
"Assalamualaikum tante". Ibunda Devan tersenyum "Kamu yang dulu nolongin Devan waktu kecelakaan kan ?." Tanyanya, Anya tersenyum kikuk.
Femi sedikit aneh karena baru kali ini Devan membawa perempuan ke rumahnya dahulu waktu pacaran dengan karen Devan yang selalu datang ke rumahnya Karen
"Jadi Irana kakak tingkat kamu dong ?". Irana seperti tidak suka dengan kehadiran dirinya, dia tersenyum di hadapan orang tuanya Devan tapi tidak kepada dirinya. "Saya mau izin pulang dulu tante". Ucap Anya
Devan turun dari tangga "Lo makan bareng aja di sini, boleh kan bunda ?".
Kata bunda membuat desiran aneh dalam hatinya jarang sekali cowok yang memanggil orang tuanya dengan sebutan seperti itu "Iya gapapa lah, ayo". Anya dan irana di ajak ke meja makan oleh tante Femi di sana sudah terdapat makanan yang di sediakan.
"Tante di acara kampus nanti aku sama Devan bakal tampil loh ?". Ujar Irana antusias "Emangnya kamu bakal tampil apa ?". Tanya Femi.
"Nyanyi, aku sama Devan bakal duet !". Anya menikmati makanan dengan tenang, sebenarnya ia tahu wanita ini hanya sedang menarik hati bundanya Devan "Iya kan Dev ?." Tanya Irna dan di balas dengan deheman.
"Devan kamu harus cobain ini deh, ini makanan buatan aku !." Saat menuangkan makanan ke piring dirinya melihat raut risih dari wajah Devan, Anya tidak mengerti kedekatan di antara mereka berdua.
"Anya coba tolong ambilin puding di kulkas yang tadi tante buat !". Titah Femi, Anya berdiri dan mendekat ke arah kulkas, saat ia buka ternyata pudingnya di simpan di tempat paling atas, dirinya juga tidak terlalu tinggi jika seperti ini.
Saat menggapai, ada tangan kekar berada di sampingnya, ia melihat Devan yang membantunya untuk mengambil itu, jarak sedekat ini membuat Anya tidak bisa bernapas ia rasa pasokan oksigen sudah berkurang.
"Kalo butuh bantuan bilang !." Ingin sekali Anya pulang karena keadaan seperti ini sangat ingin ia hindari, sekarang kedua orang itu memandang dirinya yang Anya sendiri pun tidak mengerti.
"Nya, sekarang lo potongin itu !". Titah Devan, setidaknya ini menghilangkan rasa grogi dalam dirinya, tapi rambutnya ini memang tidak bisa di ajak berkonfromi. Anya lupa tidak menguncir rambutnya alhasil dirinya kesulitan memotong.
"Lo tuh ribet tau gak ?". Devan membawa kuncir rambut dan di ikatkan pada rambutnya, sungguh Anya ingin menghilang saat ini juga, apa Devan tidak sadar bahwa ia sedang berada di depan orang tuanya.
__ADS_1
Irana sangat jijik melihat pemandangan seperti ini, cewek itu telah menarik perhatian Devan dan menghiraukan dirinya, Irana tahu cewek ini hanya memanfaatkan wajah agar dapat dekat dengan Devan.
"Tante apa kabar orang tuanya Karen sekarang ?." Femi menaikkan alisnya ia kaget tiba-tiba Irana membicarakan mengenai Karen "Baik kok, kemarin tante habis telponan sama tante Ayuni". Irana mengangguk-ngangguk.
"Seandainya Karen masih ada apa kejadiannya masih sama kayak sekarang". Anya terdiam sepertinya ranah pembicaraan ini sangat sensitif bila ia dengar.
"Maaf tante udah malem, saya pamit pulang dulu, makasih buat makanannya". Femi tersenyum "Sama-sama, nanti main lagi yah ke rumah tante sekalian kita masak bareng ?". Anya tersenyum
"Gue anterin !".
"Gak usah, gue sendiri aja".
"Tunggu bentar !". Devan naik ke atas lalu mengambil jaket dan kunci mobil lalu kembali lagi ke bawah.
"Terus aku gimana Dev ?". Ucap Irana memelas "Lo kan ada mang Diman, bun Devan pamit !." Femi mengangguk.
"Simpen aja besok lo bawa, sekarang udah malem". Anya hanya menuruti lagian hawa malam ini benar-benar menusuk ke dalam kulitnya.
Jika di lihat sekarang dirinya hanya mengenakkan baju tidur, Anya memang orang yang selalu pelupa selalu tidak sadar dengan kondisi badannya yang alergi terhadap hawa dingin.
Di dalam mobil rasa dingin itu malah menjadi dengan keadaan AC yang di hidupkan membuat tubuh Anya bergetar karena kedinginan. Devan yang mengerti akan keadaan langsung memakaikan jaketnya pada tubuh dirinya.
"Masih dingin ?". Anya menggeleng, segera Devan menghidupkan mobil dan pergi meninggalkan rumahnya.
"Gue rasa lo ga perlu ikut acara kampus dengan keadaan lo yang begini".
__ADS_1
"Emangnya kenapa ?". Tanya Anya
"Gue males ngurus orang sakit pas acara". Ucapan Devan cukup menyentil hatinya, lagian dirinya pun tidak ingin menjadi beban bagi orang lain, dirinya tidak pernah meminta lebih pada tuhan, Anya hanya ingin hidup normal seperti orang pada umumnya.
Tapi di sisi lain dirinya juga selalu ingin mengikuti setiap kegiatan yang di adakan, dari kecil hingga SMA Anya selalu di larang melakukan ini dan itu, baru setelah nekat untuk pergi jauh walau di tentang keras Anya hanya merasakan arti kebebasan walaupun itu hanya sebentar.
"Gue gak perduli, gue tetep pengen ikut !".
"Kenapa ?". Sedari tadi Devan berbicara tanpa sedikitpun menoleh begitupun Anya ia hanya sedang menatap gedung tinggi menjulang di hadapan matanya.
"Lo gak akan ngerti karena lo gak ngerasain itu !."
Devan tersenyum tapi sepertinya itu bukan senyuman lucu tapi senyuman meremehkan "Lo tuh terlalu menganggap diri lo tuh selalu benar tau Nya".
Jeda Devan "Lo tuh selalu melihat permasalahan dari sudut pandang lo sendiri coba lo liat sudut pandang orang lain, hargai cara pandang orang lain, lo bener tapi mereka juga bukan berarti salah".
Mendengar ini membuat rasa tidak suka itu muncul dalam hatinya, Devan siapa dia ? Ia tidak akan berubah menjadi wanita pendamba seperti perempuan lainnya. Cukup dirinya merasakan sakit karena ucapan mantannya jangan sampai orang lain menambah beban bagi dirinya.
"Kalo gue begitu, apa kabar dengan lo yang selalu menjadikan cewek sebagai pelampiasan atas kematian mantan lo". Anya mencoba berbicara tenang, Devan yang mendengar ucapan Anya cukup kaget karena berbicara seperti itu.
"Bukannya itu lebih parah dari sekedar opini basi kaya gue, udah berapa cewek yang mirip mantan lo, apa sekarang gue yang kesekian". Anya mengangguk-ngangguk mencoba memahami situasi ini.
"Ternyata sifat asli lo gini !." Ucap Devan
"Iya, emang kenapa lo ilfil sama gue, lo gak suka gue, gue gak perduli". Mata Anya menampikkan wajah sedih di barengi senyuman menyeringai.
__ADS_1
"Ternyata lo busuk di dalem, cih, mending lo turun dari mobil gue !". Devan menyampingkan mobilnya di trotoar jalan.
Setelah berhenti Anya melemparkan jaket Devan tepat pada mukanya, " Makannya ga usah usik hidup gue, makasih". Anya menutup pinto mobil dengan keras, kemudian mobil itu pergi meninggalkan Anya yang sendirian di jalan yang bisa di bilang cukup sepi.