
3 jam lagi Anya akan resmi menjadi istri dari Hilmi, rasanya seperti senang sekaligus sedih. Senang karena mendapatkan lelaki baik seperti Hilmi, sedih karena bagaimanapun langkah menuju titik ini tidaklah mudah.
Jajaran kursi dan dekorasi pun terlihat sangat mewah di tambah karpet merah yang menjuntai dari pintu masuk menambah kesan hikmad pernikahan Hilmi dan Anya.
"Anya gugup ma".
Arin yang mendengar itu tersenyum, ia paham apa yang anaknya rasakan karena dulu ia pun pernah mengalaminya. Saat ini Anya tengah di dandani oleh dua sampai tiga orang.
"Dengerin mama". Anya terus memperhatikan mamanya dari kaca besar di hadapannya.
"Tarik nafas terus buang, kamu harus yakin kalau semuanya akan berjalan lancar". Anya mengikuti instruksi mamanya, setelah selesai pandangannya ia hadapkan ke depan.
Dalam hati Anya terus memanjatkan doa agar Allah mempermudah akad pernikahannya. Semua hal ia serahkan pada yang maha kuasa karena Anya yakin semua yang terjadi pasti ada campur tangan-Nya.
Calon mama muda ini sangat cantik dengan gaun berwarna putih dengan ujung mermaid yang di tambahkan penutup dada bagian atas. Memang sudah dari sananya cantik memakai apapun Anya akan terlihat cantik.
"Anak mama cantik banget, kalo begini sih Hilmi gak bakal pergi ke kantor mulu". Anya terkekeh mendengar lelucon mamanya.
Gaun ini memang pilihan dirinya dan Anya sangat suka itu. Matanya lalu beralih pada sekitar, pasti di sana sudah banyak orang.
Arin menghampiri Anya, "Acaranya udah di mulai, Hilmi juga udah duduk di sana. Sekarang giliran kamu".
Detak jantungnya bergerak lebih cepat, Anya meremas lengan mamanya. Arin menoleh lalu menyuruh Anya untuk menarik nafas lagi dan membuangnya.
"Mama temenin". Ucap Arin sambil membantu Anya berjalan.
__ADS_1
Saat Anya keluar menuju tempat akad semua pasang mata menoleh ke arahnya. Tubuhnya bahkan serasa sudah mati rasa, yang membuat dirinya bisa kuat adalah pandangan Hilmi padanya.
Mempelai wanitanya sudah ada dan sekarang bisa kita mulai akadnya. Mendengar itu Anya semakin menundukkan kepala.
"Jangan begitu sayang". Hilmi memegang lengan Anya dengan menyalurkan ketenangan.
Jujur ini pertama kali bagi dirinya melakukan hal yang sangat mengguncang jiwa. Anya sedikit memejamkan mata dan mengingat pesan mamanya untuk selalu menarik nafas dan berdoa.
Lengan Hilmi tengah berjabat tangan dengan penghulu, papahnya ada di samping dan memperhatikan detik-detik penyerahan anak perempuan satu-satunya pada laki-laki yang sudah ia percayai.
Dengan satu tarikan nafas, "SAYA TERIMA NIKAH DAN KAWINNYA ANYA MARINA AFARA BIN WIJAYA DENGAN SEPERANGKAT ALAT SOLAT DI BAYAR TUNAI".
Sah!!!
Alhamdulillah, subhanallah air mata Anya sampai keluar. Mendengar ijab kabul secara tegas di ucapkan dalam satu kalimat membuat hatinya ikut bergetar.
Anya berhak bahagia begitupula dengan Hilmi yang harus merelakan Sandra untuk pulang terlebih dahulu. Percayalah semua hal sudah di atur dengan sangat rapi oleh yang maha kuasa manusia hanya bisa sabar dan berusaha dalam melewati ujian yang di berikan.
Sekarang mereka tengah melakukan resepsi setelah ikrar janji di ucapkan. Pandangannya menyapu pada banyak orang yang datang ke acara pernikahan. Mulai dari kolega Hilmi sampai dengan temannya memberikan mereka hadiah.
Bahkan temannya Hilmi pun sampai tidak percaya bahwa Hilmi mau menikah lagi. Mereka bersyukur karena berkat Anya Hilmi mau hidup lagi selayaknya dulu.
"Mas aku seneng deh". Ucap Anya
Hilmi menyeritkan dahinya, "Mas ?".
__ADS_1
Anya menutup bibirnya dengan cepat, dan itu langsung membuat Hilmi tertawa.
"Gak papa kok sayang, ternyata kamu udah nyiapin itu buat aku".
"Ihh, enggak gitu kok. Karena kamu udah jadi suami aku gak papa kan aku manggil kamu mas ?".
Hilmi mengambil lengan Anya lalu menciumnya, cukup lama memang baru Hilmi menjauhkan lengannya, "Gak papa, mau panggil aku apapun aku terima".
Anya tersenyum detik setelahnya senyuman itu luntur karena matanya yang menangkap sosok Devan tengah berjalan ke arahnya.
"Selamat". Ucapnya datar, di belakang ada Ryan dan Irana yang juga ikut.
Devan memberikan hadiah pada mereka dan di sambut baik oleh Hilmi, "Makasih lo udah mau dateng".
"Ck, terpaksa gue datang. Kalo bukan karena lo temen papa males gue juga ke sini". Devan berlalu dengan cepat dan turun ke bawah.
Ryan memanggil Devan dari kejauhan tapi percuma saja Devan tidak akan kembali, "Maafin sikap Devan ya".
"Biasa namanya juga laki-laki". Sanggah Hilmi, ia bisa mengerti kenapa Devan bersikap demikian. Devan itu masih terlalu labil untuk di sebut dewasa makanya ia harus selalu mengerti.
"Nih ada kado buat kalian, btw selamat ya". Irana memberikan kado pada Anya dan di balas ucapan terimakasih olehnya.
"Selamat juga". Ucap Ryan.
"Makasih". Ucap Anya.
__ADS_1
Setelah Ryan dan Irana selesai dan turun pandangan Hilmi menoleh pada Anya, "Menurut kamu kenapa dia dateng?". Tanya Anya