Mahasiswa Baru

Mahasiswa Baru
54 MABA


__ADS_3

Devan mengantar Anya sampai depan rumahnya. Ia melirik ke samping, sejak tadi Anya hanya diam seolah ia sedang memikirkan sesuatu.


Devan mengambil payung yang selalu ia simpan saat di butuhkan. Berjalan keluar sambil memutar mobil dan membuka pintu di sampingnya.


"Ayo gue anter". Devan menyimpan lengan di depan.


Anya hanya terdiam tanpa membalas lengan Devan, jangan sampai Devan menarik lagi hatinya untuk kedua kalinya. Anya hanya takut, takut kalau ia tidak bisa menahan ini semua.


"Lo gak kasian sama gue ?". Sarkas Devan.


Anya tersadar, kemudian ia meletakan lengannya di atas lengan Devan.


Hangat


Rasanya seperti mereka saling menyalurkan kehangatan di saat udara sedang menusuk ke dalam kulit.


Baru Devan mau berbicara pada Anya untuk berhati-hati tapi kakinya sudah melangkah ke bawah dan akibatnya Anya jatuh ke dalam pelukan Devan.


Percikan air sudah mengenai baju Devan, terlihat mereka saling bertatapan dalam beberapa menit. Entah bagaimana keduanya mendeskripsikan perasaan satu sama lain.


Kenangan di mana keduanya saling mencintai menyeruak lagi ke dalam mata mereka. Devan melihat setiap detail wajah Anya tanpa ada yang terlewat, ia tersenyum tipis. Ternyata Anya masih sama seperti dulu cantik dan menggemaskan.


Sangat di sayangkan jika Devan hanya mempunyai wajah tampan dan tidak setimpal dengan perilaku yang ia perbuat padanya. Tapi kenapa seolah hatinya menyapa dengan baik, bahkan ia menikmati kedekatan di antara mereka.


"Ah sorry". Anya langsung berdiri dan membenarkan bajunya.


Keduanya terlihat sangat canggung, Devan langsung membawa belanjaan Anya dan menggeser payung agar Anya tidak terkena percikan air hujan.


"Gue anter sampe rumah". Kata Devan


Keduanya berjalan beriringan, karena payung yang di gunakan cukup kecil untuk dua orang. maka Devan menggeser Anya agar lebih merapat padanya. sungguh, Devan tidak ada niat apapun ia hanya takut kalau Anya sakit.

__ADS_1


Anya menggigit bibir bawahnya, nyaman memang berada dalam situasi sekarang. Kenapa tubuhnya seakan tidak menolak apa yang Devan lakukan padanya.


Sepertinya Anya sudah gila, bagaimana perasaan Farrel jika melihat dirinya sedang di antar oleh seorang cowok terlebih Devan adalah mantannya.


"Simpen di sini aja". Devan meletakkan belanjaan di atas kursi depan rumah Anya.


"Makasih". Ucap Anya pelan.


"Eh ada nak Devan ?". Arin membuka pintu dan melihat keberadaan keduanya.


Arin yang melihat belanjaan Anya langsung menoleh pada Anya, "Kamu ini kebiasaan kalau beli barang selalu banyak, boros tau Nya".


"Anya butuh ma".


Arin hanya menggeleng, "Devan izin pulang dulu Tante".


Keduanya menoleh, "Kamu abis nganterin Anya ?". Tanya Arin


Devan menganguk, "Anya kenapa kamu gak ngajak masuk, kasian nak Devan udah basah begini bajunya".


"Kamu ini gak tau terimakasih, masuk dulu yu nak Devan". Arin mengajak Devan masuk ke dalam rumahnya.


Sebenarnya Devan sudah ingin pulang dan mandi tapi ia tidak enak menolak ajakan Tante Arin.


Anya memutar bola matanya jengah, mamanya ini tidak mengerti keadaan anaknya atau memang tidak tahu. Jika sudah begini pasti Arin akan bertanya lebih jauh tentang Devan dan itu adalah hal yang ia hindari.


"Kamu udah jadi dokter sekarang?".


Devan mengangguk, terlihat Anya yang memindahkan barang ke dapur. Pandangan Devan tidak terlepas dari setiap gerakan Anya.


"Kalau begitu kamu bisa ngobatin Anya dong ?". Tanya Arin antusias.

__ADS_1


Anya yang mendengar itu langsung membulatkan matanya. Habis sudah aibnya selama ini, pasti bundanya akan menceritakan tentang penyakit yang di deritanya.


Dahi Devan mengerut, bukankah Anya pernah bicara pada dirinya kalau ia sudah sembuh. Devan paham, sepertinya Anya menyembunyikan sesuatu.


"Bukannya Anya udah sembuh tante ?". Tanya Devan.


Perubahan raut wajah sangat terlihat di wajah Arin, "Anya emang udah sembuh tapi dia perlu terapi dan pengobatan jalan yang harus Anya lakuin selama hidupnya". Tuturnya.


Ada sesuatu yang mecius di hatinya, jadi Anya bohong tentang pengobatan yang ia lakukan. Pantesan saat itu ia ada di rumah sakit tapi kenapa Anya menyembunyikan ini dari Devan.


"Anya menderita penyakit kanker otak, saat itu dia udah di operasi tapi setelah beberapa tahu kemudian kanker itu muncul lagi. Tapi Anya gak mau di operasi, jadi dokter nyuruh buat dia berobat jalan".


Devan memegang lengan Arin, ia tahu apa yang di rasakan seorang ibu kalau anaknya menderita suatu penyakit.


"Devan akan bantu Anya sekuat yang Devan bisa. Tante jangan sedih insyaallah Anya bakal sembuh". Devan tersenyum, entah kenapa rasanya seperti ia di beri jalan oleh tuhan agar mereka bisa dekat kembali.


Anya datang dengan membawa minuman dan beberapa cemilan. Anya mendengar itu, rasanya seperti ia telah gagal menjadi seorang anak.


Ia duduk di samping Arin, "Mama ke belakang dulu ya". Devan mengangguk.


Sekarang hanya ada mereka berdua. Anya terus memainkan jarinya sambil menunduk, impian menjadi dokter pun harus Anya kubur karena tidak mungkin ia mengobati orang lain jika diri sendiri pun butuh di obati.


Terkadang Anya merasa sakit hati saat melihat mamanya nangis hanya kerena penyakit Anya yang kambuh lagi. Anya pun sama ia tidak ingin begini, mungkin Tuhan ingin Anya seperti ini selalu diam dan sendiri.


"Kenapa lo bohong soal penyakit".


Anya membuang nafas secara perlahan, "Gue gak suka di kasihani orang lain terlebih itu lo". Katanya.


"Jadi lo tau gue kerja di sana ?". Tanyanya.


Anya menganguk, "Saat pertama kali gue liat lo, lo lagi ngobatin orang sekarat. Setelah bertahun-tahun lamanya gue gak pernah ngeliat lo dan sekarang gue harus berobat di rumah sakit yang sama dengan Lo bekerja". Anya menahan tangis yang menggenang di pelupuk matanya.

__ADS_1


"Gue mutusin buat cari rumah sakit lain, tapi percuma di Jakarta cuman rumah sakit itu doang yang bisa ngobatin penyakit gue dalam jangka waktu lama. Dan gue selalu ngehindar saat pihak rumah sakit menyuruh gue buat konsultasi sama lo". Lanjutnya


Sudahlah sekarang Anya benar-benar kalah saat di hadapan Devan sekarang, bukankah ini terlihat sangat menyediakan.


__ADS_2