
Menjelang malam Naya dan Siren memutuskan untuk pulang, jawaban tadi tentang Devan masih terngiang di otak Anya. Sekarang dirinya lebih memilih untuk merebahkan diri di kasur dari pada overthingking tentang hal-hal yang belum terjadi.
"Anya tuh ada Devan di depan !". Arin berbicara dari di balik pintu.
Anya terbangun, "Bener mah ?".
"Iya kamu kok malah diem aja, samperin sana ?".
Berarti Devan menepati janjinya untuk datang ke kostan, Anya segera terbangun dan menghampiri Devan di depan.
Terlihat Devan masih memakai baju kampusnya, sepertinya dia langsung ke sini setelah rapat selesai.
"Kalo capek padahal pulang aja, gak usah maksain kan kasian kamunya cape ?". Sambil berjalan Anya berbicara lalu duduk di samping kursi bagian kiri.
Devan menoleh lalu tersenyum, lalu meraih sebelah tangan Anya sambil menggenggamnya, "Maaf ?". Ucapnya,
Anya tertegun kenapa Devan berbicara seperti ini, padahal dia tidak salah apa-apa. Dirinya hanya mengingatkan dan merasa tidak enak karenanya.
"Aku gak akan jadiin kesibukan karena masuk jurusan kedokteran buat jarang ngabarin kamu, mungkin aja jurusan lain juga sama".
Menoleh pada lengan Devan yang menggenggam tangannya membuat Anya merasa paham, bahwa apapun yang Devan lakukan tidak boleh di batasi atas hubungan mereka.
Devan memang sangat dewasa dia tidak seperti cowok kebanyakan yang menuntut banyak hal dari seorang perempuan, dia selalu berbicara jelas mengenai hal yang memang sedang terjadi.
Dia seperti seseorang yang paham akan perasaan cewek dengan caranya sendiri, ah jika seperti ini Anya jadi malu yang terkadang selalu meragukan perasaan Devan tentang dirinya.
Anya membawa lengan satunya lagi mencoba mengusap lengan Devan dengan mengisyaratkan bahwa dirinya paham dengan ini, ia berjanji dalam hati untuk selalu mengerti Devan dan membantunya tak kala membutuhkan dirinya.
Devan merasa senang ia membawanya dan mengecup punggung lengan Anya cukup lama mencoba meresapi setiap perasaan yang hadir dalam hatinya.
Arin berbicara melalui pintu, "Ayo kita makan dulu, Anya ajak Devan masuk ?".
Anya membawa Devan masuk. Di meja makan ternyata Arin sudah memasak banyak, dirinya pun tidak tahu mamahnya ini sengaja atau bagaimana karena biasanya ia memasak yang Anya sukai saja.
"Makan Dev jangan malu !". Ucap Arin sambil memberikan piring.
Anya tersenyum, pikirannya menjadi berkeliaran kenapa ia membayangkan jika mereka telah menjadi suami istri yang saling menyayangi dengan datangnya putri kecil.
"Anya cepet makan, kamu ini malah senyum sendiri gitu !".
__ADS_1
Anya tersadar kemudian mengambil sepuncuk nasi dan tongseng cumi kesukaannya.
"Anya ini suka banget sama cumi loh Dev ?". Ucap Arin.
Devan yang sedang mengunyah mengangkat alisnya, Anya yang memberikan tatapan tajamnya langsung terkekeh pelan.
"Dulu pas tante gak ke pasar dan dia tahu gak beli cumi, dia suka gak makan malah sampe ngamuk-ngamuk di kamar seharian".
Devan tertawa mendengarnya, ternyata pacarnya ini sangat suka dengan binatang yang kenyal tersebut.
"Ishh mamah, malu tau ?". Ucap Anya, wajahnya sudah memerah, Devan yang melihatnya pun gemas dengan tingkahnya.
"Sekarang kamu lagi sibuk apa Devan ?". Tanyanya.
"Lagi ujian blok tante ?".
"di jurusan kedokteran bukan cuman butuh fisik yang kuat, tapi juga mental. Tante yakin kamu bisa ngelewatin itu semua, tetep berdoa sama berusaha aja, Tante juga support kamu biar cepet lulus".
"Makasih tante ?". Ucapnya sambil tersenyum.
"Tuh Anya jadiin Devan contoh kamu ini baru semester pertama untuk ogah-ogahan kayak gitu".
"Kamu ini gak ada yang namanya kuliah sesuka mood, kamu mau gak lulus-lulus ?".
Anya diam saja tidak lagi menanggapi mamahnya yang berbicara, ia tahu jika ia memperpanjang masalah ini hanya akan membuat dirinya malu di hadapan Devan.
"Anya pasti bisa tan, kan dia kuat ?". Ucap Devan sambil menoleh ke arahnya.
Anya yang mendengar tersipu malu, pasti saja di tusuk pisau saja ia kuat masa menanggung beban menjadi anak kedokteran tidak bisa.
Arin yang melihat tingkah aneh pada keduanya tersenyum, seolah tahu apa yang sedang terjadi di antara mereka berdua.
Syukurlah Arin merasa bahagia melihat keduanya terlebih Anya yang sejak dulu selalu bersikap arogan terhadap orang lain terlebih cowok. Semoga dengan hadirnya Devan memberikan secercah kebahagiaan bagi Anya.
"Pulang dulu Nya ?". Anya mengantar Devan ke depan untuk pulang tadi Devan sudah izin kepada Arin karena dirinya harus pulang karena sudah malam.
Anya mengangguk, Devan naik ke atas motor ninjanya. Sedari tadi Anya meremas tangannya ada sesuatu yang akan ia lakukan tapi Anya takut, sepertinya tidak ada harapan untuk dirinya pun melakukan itu.
Anya melambaikan tangan, tapi yang aneh Devan malah turun dan memeluk dirinya, Anya yang kaget merasa syok dengan pelukan yang tiba-tiba.
__ADS_1
Jujur rasa ini begitu hangat dan nyaman sebenarnya ini yang dirinya inginkan yaitu memeluk Devan, mencoba menyalurkan rasa sayang pada keduanya. Devan pun sama ia begitu mencintai Anya sampai sulit untuk pulang.
"Udah ah Dev pulang sana !". Anya mencoba melepaskan pelukannya.
"Dev ?". Panggil Devan.
Anyar tertawa, "Maksudnya kamu harus pulang udah malem". Terangnya.
"Iya by !". Terakhir Devan mencubit pipi Anya sehingga dia kesakitan.
Anya memajukan bibirnya karena tingkah Devan yang membuat pipinya bengkak, tak selang itu bibirnya kembali mengembang. Ia terlalu senang sampai lupa caranya bersyukur, entah harus bagaimana ia berterima kasih kepada Tuhan karena sudah mempertemukan ia dengan Devan.
Anya kembali masuk ke dalam kost-an dan mempersiapkan kelas yang akan ia ikuti besok, ia benar, Anya sudah tak sabar untuk kembali ke kampus meskipun tujuan utamanya adalah bertemu Devan pacarnya.
...***...
Pagi ini Anya begitu bersemangat untuk ngampus, dirinya sudah sarapan dandan dan yang terakhir minum obat. Anya sengaja naik gojek agar tidak terjebak macet oleh keadaan ibu kota saat pagi hari.
Tapi kenapa saat Anya berjalan semua orang memperhatikan dirinya, mereka saling berbisik seolah ada gosip baru yang memang sedang terjadi. Anya yang merasa bodo amat tidak perduli dengan tatapan itu.
Di kelas ternyata sudah ada Siren dan Naya yang entah sedang mentertawakan apa, segera ia menghampiri keduanya.
"Halo Nay, Ren ?". Mereka yang di sapa oleh Anya langsung terdiam tanpa menjawab.
Dahi Anya bergelombang tidak biasanya Naya bertingkah seperti ini, "Nya Lo kenapa ?".
"Lo masih nanya kita kenapa ?". Jawab Siren keras.
"Emang gue kenapa ?". Ucapnya bingung.
"Lo juga sama tau Nya! gatel kayak Irana, Tapi bukan cuma karena lo pacar Devan dan lo di bela atas kejadian itu ngebuat Lo jadi lupa diri".
"Lupa diri ?". Beo Anya, dirinya tidak paham apa yang sebenarnya terjadi.
"Lo udah nyebarin berita tentang Irana yang nusuk lo sampe Lo masuk rumah sakit dan Lo juga bilang sekarang Irana ada di penjara karena perbuatannya, kita kan udah sepakat untuk nutupin masalah ini supaya gak ada isu tentang kampus kita dan ngebuat heboh".
Irana menjelaskan dengan nafas yang terengah, "Dengan lo sebarin berita ini, Irana jadi di keluarin dari kampus tanpa hormat, dan yang harus Lo tau dia itu sendiri bahkan orang tuanya gak peduli tuh dia ada di penjara". Lanjutnya.
Anya yang tertegun mendengar penjelasan Siren membuat kakinya terasa lemas, baru tadi pagi ia merasa senang tapi sekarang keadaan sudah terbalik.
__ADS_1