
Anya sengaja pergi ke toko roti milik suaminya, perihal Hilmi dia belum juga menunjukkan tanda-tanda akan sadar. Dari pagi sampai malam Anya selalu di sampingnya. Menjaga kalau sewaktu-waktu dia bangun dan dirinya lah yang pertama kali melihatnya.
Masalah Devan pun Anya sudah tidak ingin pusing, menurutnya orang seperti itu tidak akan ada habisnya. Semua ia serahkan pada yang maha kuasa karena Anya percaya apa yang sudah di lakukan akan mendapatkan balasan yang setimpal.
Jika melihat kebelakang kisah hidupnya tidaklah terlalu miris karena banyak di luar sana yang lebih membutuhkan. Dirinya hanya di paksa untuk menerima dan menjalankan dengan ikhlas apa ujian yang di berikan padanya.
"Anya".
Anya menoleh dan melihat Dinda berjalan kearahnya.
"Eh". Ucapnya sambil menutup mulut, "Maaf Bu". lanjutnya. "Gue lupa kalau lo udah jadi istri dari Hilmi".
Anya terkekeh. "Gapapa kok panggil Anya aja, lo ini kayak sama siapa aja".
"Gimana keadaan pa Hilmi sekarang ?". Dinda tahu apa yang terjadi di acara pernikahan Anya dan Hilmi karena ia melihat dengan mata kepalanya sendiri.
"Masih sama Din". Ucap Anya
Dinda paham lalu mengusap kedua bahu Anya, ia cukup prihatin di saat orang lain bahagia atas pernikahannya mereka malah mengalami nasib buruk.
__ADS_1
"Eh, iya gimana keadaan toko sekarang. Apa ada keluhan ?".
Dinda terdiam entah apa yang harus ia bicarakan. "Kenapa Din ?". Tanya Anya
"Coba liat laporan keuangan toko deh Nya, gue rasa ada yang gak beres".
Dahi Anya mengerut, Anya menepuk bahu Dinda lalu mencari Rima pemegang keuangan di toko roti ini. "Mbak Rima". Panggil Anya
Rima menoleh, "Eh ada Anya, ada apa ?".
"Boleh liat laporan keuangan toko".
Anya mengambil alih dan melihat isinya, benar saja kata Dinda. Ada yang ganjil di sini, mana mungkin pengeluaran lebih besar dari pemasukan. Setelah selesai ia menghela nafas pelan.
"Kita kumpul di ruangan sebentar, panggil semua karyawan dan suruh ke sini". Titah Anya
Rima mengiyakan lalu memanggil semua pekerja di toko untuk berkumpul di ruangan bos-nya. Setelah terkumpul semua, Anya berfikir sebentar untuk apa yang akan ia lakukan.
Dari wajahnya mereka bingung mungkin karena tidak pernah seperti ini sebelumnya. Anya pun sebenarnya tidak ingin melangkah pada hal ini tapi jika hal ini di biarkan keadaan toko menjadi terancam terlebih orang-orang tidak akan pernah jujur pada hal apapun.
__ADS_1
"Apa dari kalian butuh bantuan ?". Tanya Anya.
"Maksudnya kalau ada sesuatu yang memang mendesak tidak perlu sungkan untuk berbicara setidaknya saya sebagai pengganti pak Hilmi yang sedang di rumah sakit bisa bantu kalian". Lanjutnya.
Semuanya terdiam, Anya memperhatikan satu-satu dari karyawan yang tengah saling berbisik.
"Keuangan di laporan toko ini gak sesuai sama pemasukan, saya rasa ada yang ganjil jadi saya kumpulkan semua kalian di sini".
"Rima kali Bu, soalnya yang pegang keuangan toko cuman dia doang". Celetuk seorang perempuan.
"Iya Bu denger-denger dia memang lagi butuh uang buat operasi anaknya".
Bola mata Anya langsung beralih pada Rima yang tengah menunduk, "Baik kalian bisa kembali ke dapur".
Semua keluar ruangan satu persatu saat Rima keluar paling terakhir Anya memanggilnya, "Rima bisa kesini sebentar". Titah Anya.
Rima menoleh lalu berjalan gontai ke arahnya, "Ntar gue ganti semua kerugian toko, lo gak perlu ngerendahin gue di depan banyak orang kayak gitu"
"Bukan begitu Rim, kalau kamu memang butuh uang bilang ke saya siapa tahu saya bisa bantu. Masalah ini kamu gak perlu ganti biar saya aja yang ganti. Saya doain supaya anak kamu cepet sembuh ya". Anya menepuk bahu Rima lalu pergi keluar ruangan.
__ADS_1