Mahasiswa Baru

Mahasiswa Baru
48 MABA


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 7, sepertinya Devan akan terlambat datang ke rumah sakit. Buru-buru ia membawa tas dan memakai sepatu bahkan untuk sarapan pun Devan selalu lupa.


Saat menuruni tangga Devan melihat Karen lagi, Kenapa cewek itu tidak pernah merasa kapok dengan apa yang Devan lakukan padanya.


Devan berjalan lurus tanpa menoleh sedikit pun, "Makan dulu sayang". Ucap Femi.


"Devan telat Bun, jadi gak sarapan ya nanti di rumah sakit aja". Jelasnya.


Karen yang sudah berdiri seperti di anggap tak ada, tapi ia tak gentar. Karen mencoba berlari kecil menuju Devan yang sudah berlalu ke depan.


"Dev". Panggil Karen.


"Aku bawain makanan buat kamu, semoga kamu terima ya. Sekali ini aja Dev".


Sangat jengah memang meladeni Karen yang keras kepala, Devan tidak menjawab maupun menerima ia memilih untuk naik ke atas motor dan memakai helm.


"Dev tolong dong kamu hargain perjuangan aku, aku juga gak kuat kalau kamu begini terus". Karen berbicara lemah supaya Devan bisa memahami perasaannya.


Devan berlalu meninggalkan Karen yang berdiri sambil memegang kotak makan, bukannya ia sudah bertekad untuk tidak mencampuri urusan perempuan mulai sekarang.


Cobalah mereka mengerti keadaannya, Devan hanya sedang berjuang untuk mimpinya bisa membantu orang banyak.


Sampai di rumah sakit ia berjalan menuju meja jaga, di sana Ryan terlihat kusut dengan wajah di tekuk. Sepertinya ia sudah bersiap untuk mulai berganti jaga.


"Nih". Ryan memberikan jas dan kertas pada Devan.


"Kenapa lo ? Lemes bener ?".


Ryan tidak menjawab, malahan bahunya di tahan oleh Devan, "Lo kenapa Yan ? Cerita sama gue ?".


"Gak papa Dev, gue cuman cape".


"Biasanya juga lo aktif kalo lagi cape, nih sekalian gue bawa laporan yang kemarin lo tanya. Gue tau kok lo alibi kan nanya ini biar bisa liat".


Ryan hanya mengangguk lalu berlalu pergi dengan langkah gontai. Devan tahu jika seperti ini Ryan sedang menghadapi masalah. Kebiasaan anak itu dia yang punya masalah orang lain yang ribet.


"Kamu ikut saya".


Saat mengadakan kepala, ia melihat dokter kemarin yang memaki dirinya dengan kata-kata pahit.


"Baik Dok". Devan berdiri dan berjalan di belakang dokter tadi. Devan melangkah masuk terlebih dahulu untuk menanyakan kondisi pasien saat ini.

__ADS_1


"Pagi pak". Ucapnya sambil tersenyum, "Gimana kondisinya sekarang ?".


"Alhamdulillah baik, tapi saya suka ngerasa sesak kalo lagi tidur".


Sambil mencatat Devan juga mendengarkan setiap keluhan yang di ucapkan. Setelah selesai Devan mempersilahkan dokter di belakang untuk memeriksa.


Tapi tiba-tiba bapak yang akan di periksa malah mengalami sesak nafas yang berat.


"Cepet ambil Tabung Oksigen, Regulator, sama Aquadest". Perintahnya.


Devan menganguk dan langsung berlari ke arah menuju gudang penyimpanan Tabung oksigen.


Di pertengahan lorong ia berpapasan dengan teman jaganya, "Ngapain lo lari-lari ?".


"Pasien bad A4 perlu oksigen". Ucapnya sambil berlari.


Setelah sampai di gudang ia membawa alat ketiganya sambil di bawa menggunakan roda. Dengan cekatan Devan berlari lagi menuju ruangan tadi, di lihatnya dokter tadi sedang membantu pasien dengan cara manual.


"Ini dok".


"Pasang regulatornya yang kenceng".


Devan memasang alat itu dengan kencang agar tidak bocor, ia juga mengisi Aquadest nya sampai level upper. Tangannya bergerak cepat sesuai apa yang telah ia pelajari.


Devan mengangguk lagi, setelah kira-kira selsai kemudian ia memberikan selang dan maskernya. Dokter itu dengan cepat memasangkan pada hidung pasien.


Nafas Devan tersegal baru kali ini ia campur tangan dalam keadaan darurat. Biasanya ia hanya mengecek darah atau tidak mencuci darah.


Pasien tersebut mulai terlihat normal kembali. Syukurlah dengan begini Devan mendapatkan pengalaman tentang belajar pertolongan cepat bagi pasien.


"Sudah enakan pa".


Bapak itu mengangguk lemah, "Kalau begitu tetap seperti ini ya, kalau merasa sudah nyaman tinggal lepaskan".


Dokter itu berbalik arah menghadap Devan, "Kerja bagus". Ucapnya sambil tersenyum.


Senyuman itu juga menular pada Devan, setidaknya ia tidak terkena semprot seperti kemarin.


Devan kembali pada meja jaga, rasanya seperti sangat menyenangkan bisa menolong orang yang sedang membutuhkan bantuan.


"Gila lo Dev bisa gerak cepet kayak tadi". Ucap Gandi teman jaganya.

__ADS_1


Btw ia juga baru tahu jika teman jaganya itu bernama Gandi, padahal sudah hampir 4 bulan mereka menjalani siff bersama tapi keduanya enggan untuk berkenalan.


Devan baru mengetahui jika Gandi adalah orang introvert yang tidak mudah untuk dengan orang lain. Sedangkan Devan adalah tipe orang yang enggan memulai sesuatu duluan.


Mereka berkenalan pun tak sengaja karena Gandi menanyakan hal yang memang dia tak mengerti. Maka dari itu Devan berniat membantu dan mereka saling mengenal.


"Gue juga baru pertama kali, tapi gila seru men". Ucap Devan sambil duduk.


"Tapi gue belom pernah tuh di ajak ke ruangan pasien sama dokter kalo gak emang waktunya praktik". Gandi berbicara seperti itu bukan tanpa alasan, karena dia pun ingin mendapat pengalaman dan rasa yang sama seperti Devan tadi.


Devan menoleh, "Masa sih, gue kira lo udah pernah".


Gandi menggeleng, "Gue rasa sih tuh dokter suka sama lo deh, di liat dari gerak-gerik sama tatapannya aja beda Dev".


"Apaan sih lo ah, mungkin lagi butuh bantuan". Sarkas Devan.


Gandi berfikir sejenak, "Tapi lo tau gak Dev, kalo tadi itu dokter Renata yang terkenal cantik dan baik di rumah sakit ini".


"Baik dari mana kemaren aja gue kena semprot dia". Jelasnya.


"Hah, masa sih".


"Bener, yang lo maksud baik itu yang selalu matahin semangat anak koas".


"Tapi masa sih Dev, justru itu membuat lo semakin semangat atau dia lagi nguji lo kali".


Devan hanya mengedikan bahu, ia rasa jawaban Gandi sudah melantur ke segala arah. Ia pikir dirinya bego mana ada seorang dokter menyukai koas.


"Ya elah, lumayan Dev biar lo cepet-cepet lulus. Kan enak dari pada koas begini gue aja ngerasa tersiksa".


"Lo kali yang ngerasa tersiksa gue sih enggak". Devan berdiri dari tempat duduknya menuju kantin, ucapan Gandi membuat perutnya membutuhkan asupan makanan.


"Dev lo mau kemana ?".


Pertanyaan Gandi ia hiraukan, baru saja ia melewati belokan pertama tapi ada seseorang yang menghalanginya.


"Kamu koas di sini kan ?".


Dokter Renata yang barusan di ucapkan oleh Gandi bertanya pada Devan apakah dirinya koas apa bukan. Bukannya tadi dirinya membantunya kenapa harus bertanya lagi.


Dokter itu terkekeh, "Maaf saya basa-basi dulu, kenalin saya Renata".

__ADS_1


Devan hanya memandang pada lengan dokter yang menggantung, kemudian Devan mengangkat tangan untuk membalasnya.


"Kamu mau ke kantin kan ? Boleh bareng gak ?". Tanya Renata.


__ADS_2