Mahasiswa Baru

Mahasiswa Baru
18 MABA


__ADS_3

Jika flashback pada kejadian Anya mengambil dompet Irana itu adalah sesuatu yang tidak mungkin, Anya bisa di bilang dari orang kalangan berada dan mustahil untuk mengambil uang orang lain, Ia merasa pikirannya mulai melantur kemana-mana.


Devan yang merasa ini terlalu privasi berniat untuk keluar tapi langkahnya langsung terhenti karena ucapan Anya "Mah, pah kenalin pacar Anya, namanya Devan ?".


"Pacar !". Ucap Tante Arin.


Devan menyalimi keduanya, "Kayanya wajah kamu gak asing buat tante, apa saya pernah bertemu kamu".


"Pernah tante, di acara universery bunda sama papah". Ucap Devan kikuk.


"Mamah kenal sama orang tuanya Devan ?". Tanya Anya bingung.


"Papah kamu siapa namanya ?". Tanya Monata papah Anya.


"Papa Wijaya om". Ucap Devan.


"Kamu anaknya Femi, udah besar yah ganteng lagi, dulu mama Anya juga niatnya mau jodohin kalian tapi takdir berkata lain yah, kalian udah duluan sebelum Tante bilang". Ucap Arin sambil tersenyum.


"Saya mau izin dulu pulang tante". Anya memajukan bibirnya saat Devan berbicara seperti itu.


Devan baru tahu di balik sifat Anya yang dingin dia memiliki sifat manja yang jarang di tunjukkan pada orang lain.


Arin mengangguk kemudian Devan pamit dan keluar dari ruangan.


Arin menoleh pada Anya, "Sejak kapan kamu pacaran sama Devan ?". Anya pura-pura berpikir sambil memegang dagunya.


"Kayaknya sejak barusan deh mah". Arin mencubit pipi Anya, "Mana mungkin sih barusan, kelihatannya kayak udah lama".


"Sakit mama ih". Sambil mengusap pipinya Anya merasa perutnya butuh asupan.


Dari balik pintu Naya dan Siren datang untuk mengunjungi Anya sambil membawa makanan "Assalamualaikum tante, om". Keduanya menyalimi orang tuanya Anya.

__ADS_1


"Kalian teman barunya Anya yah". Keduanya mengangguk, "Ya udah, kita keluar dulu yuk pah, gak enak ada temannya Anya".


Setelah keluar Naya menanyakan keadaan Anya tapi Anya malah mengambil makanan yang di pegang olehnya dan langsung melahapnya.


"Lo tuh kayak habis di penjara tau gak sih, bukan kayak habis bangun koma". Anya hanya diam mendengarkan ocehan Naya.


Naya dan Siren duduk di samping brankar yang Anya tiduri, "Gimana keadaan Lo nya ?". Tanya Siren.


"Bisa di lihat sama kalian kalo gue gak papa".


"Lo gak ngerasain sakit atau apa gitu ?".


"Sakit sih tapi gue gak mau manjain badan gue cuman karena gue begini". Ucap Anya dengan makanan yang penuh di mulutnya.


"Kuat juga Lo mungkin kalo gue jadi Lo gue udah ngeluh terus". Naya mengangguk pertanda setuju dengan ucapan Siren.


"Lo liat jaitan ini bakal cepet kering kok". Anya menunjukkan hasil jahitan yang membuat keduanya meringis melihatnya.


"Sesuka itu sama makanan dari Devan". Naya dan Siren tersenyum melihat tingkah Anya.


Anya menghentikan kunyahannya "Udah kunyah aja, mungkin Lo laper, atau Lo emang ada apa-apa sama Devan". Anya mengambil minuman yang ada di nakas sampingnya.


"Apaan sih Lo pada, kok Devan bisa ngasih ini sih ?". Tanyanya aneh pasalnya anak itu tadi berniat pulang ke rumahnya.


"Mana gue tau, kita ketemu di parkiran rumah sakit dan dia bilang, tolong kasihin makanan ini ke Anya, kayanya sih dia gak bisa dan mau pulang terus gue tanyain Lo katanya Lo udah sadar".


"Ya udah gue mau istirahat dulu pinggang gue berasa sakit banget". Ucap Anya sambil menarik selimutnya.


"Oh jadi Lo ngusir Nya ?". Canda Naya yang hendak berdiri.


"Ck, Lo itu dia lagi sakit harusnya Lo ngerti ?". Siren menarik Naya ke luar, Anya hanya diam sambil menutup mata, pinggangnya terasa sangat sakit sekali mungkin efek dari tusukan itu sendiri, asumsi Anya.

__ADS_1


Saat keduanya di depan lorong mereka berpapasan dengan Ryan yang membawa buah tangan dan sepertinya ia akan menjenguk Anya.


Dari tadi Anya tidak berhenti untuk selalu overthingking pasalnya Devan berubah sikapnya seratus delapan puluh derajat, Anya menutup wajahnya dengan selimut, ia bisa membayangkan bagaimana wajah Devan yang lucu saat ia menganggap sebagai pacarnya.


Di kamar Devan sedang merebahkan badannya di kasur jawaban Anya yang menganggap dirinya sebagai pacar membuat dirinya menjadi salah tingkah.


Apa Anya juga mencintai dirinya ?


Jika Anya memang mencintai dirinya mungkin tidak ada keraguan lagi bagi Devan untuk memulai sesuatu hal yang baru bersama Anya.


Devan mengusap wajahnya gusar kenapa dia harus menjadi seperti anak SMA yang sedang di mabuk asmara, Hp Devan berbunyi saat di lihat nama Irana terpampang di layar handphonenya.


Sangat malas dirinya mengangkat telepon itu tapi dirinya juga tidak boleh seperti ini Irana adalah temannya dulu, di angkatnya telepon itu dan Devan sengaja tidak memulai pembicaraan terlebih dahulu.


Ucapan Irana di sebrang sana membuat kemarahan Devan naik kembali.


"Dev, aku gak akan pernah menyesal dengan apa yang udah aku lakuin ke Anya". Devan terdiam, Irana tertawa "Tungguin akan ada hal yang lebih parah dari ini dan kamu harus inget Devan kalo kamu gak bisa aku dapetin orang lain juga gak akan bisa".


Baru saja Devan akan menjawab suara itu sudah terputus, dirinya tidak habis pikir dengan Irana. Jika Devan boleh berbicara ia memang mengerti dengan gelagat Irana yang menyukai dirinya tapi sebesar apapun Irana mencintai dirinya Devan tidak akan bisa menerima cintanya.


Dulu ia berfikir Irana terlalu baik untuk dirinya di lihat dari sikap dan tutur katanya, tapi bukankah kata terlalu baik adalah cara seseorang untuk menolak orang lain secara baik-baik.


Entahlah bersama Irana tidak pernah ada rasa sedikit pun muncul dalam hatinya, malah Devan sudah menganggap Irana sebagai adiknya sendiri.


Suara ketukan pintu memecahkan pikiran Devan di sana ternyata ada bundanya yang tersenyum ke arahnya, "Boleh bunda masuk ?". Tanya Femi.


Devan terbangun lalu mengangguk, Femi menghampiri Devan lalu duduk di sampingnya, "Bunda udah denger tentang kejadian Irana". Ucap Femi.


Devan tidak kaget mendengarnya mungkin bundanya tahu dari Ryan atau yang lain. Femi memegang tangan Devan ia tahu apa yang sedang anaknya rasakan sekarang.


"Kamu selesaikan masalah apapun secara baik-baik yah ? Karena bunda tahu kamu adalah anak yang bisa menyelesaikan masalah dengan kepala dingin, turutin apa kata hati kamu jangan dengerin apa kata orang lain".

__ADS_1


Devan tersenyum, ia sangat bersyukur mempunyai orang tua yang selalu mengerti akan keadaannya, bundanya yang bahkan membantu dirinya saat Devan berada dalam situasi yang pelik sekali pun.


__ADS_2