Mahasiswa Baru

Mahasiswa Baru
76 MABA


__ADS_3

Sejak tadi Hilmi hanya terdiam tanpa merespon apapun, Anya paham semua ini memang sulit untuk di terima. Jangankan Hilmi Devan saja tidak mau bertanggungjawab atas dirinya.


"Makasih ya Hil udah mau nerima aku". Anya tersenyum ikhlas, "Abis ini aku janji buat jauh dari kamu tapi izinin aku buat nginep di sini semalem lagi. Kamu mungkin bakal ngerti aku gak mungkin nyari kosan malem begini".


Sekuat tenaga Anya menahan tangisan yang akan keluar dari pelupuk matanya. Hilmi yang mendengar itu tidak membalas malah ia langsung keluar dan menutup pintu kamar yang di tempati Anya.


Hatinya langsung menceos melihat reaksi Hilmi yang tidak merespon apapun.


Ini memang salah dirinya


Hal apapun yang terjadi pasti salah dirinya, kenapa ia harus bertemu masalah baru sedangkan masalah dulu saja belum ia selesaikan sampai tuntas. Benarkah dirinya selalu lari dari permasalahan dan membuat Anya terlihat menjadi pecundang.


Anya sebenarnya sedikit bingung dengan reaksi dirinya sendiri. Kenapa ia begitu amat kecewa atas reaksi Hilmi yang tidak menunjukkan respon apapun. Apakah ia mencintai Hilmi?.


Tuhan, ini akan semakin berat bagi Anya. Ia belum tahu pasti apakah dirinya mencintai Hilmi atau tidak yang pasti Anya tidak mau menjadikan Hilmi pelarian karena sikapnya yang baik.


Sejak pagi Anya sudah bersiap untuk pergi, mandi dan peralatan dirinya di rumah Hilmi pun tak lupa Anya masukan ke dalam tas. Sebenarnya masih ada setengah lagi barangnya di toko mungkin dirinya akan mengambilnya dulu.


Di awali dengan helaan nafas Anya berjalan menuju pintu, tapi dirinya kaget saat Hilmi tengah berdiri di belakang pintu. "Hm aku pergi dulu ya mi".


Pandangannya ia arahkan ke tempat lain, "Makasih". Lanjutnya.

__ADS_1


"Bisa ngomong sebentar".


Emang sejak tadi dirinya ngapain ? Jika mau bicara tinggal bicara kenapa harus izin dulu.


"Mau ngomong apa ?".


"Abis ini lo mau kemana?".


Otaknya langsung berputar entahlah dirinya pun tak tahu. Mungkin pergi sejauh mungkin, mencoba menghindar dari masalah yang membuat hidupnya semakin menderita.


Hilmi menarik lengan Anya agar masuk lagi ke kamar yang ia tempati dan menutup pintunya rapat. Terlihat jelas jika dia tengah frustasi entah kenapa ?.


"A-ada apa, kok lo bawa gue ke sini ?". Anya sangat takut kalau-kalau traumanya muncul lagi.


Apa ia tidak salah dengar yang baru Hilmi ucapkan barusan. Anya mencoba menatap ke arah Hilmi, wajahnya penuh dengan urat seperti orang yang menahan kemarahan. Dan satu yang membuat dirinya tidak bisa apa-apa yaitu tidak ada candaan di sana.


Anya menggeleng lalu berniat membuka gagang pintu tapi kedua bahunya malah di cengkram kuat oleh lengan Hilmi.


"Kenapa lo ngehindar ?". Tanyanya tegas.


"Mana mungkin orang yang gak aku kenal mau tanggung jawab sedangkan orang yang berlaku atas ini aja gak pernah nerima aku". Lirih Anya.

__ADS_1


Emang dirinya sudah ternodai tapi Anya juga tidak bego karena di bohongi oleh cowok lagi. Cukup satu kali saja.


"Gak semua laki-laki sama Nya. Mantan lo aja yang brengsek udah nyia-nyiain lo ?"


Anya terkekeh pelan. "Aku capek Hil hidup kayak gini. Bukannya semua orang punya masa lalunya masing-masing ? Kenapa harus aku yang di hakimi begini. Tuhan gak adil ya, kenapa juga gue harus di lahirkan ke dunia ini"


Hilmi mulai melepaskan pegangannya dan menatap Anya malas. "Apa dengan lo meraung pada takdir lo bakal bebas dari masalah ini ?".


Sudahlah Anya jengah dengan drama hidup yang tidak ada akhirnya, "Kenapa lo begini ? Kenapa lo nanyain hal yang gak seharusnya di tanyain ?".


"Karena gue sayang sama lo". Duar, Anya tidak percaya dengan pengakuan Hilmi. Orang ini terlalu sulit di bilang cinta karena sikapnya. "Sekarang gue tanya apa lo juga suka sama gue ?"


Anya diam


Pikirannya sangat kosong, entah jawaban apa yang harus ia berikan jika hatinya saja selalu mengharapkan itu terjadi.


"Gue tau lo juga sayang sama gue".


Anya membulatkan matanya, sangat besar kepala memang lelaki ini.


"Gue bisa liat dari tatapan lo kalo lo butuh gue". Hilmi menaikkan satu alisnya. "Kenapa ? Bener ?".

__ADS_1


Hilmi mengusap wajahnya gusar, lalu melangkahkan kakinya agar mendekat ke arah Anya.


"Kita bakal dateng ke orang tua kamu dan minta restu". ucapnya serius


__ADS_2