
"Assalamualaikum ma". Hilmi mencari sosok mamanya saat pertama kali menginjak kaki di rumah.
Riri datang dari arah dapur, "Waalaikumsalam, kamu bohong lagi ke mama Hilmi".
Hilmi tersenyum simpul, mendengar ucapan itu membuat rasa bersalah pada mamanya semakin menjadi.
"Maaf ya ma, tadi Hilmi lama nyari baju buat acara pernikahan klien". Jelas Hilmi.
Pandangan Riri beralih pada sosok wanita yang di bawa oleh Hilmi, "Siapa ?". Tanya Riri pada Hilmi.
Lupa kalau dirinya membawa Anya Hilmi langsung merangkul pinggang rampingnya.
Deg
Anya yang menyadari itu langsung membeku, jantungnya bahkan sudah memompa lebih cepat. Hilmi yang menyadari ketegangan dari tubuh Anya malah menampilkan senyuman manis.
"Kenalin ma, pacar Hilmi". Jelasnya dengan enteng.
Anya membulatkan kedua matanya, apa dia bilang ? Pacar ? Wajahnya ia hadapkan penuh pada Hilmi. Hilmi yang paham akan itu seolah berbicara bahwa ini hanya sementara.
__ADS_1
"Loh, dia bener pacar kamu ?". Tanya Riri tak percaya. Pasalnya Hilmi selalu menghindar dari pertanyaan menyangkut soal pendamping hidup. Tau-tau dia sekarang malah membawa seorang wanita.
"Namanya Anya". Jelas Hilmi.
Anya menyalimi Riri, "Anya Tante".
Riri menyambut Anya dengan senyumannya, "Cantik kok, kamu pinter nyari calon istri".
Berbeda dengan Anya yang tersenyum samar, kata calon istri sangat tabu di telinganya. Jika di lihat lagi mamanya Hilmi adalah sosok ibu yang baik, tapi ia takut kalau kehadirannya akan menjadi malapetaka bagi kedepannya.
"Gini ma, Anya boleh pake kamar kosong di rumah dulu gak. Soalnya". Hilmi mencari alasan yang tepat, "Dia belum nemuin tempat tinggal".
Riri tidak mengerti apa yang di ucapkan anaknya, "Jadi gini ma, Anya itu kerja di toko roti aku, dia baru ke Jakarta dan belum sempet nyari kost-an".
Lengan dirinya tiba-tiba di usap oleh seseorang, Anya menoleh. "Mama anter yu ke kamar kamu".
Anya menoleh secara bergantian tetapi ia sudah tidak menemukan sosok Hilmi di sampingnya.
"Hilmi lagi ganti baju di atas, yu". Ajaknya, Anya hanya mengangguk lalu mengikuti Riri yang menggenggam lengannya.
__ADS_1
Riri membawa Anya ke kamar bekas almarhum Sandra, entah apa tujuannya tapi hatinya menuntun ia untuk membawa Anya ke sini "Kamu suka gak kamar ini ? Ini kamar bekas almarhum istrinya Hilmi". Jelasnya
Dalam hati ia merutuki, bagaimana kalau mantan istrinya itu menghantui dirinya. Apalagi kamarnya sangat luas dan ada toilet yang menyatu, "Sebelumnya maaf tante, kenapa aku di bawa ke sini ? Bukannya ini tempat privasinya Hilmi sama almarhum Sandra".
Riri terkejut, "Kamu udah tau almarhum istrinya Hilmi". Tanyanya.
Anya mengangguk ragu, tapi reaksi Riri malah menampakkan raut senyum yang tulus pada dirinya.
"Menurut kamu Hilmi orang yang bagaimana ?".
Anya terdiam sebentar, bukankah Hilmi orang yang baik. Ia tidak pernah menuntut apapun setelah apa yang dia lakukan pada dirinya. Malah Anya yang selalu meminta lebih pada Hilmi, seperti tadi dia mengajarinya permainan yang bahkan Hilmi sendiri yang memenangkan.
Tapi terkadang dia juga suka menjadi orang yang menyebalkan, suka memerintah seenaknya dan berkata dingin.
"Baik kok Tante".
"Alhamdulillah". Ucapnya, "Apa Hilmi suka membicarakan masalah ini pada kamu".
Bola mata bergilir, maksudnya tentang Sandra kah ?
__ADS_1
"Gak pernah tante". Jawab Anya.
Riri mengusap lengan Anya dengan lembut, "Maaf ya mama banyak bertanya, Hilmi itu terlalu mengingat Sandra. Semoga dengan adanya kamu Hilmi bisa bahagia lagi tanpa adanya Sandra dan sama kamu semoga dia menemukan jodohnya kembali".