
"Bang Hilmi di mana Tante".
Malam ini Riri dan Clara tengah makan di ruang makan, mereka hanya berdua dari tadi siang baik Anya maupun Hilmi tidak keluar kamar sama sekali dan itu justru membuat Clara semakin kesal.
"Mereka lagi di kamar mungkin, Tante juga capek hari ini karena ngurus kepulangan Hilmi jadi tante kurang tau". Ucap Riri sebaik mungkin
Riri pun sama ia kurang menyukai hadirnya Clara. Riri hanya menghargai karena dia anak dari adiknya. Anak ini terlalu ambisius untuk mengejar sesuatu yang bukan untuknya. Tapi mau bagaimana pun Clara adalah saudaranya jadi ia harus menganggap dia sebagai keluarga.
Riri pun sedikit terganggu kalau-kalau Clara mengganggu rumah tangga Hilmi. Jika secara logika itu tidak lah mungkin, karena Clara masih sangat muda untuk melakukan hal konyol seperti itu. Tapi semua tidaklah ada yang tahu, bahkan suara hati seseorang pun hanya bisa di dengar di telivisi.
Tak lama Anya dan Hilmi datang ke meja makan, bahkan Anya menggandeng Hilmi untuk membantunya berjalan. "Bang Hilmi ngapain aja kok gak keluar-luar kamar ?".
Keduanya saling bertatapan akibat pertanyaan tak bermutu itu, "Terus kenapa penampilan kalian berantakan banget ?". Tanya Clara beruntun.
Mereka tidak menjawab, Anya mengambil satu kursi dan mendudukkan Hilmi di sana. "Emang hal apa yang harusnya di lakuin suami—istri ". Anya berbicara selembut mungkin dan itu berhasil menyulut emosi Clara.
__ADS_1
Clara memberikan tatapan tajam pada Anya, cewek ini jelas memberikan bendera perang pada dirinya. "Sini biar aku aja yang nyiapin.."
Nasi yang akan di tuangkan oleh Clara pada piring Hilmi di ambil alih oleh Anya, "Gak baik nyiapin makan buat suami orang lho". Pengingat Anya seolah itu adalah hal yang menyalahi aturan.
Hilmi yang melihat itu bingung di buatnya, entah apa yang terjadi di antara istrinya dengan Clara yang pasti mereka sedang tidak baik-baik saja. Lagi pula kenapa pikiran anak ini sangat kotor, ia hanya ingin bermesraan dengan Anya sebagai mana suami-istri pada umumnya.
Keadaan menjadi hening setelah semuanya makan kembali, "Clara denger bang Hilmi ketemu sama Anya, maksudnya kak—Anya di toko ? Kalau begitu dia karyawan bang Hilmi dong".
Hilmi mengangguk sebagai tanggapan dari pertanyaan Clara.
Anya yang mendengar itu langsung berhenti mengunyah, dasar bocah Prik dia ingin merendahkan dirinya di depan mama Riri dan Hilmi.
"Iya saat itu Anya lagi belajar mandiri, dia juga gak mau kerja di sana karena ada perusahaan papahnya. Tapi karena itu mereka bersyukur karena di takdir kan bersama lewat toko Sandra". Riri menjawab setenang mungkin, sudah ia kira Clara akan berbicara di luar kata seharusnya.
Anya tersenyum tipis mendengar tanggapan dari mamanya Hilmi. Bisa di lihat sekarang wajah Clara sedang meradang karena Tante Riri yang menjawabnya.
__ADS_1
"Mama duluan ya, udah selesai makannya". Ucap Riri lalu pergi meninggalkan meja makan.
"Ni bang Clara ambilin minum". Clara menuangkan air dalam gelas dan memberikan pada Hilmi.
Anya yang melihat itu naik darah, di ambilnya tissue di atas meja kemudian ia mengelap sudut bibir Hilmi, "Kamu kalo makan itu suka berantakan di bibir".
Hilmi tersenyum dengan sikap Anya yang hangat padanya, "Kalo tau begini sekalian aja berantakin semua". Ucap Hilmi menggoda, Anya yang mendengar itu terkekeh pelan.
Clara yang melihat itu semakin panas, bisa-bisanya mereka menunjukkan kemesraan di depan dirinya. Sekilas Anya melirik Clara yang tengah menatap kearahnya.
Cup
"Manis". Ucap Anya
Hilmi membelakakan matanya karena Anya mencium bibirnya. Seketika ia sadar kalau Clara masih bersama mereka di ruang makan.
__ADS_1
Dalam hati Clara sangat ingin menghancurkan kebahagiaan mereka. Anya tidak pantas untuk Hilmi dan hanya dirinya yang pantas untuk Hilmi.