
Devan, Ryan dan Irana sedang berunding dan men-list tugas apa saja yang akan di berikan selama kegiatan berlangsung, ketiganya sedang berada di cafe yang sering mereka kunjungi.
"Menurut gue sekarang bukan zamannya ngasih tugas deh mending kita buat game aja gimana ?". Usul Irana
Berbeda dengan Irana yang antusias justru Devan merasa jenuh, dirinya hanya mendengarkan tanpa memberi usulan.
"Dev menurut lo gimana ? Kan lo ketuanya di sini ?". Ryan menyesap kopi yang ia pesan dan Irana memakan sambil mengangguk.
Devan hanya diam menghadap pada kaca besar di depannya, Irana merasa ada sesuatu yang aneh pada Devan "Dev lo kenapa ?."
Devan tersadar kemudian menyesap kopinya "Terserah lo pada ?." Pandangan Devan kini beralih pada seseorang yang sedang berbicara dengan laki-laki, Devan tidak salah melihat di sana ada Anya seperti orang sedang bertengkar karena raut wajah keduanya yang tegang.
"Gue balik duluan, lo pulang pake mobil gue aja!". Devan memberikan kunci mobil dan langsung di ambil oleh Ryan, raut wajah Irana langsung berubah ia melihat Devan yang terburu-buru keluar dari cafe.
"Devan mau kemana sih ?". Ucap Irana, Ryan hanya mengangkat bahu pertanda dia pun tidak tahu.
Di luar cafe Devan coba mendekat ke arah dua orang itu terdengar samar-samar mereka sedang beradu argumen "Nya !". Panggil Devan.
Anya menoleh, kemudian dia berlari ke arahnya Devan lalu mencium pipinya, Devan yang terkejut dengan sikap Anya langsung akan memarahi tapi dia malah menggandeng tangannya.
"Dia pacar gue jadi lo ga perlu khawatir lagi kalo gue sendirian". Terlihat kekecewaan pada wajah cowok tersebut.
"Gue paham, lo pasti jadi ilfil kan ke gue, gue berharap lo gak akan mendapatkan hal sama dengan pacar lo yang sekarang, gue pergi dulu." Anya mengangguk.
melihat Fahmi pergi membuat hati Anya sakit ia berusaha menahan air matanya untuk masalah ini, tanpa sadar cairan bening itu menetes melewati pipinya. Devan melihat Anya yang berusaha menutupi tangisannya yang akan pecah, ia tidak mengerti permasalahannya sampai Anya mengaku Devan sebagai pacar.
Sebenarnya Anya masih menyimpan rasa itu pada Fahmi tapi perlakuan fahmi padanya membuat ia tidak bisa memaafkan kesalahan yang pernah dia lakukan, biarlah semua berjalan sesuai takdirnya Anya hanya ingin hidup tanpa merasa ada beban.
__ADS_1
Devan melepaskan gandengan di tangannya "Sorry gue gak bermaksud, lo lupain aja kejadian barusan." sambil mengelap pipi, Anya berniat akan pergi namun tangan Devan malah menghalangi jalannya "Kunci motor lo mana ?."
"Buat apa ?."
"Cepet !". Setelah di berikan Devan menuju ke arah motor yang terparkir di samping jalan "Lo mau naik gak ?." Anya mengangguk lalu berlari pelan dan naik ke atas motor pergi meninggalkan cafe tersebut.
Irana yang menyaksikan itu dari dalam cafe merasa di khianati, bisa-bisanya orang seperti Anya merebut Devan dari dirinya, ia tidak akan membiarkan ini terjadi, ia harus melakukan sesuatu agar cewek itu tidak mendekati Devan lagi.
"Ran udah selesai pulang yuk ?". Ryan membereskan kertas yang berserakan di meja dan di balas anggukan oleh Irana mereka berdua keluar dari cafe dan pulang menggunakan mobil Devan.
...***...
Setelah sampai Anya celengak celinguk melihat sekeliling, ternyata Devan mengajaknya ke toko untuk acara kampus mereka, sepanjang perjalanan tadi dirinya terlalu banyak melamun hingga tidak menyadari hirauan Devan.
Devan turun terlebih dahulu dan masuk ke dalam toko di susul oleh Anya sambil memanggil manggil Devan, tapi sepertinya Devan menghiraukan panggilan dirinya.
Ia mencoba memakaikannya di kepala ternyata mainan ini dapat berdiri sendiri, Anya terlihat sangat senang seperti orang yang pertama kali mencoba permainan. Devan yang melihat Anya hanya mendelik kesal "Lo tuh kaya anak kecil tau gak !."
"Emang kenapa, sirik ?." Mengejek Devan membuat wajahnya berubah menjadi musam, lalu matanya menangkap topi yang sepertinya pas untuk Devan, topi itu adalah topi untuk seorang pilot.
"Dev sini deh bentar ?". Devan menghiraukan panggilan Anya, di ambilnya topi tersebut lalu di pasangkan pada kepala Devan, Anya tersenyum "Tuh kan pas banget". Devan mengambil topi dan melihatnya.
"Lo tau gue pengen jadi pilot ?". Anya membulatkan matanya, "Bener". Tanya Anya.
Devan mendekat ke arah kaca besar di belakang "Niatnya sih gitu tapi butuh persiapan dari sekarang dan gue males". Anya mendekati Devan, sekarang mereka berdua ada di hadapan kaca besar yang memantulkan wajah keduanya.
"Kenapa males ? Gue dukung lo seratus persen". Ucap Anya sambil tersenyum "Gue juga pengen banget punya calon suami pilot !".
__ADS_1
"Maksud lo kaya gue ?". Anya mengangguk "Ehh !". Sambil menutup mulut Anya menggeleng.
"Ya udah gue usahain itu". Astagfirullah kenapa Devan berbicara begini, sekarang jantungnya berdetak lebih cepat, ingin rasanya ia menghilang dari tempat ini.
"Nya, udah?." Tanya Devan, Anya menoleh kemudian mengangguk, dirinya hanya membeli alat yang benar-benar di butuhkan untuk acara nanti.
"Cuman segitu?". Devan bertanya bukan tanpa alasan biasanya jika ia mengajak Irana untuk belanja 2 keranjang saja tidak cukup ia bawa, tapi sekarang Anya hanya membeli setengah dari keranjang bukannya cewek selalu membawa banyak keperluan.
Karena merasa kesal, Anya hanya mendelik Devan ini ternyata terlalu banyak bertanya, berbeda dengan orang-orang yang selalu berbicara jika Devan itu kalem. Saat terlebih dahulu ke kasir dirinya lupa bahwa ia tidak membawa dompet.
Devan menyodorkan uang seratus ribu, Anya tersenyum menutupi rasa malunya pada sang kasir. Jangan salahkan Anya ia berniat mengantarkan Naya pulang dan di jalan malah bertemu mantannya sekarang dirinya terjebak oleh pria aneh seperti Devan.
"Makannya jadi cewe jangan kebanyakan gengsi". Sarkas Devan. Anya sebenarnya mendengar tapi ia mendadak tuli karena tidak ingin berdebat dengan cowok di hadapannya.
Selama di perjalanan keduanya tidak berbicara sedikit pun, Anya yang kesal begitu juga Devan yang malas berbicara. Saat sudah sampai di rumah Devan, Anya langsung mengambil alih motor dan berniat akan pergi.
"Masuk dulu !." Devan mencekal lengan Anya kemudian di tepis oleh dirinya "Gak mau gue mau pulang !."
Devan mencabut kunci motor Anya kemudian masuk ke dalam rumah "Cepet !".
Sudah habis kesabaran Anya Devan ini apa dia tidak kapok pada kejadian kemarin gegara dirinya pulang malam-malam, Anya turun dari motor dan melempar helm pada spionnya.
Masuk ke dalam rumah Devan merasa ada yang aneh dalam dirinya, pertama kali ia mendatangi rumah cowok untuk hal yang tidak penting bahkan dirinya saja belum pernah pergi ke rumah mantan karena alasan yang tidak masuk akal.
Pegawai di sana menunduk saat dirinya berjalan masuk dan di balas senyuman oleh Anya, di sana berdiri seorang perempuan paruh baya yang ia tahu adalah mamahnya Devan tapi sepertinya sedang berbicara dengan seseorang, beberapa langkah dan terlihat jelas bahwa itu adalah
Irana
__ADS_1