
Waktu sore telah tiba, hari ini adalah hari yang sangat melelahkan bagi Anya. Dirinya meminta Dinda untuk mengajarinya membuat kue dan itu sangat menguras tenaga serta pikirannya.
Dinda tertawa keras melihat wajah kusut Anya, "Ngaca deh Nya, muka lo tuh kayak abis maraton tau".
Anya mendelik mendengar perkataan Dinda, kenapa memasak menjadi hal yang memusingkan bagi Anya. Bukankah memasak adalah hal yang menyenangkan bagi sebagian perempuan ? Tapi kenapa dirinya selalu tidak bisa.
"Anya ada yang nyariin". Teriak seseorang dari luar.
"Tuh Nya di panggil". Anya menoleh pada Dinda, siapa yang mencarinya ? Apakah Hilmi ?.
"Samperin sana". Kata Dinda.
"Gue ke sana dulu". Dinda mengacungkan satu jempol.
Anya menghampiri Rima yang tengah berjalan, "Siapa yang nyari mba Rima". Tanyanya.
"Gak tau aku juga, coba deh cek ke depan". Jelasnya. Anya mengangguk lalu pergi keluar di sana ada seorang perempuan yang tengah berdiri.
Sepertinya orang itu telah mengenal Anya dengan baik buktinya dia mulai mendekat, "Dengan saudara Anya ?". Tanyanya hati-hati.
Anya yang bingung langsung mengangguk ragu, bukan maksud dirinya tidak sopan ia melirik wanita di hadapannya dengan intens takut kalau ada kejadian yang tidak di inginkan.
"Mari ikut saya, pak Hilmi akan jemput mba nanti malam". Senyumnya begitu ramah.
...***...
"Meeting sore ini sudah selesai dan kalian bisa kembali ke ruangan masing-masing". Atensi Hilmi yang berdiri di depan.
__ADS_1
Mereka tengah merapatkan perihal saham perusahaan yang terus menunjukkan grafik naik. Semua karyawannya bekerja dengan baik dalam kurun setahun ini, dan Hilmi selaku CEO menghargai kerja keras mereka dengan mengadakan party yang akan di adakan lusa.
Kevin menghampiri Hilmi yang tengah membereskan berkas, "Tumben ada party biasanya lo lebih suka ngasih duit kalo keuangan perusahaan makin nambah".
"Kalo lo gak mau gue bisa ngasih duit ke elo". Sindirnya.
"Gue curiga". Kevin menyipitkan keduanya matanya. "Kayaknya mood lo lagi baik sekarang".
"Tiap hari gue baik lo aja yang gak sadar".
"Bukannya ntar malem lo bakal ke acaranya pak Darma, lo udah cari belum ?".
"Udah". Singkatnya.
Seperti tidak percaya dengan ucapan Hilmi, Kevin mendekatkan wajahnya dengan menampilkan raut bingung, "Bukan cowok kan ?".
Kevin tidak pernah melihat sahabatnya itu dengan seorang wanita, tapi kenapa tiba-tiba Hilmi sudah mempersiapkannya. Apalagi ini waktunya sangat lah singkat. Lebih parahnya lagi Hilmi mau membawanya ke acara formal, itu pasti hubungan mereka sudah sangat jauh.
"Namanya Anya".
"Anya ?".
Hilmi mengangguk singkat, "Ketemu dia dimana ?".
Hilmi mengingat lagi kejadian dimana mereka bertemu, "Jalanan".
Kevin semakin tidak habis pikir, Hilmi menemukan orang itu di jalanan. Ia jadi penasaran cewek bagaimana yang bisa menarik perhatian sahabatnya ini.
__ADS_1
"Lo suka sama dia ?".
Hilmi mengedikan bahu, "Tapi gue suka ngerasa kalau gue bisa jadi diri sendiri kalau lagi sama dia". Tuturnya.
Benar bukan ? Anya selalu menunjukkan raut menyebalkan dari apa yang ia tampilkan padanya. Anya tidak pernah tuh merasa keberatan, tapi tidak tahu dengan hatinya.
"Udah ya, gue balik dulu". Tepuk Hilmi pada bahu Kevin.
Kevin mengangguk singkat, pikirannya terus berkelana mencari jawaban atas hubungan Hilmi. Orang baru mungkin akan menggeser keberadaan mantan istrinya dalam hatinya.
Sore sudah berganti malam saat ini Anya sedang berada dalam ruangan yang di hadapannya ada sebuah cermin besar. Seketika wajahnya sudah di sulap menjadi sangat cantik.
Anya tidak tahu sebab dari tadi ia hanya tidur akibat obat bius yang di berikan. Mereka sengaja memberikan obat bius agar Anya tidak bosan saat di dandani.
"Nah, sekarang tinggal ganti baju". Wanita tadi kebelakang dan mengambil gaun yang sudah ia beli bersama Hilmi kemarin.
"Ruang gantinya di sebelah sana". Ucapnya.
Anya mengangguk sambil dan mengambil alih baju yang di berikan. Ia berjalan menuju ruang ganti dan memakainya.
"Wah baru kali ini saya merias perempuan dengan olesan sedikit make-up tapi terlihat sangat cantik". Pujinya.
Anya tersipu malu, sebenarnya ia juga tahu kalau wajahnya memiliki kesan natural walaupun hanya di bedak sedikit.
"Mari saya antar pak Hilmi sudah menunggu di luar"
Anya berjalan di belakang mba yang meriasnya tapi seketika ia lupa perusahaan apa yang akan Hilmi hadiri. Ia takut kalau-kalau di sana Anya bertemu dengan papa atau Devan.
__ADS_1