Mahasiswa Baru

Mahasiswa Baru
88 MABA


__ADS_3

Hilmi langsung di bawa ke rumah sakit terdekat menggunakan ambulans yang mereka panggil. Selama perjalanan itu juga Anya terus menangis. Ia tidak menyangka acara pernikahannya akan kacau hanya karena Devan.


Mereka telah tiba di rumah sakit dan perawat di sana bergerak cepat membawa Hilmi ke dalam UGD. Riri, Arin dan Wijaya pun turut ikut, mereka tidak tahu apa yang telah terjadi di antara anak-anaknya.


"Hilmi pasti kuat sayang, kamu berdoa ya". Arin terus mengelus pundak Anya yang bergetar karena menahan tangisan.


Riri pun sama dia mengkhawatirkan anaknya yang terkena tembakan. Saat kejadian tak terduga itu Devan seperti orang kehilangan akal dan di bawa ke kantor polisi.


Wijaya selaku ayahnya mencari maksud dari Devan melakukan ini semua. Ia yakin pasti ada unsur kesengajaan dan ini pasti telah di rencanakan dengan matang. Pastinya senjata yang di bawa olehnya akan menjadi bukti bahwa Devan memang bersalah.


Di kantor polisi Devan sedang di introgasi oleh pihak yang berwenang. Papahnya sudah pulang karena ia tahu bawah sekarang Hilmi tidak akan membantu perusahaannya lagi.


"Gue gak nyangka lo begini Dev". Tanya Ryan


Sebagai sahabat ia tidak mengerti kenapa Devan melakukannya, setahu dia Devan adalah orang penyabar dan mau mendengarkan nasihat orang lain. Memang Devan dua hari kemudian menemui dirinya dengan maksud ada yang harus di selesaikan. Tapi lihat sekarang hidupnya yang akan selesai di dalam penjara.


"Dari mana anda mendapatkan pistol ini ?".

__ADS_1


Devan diam


Dia hanya menoleh lurus ke bawah tanpa menghiraukan pertanyaan yang di lontarkan kepadanya.


"Jika di sini anda tidak ada pembelaan kami akan lanjutkan perkara ini ke pengadilan".


Devan tetap diam


"Lo tuh tuli apa gimana sih Dev ? Kenapa gak Lo jawab ? Apa lo emang salah ?". Sarkas Ryan.


Irana yang melihat Devan seperti ini juga bingung, apa sudah ada yang menghasut Devan ? Jika begini bukan hanya dia yang akan mendekam di penjara tapi pangkat dokternya pun akan di cabut.


"Lo cinta sama Anya ? Gak begini caranya bro. Lo juga yang brengsek kenapa ninggalin dia dan sekarang lo ngejar-ngejar lagi. Gue gak ngerti sama sikap lo sumpah". Nafas Ryan terengah-engah dia sebal harus menjelaskan dengan bagaimana lagi.


Bugh


Tonjokan di pipi Ryan membuat acara introgasi pun jadi ricuh.

__ADS_1


"Gue gak butuh pendapat lo, cih".


Kedua polisi itu memborgol lengan Devan dan membawanya ke tempat lain.


"Udahlah sayang, kita pulang dulu. Pikiran kamu juga harus di tenangin dulu".


Ryan mengangguk, tidak akan ada habisnya berbicara dengan Devan yang sedang kedatangan setan. Ryan juga berharap Devan bisa sadar secepatnya kalau ia tidak akan bisa mengembalikan rasa percaya Anya.


...***...


Baru Anya berhenti menangis suster dari dalam ruangan mencari dokter karena kondisi Hilmi yang berubah menjadi koma, badannya bahkan bergetar dengan kencang. Bagaimana jika ia akan menjadi janda dalam waktu yang singkat.


"Mama". Anya merengek pada Arin.


"Kita berdoa yah, cuman Allah yang bisa nolong kita. Semoga Hilmi bisa melewati ini semua"


Anya berdoa dengan sungguh-sungguh, ia hanya berharap kebahagiaan untuk kali ini saja. Tolong jangan ambil lebih dahulu orang yang ia cintai dan sayangi.

__ADS_1


__ADS_2