Mahasiswa Baru

Mahasiswa Baru
39 MABA


__ADS_3

"Nya". Ucap Devan pelan.


Anya menggeleng, Karen yang di sampingnya pun bingung. Kenapa cewek ini sangat mirip dengannya ? Apa ini kekasih Devan yang Irana ucapkan tempo hari ? Jika benar baguslah dengan begini ia tidak perlu buang energi banyak untuk merebut Devan kembali.


Anya langsung masuk ke dalam mobil miliknya dengan menginjak gas kencang, di belakang Devan buru-buru menuju motornya agar tidak ketinggalan jejak Anya.


"Devan kamu mau kemana ? Terus aku gimana pulangnya ?". Sambil menghentakkan kaki Karen mengekor mengikuti Devan.


"Lo tuh gak ada rasa bersalah sama sekali apa Kar ? Dia begitu gegara Lo tau, dasar gak tau diri !".


"Apa lo bilang ? Gue cewek gak tau diri ?".


"Iya, emang, Lo tuh cewek gak tau diri kenapa ?".


"Lo tuh ya ?". Karen menjambak rambut Irana dan di balas lagi dengan jambakan yang kuat.


Terjadi pertengkaran di antara keduanya, Ryan yang melihatnya pun berusaha melerai tapi percuma saja yang ada dirinya yang terkena amukan.


Sedangkan Devan sedang menancap gas kuat menyusul mobil Anya yang jaraknya sudah sangat jauh ia jangkau. Dalam hatinya ia berharap semoga Anya tidak paham tentang apa yang ia lihat barusan.


"Tega banget kamu Dev, aku kira kamu megang janji apa yang kamu buat sendiri, tapi nyatanya kamu yang ngekhianatin ucapan kamu sendiri".


Wajah Anya sudah sangat berantakan bahkan ia sangat frustasi dengan ekspetasi yang ia buat sendiri, Anya terkekeh bego sekali dirinya sampai di selingkuhi seperti ini.


Dari ujung spion mobil ia bisa melihat jika motor Devan sedang melaju ke arahnya. Anya menancap gas lebih cepat lagi. Ia akan memotong jalan agar Devan tidak tahu ke arah mana dirinya pergi.


"Ah ngalangin aja ni mobil !". Devan memukul setir motor karena sekarang ia tertinggal jejak Anya yang entah kemana.

__ADS_1


Devan mengeluarkan ponsel dari sakunya dan berharap Anya akan mengangkatnya meskipun mustahil itu akan terjadi.


"Ahh angkat dong Nya ?".


percuma jika sudah seperti ini, sekarang ia harus bertemu dengan Anya dan menjelaskan semuanya. Tapi di mana Anya sekarang ?.


Tempat incarannya sekarang adalah kost-an yang dahulu menjadi tempat tinggalnya. Di masukkan lagi ponsel yang ia gunakan ke dalam saku kemudian Devan kembali menancap gas untuk menuju kost-an tersebut.


"Nya lo kenapa ?".


Fani kaget pasalnya Anya pulang dengan wajah dan rambut yang sangat berantakan.


"Gapapa kok Fan". Sambil mencoba tersenyum, Anya merasa ia hanya tidak mau menganggu liburan mereka.


"Kalo ada apa-apa cerita Nya, dengan lo diem aja masalah gak akan kelar. Kita ini udah di anggap sahabat kan sama lo ?".


Fani memang selalu memahami perasaan Anya tanpa Anya merasa terpaksa. Lalu kenapa ia selalu memendam sendiri sedangkan ada sahabat yang paham akan keadaan dirinya.


"Cowok sekarang udah pada stress kata gue juga".


Afra dan Fani kini tahu apa yang di alami Anya sekarang dan itu karena Anya menceritakannya.


"Terus sekarang dia gimana ?". Tanya Fani.


"Dari tadi dia nelponin gue terus sekarang gue matiin hp". Anya mengedikan bahu, "Biarin lah gue juga udah gak peduli lagi".


Fani tersenyum, "Ucapan lo itu selalu gak sesuai sama hati Lo tau Nya ?".

__ADS_1


"Maksudnya ?".


"Menurut gue sih coba aja dulu lo dengerin alasan dia, kalau menurut lo alasan itu gak masuk akal kan bisa lo putusin".


Anya bergeming, apakah bisa dirinya melepaskan Devan dengan begitu mudah ?


"Jawaban itu bisa lo dapetin dari penjelasan dia, tentang pertanyaan lo yang entah kapan bisa kejawab kalau lo begini aja Nya ?". Lanjutnya.


Afra bertepuk tangan, "Gila temen gue udah pro dalam urusan kayak gini, gak nyangka gue Lo bijak juga".


Anya terkekeh, "Terimakasih". Ucapnya sambil menunduk.


"Gue cuman gak mau aja sahabat gue di gituin sama cowok". Terjadi perpelukan di antara keduanya lalu Afra menyusul dengan cepat.


Benar juga apa yang Fani ucapkan tadi, tapi tetap saja semuanya butuh proses. Perselingkuhan adalah hal yang paling menyakitkan menurutnya.


Saat ini Anya sedang menggosok gigi yaitu ritual sebelum tidur, raganya di sini tapi otaknya entah kemana ia rasakan.


Dahinya bergelombang, dari cermin di hadapannya bisa di lihat kalau hidungnya mengeluarkan darah.


"Padahal udah lama gak begini, tapi kenapa sekarang balik lagi". Lirihnya.


Tangannya meremas kuat baju tidur yang sedang ia pakai, ia kira penyakit yang bersarang di tubuhnya sudah hilang.


Kenapa penyakit ini harus datang di saat hatinya sedang hancur seperti ini ? Buru-buru Anya mengelap darah itu menggunakan tissue. setelah di rasa tidak ada lagi ia memutuskan untuk keluar.


Tapi ia merasa jarak antara dirinya dengan knop pintu sangat jauh, pandangannya pun sudah buram. Tubuh Anya ambruk di dalam kamar mandi dengan kran air yang masih menyala.

__ADS_1


__ADS_2