsung pergi ke hadapan cermin dan membereskan rambutnya yang sangat kusuk akibat Anya yang mengendap-endap membeli obat ke apotik.
Di rasa selesai Anya pergi ke luar dan mulai menuruni tangga, dari kejauhan Anya bisa melihat raut Farrel seperti orang yang tengah menahan sesuatu.
"Ada apa Rel, tumben kamu kesini. Kan sekarang lagi jam kerja". Tanya Anya sambil duduk di sampingnya.
"Dari mana". Ucapnya datar.
"Dari mana siapa".
"Kamu Anya siapa lagi".
Kenapa tiba-tiba Farrel menanyakan ini, Anya bingung Farrel tidak biasanya menunjukkan sikap dingin pada dirinya.
"Kapan ?".
"Barusan".
Bukankah ia barusan dari apotik dan tidak kemana-mana lagi. Tapi masa ia harus membicarakan ini pada Farrel, keadaannya mungkin akan semakin rumit jika ia memberitahu Farrel.
"Jujur Nya".
Anya menoleh tepat mata mereka saling bertatapan. Mata Farrel berubah turun kebawah melihat perut Anya. Selama beberapa bulan belakangan memang sikap Anya berubah menjadi sedikit lebih pendiam.
__ADS_1
Raut wajahnya pun terlihat selalu murung dan ia tidak merasakan ada gairah dalam diri Anya untuk melanjutkan hidup.
"Kamu hamil ?".
Hentakan kaget terasa di dadanya saat Farrel berbicara seperti itu. Kenapa Farrel bisa tahu ?.
Melihat Anya diam saja membuat Farrel memunculkan kilatan marah di dalam matanya. Bisa-bisanya Anya mengkhianati dirinya dengan menjalin hubungan di belakang.
Baru kali ini selama mereka berpacaran, Farrel merasakan kecewa teramat dalam. Ternyata rasa kasih dan sayang yang ia rasakan selama ini hanya bertepuk sebelah tangan.
Anya memegang lengan Farrel tapi langsung di tepis oleh pemiliknya. Air matanya pun kembali menggenang di pelupuk mata, Anya tahu cepat atau lambat semua ini akan terjadi.
"Ikut aku keluar".
Anya menarik lengan Farrel menuju pekarangan rumahnya. Ia tidak ingin mamanya tahu tentang ini karena Anya tahu mamanya itu akan sangat sedih mendengarnya.
"Aku gak nyangka Nya sama kamu".
"Maaf".
"Ternyata kamu lebih naif dari mantan aku".
"Maaf".
Hanya kata itu yang bisa Anya ucapkan. Ia tidak sanggup melihat kemarahan Farrel.
Tangan kanan Farrel menonjok tembok tepat di sebelah kepala Anya, membuat ia langsung menutup matanya.
"Bahkan gue udah percaya banget sama lo Nya. TAPI KENAPA LO BEGINI".
Farrel berteriak tepat di depan wajah Anya yang sedang menunduk. Hancur sudah kisah percintaan hanya karena pengkhianatan salah seorang di antara mereka yang tidak tahu diri.
"Gue kurang apa Nya ? Gue selalu berusaha menjadi yang terbaik buat lo. Gue selalu memahami perasaan lo. Mencoba memahami apa yang lagi terjadi di antara lo Dangan mantan lo..".
"Atau ini anak dia". Pertanyaannya di sela-sela kemarahan. Pikiran Farrel langsung teringat pada kejadian dimana Anya dan Devan seolah terlihat seperti cinta yang bersemi kembali.
__ADS_1
"ARRGGHHH".
Farrel memasuki puncak kemarahan setelah tahu jika anak yang di kandung Anya adalah anak Devan. Ia menjadi benci terhadap orang itu, semua orang terlihat munafik. Di depan saja seolah tidak terjadi apa-apa tapi di belakang mereka bermain api.
"Itu gak seperti yang kamu...".
"Udah Nya. Hubungan kita sampai di sini aja".
"REL".
"Apa Nya ? Kamu minta tanggung jawab aja sama dia, karena gue jijik ngeliat lo".
Pernyataan itu langsung membuat tangisan Anya pecah. Reaksi Farrel sangat jauh dari ekspektasi dirinya. Anya kira Farrel hanya akan tahu dan menjauhinya tapi dia malah mengucapkan kata-kata yang membuat hati Anya sakit.
"Makasih Nya, gue pergi".
Farrel melangkah menjauhi Anya menuju mobilnya yang terparkir di garasi rumahnya.
Berbeda dengan Anya yang langsung menjatuhkan tubuhnya ke bawah. Ingin rasanya ia mati saja sekarang dari pada mengalami hal yang sangat pahit.
Kenapa tuhan malah menunjuk dirinya untuk bisa menjalani kehidupan ini padahal ia tidak mampu melewatinya. Menjadi seseorang yang penyakitan saja sudah membuat dirinya tidak waras setengah mati.
Sekarang di tambah kehamilan dirinya yang tidak terduga makin membuat keadaan tidak karuan seperti ini.
Anya bangkit berjalan perlahan masuk ke dalam rumahnya. Mungkin ia akan mengakhiri hidupnya dengan bergantung diri di kamar.
"Anya".
Dirinya menoleh, di sana ada mamanya yang sedang menatap dirinya dengan raut tak bisa di artikan.
"Kamu hamil ANYAA". Arin memegang kuat bahu anaknya.
Ia tadi terdiam melihat Farrel dan Anya yang seolah sedang bertengkar. Tapi hatinya langsung kaget saat mendengar kata hamil terdengar dari bibir Farrel
Ia tidak menyangka anaknya akan melakukan hal yang sangat memalukan. Dulu mama dan ayahnya selalu mewanti-wanti putri kesayangannya untuk selalu menjaga harga diri.
__ADS_1
Arin menangis di hadapan Anya ia merasa telah gagal menjadi seorang ibu. Hancur sudah masa depan Anya. Padahal Arin selalu berharap walaupun Anya menderita penyakit ia masih bisa mengejar mimpinya sesuai keinginan.
"Kamu mending keluar dari rumah ini dan jangan pernah anggap mama sebagai mama kamu lagi". Ucap Arin.